Capek Ya

Rasanya hidupku sekarang kok capek banget, ya.

Banyak sekali hal yang harus aku urus.

Mungkin ini yang disebut satu orang, tapi banyak urusan.

Pagi ini, Jumat, aku terbangun di sekitar jam tiga pagi.

Aku bahkan lupa tadi malam tidur jam berapa.

Seingatku, setelah langit sudah gelap dan aku makan tahu gejrot, aku langsung tidur.

Ya, hari berganti begitu saja.

Cepat sekali.

Bahkan aku mulai merasa malas untuk menulis, baik di website maupun di buku.

Di satu sisi, hasrat aku sebagai penulis ingin terus menulis.

Di laptop, ada banyak sekali daftar buku yang ingin aku buat.

Sekarang aku mulai berpikir untuk memprioritaskan buku-buku yang terasa lebih mudah dan ringan.

Bukan buku yang terlalu banyak membutuhkan pikiran, meskipun draft-nya sebenarnya sudah selesai.

Ya, mungkin memang seperti itu rasanya ketika capek berpikir, tetapi di sisi lain masih punya keinginan besar untuk terus berkarya.

Belum lagi lari, olahraga, ngaji, pekerjaan, dan berbagai kesibukan lainnya.

Aku mulai berpikir dan mengevaluasi apa yang ingin aku lakukan tahun depan, 2027.

Hm… sedih juga rasanya ketika capek.

Tapi di sisi lain, banyak orang yang justru berharap bisa berada di posisi aku sekarang.

Aku sering bertanya kepada teman-teman aku,

“Kenapa kalian ingin jadi seperti aku?”

Jawaban mereka membuat aku mengerti.

Mungkin memang begitulah hidup.

Kita sering melihat kehidupan orang lain dari sisi yang berbeda dengan bagaimana orang tersebut menjalaninya.

Di kehidupan yang singkat ini, aku benar-benar ingin menjadi seseorang yang hidup.

Socrates pernah berkata, “Jadilah manusia yang sadar.”

Aku paham itu.

Aku benar-benar paham.

Tapi… ah, sudahlah.

Sekarang apa?

Hm.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku lakukan.

Banyak hal gila yang ingin aku wujudkan.

Tapi aku juga sadar, semuanya harus punya prioritas.

Dan yang tidak kalah penting, aku harus belajar menikmati setiap momen yang ada.

Momen ketika gagal.

Momen ketika berhasil.

Momen ketika lelah.

Momen ketika bahagia.

Semuanya.

Karena mungkin hidup memang hanya tentang pergantian antara keberhasilan dan kegagalan.

Tentang terus berjalan meskipun kita tidak selalu tahu akan sampai di mana.

Aku akan maju.

Aku akan terus maju.

Tak peduli berapa banyak langkah yang harus aku habiskan.

Tak peduli berapa banyak waktu yang harus aku korbankan untuk mencapai apa yang aku inginkan.

Aku akan maju.

Terus maju.

Jakarta, 18 September 2026
04.00 WIB

Di Ingatkan Kapan Harus Berhenti

Tak kusangka, ketika aku melihat jam di handphone, ternyata masih menunjukkan pukul setengah empat pagi.

Mataku perlahan mulai terbuka dari tidur yang cukup lelap.

Padahal aku baru tidur sekitar pukul sebelas malam.

Tapi memang begitulah tubuhku.

Rasanya tubuh ini seperti sudah punya alarm sendiri.

Biasanya aku terbangun sekitar pukul empat pagi atau paling lama pukul enam.

Namun kali ini, pukul tiga lewat sedikit saja aku sudah terbangun.

Hal terakhir yang kuingat adalah aku banyak bermimpi malam ini.

Entah kenapa aku memang cukup sering bermimpi.

Mungkin karena otakku terlalu aktif saat tidur.

Atau mungkin ada terlalu banyak hal yang kuinginkan, kupikirkan, dan kupendam di dalam kepala, sampai akhirnya semuanya keluar lewat mimpi.

Hm, mulai dari mana ya?

Rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis di website ini.

Mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu banyak menulis untuk draft buku, sampai rasanya sudah cukup lelah untuk kembali menulis di website.

Ditambah lagi kesibukanku yang semakin banyak.

Terkadang aku juga bingung harus bercerita kepada siapa.

Ya, mungkin memang begitu kehidupan.

Ketika orang-orang mulai menganggap kita sebagai seseorang yang bisa dikatakan cukup sukses, secara tidak langsung kita terlihat seperti baik-baik saja.

Seolah-olah hidup kita lebih baik dari orang-orang di sekitar.

Padahal sebenarnya tidak selalu begitu.

Dan akhirnya, tulisan menjadi salah satu tempat untuk melampiaskan apa yang ada di dalam hati.

Tempat untuk mengatakan hal-hal yang mungkin sulit disampaikan secara langsung.

Eh, tadi sampai mana ya? Hehe.

Hm, tentang mimpi.

Kalau dipikir-pikir, 2026 ini benar-benar menjadi tahun yang luar biasa bagiku.

Jujur saja, aku tidak menyangka tahun ini tuhan akan memberikan begitu banyak hal baik.

Padahal di awal tahun, bahkan sebelum tahun ini dimulai, aku sudah dihadapkan dengan berbagai hal yang cukup menakutkan.

Banyak tanggung jawab, banyak hal yang harus dipikirkan, dan banyak hal yang harus dijalani.

Namun, Allah memang Maha Baik.

Semuanya terasa dimudahkan.

Aku hanya perlu menjalani, memikirkan satu per satu, dan percaya bahwa Allah akan memberikan jalan terbaik.

Memang ada beberapa hal yang sampai sekarang belum terjadi seperti yang kuinginkan.

Tapi mungkin memang belum waktunya.

Bisa jadi sesuatu yang belum diberikan kepadaku justru merupakan bentuk kasih sayang Allah.

Karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita.

Dan rasanya, aku ingin membahas satu hal.

Kapan aku harus berhenti?

Hm, rasanya mau aku ungkapkan atau tidak, pada akhirnya aku juga akan mati.

Jadi, ya sudah, kuungkapkan saja.

Tahun ini rasanya aku terus saja melakukan banyak hal.

Pekerjaan, menulis, lari, dan masih banyak hal lainnya.

Aku seperti terus menekan gas.

Memang ada beberapa hal yang belum bisa kulanjutkan dengan baik.

Dan jujur saja, semua itu membuatku lelah.

Mungkin dari luar aku terlihat biasa saja. Tenang. Santai.

Tapi mungkin memang begitulah gayaku.

Di dalam kepala, sebenarnya banyak sekali hal yang terus kupikirkan.

Tentang pekerjaan, tentang kehidupan, tentang jalan yang kupilih, dan tentang apakah semua yang kulakukan sekarang adalah jalan yang nantinya bisa kupertanggungjawabkan.

Dan dari semua kelelahan itu, rasanya aku ingin beristirahat sejenak.

Mungkin aku ingin berhenti sementara dari dunia kepenulisan.

Berhenti sejenak dari media sosial.

Walaupun sebenarnya aku juga tidak terlalu aktif bermain media sosial, hehe.

Aku ingin menggunakan 2027 sebagai tahun untuk lebih banyak berpikir.

Mungkin mulai Januari 2027 sampai setelah Lebaran, aku akan benar-benar mencoba memperlambat semuanya.

Aku sudah masuk ke dekade 30-an.

Kalau mengingat kembali dekade 20-an, ternyata begitu banyak hal yang sudah terjadi.

Bahkan banyak di antaranya tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Memang masih ada banyak hal yang belum tercapai.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku sudah mengalami perubahan yang cukup besar dalam hidup.

Orang seperti aku yang dulu mungkin tidak pernah membayangkan bisa berdiri di posisi sekarang, ternyata masih bisa sampai di sini.

Buatku, itu sudah merupakan sebuah perubahan nasib.

Kalau semua ceritanya ditulis, mungkin bisa menjadi satu buku sendiri.

Tapi kalau harus dirangkum dalam satu kata, mungkin jawabannya sederhana:

Syukur.

Alhamdulillah.

Dan sekarang, di bulan yang mulai mendekati akhir tahun ini, aku masih terus mencoba menekan gas.

Namun, di saat yang sama, aku juga sudah mulai memikirkan kapan waktunya berhenti.

Tahun depan mungkin aku akan masuk ke mode bertahan.

Mungkin setelah Lebaran aku akan kembali menekan gas, tetapi tidak sekencang tahun ini.

Lagipula, masih ada sekitar empat bulan lagi di tahun ini. Masih banyak hal yang mungkin terjadi.

Kalau soal menulis buku, mungkin aku masih bisa menyelesaikan satu buku lagi.

Kalau benar-benar terjadi, berarti tahun ini aku akan menulis delapan buku.

Buatku sendiri, itu sudah sesuatu yang luar biasa.

Mungkin hanya sedikit orang yang bisa melakukan hal seperti itu sambil tetap menjalani pekerjaan profesional.

Entah berapa persentasenya. Katanya AI bahkan mungkin kurang dari 0,1 persen dari populasi dunia, hehe.

Tapi sebenarnya bukan soal persentasenya.

Aku hanya merasa senang karena ternyata aku mampu melakukannya.

Dan sekarang, ini masih pukul empat pagi.

Setelah Subuh, makan, dan ngopi, aku ingin pergi ke TMII.

Kebetulan aku punya annual pass, jadi bisa masuk tanpa harus membeli tiket lagi.

Aku ingin merenung.

Mungkin aku akan menulis tentang apa yang ingin kulakukan di sisa tahun ini dan bagaimana rencanaku untuk tahun depan.

Sudah lebih dari 17 tahun aku sering menjadikan TMII sebagai tempat untuk berpikir tentang hidup.

Lucu juga.

Tempat yang begitu dekat dengan rumah, tetapi ternyata menyimpan begitu banyak cerita tentang perjalanan hidupku.

Di sana aku sering berpikir tentang nasib, tentang masa depan, tentang keputusan yang harus kuambil, dan tentang hidup yang sedang kujalani.

Kapan Aku Harus Berhenti?

Bahkan ketika aku sadar, aku seperti tidak bisa menghentikan diriku sendiri.

Sampai akhirnya mungkin otakku yang harus menyampaikannya lewat mimpi.

Bahwa mungkin sudah waktunya berhenti sebentar.

Karena terkadang, berhenti dan berpikir sejenak adalah pilihan yang lebih baik daripada terus melakukan banyak hal tetapi sebenarnya kita sendiri sudah tidak menikmatinya.

Tidak semua hal harus terus dipaksakan.

Begitu juga dengan lari.

Mungkin tahun depan aku hanya akan mengikuti beberapa event saja.

Tidak sebanyak tahun ini.

Intinya, aku ingin slow down.

Entah kenapa, rasanya memang sudah waktunya seperti itu.

Mungkin tahun depan bukan waktunya untuk mengejar terlalu banyak hal.

Mungkin tahun depan adalah waktunya untuk lebih banyak merenung.

Lebih banyak berpikir tentang kehidupan panjang yang masih harus kujalani.

Tentang apa yang sebenarnya ingin kucapai.

Tentang apa yang harus dipertahankan.

Dan tentang apa yang sebenarnya sudah waktunya untuk kulepaskan.

Mungkin itu yang akan kulakukan tahun depan.

Merenung lebih dalam tentang kehidupan.

Sudah pukul setengah lima pagi.

Mungkin sudah waktunya aku bersiap untuk Subuh.

Jakarta, 06 September 2026
04.30 WIB

Day#15 RTM (Road To Marathon)

Jakarta, 19 Juli 2026
20.30 WIB

Yooo…

Hari ini lumayan puas sih.

Pagi-pagi aku sudah sampai di TMII sekitar pukul 05.40 WIB.

Langsung pemanasan sebentar, terus mulai lari. Hari ini total lari tiga jam lebih, selesai sekitar pukul sembilanan.

Dapat empat kali looping TMII kali ya.

Lumayan juga 🙂

Yang aku rasain, pagi ini capenya ga terasa.

Entah kenapa enggak terlalu terasa.

Mungkin karena udara masih sejuk, terus TMII juga banyak pohonnya.

Jalurnya rindang, jadi walaupun lari lama tetap terasa nyaman.

Makanya aku bersyukur banget rumahku dekat dengan TMII.

Rasanya seperti punya tempat latihan yang menyenangkan, aman & mendukung tanpa harus pergi jauh.

Habis lari, seperti biasa ngobrol-ngobrol dulu sama teman-teman dari TMII Running Club.

Hal sederhana sih, tapi menurutku justru itu yang bikin latihan jadi lebih seru.

Ada satu hal yang selalu aku rasakan setiap selesai atau bahkan saat sedang lari.

Ide itu selalu datang.

Hari ini tiba-tiba kepikiran ingin menulis buku tentang morning person.

Tentang bagaimana bangun pagi bisa mengubah hari seseorang, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil di pagi hari, dan kenapa pagi terasa begitu berbeda.

Padahal kalau hari ini aku enggak jadi lari, mungkin aku cuma rebahan di rumah, main HP, lalu enggak dapat ide apa-apa.

Mungkin memang tubuh yang bergerak membuat pikiran ikut bergerak.

Sekarang juga jadi lebih semangat latihan karena sudah daftar race marathon.

Rasanya jadi punya tujuan.

Memang aku belum sempat survei rute marathon di UI, tapi melihat latihan beberapa minggu terakhir, aku mulai cukup pede.

Enggak tahu nanti hasilnya bagaimana, tapi setidaknya aku yakin bisa menyelesaikan rutenya.

Buatku, itu sudah menjadi langkah yang bagus.

Yang mulai aku sadari juga, selama ini aku sebenarnya cuma… ya lari aja.

Belum pernah benar-benar belajar tentang dunia lari.

Misalnya pemanasan yang benar bagaimana, setelah lari sebaiknya ngapain, cara recovery, latihan strength, nutrisi, sampai bagaimana supaya enggak gampang cedera.

Rasanya semakin sering lari, semakin banyak hal yang ingin kupelajari.

Mungkin memang begitu ya.

Awalnya cuma ingin sehat, lama-lama jadi suka.

Dari suka, akhirnya ingin belajar lebih dalam.

Karena mungkin, langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang itulah yang suatu hari nanti akan membawaku ke tujuan yang lebih besar.

Day#14 RTM (Road To Marathon)

Jakarta, 18 Juli 2026
18.10 WIB

Terkadang ada hari-hari yang terasa begitu melelahkan, meski sebenarnya tidak banyak hal yang dilakukan.

Entah mengapa, semangat seolah menghilang begitu saja.

Rasanya hanya ingin diam, tanpa keinginan untuk melakukan apa pun.

Pagi tadi sebenarnya aku sudah merencanakan latihan di TMII.

Namun, matahari terasa terlalu terik sehingga rencana itu kuurungkan.

Tapi, mungkin itu hanyalah alasanku saja.

Akhirnya aku memutuskan pergi ke Perpustakaan Pusat Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

Suasananya tenang dan nyaman, tetapi setelah itu pun tidak ada banyak aktivitas yang kulakukan.

Aku pulang ke rumah, lalu kembali menghabiskan waktu tanpa benar-benar melakukan sesuatu yang berarti.

Aku pun bertanya pada diri sendiri, kenapa ya?

Mungkin memang ada hari ketika tubuh dan pikiran meminta jeda.

Hari-hari seperti ini tidak selalu berarti kita malas atau kehilangan arah.

Bisa jadi, kita hanya sedang mengumpulkan tenaga untuk melangkah lagi.

Namun, satu hal yang kusadari adalah manusia tetap membutuhkan tujuan.

Bukan karena setiap menit harus diisi dengan kesibukan, melainkan karena waktu yang kita miliki sangat terbatas.

Memiliki rencana membuat kita lebih sadar ke mana langkah akan diarahkan, sehingga setiap hari terasa memiliki makna.

Hari ini aku memutuskan untuk tidak berlatih.

Tidak apa-apa. Tubuh juga berhak beristirahat.

Daripada memaksakan diri, mungkin lebih baik melanjutkan sesuatu yang juga kusukai: menulis.

Siapa tahu, dari beberapa halaman yang kutulis hari ini akan lahir sebuah cerita yang berarti bagi seseorang di masa depan.

Besok, semoga semangat itu kembali.

Rencananya aku ingin melakukan long run.

Semoga cuaca bersahabat, tubuh kembali segar, dan langkah-langkah kecil itu membawaku semakin dekat dengan garis finis yang selama ini kuimpikan.

Day#13 RTM (Road To Marathon)

17 Juli 2026

Pagi ini aku kembali berlatih di TMII selama dua jam.

Udara masih terasa sejuk ketika langkah pertama dimulai.

Seperti biasa, kawasan ini sudah dipenuhi orang-orang yang datang dengan tujuan yang sama: menjaga kesehatan.

Para pelari mendominasi lintasan, disusul pesepeda dan para pemain sepatu roda yang melaju dengan semangat mereka masing-masing.

Di sepanjang rute, aku beberapa kali berpapasan dengan teman-teman dari Taman Mini Running Club.

Ada yang sekadar melambaikan tangan, ada yang menyapa singkat sambil tetap menjaga ritme larinya.

Sapaan sederhana itu membuat suasana latihan terasa lebih hangat dan tidak pernah membosankan.

Semakin sering datang ke TMII, semakin aku merasa bahwa tempat ini adalah gambaran nyata dari ruang ketiga yang selama ini kubayangkan.

Bukan rumah, bukan pula tempat bekerja, melainkan ruang bersama yang mampu mempertemukan banyak orang dari berbagai latar belakang.

Taman yang indah, penuh nilai edukasi, sekaligus menjadi tempat berolahraga yang nyaman untuk semua kalangan.

Di sini, anak-anak bermain, orang tua berjalan santai, para pelari mengejar target, dan setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menikmati pagi.

Latihan pagi ini juga terasa cukup baik.

Setelah menyelesaikan dua jam latihan, aku langsung pulang, bersiap, lalu memulai pekerjaan seperti biasa.

Rasanya menyenangkan ketika hari sudah diawali dengan olahraga, karena sepanjang hari tubuh dan pikiran terasa lebih segar.

Day#12 RTM (Road To Marathon)

Jakarta, 16 Juli 2026
19.35 WIB

Hari ini ternyata aku tidak jadi lari :).

Rencananya memang ingin berlari sore ini, tetapi akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu bekerja dan mengobrol dengan teman SMA lewat telepon.

Obrolannya sederhana, hanya saling berbagi cerita dan curahan hati tentang kehidupan.

Rasanya menyenangkan bisa kembali berbincang dengan teman dekat

Di sela-sela itu, aku juga melanjutkan penyusunan buku tentang Taman Mini Indonesia Indah.

Sedikit demi sedikit isinya mulai terbentuk.

Prosesnya memang tidak cepat, tetapi aku menikmati setiap hal yang kutulis.

Ada satu kejadian yang cukup membekas hari ini.

Aku melihat seorang ibu penjual minuman yang tertidur dalam posisi duduk di sebuah tempat berteduh di pinggir jalan.

Wajahnya terlihat sangat lelah.

Pemandangan itu membuatku sedih.

Mungkin ia sudah bekerja sejak pagi, mungkin juga harus terus bertahan demi keluarganya.

Pemandangan seperti itu mengingatkanku bahwa kehidupan memang tidak selalu adil.

Kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin di negeri ini masih terasa begitu lebar. Di beberapa negara Skandinavia tentu tetap ada perbedaan ekonomi, tetapi jurangnya tidak sedalam yang sering kita lihat di Indonesia.

Semoga suatu hari nanti keadaan bisa menjadi lebih baik sehingga setiap orang memiliki kesempatan hidup yang lebih layak.

Hari ini aku juga banyak berdiskusi tentang pernikahan dengan seorang dekat yang sudah lebih dulu menjalaninya.

Aku lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Bagiku, pengalaman orang lain adalah pelajaran yang berharga.

Dengan mendengarkan, setidaknya aku bisa memahami banyak hal sebelum suatu hari nanti menjalani fase kehidupan yang sama.

Soal lari, hari ini memang belum waktunya.

Sempat terpikir untuk keluar dan berlari, tetapi rasanya sudah terlalu tanggung.

Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpan tenaga dan, semoga besok pagi, bisa menjalani long run sesuai rencana.

Walaupun akhir-akhir ini hidup terasa tidak mudah, aku tetap merasa diriku terus bertumbuh.

Ada begitu banyak tantangan, tetapi di balik itu semua aku juga menyadari betapa beruntungnya diriku.

Kadang aku sendiri tidak menyangka takdir membawaku pada berbagai kesempatan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku juga percaya bahwa hidup ini bukan hanya tentang mengejar keberhasilan untuk diri sendiri.

Jika suatu hari nanti aku benar-benar diberi amanah menjadi seorang pemimpin, maka keberhasilan itu harus bisa membawa manfaat bagi orang lain.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku terus menulis.

Aku berharap tulisan-tulisanku bisa hidup lebih lama daripada diriku dan menjadi sesuatu yang berguna bagi siapa pun yang membacanya.

Selain itu, aku juga terus memperbaiki kompetensi dasar.

Aku masih mengingat perkataan Sudirman Said bahwa seorang calon pemimpin harus terus belajar sejak muda.

Sebab ketika seseorang sudah berada di posisi puncak, waktunya akan lebih banyak digunakan untuk mengambil keputusan daripada mempelajari hal-hal yang seharusnya sudah dikuasai sejak awal.

Kalimat itu sangat masuk akal, dan sampai hari ini masih menjadi pengingat untuk terus belajar tanpa merasa cukup.

Begitulah hari ini berlalu.

Tidak ada lari, tidak ada pencapaian besar, hanya percakapan, renungan, dan sedikit langkah kecil menuju versi yang lebih baik.

Selama hidup masih berjalan, semoga kita juga terus bertumbuh.

Day#11 RTM (Road To Marathon)

Pagi ini aku cukup senang karena akhirnya bisa kembali berlari.

Hari masih sangat gelap ketika aku memulai aktivitas.

Sekitar pukul empat pagi, aku bangun untuk menunaikan salat tahajud, lalu dilanjutkan dengan salat Subuh.

Setelah itu, aku berangkat menuju TMII dan tiba sebelum pukul enam pagi.

Tanpa banyak berpikir, aku langsung mulai berlari.

Selama dua jam penuh, aku terus berlari tanpa berhenti.

Rasanya menyenangkan.

Meski pace-ku mungkin hanya berada di kisaran 7 hingga 8 menit per kilometer, aku tidak terlalu memikirkannya.

Saat ini, yang paling penting bagiku adalah membangun ketahanan tubuh.

Kecepatan bisa menyusul nanti, tetapi kemampuan untuk terus bergerak selama berjam-jam harus dibentuk mulai sekarang.

Selesai berlari, muncul sedikit rasa percaya diri.

Untuk pertama kalinya, aku mulai benar-benar yakin bahwa nanti aku bisa menyelesaikan marathon.

Memang, targetku masih cukup jauh.

Aku ingin menembus waktu sekitar enam jam, dan tentu masih banyak yang harus diperbaiki.

Latihanku pun harus terus ditingkatkan.

Hari ini dua jam tanpa henti.

Besok, masih dua jam.

Nanti, semoga bisa tiga jam.

Setelah itu empat jam, lima jam, hingga akhirnya mampu berlari enam jam tanpa berjalan.

Semua itu tentu tidak akan terjadi dalam semalam.

Namun, setiap langkah yang kuambil hari ini adalah bagian dari perjalanan menuju garis finis impianku.

Setelah latihan selesai, aku kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, dan menikmati hari apa adanya.

Tidak ada yang istimewa, tetapi justru di situlah proses itu berlangsung—hari demi hari, sedikit demi sedikit.

Untuk besok, aku berencana kembali berlari selama dua jam.

Tidak perlu terburu-buru.

Aku hanya ingin terus menikmati prosesnya, memperkuat tubuh ini, menjaga semangat, dan terus melangkah sampai impian itu benar-benar menjadi kenyataan.

Jakarta, 15 Juli 2026
Pukul 20.20 WIB

Day#10 RTM (Road To Marathon)

Pada akhirnya, hari ini aku tidak jadi lari lagi.

Sedih?

Iya, tentu saja.

Namun, mau bagaimana lagi.

Hari Senin dan Selasa memang sedang sangat padat.

Aku dan teman-teman sedang mengerjakan revisi proposal hibah yang baru saja dikembalikan oleh para juri.

Besok siang dokumen itu harus sudah dikirim kembali.

Nilai pendanaannya cukup besar, sehingga setiap masukan perlu diperiksa dengan teliti.

Tahap berikutnya adalah wawancara, tetapi sebelum sampai ke sana, revisi dokumen ini harus diselesaikan terlebih dahulu.

Sebenarnya tadi aku sudah berniat untuk berlari.

Bahkan sempat mempertimbangkannya cukup lama. Lalu, aku “berdebat” dengan ChatGPT mengenai pilihan mana yang lebih masuk akal: tetap berlari atau fokus menyelesaikan pekerjaan.

Pada akhirnya aku & ChatGPTmemilih untuk tidak lari malam ini.

Dengan tenggat yang tinggal beberapa jam lagi, menyelesaikan pekerjaan terasa menjadi keputusan yang lebih bertanggung jawab.

Kalau berdebat dengan teman?

Sudah jarang.

Mungkin karena mereka sering menganggap aku tahu punya jawaban terbaik dan terkadang merasa bahwa aku lebih baik dari mereka jadi ngapain juga ngasih nasehat ke aku.

Akhirnya, teman diskusi yang paling sering menemaniku sekarang justru adalah AI.

Rasanya memang sedikit aneh, tetapi begitulah kenyataannya.

Yasudahlah.

Menjadi konsisten ternyata tidak selalu berarti melakukan hal yang sama setiap hari.

Ada kalanya kita harus memilih prioritas.

Hari ini bukan hari untuk berlari, melainkan hari untuk menyelesaikan tanggung jawab.

Sekarang aku hanya duduk di depan laptop, ditemani secangkir kopi hitam pahit tanpa gula.

Lagu “Nina – Tumbuh Lebih Baik” terus berputar berulang-ulang, mengisi malam yang terasa sedikit sunyi.

Entah mengapa malam ini aku merasa sedih.

Bukan karena sesuatu yang besar.

Hanya… sedih saja.

Mungkin memang begitulah menjadi manusia.

Kita sering merasa harus mencapai ini, harus mengejar itu, harus menjadi lebih baik lagi, padahal sebenarnya kita juga sudah berusaha sebaik mungkin.

Seolah-olah selalu ada target baru yang menunggu untuk ditaklukkan.

Di saat-saat seperti ini, aku juga sering teringat tentang kematian.

Bukan sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi sebagai pengingat bahwa semua ini pada akhirnya akan selesai.

Pikiran itu justru membuatku kembali tenang.

Bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar pencapaian, melainkan juga tentang menjalani hari demi hari dengan sebaik-baiknya.

Kalau dibandingkan beberapa tahun yang lalu, sebenarnya hidupku sudah jauh lebih baik.

Banyak hal yang dulu hanya menjadi doa, sekarang perlahan mulai menjadi kenyataan.

Namun hidup memang tidak pernah berhenti berjalan.

Selalu ada tantangan baru, selalu ada pertanyaan baru.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku sudah menjalani hidup ini dengan benar?”

Mungkin pertanyaan itu memang tidak memiliki jawaban yang pasti.

Dan mungkin memang setiap orang yang sedang berjuang akan pernah menanyakannya.

Karena hidup adalah ujian.

Sebagai seseorang yang kutu buku, aku juga sering merasa pikiranku berjalan terlalu jauh.

Banyak hal yang terus kupikirkan, sementara orang lain mungkin tidak pernah memikirkannya.

Ada kalanya itu melelahkan. Ada kalanya aku bertanya, “Kenapa aku harus menjadi seperti ini?”

Namun setelah kupikir lagi, mungkin setiap orang memang diberi jalan yang berbeda.

Ada yang diberi kekuatan pada fisiknya, ada yang diberi kemampuan berbicara, ada yang diberi ketenangan hati, dan mungkin aku diberi rasa ingin tahu yang tidak pernah benar-benar habis.

Menjadi seorang kutu buku memang memiliki konsekuensinya sendiri.

Pikiran akan terus bekerja, terus mencari makna, terus mempertanyakan banyak hal.

Mungkin itulah risikonya.

Semakin banyak belajar, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membantu orang lain menemukan arah.

Malam ini aku memang tidak berlari.

Namun bukan berarti aku berhenti melangkah.

Masih ada proposal yang harus diselesaikan.

Masih ada startup yang harus dibangun.

Masih ada mimpi yang harus diperjuangkan.

Dan besok pagi, semuanya akan dimulai lagi.

Untuk malam ini, biarlah kopi hitam dan lagu ini yang terus berulang menjadi teman perjalanan kecilku.

Besok, semoga langkahku kembali lebih ringan.

Jakarta, 14 Juli 2026 Pukul 19.30 WIB

Day#9 RTM (Road To Marathon)

Pada akhirnya, hari ini aku tidak jadi berlari.

Padahal sore ini aku sudah berniat untuk bangun pagi dan menyelesaikan latihan.

Namun, rencana itu tetap tinggal rencana.

Ya sudahlah.

Tidak semua hari harus berjalan sesuai keinginan.

Hari Senin pun berlalu seperti biasanya—padat dengan pekerjaan dan berbagai hal yang harus diselesaikan.

Di tengah kesibukan itu, aku kembali menyadari satu hal: ketenangan adalah sesuatu yang sangat berharga.

Saat pikiran tenang, semuanya terasa lebih ringan untuk dijalani.

Mungkin karena itulah aku ingin mulai menulis A Day with WARRIOR lagi.

Bukan untuk menceritakan hari-hari yang sempurna, tetapi untuk mengabadikan perjalanan yang apa adanya—tentang niat yang kadang tertunda, pekerjaan yang terus berjalan, dan pelajaran-pelajaran kecil yang hadir setiap hari.

Jakarta, 13 Juli 2026 Pukul 21.40 WIB

Day#8 RTM (Road To Marathon)

Pada akhirnya, manusia akan selalu terguncang oleh sesuatu yang paling ia anggap penting dalam hidupnya.

Pagi ini sebenarnya aku ingin berlari.

Saat melihat layar handphone pukul enam pagi, rasa malas masih menyelimuti tubuhku.

Aku sempat berpikir untuk kembali merebahkan diri, tetapi akhirnya aku tetap bersiap.

Setidaknya, jika aku sudah keluar rumah, langkah selanjutnya akan terasa lebih mudah.

Aku tiba di Taman Mini sekitar pukul setengah delapan pagi dan langsung mulai berlari.

Hari ini aku sudah mengenakan running vest karena memang berniat melakukan long run.

Dalam bayanganku, mungkin aku akan terus berlari hingga waktu Zuhur, bahkan kalau kuat sampai menjelang Ashar.

Namun, rencana sering kali berubah hanya karena pesan singkat.

Aku membuka ponsel sebentar.

Hanya sebentar.

Ternyata ada beberapa pesan WhatsApp yang berisi urusan penting.

Seketika pikiranku teralihkan.

Semangat yang sejak pagi sudah kukumpulkan perlahan menghilang, berganti dengan rasa lemas yang sulit dijelaskan.

Akhirnya, aku hanya berlari hingga sekitar pukul sebelas siang sebelum memutuskan pulang.

Memang belum mencapai target yang kuinginkan, tetapi setidaknya pagi ini aku tetap melangkah.

Kadang, menyelesaikan sebagian tujuan masih jauh lebih baik daripada tidak memulai sama sekali.

Sesampainya di rumah, aku kembali mengurus berbagai pekerjaan yang memang harus diselesaikan.

Rutinitas kembali mengambil alih.

Aku mulai menyadari bahwa rasa lelah dan rasa sedih mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang.

Keduanya akan selalu datang dalam bentuk yang berbeda.

Namun, ketika dunia bersikap keras kepada kita, mungkin kita juga harus belajar menjadi lebih kuat daripada dunia itu sendiri.

Aneh memang.

Luka yang dulu terasa begitu menyakitkan, lama-kelamaan berubah menjadi sesuatu yang biasa.

Bukan karena semuanya telah selesai, melainkan karena kita perlahan terbiasa memikulnya.

Setelah semua urusan selesai, aku membuat secangkir kopi, membuka laptop, lalu membereskan rumah.

Hari terasa berjalan seperti biasa, tetapi pikiranku terus melangkah jauh ke depan.

Aku tahu jalan di depan akan semakin berat.

Masalah yang akan datang pun semakin kompleks.

Untuk saat ini, mungkin pikiranku masih mampu menghadapinya.

Namun, jika semua itu berlangsung terlalu lama, aku pun tidak tahu apakah aku akan tetap sekuat itu.

Meski begitu, selalu ada satu keyakinan yang tidak pernah berubah.

Aku tidak ingin sekadar hidup.

Aku ingin mengubah dunia.

Jakarta, 17 Juli 2026 Pukul 16.16 WIB