Draft novel pertamaku yang berjudul Orang-Orang yang Tak Dipilih Dunia (OOTDD) mungkin tidak jadi diterbitkan.
Awalnya, setelah naskah selesai, aku mengirimkannya kepada beberapa teman dekat.
Mereka adalah orang-orang yang selama ini selalu membaca bukuku sebelum aku mengirimkannya ke penerbit.
Menariknya, ketika ide buku ini masih berupa konsep, mereka mendukung penuh dan bahkan mendorongku untuk menulisnya.
Namun, setelah membaca naskah yang sudah jadi, pendapat mereka berubah.
Menurut mereka, banyak tokoh dalam cerita yang masih bisa dikenali oleh orang-orang yang dekat dengan lingkunganku.
Mereka khawatir ada pihak yang merasa tersinggung atau tidak nyaman ketika buku ini diterbitkan.
Padahal, buku ini berisi kumpulan kisah tentang kegagalan, perjuangan, dan luka yang dialami banyak orang.
Cerita-ceritanya tidak saling terhubung, tetapi semuanya lahir dari pengalaman nyata yang pernah aku lihat atau dengar secara langsung.
Sejak awal sebenarnya aku juga sudah memiliki keraguan.
Apakah aku benar-benar harus menulis buku ini?
Namun, dorongan dari teman ku juga untuk membuat karya fiksi akhirnya membuatku memberanikan diri menuliskannya sedikit demi sedikit hingga menjadi sebuah naskah utuh.
Masalahnya, aku menulis buku ini dengan sangat jujur.
Aku tidak merasa melebih-lebihkan ataupun mengurangi kenyataan yang terjadi.
Karena itulah emosi dalam setiap cerita terasa kuat.
Akan tetapi, justru kejujuran itulah yang menjadi sumber masalah.
Orang-orang yang mengenal lingkungan tempat cerita itu berasal mungkin dapat menebak siapa sosok yang dimaksud.
Aku sempat berpikir untuk mengubah lebih banyak detail.
Namun, setiap kali mencoba melakukannya, rasanya emosi dalam cerita ikut menghilang.
Kisah-kisah itu menjadi terasa datar dan kehilangan kekuatannya.
Saat ini aku masih menahan rencana penerbitan buku tersebut.
Mungkin aku akan melakukan revisi besar-besaran.
Mungkin juga buku ini memang belum saatnya terbit.
Sebelum mengambil keputusan, aku ingin meminta pendapat dari beberapa orang yang lebih berpengalaman dalam dunia penulisan novel.
Kalau dipikir-pikir, mungkin salah satu kesalahanku adalah meminta izin kepada beberapa orang yang kisah hidupnya menjadi inspirasi dalam buku ini.
Di satu sisi, aku merasa itu adalah bentuk penghormatan.
Namun di sisi lain, setelah mereka membaca naskahnya, muncul kekhawatiran bahwa cerita tersebut akan membuka kembali bagian hidup yang selama ini ingin mereka simpan sendiri.
Memang begitulah manusia.
Ketika sudah berhasil, banyak orang bersedia menceritakan kegagalannya kepada publik.
Namun ketika masih berada di tengah perjuangan, kegagalan sering kali menjadi sesuatu yang ingin disembunyikan.
Entahlah.
Untuk sementara, Orang-Orang yang Tak Dipilih Dunia masih berada di persimpangan jalan: direvisi, ditunda, atau mungkin tidak pernah diterbitkan sama sekali.
Ternyata Aku masih hidup, masih menjalani ujian di dunia ini.
Jam di HP menunjukkan pukul 00.10 WIB.
Aku terbangun lebih cepat dari biasanya, mungkin karena semalam tidur sejak pukul 19.30.
Seperti biasa, aku mengecek beberapa pesan WhatsApp terlebih dahulu.
Setelah itu aku mencoba tidur kembali, tetapi mata ini sulit terpejam.
Biasanya kalau sudah terbangun seperti ini, aku langsung membuka laptop untuk menulis.
Namun pagi nanti aku akan lari bersama teman-teman dari Taman Mini Running Club, jadi aku harus menjaga kondisi tubuh tetap fit.
Aku masih terjaga hingga sekitar pukul 01.30 WIB sebelum akhirnya tertidur kembali.
Menjelang subuh, suara adzan membangunkanku.
Aku sebenarnya sudah memasang alarm di HP dan jam weker manual, tetapi tetap saja suara adzan dari masjid sekitar rumah yang paling ampuh membuatku bangun.
Mungkin karena ada empat masjid yang jaraknya sangat dekat dari rumah.
Seperti biasa, pagi dimulai dengan makan seadanya yang tersedia di dapur, minum susu, dan vitamin.
Kebiasaan ini kulakukan hampir setiap hari agar tubuh tetap bugar.
Aku juga membuat kopi hitam panas, lalu memasukkan beberapa batu es ke dalam tumbler hingga berubah menjadi kopi dingin ala Americano.
Selain membuat mata tetap melek, cara ini jauh lebih hemat dibanding membeli kopi setiap hari.
Setelah salat Subuh, aku langsung bersiap menuju TMII.
Jarak rumahku ke sana sekitar 15 menit menggunakan motor.
Ngomong-ngomong, rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis seri A Weekend with Warrior.
Bahkan aku lupa apakah tahun ini sudah pernah menulisnya atau belum.
Tidak terasa tahun ini sudah memasuki bulan keenam.
Waktu terasa berjalan sangat cepat.
Mungkin karena tahun ini aku juga sangat sibuk menulis buku.
Saat ini sudah ada tiga buku yang selesai, satu yang hampir selesai, satu yang sudah memiliki konsep kuat, dan kemungkinan satu buku lagi yang akan lahir tahun ini.
Artinya, tahun ini total bisa mencapai lima hingga enam buku.
Jujur saja, menurutku itu luar biasa.
Dua tahun sebelumnya aku hanya mampu menyelesaikan dua buku setiap tahun.
Awalnya aku berpikir dua buku per tahun sudah cukup.
Namun kemudian aku bertanya kepada diri sendiri:
“Kalau aku bisa menulis lebih banyak, kenapa harus membatasi diri?“
Apalagi suatu hari nanti mungki aku akan memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Saat itu mungkin aku tidak akan memiliki waktu sebanyak sekarang.
Jadi mungkin inilah waktunya untuk berkarya sebanyak mungkin.
Menurutku, kunci terbesar tetaplah ide.
Ide bisa datang dari membaca buku, mengamati lingkungan sekitar, atau pengalaman hidup sehari-hari.
Aku juga selalu fokus menyelesaikan satu buku hingga selesai terlebih dahulu.
Ide untuk buku lain tetap dicatat, tetapi pengerjaannya tidak bersamaan.
Kalau tidak fokus, biasanya tidak ada buku yang benar-benar selesai.
Karena itulah aku memutuskan untuk kembali menulis A Weekend with Warrior untuk akhir pekan kali ini.
Pagi Bersama Taman Mini Running Club
Aku tiba di TMII pukul 06.15 WIB, sementara waktu kumpul pukul 06.30 WIB.
Jadi, masih ontime :).
Sudah lama sekali aku tidak latihan rutin.
Kesibukan pekerjaan membuat waktu latihan sangat berkurang.
Padahal bulan Agustus nanti aku berencana mengikuti marathon, jadi sudah waktunya kembali beradaptasi.
Hari ini sekaligus menjadi gathering Taman Mini Running Club tahun 2026.
Acara juga didukung oleh manajemen TMII yang menyediakan makanan dan minuman.
Terima kasih ya TMII.
Kegiatan dimulai dengan strength training, lalu dilanjutkan lari mengelilingi beberapa ikon TMII untuk dokumentasi.
Kami melewati Anjungan Sumatera Barat, Istana Anak-Anak Indonesia, dan kembali ke Plaza Kori.
Setelah itu acara ditutup dengan foto bersama.
Foto TRC Tanggal 06 Juni 2026
Kalau ditanya apakah aku mengenal semuanya?
Tentu tidak.
Maklum, aku sudah lama tidak aktif latihan bersama mereka.
Namun begitulah hidup saat ini.
Selama memiliki tujuan dan kepentingan yang sama, orang-orang bisa berjalan bersama.
Bahkan aku pernah memiliki rekan kerja yang tidak pernah kutemui langsung selama dua tahun.
Saat akhirnya bertemu, aku baru mengenalinya dari suara.
Begitulah era meeting online.
Sore di TMII Lagi
Setelah pulang, aku mandi, minum kopi, membuka laptop, membalas chat, email, dan menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan.
Targetku saat itu semua urusan selesai sebelum pukul 14.00 WIB.
Setelahnya aku kembali ke TMII menggunakan sepeda.
Tujuannya sederhana: ingin mencoba acara kuliner dari Anjungan Kalimantan Selatan yang kulihat di media sosial.
Aku tiba sekitar pukul 15.15 WIB, tetapi ternyata acaranya tidak terlihat.
Akhirnya aku berkeliling TMII terlebih dahulu.
Setelah mengecek media sosial lagi, ternyata acara sudah dimulai.
Langsung saja aku menuju lokasi.
Aku menikmati berbagai makanan, naik perahu, dan semuanya gratis.
Anjungan Kalimantan Selatan memang sering mengadakan acara menarik seperti ini.
Tim pengincar gratis mana suaranya ? Ane dong 🙂Habis Gowes diajak naik kapal ? Wong gratis gas 🙂
Setelah ngobrol santai dan menikmati suasana, aku pun pulang.
Kalau memang sering ke TMII, menurutku wajib memiliki annual pass.
Saat ini harganya sekitar Rp400.000 per tahun.
Dengan frekuensi kunjungan yang tinggi, menurutku cukup menguntungkan.
Malam di Gym
Malam harinya aku pergi ke Gym Majapahit.
Gym Majaphit itu sebutan bagi Gym kampung, itu kata orang-orang 🙂
Sudah lama juga tidak latihan di sana.
Biayanya cukup murah, sekitar Rp175.000 per bulan.
Aku hanya berlatih sekitar 40 menit karena besok pagi harus mengikuti acara Yellow Run.
Setelah latihan, aku membeli makan malam sekaligus sarapan untuk esok hari, lalu pulang dan beristirahat.
Sebelum tidur, aku hanya berharap “ Semoga besok tidak telat ya Allah, Aamiin.”
Minggu, 08 Juni 2026
Alarm berbunyi pukul 02.00 WIB.
Seperti biasa, aku memasang lebih dari tujuh alarm dengan waktu berbeda.
Strateginya sederhana: kalau alarm pertama gagal membangunkanku, masih ada alarm berikutnya.
Nyatanya tetap tidak berhasil.
Aku kembali tidur dan baru benar-benar baru bangun pukul 02.30 WIB karena jam weker manual.
Itu lah sebabnya kenapa aku masih menggunakan jam weker manual 🙂
Setelah mandi dan salat, aku sarapan ringan, minum susu, vitamin, dan roti.
Pukul 03.45 WIB aku berangkat menuju GBK, lokasi acara Yellow Run.
Aku tiba sekitar pukul 04.30 WIB dan langsung menuju masjid untuk salat.
Setelah itu aku bertemu teman kantor yang juga mengikuti acara ini.
Kami mengobrol sambil menunggu waktu start.
Acara dimulai sekitar pukul 05.40 WIB.
Jujur saja, kakiku sudah terasa lelah bahkan sebelum lomba dimulai.
Mungkin efek latihan strength training dan lari bersama Taman Mini Running Club sehari sebelumnya.
Namun memang beginilah proses kembali beradaptasi setelah lama tidak berlatih rutin.
Peserta acara sangat banyak, sekitar 10.000 orang.
Menurutku, dengan biaya pendaftaran hanya sekitar Rp200.000, acara ini sangat mewah.
Peserta mendapatkan medali, jersey lari, jersey finisher, goodie bag, snack, dan kesempatan mendapatkan doorprize.
Aku berhasil menyelesaikan lomba dalam waktu antara 31 hingga 38 menit.
Aku tidak terlalu ingat karena memang jarang menggunakan Strava atau jam lari.
Jadi, hanya perkiraan saja dari teman yang tiba sebelum dan sesudah finish dengan ku
Setelah melewati garis finis, aku berfoto bersama dan menikmati suasana acara.
Foto dengan teman kantor 🙂
Doorprize dan Rezeki Tak Terduga
Sambil menunggu pengundian doorprize, aku menikmati makanan yang kubeli di acara dan kopi yang kubawa dari rumah.
Sambil makan & minum kopi sambil nonton konser, enak ey wkw
Suasana semakin meriah dengan hiburan musik dan penampilan para tamu undangan.
Salah satunya adalah Bahlil.
Aku mengenalnya sejak sekitar sepuluh tahun lalu.
Menurutku, beliau adalah sosok yang luar biasa.
Bayangkan, seorang pemuda dari Papua dengan latar belakang sederhana mampu menjadi salah satu tokoh penting di republik ini.
Terlepas dari benar atau salahnya kebijakan, perjalanan hidup seperti itu tetap layak dihargai.
Saat pengundian doorprize berlangsung, tiba-tiba namaku muncul di layar.
Aku mendapatkan rice cooker.
Alhamdulillah.
Hanya menjemput Rezeki takdir hehe
Wkwk pulang-pulang bawa rice cooker 🙂
Dan ternyata pas mau pulang ketemu Om Agus, pelari yang kenceng ini.
Izin foto Om 🙂
Dengan Om Agus Prayogo 🙂
Donor Darah
Setelah acara selesai, aku langsung menuju PMI Jakarta untuk donor darah.
Hari itu adalah hari ke-61 sejak donor darah terakhirku.
Dalam setahun, biasanya aku donor darah sekitar enam kali.
Aku pun menuju meja pengambilan darah dan proses donor dimulai.
Saat hendak naik ke tempat tidur donor, beberapa perawat menghampiriku dan menawarkan jenis donor lain yang bisa dilakukan setiap dua minggu sekali.
Bedanya, yang diambil adalah komponen tertentu dari darah, dan prosesnya jauh lebih lama, sekitar 45 menit.
Sementara donor darah biasa yang sering kulakukan biasanya hanya sekitar 10 menit saja.
Mungkin karena saat itu aku masih memakai jersey running sehingga terlihat cukup fit.
Padahal kenyataannya aku kurang tidur, kurang makan, dan baru saja menyelesaikan lari pagi yang cukup melelahkan.
Namun para perawat terus mencoba meyakinkanku.
Mereka melihat bahwa aku sudah lebih dari 20 kali donor darah dan masih tergolong muda.
Jujur saja, aku agak bimbang karena baru tahu ada jenis donor seperti ini.
Akhirnya, mereka mengambil sampel darahku terlebih dahulu untuk diperiksa di laboratorium.
Prosedurnya memang cukup ketat, terutama terkait kondisi darah dan pola makan.
Tidak lama kemudian hasilnya keluar.
Ternyata aku belum bisa mengikuti donor yang dilakukan setiap dua minggu tersebut karena kondisi darahku masih belum memenuhi syarat.
Kata petugas, hasilnya agak keruh atau semacam itu.
Mungkin karena pola makan juga.
Katanya perawat, jangan banyak makan satan.
Lah, tadi pagi aja aku makan rendang wkwk.
Jujur saja, aku sedikit lega.
Dua bulan lagi aku akan mengikuti marathon, jadi memang kondisi tubuh harus benar-benar dijaga.
Meski begitu, perawat tetap meminta nomor WhatsApp-ku dan mengatakan bahwa nanti aku bisa mencoba lagi setelah kondisi darahku lebih baik.
Kalau ditanya apakah aku tertarik atau tidak, jujur aku masih belum tahu.
Mungkin nanti saja setelah marathon selesai.
Bisa jadi mereka cukup tertarik karena golongan darahku AB, yang jumlahnya memang jauh lebih sedikit dibandingkan golongan darah lainnya.
Alhamdulillah masih rutin donor darah 🙂
Setelah selesai donor, mataku sudah sangat mengantuk.
Awalnya aku sempat berniat mencari makan terlebih dahulu, tetapi karena rasa kantuk yang luar biasa, aku memutuskan langsung pulang ke rumah.
Aku tiba di rumah sekitar pukul 13.30 WIB.
Begitu sampai di kasur, mungkin tidak sampai dua menit aku langsung tertidur pulas.
Sekitar satu jam kemudian aku terbangun dengan kondisi yang jauh lebih segar.
Mata terasa lebih ringan dan pikiran terasa lebih jernih.
Memang tubuh manusia memiliki mekanisme penyembuhannya sendiri.
Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan.
Untuk urusan makan, akhirnya aku memesan GrabFood saja, hehe.
Kurasa itu saja cerita selama dua hari ini.
Memang tidak sepenuhnya lengkap, mungkin hanya sekitar 60% dari semua yang terjadi, hehe.
Habis ini ya mau beres-beres rumah, makan, edit tulisan dan segala hal tentang dunia lah :).
Oh iya, kurang dari tiga hari lagi aku akan share buku ku yang keenam yang berjudul Terima Kasih Jilid 3 : MIMIK (Menjadi Insinyur Masa Indonesia Kini ).
Itu ada kata pengantar dari Ketua Insinyur Dunia, Ketua Insinyur Indonesia & para profesordari kampus Universitas Indonesia.
Kalo bulan depan, buku Barakah.
Ya gitulah, pokoknya stay tuned aja 🙂
Dan untuk menutup tulisan ini,
Terkadang kita selalu menunggu sosok pahlawan yang akan datang dan mengubah hidup kita. Padahal mungkin pahlawan yang selama ini kita tunggu adalah diri kita sendiri.
Selama masih bernapas, selama itu pula kita adalah seorang WARRIOR.
Bisa jadi karena liburan terlalu lama, atau mungkin karena rutinitas yang itu-itu saja, entahlah.
Tapi kalau lagi ada di fase seperti ini, bayangan tentang Pulau Bali sering muncul di pikiranku.
Ya, Bali memang salah satu tempat liburan yang paling aku suka.
Mungkin setelah Jakarta, ya Bali.
Rasanya tenang saja, dan aku cocok dengan auranya.
Walaupun untuk sekarang itu masih sebatas angan-angan.
Kalau sedang jenuh, biasanya yang aku lakukan cuma scroll HP, lihat macam-macam hal tanpa tujuan jelas.
Kadang pikiran juga jadi ke mana-mana, lalu tanpa sadar aku suka baca tulisan-tulisan lama.
Dulu waktu masih dapat beasiswa saat kuliah, setiap bulan aku diminta menulis apa saja yang aku lakukan selama sebulan dan mengirimkannya lewat email.
Dan entah kenapa, lucu saja rasanya membaca tulisan lama seperti itu.
Lebih ke nostalgia.
Aku juga memang termasuk orang yang malas bermain terlalu banyak media sosial.
Facebook-ku saja sudah sekitar 17 tahun, dan email Gmail-ku ternyata juga sudah lebih dari 11 tahun dipakai.
Lalu tanpa sengaja aku jadi ingat Tumblr.
Dulu aku memang sempat sering menulis di sana.
Kalau ditanya kapan aku mulai perjalanan menulis, mungkin sekitar tahun 2015.
Berarti sekarang sudah lebih dari 11 tahun juga.
Kenapa 2015?
Kayanya karena saat itu aku baru punya laptop sendiri.
Laptop second hasil beli pakai uang beasiswa.
Aku lupa belinya di ITC Depok atau Harco Glodok.
Yang penting waktu itu bisa dipakai buat Microsoft Word dan bikin PPT saja sudah senang banget.
Laptop itu berat sekali, mungkin lebih dari 2 kilogram.
Kalau menyala bunyinya berisik banget, seperti kipas angin di ruangan.
Panasnya juga luar biasa.
Bahkan pernah aku lihat ada cairan di atas meja, ternyata lilin yang meleleh karena panas laptopku sendiri.
Kocak juga kalau diingat sekarang.
Sekarang laptop itu ke mana ya?
Harusnya masih ada sih.
Biasanya barang-barang yang punya pengaruh besar dalam hidupku tidak aku jual.
Semacam benda bersejarah dan penuh kenangan.
Mestinya, masih tersimpan di rumah dan harus dicari lagi saat beres-beres nanti.
Sejak punya laptop itulah aku mulai benar-benar menulis.
Menulis di blog, menulis di Tumblr.
Dulu aku juga main Facebook dan Ask.fm, tapi masih zaman pergi ke warnet, sejam atau dua jam saja.
Rasanya sekarang dunia sudah berubah jauh banget ya.
Akhirnya aku coba buka Tumblr lamaku lagi.
Kukira Tumblr sudah hilang entah ke mana, ternyata masih ada.
Aku coba login, tentu saja password-nya salah.
Ya wajar, sudah lebih 10 tahun tidak dibuka.
Tapi ternyata email yang kupakai masih sama, jadi setelah klik “forgot password” aku bisa masuk lagi.
Pas berhasil login, aku malah mikir sendiri, “Eh, ternyata aku pernah punya foto seperti ini ya?”
Lucu juga rasanya melihat apa yang terjadi masa lalu.
Lalu aku jadi berpikir, “Orang-orang ini sekarang ada di mana ya?”
Ada beberapa yang memang masih aku kenal.
Ada juga yang ternyata sudah meninggal.
Dan banyak lainnya yang aku bahkan tidak tahu lagi kabarnya sekarang.
Mungkin memang begitu hidup.
Pada akhirnya, orang akan datang dan pergi.
Kita hanya menunggu di stasiun mana masing-masing akan berhenti.
Apakah itu hal yang baik?
Entahlah.
Tapi mungkin memang begitu seharusnya.
Manusia harus terus bergerak maju, terus hidup, dan jangan sampai terjebak terlalu lama di masa lalu.
Kadang kita suka berpikir:
“Ke mana ya orang yang dulu ranking satu di kelas?”
“Ke mana ya orang yang paling terkenal di sekolah?”
Ada juga yang dulu hidupnya kaya raya tapi sekarang justru kesulitan.
Ada juga yang dulu hidup susah, sekarang kehidupannya jauh lebih baik.
Hidup benar-benar misteri.
Kita pernah sangat dekat dengan seseorang, tapi sekarang bahkan saling menyapa pun tidak lagi.
Ya, begitulah kehidupan.
Tapi karena adanya foto dan tulisan-tulisan lama itu, jadi terasa bahwa ternyata kita memang pernah memiliki momen seperti itu.
Tentang menulis, akhir-akhir ini aku jadi ingin memperbanyak tulisan lagi.
Dua tahun belakangan aku berhasil menerbitkan dua buku dalam setahun.
Tahun ini targetnya mungkin empat buku.
Ke depan, kalau bisa ingin meningkat jadi lima sampai delapan buku per tahun.
Kenapa aku mengejar jumlah buku?
Karena aku merasa, di masa depan ketika tanggung jawab hidup semakin besar — mungkin juga ketika aku menjadi seseorang yang lebih penting di negeri ini — waktu untuk menulis akan jauh berkurang.
Jadi sebelum masa itu datang, aku ingin menulis sebanyak mungkin.
Kalau bisa sampai seratus buku.
Bismillah ya Allah.
Untuk soal kualitas, jujur sekarang aku masih lebih fokus pada kuantitas dulu.
Yang penting terus menulis dan terus bergerak.
Tapi lucunya, belakangan ini aku juga merasa mulai malas menulis.
Rasanya capek saja.
Astaghfirullah.
Padahal kita tidak pernah tahu umur sampai kapan.
Jadi ya, ayo semangat lagi.
Semangat menulis.
Semangat hidup.
Semangat bermimpi.
Oke lah, ini ada beberapa foto yang aku ambil dari Tumblr lamaku.
Lucu juga ternyata kalau melihat masa lalu sendiri, hehe.
Ini pas lagi di kampung inggris terus jalan-jalan sama temen-temen kemana ya wkwkJujur gue lupa pernah kesini. Funfact nya, gue tadi nyari foto gw sekitar 3 menit belum ketemu tapi akhirnya ketemu. Buset udah kaya beda orang gue sama dulu, pasti karena kurus banget dulu wkwk
Oh iya, gambar nya udah pakai jaket kuning ya, gile gue bangga banget ternyata sama UI dari dulu ye wkwk.
Ya gapapalah, tolong dimaklumin.
Itu dulu ya, gue mau makan dulu, udah datang ini grabfood hehe.
Rasanya dalam hidup banyak hal yang terjadi di luar rencana kita dan terjadilah.
Ya, itulah hidup.
Dan sekarang mungkin aku ingin menceritakan tentang pengalamanku dalam mengikuti seleksi duta baca provinsi Jakarta tahun 2026.
Asal Muasal
Sejujurnya aku baru tahu bahwa ada duta baca.
Mungkin aku pernah mendengar tentang itu, tapi mungkin pula bahwa nama duta baca itu baru bersemarak akhir-akhir ini karena minat baca masyarakat yang semakin tinggi.
Bahkan di UI sendiri duta baca itu baru ada di tahun lalu.
Jujur saja bahwa aku ingin ikut yang duta baca UI, namun yang berhak ikut itu yang masih mahasiswa dan yang masih jadi dosen.
Sehingga, ada duta baca mahasiswa dan duta baca dosen.
Sedangkan aku sudah lulus alias alumni, jadi tidak diperkenankan untuk mengikuti.
Duta baca provinsi Jakarta
Di tahun 2024, aku melihat informasi mengenai seleksi duta baca provinsi Jakarta.
Tapi melihat persyaratan nya saja sudah ribet, seperti harus ada rekomendasi dari suku dinas kota wilayah asal.
Ya, karena aku dari timur ya aku harus mendapatkan rekomendasi dari wilayah kota Jakarta timur.
Aku menanyakan itu melalui kanal sosial media dan juga telepon.
Namun, seperti biasa pada umumnya bahwa tidak ada respon.
Ah, seperti biasa pada umumnya saja bahwa di sosial media ada informasi awal, tapi ketika difollow up lebih lanjut tidak ada kabar.
Setelah tidak ada tanda-tanda hilal untuk wilayah provinsi Jakarta, aku lihat berbarengan bahwa untuk kota Jakarta timur itu juga sedang buka untuk mencari duta baca kota Jakarta timur.
Kulihat persyaratan nya dan ternyata jauh lebih mudah, tak ada rekomendasi, hanya mengikuti persyaratan yang simple aja seperti isi form, surat komitmen, buat resensi 3 buku, foto perpustakaan pribadi dan beberapa hal yang bisa dilakukan.
Aku pun lulus seleksi administrasi, dan kayaknya seingatku itu langsung tahap akhir yakni buat essai tentang ide visi misi duta baca dan presentasi.
Saat itu, aku masih belum menemukan ide untuk mau ngapain aja ya aku kalau jadi duta baca.
Selain itu, aku pun juga belum menerbitkan buku pertama ku saat itu.
Rasanya malu aja duta baca kok ga nulis.
Selain itu, aku pun ga punya platform sosial media seperti Instagram ataupun TikTok.
Yowis, aku tak ikut presentasi akhir itu.
Seiring berjalannya waktu tak terasa bahwa hampir 2 tahun berlalu dan aku melihat informasi bahwa duta baca provinsi Jakarta tahun 2026 ini sedang dibuka.
Aku lihat persyaratannya, masih sama seperti dua tahun yang lalu.
Namun, untuk kali ini informasi dari Instragram bahwa surat rekomendasi bisa di lewatkan saja bagi yang belum punya.
Aku pun daftar untuk provinsi Jakarta tahun 2026 ini
Duta Baca Provinsi Jakarta
Setelah aku submit, hari pengumuman pun tiba bahwa aku pun lolos seleksi administrasi dan melanjutkan ke tahap seleksi tertulis dan setelahnya baru presentasi akhir.
Pengumuman seleksi administrasi
Rasanya aneh aja bisa lolos, tapi bersyukur sih.
Ya sudah aku jalanin saja takdir ku.
Mendapatkan pengumuman lolos seleksi administrasi dan mendapat email untuk mempelajari soal-soal seperti peraturan daerah, undang-undang, peraturan gubernur dan lainnya pun aku pelajarin di internet.
Sederhana aku siapkan untuk belajar untuk mengikuti tes seleksi tertulis nya.
Sebelumnya aku juga menonton podcast dari Duta Baca Indonesia yakni Gol A Gong.
Dia menceritakan dan mengkritik tentang duta baca di tingkat daerah ataupun sekolah.
Beberapa kritik pun aku juga sepakat dengan nya bahwa seorang duta baca itu adalah role model, artinya dia ga cuman suka membaca saja tapi juga mesti suka menulis dan memiliki minimal satu buku.
Kenyataan, banyak sekali duta baca yang tidak memiliki buku nya sendiri.
Bahkan, banyak yang dari sebelumnya duta pariwisata ataupun yang berkaitan dengan hubungan masyarakat yang terpilih menjadi duta baca karena jago dengan promosi.
Ini ga salah juga, tapi aku sepakat dengan Gol A Gong, bahwa yang benar itu ya duta baca ya harus punya bukunya sendiri.
Kalau engga punya, ya gimana ya wkwk.
Kedua, juga Gol A Gong menyoroti bahwa duta baca itu kalau bisa jangan yang masih sekolah.
Kenapa ?
Ya karena akan sulit dengan kesibukan dan sebenarnya lebih kearah kaya menara gading aja, sulit untuk dijangkau terutama ke anak tongkrongan.
Seakan duta baca itu kaya orang pintar yang obrolan nya hanya buku saja.
Padahal Duta baca itu haruslah membumi, dan umumnya bahwa orang yang sudah lulus dari sekolah yang baiknya menjadi duta baca untuk wilayah seperti kota ataupun provinsi.
Alasannya ya karena dunia sebenarnya itu bukan di sekolah tapi di kehidupan seperti pekerjaan dan masyarakat.
Itu penilaian subjektif ku.
Ya, setidaknya pikiran ku dengan Gol A Gong itu sudah sama.
Kemudian, aku kun mengikuti tes ujian tertulis nya.
Sebelum tes ada pengenalan tentang duta baca provinsi jakarta dan hal normatif lainnya.
Setelahnya tes berlangsung satu jam dan ternyata open book.
Pastinya kamera pun mesti dinyalakan.
Ya kalau open book mah enak banget, dan ternyata gampang ya soalnya.
Soal terdiri dari puluhan dari pilihan ganda dan ada satu soal essay tentang kalau mau jadi duta baca apa yang mau kamu lakukan.
Aku suka itu hampir 30 menit sendiri, ga tanggung – tanggung aku langsung tulis 30 ide ku dalam menjawab pertanyaan ini.
Dan setelah aku menjawab rasanya aku pede untuk lolos ke seleksi akhir dong :).
Tapi ternyata aku tidak lolos wkwk.
Dari 8 besar ternyata yang diambil 6 besar.
Aku pun bingung ya kenapa aku ga lolos, untungnya jawabanku masih ada sehingga aku copy paste di chat gpt dan menganalisa kenapa ga lolos
1. Aku ga termasuk member Perpustakaan Jakarta
Memang di persyaratan ada seperti ini sih, cuman aku gatau sebenarnya yang dimaksud member ini seperti apa.
Kalau member sebagai perpustakaan nasional bahkan udah punya lebih dari 10 tahun lalu.
Kalau perpustakaan kaya Cikini yang dimaksud juga ga pernah di infokan tentang member
2. Tidak ada rekomendasi
Kayaknya emang kalau dilihat bahwa duta baca provinsi Jakarta yang kemarin itu kan dulunya duta baca kota Jakarta Timur, jadi ya biar berlanjut aja.
Sedangkan aku yang ga ada rekomendasi dari suku dinas ya selesai.
Ini kan pendapat ku saja
3. Tidak ada sosial media
Rasanya mungkin aku sendiri yang ada akun Instagram dan tiktok sehingga mereka memandang ku kurang cocok saja.
Yasudah tak masalah.
4. Program yang tidak membumi dan tidak fokus.
Tentu, aku bahkan buat 30 program cuy, aku percaya bahwa tidak hanya kualitas tapi juga kuantitas yang mendekat kan duta baca itu dengan masyarakat itu sendiri.
Bahkan, di beberapa program aku sudah sampaikan bahwa ini pakai dana pribadi ku juga masalah.
Tapi, kayaknya ga cocok saja dengan apa yang dicari oleh panitia seleksi.
Padahal, aku ngerasa jawabanku bagus.
5. Ketuaan.
Kalau dilihat dari duta baca sebelum nya yakni masih mahasiswa, dan yang ikut sekarang kayaknya aku yang paling tua deh, kebanyakan masih mahasiswa.
Ih, padahal kan maksimal usia yang boleh daftar saja yakni 35 tahun.
Apa ini hanya formalitas saja ya wkwk.
6. Disegani
Ya mungkin karena usiaku yang mungkin dianggap tua oleh mereka, jadi mereka segan kalau buat nyuruh nyuruh aku wkwk.
Ya kan ini menurut ku saja.
Lagi pula yang dicari emang bukan yang paling pintar, hebat ataupun lain nya sih, tapi yang paling cocok dengan panitia yang seleksi saja.
Aku juga bersyukur sih sudah masuk 8 besar, dan kayaknya juga emang aku udah sibuk saja.
Tapi, agak aneh sebenarnya sama panitia tapi ya sudahlah.
Amor fati, cintailah nasibmu wkwk.
Mungkin aku juga jadi sadar bahwa menjadi mitra dari pemerintah itu ribet, dimana itu prosedural tapi ditekan untuk mewujudkannya.
Berbeda dengan swasta ataupun individu dimana lebih ke goals orientasi saja.
Contoh Nadiem Makarim itu contoh nyata bahwa pemerintah belum siap dengan orang – orang yang berinovasi secara radikal.
Tapi aku dapat tips bahwa kalau kerja di pemerintah ikut prosedur saja, kalau ga mencapai target gapapa, yang penting tidak menyalahkan aturan.
Kalau swasta kan ga mungkin bisa menunggu lama.
Ya walau belum tentu menyalahkan aturan, tapi proses yang bergerak secara paralel itu yang kadang bisa dianggap menyalahkan aturan.
Yowis, aku pikir ini adalah akhir ku untuk mengikuti seleksi duta baca provinsi Jakarta.
Hal ini tentu mengingat waktu ku yang makin padat seiring berjalannya usia.
Setidaknya aku sudah masuk 8 besar lah ya wkwk.
Lumayan lah:).
Tapi, gue ngerasa janggal sebenarnya sama panitia, tapi yasudah lah.
Semoga duta baca Jakarta terpilih bisa membuat Jakarta menjadi kota yang semakin suka baca, dan pastinya juga tidak hanya membaca tapi juga menulis.
Karena nya menulis & memiliki buku sendiri adalah Duta yang abadi dan tidak bisa dicabut oleh siapapun.
Sebenarnya apa yang dimaksud menjadi seorang muslim.
Terkadang pertanyaan itu selalu menghantui dalam otakku.
Terkadang pula aku sudah menemukan jawaban yang sudah ku tetapkan.
Namun entah saja bahwa pertanyaan itu tetap saja menghantui dalam pikiran ku.
Menjadi muslim ya.
Hm, pertanyaan itu seakan menjadi pengingat yang terus berulang dalam otakku ku.
Ya, setelah pertanyaan kapan aku mati, maka pertanyaan tentang menjadi seorang muslim selalu ada dalam otakku.
Muslim adalah seorang yang berserah.
Seorang yang tunduk pada Nya.
Seseorang yang rindu akan kematian dan siap bila datang.
Seseorang yang berikhtiar hidup mulia atau mati terhormat.
Seseorang yang bertujuan menjadi pemimpin di muka bumi dan menjadi hamba tuhan.
Dan masih banyak sekali pengertian menjadi seorang muslim yang bisa ku sampaikan.
Bahkan mungkin aku bisa menulis ribuan definisi menjadi bagaimana menjadi seorang muslim.
Namun, dari semua jawaban itu, pertanyaan itu selalu muncul dalam kepalaku.
Muslim.
Muslim.
Muslim.
Bagiku, menjadi muslim adalah nikmat yang paling berharga dalam hidupku.
Terkadang pula, teorinya sih sudah benar tapi buat menjalankan saja yang terkadang rasanya sulit sekali.
Menjadi muslim ya.
Aku paling sepakat bahwa menjadi seorang muslim adalah menjadi orang yang paling rindu dengan kematian & bertemu surga di akhirat, tempat manusia berasal.
Dunia yang ada sekarang ini adalah ujian yang nabi Adam memulainya.
Sial sekali bahwa aku melihat banyak pertanyaan tentang alam semesta ini yang mungkin belum bisa terjawab dalam kehidupan ku.
Mungkin, itu akan menghabiskan banyak dekade yang banyak pertanyaan ku tidak bisa terjawab.
Layaknya Isaac Newton yang sudah meramalkan bahwa akan ada teori yang akan melewati teori nya sekitar dua ratus hingga 300 tahun kemudian.
Dan akhirnya, sosok yang ditunggu pun muncul yakni Albert Einstein dengan teori relativitasnya.
Mungkin banyak hal didunia ini yang memang tak pernah terjawab saat manusia itu masih hidup.
Ah, adil juga ya.
Bagi yang tidak beriman, akan sulit memahami konsep ini.
Bagi yang beriman rasanya mudah sekali.
Sederhana sih sebenarnya nih ya, menuju surga itu murah loh, bisa ke masjid, puasa, sedekah dan lainnya.
Kalo menuju neraka sebenarnya yang mahal, mau mabok, narkoba, ataupun mau males yang habisin uang aja.
Sial sekali kehidupan ku ini.
Bahwa di usia yang masih muda ku ini bahwa aku sudah mulai melihat akhir kematianku.
Namun, akan lebih sial bila aku tak menyadari kenapa aku hidup ini.
Hidup yang sangat singkat.
Hidup yang hanya sifatnya ujian.
Dan atas dasar itulah, aku harus maju terus untuk menjemput kematian ku.
Sehingga, ketika aku mati, aku rasa aku sudah tenang.
Ya, aku sudah menjalankan tugasku sebagai seorang manusia di waktu yang sangat singkat ini.
Semoga aku menjadi orang yang beruntung.
Namun, tetap saja, terkait dunia ya.
Aku takut bahwa aku jatuh cinta pada dunia.
Jelas sekali, bahwa sekarang aku masih menaruh dunia fana ini di tanganku bukan dihatiku.
Buktinya ?
Aku menulis curhatan ini dan para pembaca bisa tahu posisi ku dalam kehidupan ini mengambil posisi apa.
Manusia yang rindu kematian.
Namun, aku tak akan menampik bahwa aku takut bahwa aku jatuh cinta pada dunia ini, pada manusia ini, dan pada segala hal yang menjauhkan aku dengan Nya.