Rasanya dalam hidup banyak hal yang terjadi di luar rencana kita dan terjadilah.
Ya, itulah hidup.
Dan sekarang mungkin aku ingin menceritakan tentang pengalamanku dalam mengikuti seleksi duta baca provinsi Jakarta tahun 2026.
Asal Muasal
Sejujurnya aku baru tahu bahwa ada duta baca.
Mungkin aku pernah mendengar tentang itu, tapi mungkin pula bahwa nama duta baca itu baru bersemarak akhir-akhir ini karena minat baca masyarakat yang semakin tinggi.
Bahkan di UI sendiri duta baca itu baru ada di tahun lalu.
Jujur saja bahwa aku ingin ikut yang duta baca UI, namun yang berhak ikut itu yang masih mahasiswa dan yang masih jadi dosen.
Sehingga, ada duta baca mahasiswa dan duta baca dosen.
Sedangkan aku sudah lulus alias alumni, jadi tidak diperkenankan untuk mengikuti.
Duta baca provinsi Jakarta
Di tahun 2024, aku melihat informasi mengenai seleksi duta baca provinsi Jakarta.
Tapi melihat persyaratan nya saja sudah ribet, seperti harus ada rekomendasi dari suku dinas kota wilayah asal.
Ya, karena aku dari timur ya aku harus mendapatkan rekomendasi dari wilayah kota Jakarta timur.
Aku menanyakan itu melalui kanal sosial media dan juga telepon.
Namun, seperti biasa pada umumnya bahwa tidak ada respon.
Ah, seperti biasa pada umumnya saja bahwa di sosial media ada informasi awal, tapi ketika difollow up lebih lanjut tidak ada kabar.
Setelah tidak ada tanda-tanda hilal untuk wilayah provinsi Jakarta, aku lihat berbarengan bahwa untuk kota Jakarta timur itu juga sedang buka untuk mencari duta baca kota Jakarta timur.
Kulihat persyaratan nya dan ternyata jauh lebih mudah, tak ada rekomendasi, hanya mengikuti persyaratan yang simple aja seperti isi form, surat komitmen, buat resensi 3 buku, foto perpustakaan pribadi dan beberapa hal yang bisa dilakukan.
Aku pun lulus seleksi administrasi, dan kayaknya seingatku itu langsung tahap akhir yakni buat essai tentang ide visi misi duta baca dan presentasi.
Saat itu, aku masih belum menemukan ide untuk mau ngapain aja ya aku kalau jadi duta baca.
Selain itu, aku pun juga belum menerbitkan buku pertama ku saat itu.
Rasanya malu aja duta baca kok ga nulis.
Selain itu, aku pun ga punya platform sosial media seperti Instagram ataupun TikTok.
Yowis, aku tak ikut presentasi akhir itu.
Seiring berjalannya waktu tak terasa bahwa hampir 2 tahun berlalu dan aku melihat informasi bahwa duta baca provinsi Jakarta tahun 2026 ini sedang dibuka.
Aku lihat persyaratannya, masih sama seperti dua tahun yang lalu.
Namun, untuk kali ini informasi dari Instragram bahwa surat rekomendasi bisa di lewatkan saja bagi yang belum punya.
Aku pun daftar untuk provinsi Jakarta tahun 2026 ini
Duta Baca Provinsi Jakarta
Setelah aku submit, hari pengumuman pun tiba bahwa aku pun lolos seleksi administrasi dan melanjutkan ke tahap seleksi tertulis dan setelahnya baru presentasi akhir.
Pengumuman seleksi administrasi
Rasanya aneh aja bisa lolos, tapi bersyukur sih.
Ya sudah aku jalanin saja takdir ku.
Mendapatkan pengumuman lolos seleksi administrasi dan mendapat email untuk mempelajari soal-soal seperti peraturan daerah, undang-undang, peraturan gubernur dan lainnya pun aku pelajarin di internet.
Sederhana aku siapkan untuk belajar untuk mengikuti tes seleksi tertulis nya.
Sebelumnya aku juga menonton podcast dari Duta Baca Indonesia yakni Gol A Gong.
Dia menceritakan dan mengkritik tentang duta baca di tingkat daerah ataupun sekolah.
Beberapa kritik pun aku juga sepakat dengan nya bahwa seorang duta baca itu adalah role model, artinya dia ga cuman suka membaca saja tapi juga mesti suka menulis dan memiliki minimal satu buku.
Kenyataan, banyak sekali duta baca yang tidak memiliki buku nya sendiri.
Bahkan, banyak yang dari sebelumnya duta pariwisata ataupun yang berkaitan dengan hubungan masyarakat yang terpilih menjadi duta baca karena jago dengan promosi.
Ini ga salah juga, tapi aku sepakat dengan Gol A Gong, bahwa yang benar itu ya duta baca ya harus punya bukunya sendiri.
Kalau engga punya, ya gimana ya wkwk.
Kedua, juga Gol A Gong menyoroti bahwa duta baca itu kalau bisa jangan yang masih sekolah.
Kenapa ?
Ya karena akan sulit dengan kesibukan dan sebenarnya lebih kearah kaya menara gading aja, sulit untuk dijangkau terutama ke anak tongkrongan.
Seakan duta baca itu kaya orang pintar yang obrolan nya hanya buku saja.
Padahal Duta baca itu haruslah membumi, dan umumnya bahwa orang yang sudah lulus dari sekolah yang baiknya menjadi duta baca untuk wilayah seperti kota ataupun provinsi.
Alasannya ya karena dunia sebenarnya itu bukan di sekolah tapi di kehidupan seperti pekerjaan dan masyarakat.
Itu penilaian subjektif ku.
Ya, setidaknya pikiran ku dengan Gol A Gong itu sudah sama.
Kemudian, aku kun mengikuti tes ujian tertulis nya.
Sebelum tes ada pengenalan tentang duta baca provinsi jakarta dan hal normatif lainnya.
Setelahnya tes berlangsung satu jam dan ternyata open book.
Pastinya kamera pun mesti dinyalakan.
Ya kalau open book mah enak banget, dan ternyata gampang ya soalnya.
Soal terdiri dari puluhan dari pilihan ganda dan ada satu soal essay tentang kalau mau jadi duta baca apa yang mau kamu lakukan.
Aku suka itu hampir 30 menit sendiri, ga tanggung – tanggung aku langsung tulis 30 ide ku dalam menjawab pertanyaan ini.
Dan setelah aku menjawab rasanya aku pede untuk lolos ke seleksi akhir dong :).
Tapi ternyata aku tidak lolos wkwk.
Dari 8 besar ternyata yang diambil 6 besar.
Aku pun bingung ya kenapa aku ga lolos, untungnya jawabanku masih ada sehingga aku copy paste di chat gpt dan menganalisa kenapa ga lolos
1. Aku ga termasuk member Perpustakaan Jakarta
Memang di persyaratan ada seperti ini sih, cuman aku gatau sebenarnya yang dimaksud member ini seperti apa.
Kalau member sebagai perpustakaan nasional bahkan udah punya lebih dari 10 tahun lalu.
Kalau perpustakaan kaya Cikini yang dimaksud juga ga pernah di infokan tentang member
2. Tidak ada rekomendasi
Kayaknya emang kalau dilihat bahwa duta baca provinsi Jakarta yang kemarin itu kan dulunya duta baca kota Jakarta Timur, jadi ya biar berlanjut aja.
Sedangkan aku yang ga ada rekomendasi dari suku dinas ya selesai.
Ini kan pendapat ku saja
3. Tidak ada sosial media
Rasanya mungkin aku sendiri yang ada akun Instagram dan tiktok sehingga mereka memandang ku kurang cocok saja.
Yasudah tak masalah.
4. Program yang tidak membumi dan tidak fokus.
Tentu, aku bahkan buat 30 program cuy, aku percaya bahwa tidak hanya kualitas tapi juga kuantitas yang mendekat kan duta baca itu dengan masyarakat itu sendiri.
Bahkan, di beberapa program aku sudah sampaikan bahwa ini pakai dana pribadi ku juga masalah.
Tapi, kayaknya ga cocok saja dengan apa yang dicari oleh panitia seleksi.
Padahal, aku ngerasa jawabanku bagus.
5. Ketuaan.
Kalau dilihat dari duta baca sebelum nya yakni masih mahasiswa, dan yang ikut sekarang kayaknya aku yang paling tua deh, kebanyakan masih mahasiswa.
Ih, padahal kan maksimal usia yang boleh daftar saja yakni 35 tahun.
Apa ini hanya formalitas saja ya wkwk.
6. Disegani
Ya mungkin karena usiaku yang mungkin dianggap tua oleh mereka, jadi mereka segan kalau buat nyuruh nyuruh aku wkwk.
Ya kan ini menurut ku saja.
Lagi pula yang dicari emang bukan yang paling pintar, hebat ataupun lain nya sih, tapi yang paling cocok dengan panitia yang seleksi saja.
Aku juga bersyukur sih sudah masuk 8 besar, dan kayaknya juga emang aku udah sibuk saja.
Tapi, agak aneh sebenarnya sama panitia tapi ya sudahlah.
Amor fati, cintailah nasibmu wkwk.
Mungkin aku juga jadi sadar bahwa menjadi mitra dari pemerintah itu ribet, dimana itu prosedural tapi ditekan untuk mewujudkannya.
Berbeda dengan swasta ataupun individu dimana lebih ke goals orientasi saja.
Contoh Nadiem Makarim itu contoh nyata bahwa pemerintah belum siap dengan orang – orang yang berinovasi secara radikal.
Tapi aku dapat tips bahwa kalau kerja di pemerintah ikut prosedur saja, kalau ga mencapai target gapapa, yang penting tidak menyalahkan aturan.
Kalau swasta kan ga mungkin bisa menunggu lama.
Ya walau belum tentu menyalahkan aturan, tapi proses yang bergerak secara paralel itu yang kadang bisa dianggap menyalahkan aturan.
Yowis, aku pikir ini adalah akhir ku untuk mengikuti seleksi duta baca provinsi Jakarta.
Hal ini tentu mengingat waktu ku yang makin padat seiring berjalannya usia.
Setidaknya aku sudah masuk 8 besar lah ya wkwk.
Lumayan lah:).
Tapi, gue ngerasa janggal sebenarnya sama panitia, tapi yasudah lah.
Semoga duta baca Jakarta terpilih bisa membuat Jakarta menjadi kota yang semakin suka baca, dan pastinya juga tidak hanya membaca tapi juga menulis.
Karena nya menulis & memiliki buku sendiri adalah Duta yang abadi dan tidak bisa dicabut oleh siapapun.
Sebenarnya apa yang dimaksud menjadi seorang muslim.
Terkadang pertanyaan itu selalu menghantui dalam otakku.
Terkadang pula aku sudah menemukan jawaban yang sudah ku tetapkan.
Namun entah saja bahwa pertanyaan itu tetap saja menghantui dalam pikiran ku.
Menjadi muslim ya.
Hm, pertanyaan itu seakan menjadi pengingat yang terus berulang dalam otakku ku.
Ya, setelah pertanyaan kapan aku mati, maka pertanyaan tentang menjadi seorang muslim selalu ada dalam otakku.
Muslim adalah seorang yang berserah.
Seorang yang tunduk pada Nya.
Seseorang yang rindu akan kematian dan siap bila datang.
Seseorang yang berikhtiar hidup mulia atau mati terhormat.
Seseorang yang bertujuan menjadi pemimpin di muka bumi dan menjadi hamba tuhan.
Dan masih banyak sekali pengertian menjadi seorang muslim yang bisa ku sampaikan.
Bahkan mungkin aku bisa menulis ribuan definisi menjadi bagaimana menjadi seorang muslim.
Namun, dari semua jawaban itu, pertanyaan itu selalu muncul dalam kepalaku.
Muslim.
Muslim.
Muslim.
Bagiku, menjadi muslim adalah nikmat yang paling berharga dalam hidupku.
Terkadang pula, teorinya sih sudah benar tapi buat menjalankan saja yang terkadang rasanya sulit sekali.
Menjadi muslim ya.
Aku paling sepakat bahwa menjadi seorang muslim adalah menjadi orang yang paling rindu dengan kematian & bertemu surga di akhirat, tempat manusia berasal.
Dunia yang ada sekarang ini adalah ujian yang nabi Adam memulainya.
Sial sekali bahwa aku melihat banyak pertanyaan tentang alam semesta ini yang mungkin belum bisa terjawab dalam kehidupan ku.
Mungkin, itu akan menghabiskan banyak dekade yang banyak pertanyaan ku tidak bisa terjawab.
Layaknya Isaac Newton yang sudah meramalkan bahwa akan ada teori yang akan melewati teori nya sekitar dua ratus hingga 300 tahun kemudian.
Dan akhirnya, sosok yang ditunggu pun muncul yakni Albert Einstein dengan teori relativitasnya.
Mungkin banyak hal didunia ini yang memang tak pernah terjawab saat manusia itu masih hidup.
Ah, adil juga ya.
Bagi yang tidak beriman, akan sulit memahami konsep ini.
Bagi yang beriman rasanya mudah sekali.
Sederhana sih sebenarnya nih ya, menuju surga itu murah loh, bisa ke masjid, puasa, sedekah dan lainnya.
Kalo menuju neraka sebenarnya yang mahal, mau mabok, narkoba, ataupun mau males yang habisin uang aja.
Sial sekali kehidupan ku ini.
Bahwa di usia yang masih muda ku ini bahwa aku sudah mulai melihat akhir kematianku.
Namun, akan lebih sial bila aku tak menyadari kenapa aku hidup ini.
Hidup yang sangat singkat.
Hidup yang hanya sifatnya ujian.
Dan atas dasar itulah, aku harus maju terus untuk menjemput kematian ku.
Sehingga, ketika aku mati, aku rasa aku sudah tenang.
Ya, aku sudah menjalankan tugasku sebagai seorang manusia di waktu yang sangat singkat ini.
Semoga aku menjadi orang yang beruntung.
Namun, tetap saja, terkait dunia ya.
Aku takut bahwa aku jatuh cinta pada dunia.
Jelas sekali, bahwa sekarang aku masih menaruh dunia fana ini di tanganku bukan dihatiku.
Buktinya ?
Aku menulis curhatan ini dan para pembaca bisa tahu posisi ku dalam kehidupan ini mengambil posisi apa.
Manusia yang rindu kematian.
Namun, aku tak akan menampik bahwa aku takut bahwa aku jatuh cinta pada dunia ini, pada manusia ini, dan pada segala hal yang menjauhkan aku dengan Nya.
Kembali, ada peserta yang meninggal dunia saat mengikuti event lari di Sentul.
Ironisnya, event yang mengusung tema halal bihalal pelari—atau disebut juga “Lebaran Run”—justru meninggalkan duka mendalam.
Untuk itu, pertama-tama aku ingin mengucapkan: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Semoga amal ibadah almarhum diterima, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.
Mungkin, aku memulai tentang perkenalan diri sendiri dulu.
Perkenalkan, nama aku Rio.
Aku berprofesi sebagai insinyur.
Di dunia lari, aku masih tergolong baru—sekitar lima tahun.
Perjalanan aku pun tidak dimulai dari dorongan pribadi, melainkan ajakan teman untuk mengikuti event virtual run secara grup pada tahun 2021.
Dari situlah aku mendapatkan medali pertama.
Setelah itu, aku baru mulai rutin berlari kembali di tahun 2024.
Saat ini, aku adalah pelari road yang cukup percaya diri untuk mengikuti event hingga 21 km (half marathon) dengan batas cut-off time.
Untuk trail run, aku baru mencoba sejauh 5 km tahun lalu.
Ultra marathon?
Belum pernah.
Selain itu, aku juga pernah mengikuti duathlon dan triathlon, masih di kategori pemula.
Tentang Event Lebaran Run
Sebenarnya, aku sempat mendaftar event ini.
Alasannya sederhana: murah.
Namun, saat proses registrasi, aku mengalami kendala.
Aku sudah berhasil mendaftar, tetapi email pembayaran tidak kunjung masuk.
Setelah menunggu cukup lama, ternyata kuota sudah penuh, dan email baru masuk belakangan.
Saat aku menghubungi panitia, respon yang diberikan terasa kurang menyenangkan seolah harus siap siaga dan siapa cepat dia dapat.
Akhirnya, aku memilih menerima nasib dan move on.
Beberapa hari kemudian, ternyata ada penambahan slot.
Namun aku tidak mengetahuinya, dan pada akhirnya memang tidak ikut.
Secara jujur, aku pun merasa bahwa jika ikut saat itu, kemungkinan besar aku akan DNF (Did Not Finish).
Lalu kenapa tetap ingin ikut?
Ya, kembali lagi: karena murah.
Selain itu, ingin merasakan suasana trail run, bertemu teman-teman pelari, dan tentu saja foto-foto.
Namun aku sadar diri.
Aku tahu batas kemampuan aku.
Hari H dan Kabar Duka
Di hari pelaksanaan, aku sudah tidak terlalu memikirkan event tersebut.
Hingga sore hari, aku melihat informasi di grup lari yang aku ikuti yakni Taman Mini Running Club dan FTUI Runners bahwa ada peserta yang meninggal dunia saat race berlangsung.
Perasaan sedih langsung muncul.
Pikiran pertama aku:
” Siapa saja temanku yang ikut & bagaiamana keadaanya? “
Meninggal dalam event lari adalah sesuatu yang jarang terjadi, tetapi bukan tidak mungkin.
Seiring waktu, informasi terus bermunculan.
Media sosial pun ramai.
Oh iya, aku sudah mengenal organisasi itu sejak lebih dari dua tahun lalu.
Bahkan, aku pernah ikut event lari yang mereka selenggarakan, meskipun saat itu aku DNF.
Dari kesan pertama, menurutku gaya komunikasi mereka terkesan agak arogan.
Tapi itu hanya pendapat pribadiku saja saat itu, bisa jadi memang hanya gaya komunikasi mereka saja.
Dan hal itu tidak terlalu aku permasalahkan.
Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa mereka cukup aktif menyelenggarakan event lari di daerah Sentul, dan itu tentu hal yang positif.
Namun, dari berbagai informasi yang beredar, event dengan konsep self-support kali ini justru dinilai kurang memperhatikan aspek medis.
Ini memang hal yang cukup tricky, karena bisa saja masing-masing pihak memiliki sudut pandang sendiri.
Di sini, aku hanya mencoba menyampaikan pandanganku secara subjektif sebagai pelari.
Baiklah, aku mulai dari cerita ini.
Regulasi yang Terasa Ribet, Tapi Menyelamatkan Nyawa
Seringkali kita merasa aturan keselamatan itu ribet, berulang, dan membosankan.
Contoh sederhana yakni saat naik pesawat, pramugari selalu memperagakan prosedur keselamatan yang sama.
Bagi penumpang yang sering terbang, ini terasa seperti formalitas.
Padahal, pengulangan itu penting.
Dalam kondisi darurat, manusia cenderung panik dan lupa hal-hal mendasar.
Prosedur yang diulang membantu kita mengingat apa yang harus dilakukan saat waktu sangat terbatas.
Aturan keselamatan tidak muncul begitu saja.
Banyak di antaranya lahir dari tragedi di masa lalu.
Artinya, setiap aturan yang terasa “berlebihan” biasanya punya latar belakang pengalaman pahit.
Kita memang tidak bisa menghilangkan semua risiko.
Namun, kita tidak boleh hanya bergantung pada keberuntungan.
Persiapan adalah bentuk ikhtiar.
Mungkin, regulasi yang terasa ribet seringkali justru menjadi pembatas tipis antara selamat dan celaka.
Kaitannya dengan Event Ini
Event ini mengusung konsep self-support.
Artinya, fasilitas seperti water station mungkin terbatas atau mungkin juga ga harus ada.
Itu masih bisa dipahami.
Namun untuk aspek medis, ini hal yang krusial.
Dalam kondisi darurat, kehadiran tim medis bisa menjadi pembeda antara hidup dan tidaknya seseorang.
Setidaknya, kita memberikan kesempatan terbaik sebelum menyerahkan semuanya pada takdir.
Di sisi lain, sebagai pelari, kita juga harus sadar diri.
DNFbukanlah aib.
Tidak menyelesaikan lomba jauh lebih baik daripada memaksakan diri hingga membahayakan nyawa.
Tidak ada yang rugi.
Semua orang pernah gagal, dan kegagalan adalah bagian dari proses.
Kalau aku pribadi?
Gagal itu sudah jadi bagian hidup aku, dan itu tidak apa-apa.
Karena sejatinya, kemenangan terbesar dalam lari adalah pulang ke rumah dengan selamat.
Oh iya, sebenarnya, banyak juga event lain yang relatif lebih aman, seperti futsal yang hanya berlangsung sekitar dua jam, atau kegiatan study tour bahkan ada tim medis nya sendiri.
Dalam kegiatan seperti itu, penyelenggara biasanya sudah menyiapkan tim medis baik dengan menyewa maupun bekerja sama dengan pihak tertentu demi kelancaran acara.
Dan menurutku, itu adalah hal yang sangat baik.
Referensi dari Event Ekstrem
Memang, di dunia ini ada event yang jauh lebih ekstrem.
Misalnya ultra marathon di gurun seperti Marathon des Sables, yang menempuh ratusan kilometer dalam kondisi sangat berat.
Namun, event seperti itu memiliki seleksi ketat, standar keselamatan tinggi, dan peserta yang benar-benar siap secara fisik dan mental.
Untuk event lari di gurun seperti Marathon des Sables, aku pernah membaca di website resminya bahwa peserta harus menandatangani pernyataan siap menghadapi risiko ekstrem, termasuk risiko meninggal dunia, bahkan sampai mencantumkan ke mana jenazah akan dikirim.
Selain itu, untuk bisa ikut saja sudah melalui proses seleksi yang sangat ketat.
Tidak semua orang bisa mendaftar, dan memang hanya sedikit orang di dunia yang benar-benar siap mengikuti event seperti itu.
Lalu pertanyaannya, apakah event lari di Indonesia sudah sampai pada level kesiapan seperti itu?
Biarlah pertanyaan ini dijawab oleh kita masing-masing.
Sebagai penutup, aku hanya ingin mengingatkan bahwa bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi gotong royong, ramah, dan penuh semangat juang.
Nilai-nilai itulah yang seharusnya terus kita jaga, termasuk dalam dunia lari.
Dan pastinya, aku selalu kagum dengan para pelari: ada yang sudah lanjut usia tapi tetap berlari, ada yang memiliki berat badan berlebih namun tetap berusaha berlari.
Itu semua sangat menginspirasi.
Untuk para runner di mana pun berada,
Tetap semangat, jaga diri, dan kenali batas kemampuan.
Tak ku sangka malam ini aku bermimpi tentang apa yang ku lalui.
Aku melihat jam di HP ku dan ku lihat jam menunjukan jam 05.20 WIB.
Ku lanjutkan dengan membuka notes di HP ku untuk menulis ini.
Ya, tentang teman seperjuangan.
Mimpi itu seakan mengulas balik tentang perjalanan hidupku dari berbagai dimensi waktu tentang teman seperjuangan yang telah ku lalui.
Aku melihat tentang saat aku SMA dimana aku di bantu oleh teman – teman ku untuk bisa belajar bareng dan mereka meminjam kan buku les nya.
Saat aku kuliah di elektro UI dan aku bersama teman-teman yang terus bersama untuk kelas bareng, nge laprak bareng, skripsi bareng, hingga wisuda bareng
Saat aku mengikuti asrama di rumah kepemimpinan yang merupakan kawah candradimuka bersama teman teman.
Saat aku mendapatkan pekerjaan pertama dan mendapatkan lingkungan support bersama teman -teman ku di tempat kerja itu juga yang baru lulus
Saat aku bersama teman-teman kuliah ku di kontrakan bersama yang saling support untuk kuliah, kerja, dan permasalahan hidup lainnya.
Saat aku kuliah di Insinyur UI dan mengerjakan tugas yang sedemikian macam.
Saat aku pergi merantau ke Papua dan bersama teman seperjuangan dari elektro UI dan juga dibantu dengan teman-teman di Papua
Saat aku menganggur dan teman – teman ku masih terus mendukung ku
Saat aku kerja dan saat ini kerja di tempat terlama ku karena lingkungan yang baik
Saat ku melewati latihan menjadi KSR PMI jakarta timur selama setahun dan teman-teman ku masih terus mendukung ku.
Saat ku lari, saat ku susah, dn masih banyak lagi.
Rasanya, dalam hidupku aku sering dibantu oleh orang-orang baik.
Terkadang yang kita butuhkan adalah teman seperjuangan.
Tentu, keluarga pun juga penting.
Atas dasar itulah, di tulisan ini aku ingin menyampaikan pada teman-teman ku yang terus membersamai ku.
Tanpa mereka banyak hal yang tak mungkin aku capai.
Dan memang terbukti, tanpa teman seperjuangan rasanya apa yang kita capai kemungkinan tidak akan berhasil.
Rasanya,kita butuh teman untuk saling menguatkan dalam perjuangan.
Kedepan masih banyak hal yang ingin ku capai, dengan pola ini, sudah jelas bahwa diriku yang sekarang masih jauhlah dari memaksimalkan hidup.
Kita butuh orang lain untuk terus belajar, untuk saling menguatkan, dan saling berdoa untuk kebaikan dalam perjuangan.
Sekali lagi, terimakasih teman -teman yang sudah membantu ku.
Terkadang bagi orang lain, mereka bertanya kepada seorang pria.
Kerja Mulu uang nya habis kemana ?
Terkadang bagi para pria, ya jawab apa seadanya saja.
Terkadang pula para pria yang kita anggap uang nya habis kemana itu berbeda dengan banyak pria yang mungkin lebih beruntung saja.
Ada pria yang bahkan dia menjadi tulang punggung keluarga, yang ga punya rumah, mesti sekolah kan adik – adiknya, dan segala macam kebutuhan dunia ini.
Mereka bukanlah orang yang tak melek investasi, tapi banyak kebutuhan yang mesti mereka prioritaskan.
Bahkan terkadang puasa menjadi salah satu pilihan yang sering dilakukan untuk menghemat uang.
Uang itu ga habis kemana, tapi dia berubah menjadi wujud rumah yang melindungi keluarganya dari terik panas matahari dan dingin nya hujan, menjadi cahaya yang memberikan keterangan, memberikan ketenangan untuk keluarga.
Bagi beberapa orang yang beruntung yang sudah memiliki semua itu karena keluarga yang memadai, berbahagialah.
Tapi bagi yang kurang beruntung, tak usah bersedih, itu mungkin memang takdir kita.
Yang perlu kita lakukan yakni terus maju saja.
Percaya saja bahwa takdir orang sudah punya masing-masing.
Dan jangan lupa bahwa takdir ada di ujung dari ikhtiar.
Lagi pula, seorang pria tidak dilihat dari handphone yang dia pakai, pakaian mahal yang dia kenakan, ataupun atribut dunia.
Jika ada yang seperti itu ya gapapa.
Yang paling penting bagi seorang pria adalah memberikan yang terbaik bagi yang ditanggung jawabkan nya.
Seorang pria dilihat dari karakter nya, selama dia punya karakter, maka dia adalah pria yang bernilai.
Rasanya pekan ini aku capek sekali sehingga baru bisa nulis lagi.
Dan ya, rasanya sudah tak terhitung berapa kali aku tidak sahur.
Mungkin sejak hari puasa ke-17 hingga hari ini, aku sudah lebih dari 10 kali tidak sahur karena baru bangun sekitar jam 5 pagi.
Mungkin karena aku tidur lebih malam saja di bulan ini.
Tapi gara-gara itu pula aku juga mungkin berkurang berat badanku dimana menurutku cukup bagus karena buncitku juga semakin berkurang.
Namun, tak bisa dipungkiri kadang rasa ngantuk pun terjadi begitu saja saat puasa.
Tapi hingga sejauh ini, Alhamdulillah puasa masih full.
Mungkin sekarang aku ingin cerita tentang menghadiri World Engineering Day di Balai Kartini di hari Rabu dan Kamis ini.
Sebenarnya pengen nulis di kamis kemarin tapi rasanya sibuk aja dan sudah lelah sekali.
World Engineering Day 2026
World Engineering Day 2026 atau biasa aku singkat untuk lebih mudahnya yakni WED.
Tentu, aku adalah seorang insinyur sekarang.
Tapi jika dilihat sebelumnya, rasanya impian menjadi seorang insinyur sangatlah sulit sekali.
Impian Menjadi Seorang Insinyur
Dulu saat aku masih SMP & melihat anak SMP dari sekolah lain yang terkenal karena sekolahnya pintar, aku merasa mereka luar biasa.
Bagiku yang berada di sekolah SMP negeri yang merupakan salah satu yang ke bawah di kota ini, rasanya bisa dibilang agak minder.
Memasuki ke SMA, aku hanyalah seorang dari SMP-ku yang bisa masuk SMA di tempatku.
Artinya, aku adalah lulusan terbaik dan peraih nilai tertinggi saat ujian nasional di SMP-ku.
Dan masuk ke sekolah negeri di dekat wilayahku.
Bahkan sekolah yang kumasuki saja itu masih di angka 50 besar sekolah peringkat negeri di Jakarta.
Untuk bisa masuk kampus impianku seperti UI ataupun ITB rasanya sesuatu yang terasa sangat sulit sekali.
Ditambah, aku tidak ikut les ataupun bimbingan belajar.
Berbeda dengan sebagian temanku yang ikut bimbingan belajar dan terkadang ada yang lebih dari satu ikut bimbingan belajarnya.
Rasanya makin sulit saja dan seperti berbeda start saja.
Tapi ya gimana ya, kehidupan terus berlanjut.
Walaupun aku tidak masuk peringkat sepuluh besar di kelasku saat SMA.
Namun secara peringkat untuk pelajaran MIPA yang terdiri dari matematika, fisika, kimia, dan biologi nampaknya aku peringkat pertama di angkatanku.
Ya, aku hanya belajar itu saja lebih detail sih.
Dulu saat SMA, ujiannya itu setiap hari ada satu pelajaran major dan sisanya minor gitu.
Kaya misalkan hari Senin ada matematika dan bahasa Jepang, aku belajarnya matematika saja.
Besoknya, fisika dan sejarah, aku belajarnya fisika saja.
Kenapa?
Ya karena biar lebih fokus aja kali ya.
Dulu aku pernah dengar kata guru lesku yang sebenarnya aku cuman ikut dari kelas orang lain yang kuikuti, bahwa fokuslah di pelajaran MIPA karena kuliah itu yang dipakai, sisanya yakni masa lalu.
Hm, ku pikir dengan sumber daya yang kupunya itu paling masuk akal sih.
Lagi pula, nanti kan ujung-ujungnya yang nilainya jelek juga akhirnya jadi nilai paling standar di KKM.
Tentu, SMA-ku bukanlah SMA yang bagus banget di Jakarta, sehingga untuk bisa masuk kampus yang sementereng UI atau ITB belum tentu ada yang masuk dalam angkatannya.
Walaupun ada, pasti lah mungkin bisa dihitung jari, dan bahkan mungkin juga kadang tidak ada untuk masuk di kampus seperti ITB.
Jujur saja aku ingin sekali masuk ITB.
Tapi pada saat aku kelas tiga SMA, di sekolahku itu yang masuk ITB itu ada satu orang yakni jurusan FTTM, tapi infonya dia udah keluar karena tidak kuat.
Kemudian, ada lagi yang masuk teknik elektro UI untuk pertama kalinya jalur undangan.
Rasanya memang rezekiku untuk angkatanku, jika aku bisa masuk teknik elektro UI seperti kakak kelasku melalui jalur undangan karena sudah ada pendahulunya.
Menurutku, andaikan aku tidak lewat jalur undangan ini rasanya aku tidak akan mampu menghadapi perang terbuka melalui ujian seleksi masuk nasional.
Kenapa?
Pelajaran di sekolahku itu didesain untuk menghadapi soal ujian nasional bukan ujian masuk perguruan tinggi yang tingkatannya jauh lebih sulit.
Selain itu, aku juga tidak ikut les dimana di les kan memang disiapkan untuk menghadapi soal masuk perguruan tinggi.
Alhasil, berbeda dengan teman-temanku yang mengisi form undangan dengan tiga jurusan dan tiga universitas dalam tiga kolom yang diberikan dalam form pengajuan.
Aku hanyalah memilih teknik elektro UI saja dalam form tersebut.
Singkat cerita, aku lolos masuk jalur undangan teknik elektro UI.
Sedangkan mayoritas temanku tidak lolos dan mesti ikut ujian lain.
Ku pikir, itu salah satu momen aku bahagia dalam hidupku.
Dan dalam perjalanan bahwa aku banyak berubah di UI, kampus ini memberikan penghidupan dan kehidupan untukku sendiri.
Hingga gelar insinyur pun aku bisa raih dengan predikat lulusan terbaik.
Rasanya impian menjadi nyata.
Bukan hanya gelar, tapi lebih jauh, aku siap dengan kehidupan ini dan bahkan aku hidup dalam kehidupan ini.
Di UI banyak hal terjadi, dan mungkin aku berniat untuk mengubah dunia ini karena banyaklah ilmu yang diberikan oleh UI ini.
Mengubah Dunia
Tapi, saat aku mengubah dunia ini, itu atas dasar pikiranku sendiri dan tidak ada yang mengengkangku.
Aku hanyalah produk dari apa yang aku baca dan apa yang kulalui hingga membawaku ke tujuan ini.
Bagaimana cara aku mengubah dunia ini ?
Tentu dari awal aku hidup aku tak pernah berniat berpikir dan bergerak sejauh itu.
Tapi rasanya setelah ribuan buku yang kubaca, ketakutan yang kulalui, dan impian yang membawaku ke tujuan ini, aku melahirkan ideologi RA.
Ideologi yang kepanjangan dari Radhiallahu Anhu yang artinya dalam bahasa Indonesia yakni semoga Allah meridhoi.
Tapi ideologi yang kutulis ini barulah permulaan, dan dia akan terus tumbuh dengan sendirinya.
Lagi pula, walaupun aku melakukan tindakan saat ini, tidaklah ada perubahan yang signifikan terjadi.
Hal ini terjadi karena belumlah banyak pengikut RA itu sendiri.
Sehingga, tak mungkin aku mengubah dunia tanpa buku.
Aku menulis RA agar orang-orang bisa membaca dan mewujudkan tentang ideologi ini.
Sama seperti perjuangan para nabi dahulu bahwa untuk awal-awal perjuangan masihlah sembunyi-sembunyi.
Kemudian hingga waktu yang lebih siap, maka akan dipublikasikan secara massal.
Tapi dalam sejarah, banyak orang yang menulis konsep tentang apa yang diimpikan hingga akhir hidupnya tapi tak terjadi.
Dan barulah kejadian jauh sejak kematiannya hingga ratusan tahun kemudian.
Sedangkan aku, tidak tahu akan hal itu.
Itu di luar kendaliku.
Yang hanya aku lakukan yakni aku menjalankan momen hidupku saja saat ini.
Kembali ke acara WED, rasanya aku melihat untuk bisa ikut acara ini saja kalau umum senilai 3 juta rupiah, untuk anggota PII yakni 2 juta rupiah.
Rasanya aku ingin ikut tapi dengan melihat biaya registrasi saja sudah tak ku ingin lanjutkan.
Sebelumnya aku tahu acara ini dari podcastnya Pak Ilham Habibie dan Bagus Muljadi yang berjudul cara berpikir seorang insinyur.
Aku mendengarnya podcast itu sebagai salah satu referensi bukuku dalam penulisan buku MIMIK yakni menjadi insinyur masa Indonesia kini yang memang sedang ku buat.
Dan di podcast tersebut informasi dari pak Ilham Habibie yakni di tahun 2026 ini Indonesia pertama kalinya akan menjadi tuan rumah dalam acara World Engineering Day.
Iya, artinya banyak perwakilan dari seluruh dunia yang hadir di Indonesia.
Terlebih di Jakarta, sehingga aku tak perlu keluar biaya untuk perjalanan ataupun untuk penginapan.
Namun, biaya mahal yang dikenakan untuk para insinyur yang hadir juga tidak membuatku melanjutkan registrasi.
Hingga H-3 acara dimulai aku mendapat informasi bahwa untuk pendaftaran secara kolektif bisa seharga 500 ribu per orang.
Tentu, aku pun langsung daftar dan menginformasikan ke para alumni insinyur di FTUI.
Dan ya akhirnya aku pun hadir di acara World Engineering Day ini.
Terlebih juga aku ingin finalisasi untuk isi bukuku yakni MIMIK untuk penambahan materi dan insinyur Indonesia di tingkat global.
Dan ya, bertemu Pak Ilham Habibie lagi dan aku bermaksud menyuarakan agar beliau berkenan untuk menulis kata sambutan untuk buku MIMIK ini.
Kenapa?
Ya karena temanya lurus yakni tentang keinsinyuran.
Di hari Rabu pun aku mengajukan cuti di kantor.
Kenapa?
Biar lebih fokus saja dan rasanya kan hari-hari seperti ini jarang terjadi.
Aku berangkat dari rumah menggunakan LRT, lalu melanjutkan perjalanan dengan Grab motor.
Oh iya belakangan aku lebih suka naik LRT, alasannya sederhana karena musim hujan, macet, dan kebetulan arah tujuan yang kutuju itu ada di dekat LRT yang mana dekat rumahku.
Ku pikir aku nyaman dengan transportasi ini.
Rabu, 04 Maret 2026
Sesampainya di sana, aku melihat banyak peserta internasional, termasuk delegasi dari berbagai negara Afrika.
Sangat jelas bahwa ini event memang level dunia, ditambah semuanya bahasa Inggris.
Aku datang pas acara mau mulai.
Dimulai dengan kata sambutan dari ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yakni Pak Ilham Habibie, dan dari ketua Insinyur dunia dan dilanjutkan dengan opening dari Pak Airlangga Hartarto selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Aku pun juga baru tahu ada organisasi persatuan insinyur dunia di momen itu.
Oh iya, setahuku juga Pak Airlangga Hartarto dulu pernah jadi ketua PII juga.
Di hari ini banyak juga yang hadir dimana ada Pak Agus Harimurti Yudhoyono atau biasa dianggap AHY, kemudian juga banyak deh pejabat terkait baik Indonesia ataupun dunia.
Awalnya aku ingin nulis lebih detail terkait materi WED ini di sini.
Cuman rasanya agak kurang hidup aja kali ya nulis teknis di sini.
Kalau mau lebih detail sih bisa baca bukuku yakni MIMIK juga :).
Di bulan ini mestinya ku kirimkan ke penerbit tapi kan kupublikasikan masih lama.
Kenapa?
Ya karena minta kata sambutan dari Pak bos-bos itu yang lumayan lama kan :).
Yang pasti di tahun ini sih, mungkin di Q2 ataupun paling lama di Q3 tahun ini untuk ku publikasikan.
Acara pun juga ada coffee break & lunch.
Cuma kan aku kan puasa ya jadi ya main HP aja.
Main HP itu kalau aku gabut sih wkwk, sama nulis enak juga di HP seperti nulis tulisan ini.
Kemudian acara itu lanjut sampai jam 5 sore deh.
Soalnya aku pulang jam lima-an dan sampai di rumah benar-benar pas magrib sih.
Soalnya kan naik LRT jadi tidak macet.
Oh iya aku dapat makanan juga dari acara WED, dan menurutku termasuk mewah.
Untuk biaya yang 500 ribu ku daftar sih ini menang banyak ya hehe.
Kan masih ada esok juga.
Nah isinya sih kalau WED hari ini itu lebih seperti Artificial intelligence (AI) dimana insinyur sekarang harus adaptasi.
Sama penting untuk meningkatkan kolaborasi di antara para pemangku kepentingan, baik organisasi insinyur, akademisi, pemerintah, dan masyarakat juga.
Ya seperti itulah hari ini, dan lanjut esok.
Kamis, 05 Maret 2026
Hari ini aku tidak cuti, tapi aku kerja dari acara WED ini sehingga buka laptop.
Acara hari ini lebih banyak diisi oleh para profesional di insinyur dunia.
Berbeda dengan kemarin yang banyak diisi para pejabat politik, kalau hari ini lebih banyak para profesional.
Oh iya, di hari ini aku pun juga menyampaikan niatku untuk meminta Pak Ilham Habibie untuk memberikan kata sambutan untuk buku MIMIK-ku nanti.
Kenapa baru hari ini?
Kemarin beliau sibuk sekali sehingga aku tak berniat untuk mengganggu beliau dan ditambah kalau berbincang paling tidak sampai satu menit.
Terlebih aku bermazhab kalau emang takdirnya ya udah.
Hari ini aku bisa berbincang lebih lama dan dari sisi dia sih oke aja cuman mau direview dulu tulisannya dan dikirimkan ke email.
Aku pun bertukar kartu nama dengan beliau.
Ya semoga saja ya:).
Acara hari ini pun juga sama konsepnya dengan kemarin.
Ini lebih ke arah praktikal dimana engineering sangat membantu di zaman sekarang dan bahkan bisa memodifikasi cuaca gitu loh.
Dan peran insinyur itu sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa.
Nah itu dulu kali ya dimana aku ikut WED tahun ini.
Infonya sih WED tiap tahun ya di negara yang berbeda, saat ini kebetulan baru pertama kali di Indonesia dan di Jakarta.
Aku sih bersyukur ya bisa hadir di acara ini.
Berbincang dengan ketua Insinyur dunia, para profesional dari negara lain, btw negara Afrika, terutama dari Zambia kemarin banyak yang hadir sih, tidak tahu kenapa tapi kenyataannya begitu:), dan bisa melihat ke dunia keinsinyuran yang lebih luas.
Awalnya aku mau nulis lebih detail sih tentang materi WED sebenarnya di tulisan ini cuman kayaknya kurang hidup aja hehe.
Sehingga untuk yang tertarik dan penasaran bisa baca bukuku nanti yang berjudul MIMIK ya
Oh iya ini foto-fotonya.
Kartu registrasi acaraFoto sebagian para delegasi WED 2026Foto dengan Pak Ilham Habibie setelah diskusi terkait bukuku yakni buku MIMIKBersama Pak Er.Dr.Seng Chuan Tan, WFEO (The World Federation of Engineering Organizations (WFEO) selaku President of WFEO yang sekarang menjabatAcara dadakan tapi lumayan keren lah gue 🙂Gue udah berusaha melek mata, cuman puasa bikin ngantuk cuy wkwk
Terima kasih WED 2026 Dari salah satu Insinyur Rio