Day#5 RTM (Road To Marathon)

Jakarta, 09 Juli 2026
21.50 WIB

Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat aku mulai menulis catatan ini.

Aku baru saja selesai makan malam.

Tubuh ini akhirnya bisa merebah sejenak setelah membereskan beberapa hal untuk esok hari.

Rasanya lelah, tetapi lelah yang menyenangkan.

Sore tadi, sejak pukul lima hingga sekitar pukul delapan malam, aku menghabiskan waktu berlari di kawasan TMII.

Entah mengapa, ada perasaan yang berbeda.

Aku mulai merasa kuat kembali.

Bukan hanya fisik yang perlahan pulih, tetapi juga kepercayaan diri yang sempat hilang.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu, aku benar-benar mulai yakin bahwa marathon itu bukan lagi sesuatu yang mustahil.

Hari ini aku berlari dengan pace sekitar delapan menit per kilometer.

Aku mengelilingi jalur luar TMII sebanyak empat putaran.

Jika satu putaran memiliki jarak sekitar enam hingga tujuh kilometer, berarti total jarak yang kutempuh sudah melewati half marathon.

Yang membuatku semakin bersyukur, tubuh ini masih sanggup terus bergerak. Selama lebih dari dua jam aku terus berlari.

Memang ada jeda untuk menunaikan salat, tetapi setelah itu aku kembali melanjutkan langkah demi langkah hingga latihan selesai.

Hari ini bukan hanya soal angka di jam atau jarak di aplikasi lari.

Hari ini adalah sebuah simulasi.

Simulasi yang memberitahuku bahwa tubuh ini mulai mengingat kembali bagaimana rasanya berlari jauh.

Otot-otot kaki yang selama ini terasa berat perlahan seperti menemukan kembali memorinya. Seolah-olah mereka berkata,

Kita pernah melakukan ini sebelumnya.”

Dan benar.

Kaki ini adalah kaki seorang Warrior.

Masih ada perjalanan yang harus ditempuh.

Masih ada latihan-latihan berikutnya yang menanti.

Aku juga belum tahu apakah besok akan kembali berlari atau memilih memberi waktu tubuh ini untuk beristirahat.

Namun satu hal yang pasti, minggu pertama perjalanan menuju marathon telah memberikan kabar baik.

Kepercayaan diri itu mulai kembali.

Dan terkadang, yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk mencoba, agar kita sadar bahwa ternyata kemampuan itu masih ada di dalam diri kita.

Day#4 RTM(Road To Marathon)

Sinar matahari selalu terasa membawa harapan baru.

Mungkin kemarin badai datang menghantam.

Langit terasa gelap, langkah terasa berat, dan hati dipenuhi banyak pertanyaan.

Namun, setiap kali fajar menyapa, selalu ada keyakinan bahwa hidup belum selesai.

Selalu ada kesempatan untuk memulai lagi.

Entah mengapa, aku memang selalu jatuh cinta pada pagi hari.

Ada sesuatu yang menenangkan saat cahaya pertama perlahan menerangi langit.

Rasanya seperti semesta sedang berbisik bahwa semua yang telah terjadi kemarin boleh dikenang, tetapi tidak harus terus dibawa.

Rasa gagal, rasa sedih, dan rasa kecewa memang bagian dari kehidupan.

Semuanya nyata, dan semuanya pasti pernah singgah.

Namun, seperti malam yang akhirnya berganti pagi, perasaan-perasaan itu pun memiliki waktunya sendiri untuk berlalu.

Hari ini sebenarnya aku tidak jadi berlari.

Kesibukan pekerjaan membuat rencana latihan harus ditunda.

Awalnya sempat merasa sedikit kecewa, tetapi kupikir tidak apa-apa.

Besok aku berencana melakukan long run, jadi anggap saja hari ini adalah waktu bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan tenaga.

Tadi aku juga sempat berpikir, “Perlu tidak ya menulis hari ini?”

Rasanya tidak ada cerita yang istimewa.

Namun, akhirnya aku tetap membuka halaman ini.

Karena perjalanan tidak selalu dipenuhi pencapaian besar.

Ada hari ketika kita berlatih dengan penuh semangat, ada juga hari ketika kita hanya beristirahat.

Dan keduanya sama-sama bagian dari proses.

Yang paling kusyukuri hari ini adalah perasaanku.

Anehnya, aku merasa bahagia.

Sulit menjelaskan alasannya, tetapi hatiku terasa lebih ringan.

Mungkin benar, setelah badai selalu ada fajar.

Setelah masa-masa yang berat, akan datang hari ketika kita kembali tersenyum tanpa alasan yang rumit.

Untuk hari ini, cukup sampai di sini.

Besok adalah hari yang baru.

Besok aku akan kembali berlari, melanjutkan perjalanan, dan mengejar versi diriku yang lebih baik daripada hari i

Jakarta, 08 Juli 2026 Pukul 21.38 WIB

Day#3 RTM(Road To Marathon)

Jakarta, 07 Juli 2026
19.30 WIB

Pada akhirnya, hidup akan terus berjalan, apa pun yang terjadi.

Manusia sering kali lebih mengingat apa yang mereka inginkan atau apa yang mereka butuhkan daripada apa yang pernah dilakukan orang lain untuk mereka.

Mungkin memang begitulah sifat manusia.

Ego sering kali berbicara lebih keras daripada rasa syukur.

Padahal, hidup hanyalah perjalanan yang dipenuhi suka dan duka.

Tidak ada kehidupan yang benar-benar hanya berisi kebahagiaan atau hanya berisi kesedihan.

Hari ini rasanya tubuhku kurang sehat.

Mungkin karena beban yang sedang kupikul terasa semakin berat.

Beban itu tidak terlihat oleh siapa pun. Aku seperti sebuah puzzle.

Orang lain hanya mengenal potongan-potongan yang sengaja kutunjukkan kepada mereka.

Sisanya kusimpan sendiri.

Aku pun tidak tahu sejak kapan menjadi seperti ini.

Mungkin karena sejak kecil aku memang lebih banyak diam.

Aku tidak terbiasa mencampuri urusan orang lain, dan mungkin karena itu pula orang lain tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang sedang kuhadapi.

Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena aku sendiri tidak pernah menceritakannya.

Begitulah diriku hingga hari ini.

Untungnya, pagi tadi aku sudah berlari selama satu jam tanpa berhenti.

Walaupun sore ini tubuh terasa kurang fit, setidaknya latihan hari ini sudah selesai.

Hari ketiga latihan pun terasa sedikit lebih ringan.

Tubuhku mulai beradaptasi.

Aku juga mulai mencoba mengatur pola makan.

Pagi tadi aku mengonsumsi empat butir telur rebus dan segelas susu.

Siang harinya aku makan nasi Padang ditemani secangkir kopi hitam tanpa gula.

Anehnya, setelah itu aku tidak merasa lapar lagi.

Mungkin karena cadangan lemak di tubuhku masih cukup banyak.

Selebihnya, hari ini berjalan seperti biasa.

Bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, lalu pulang.

Namun, ada satu perasaan yang sulit kujelaskan.

Aku merasa sedih.

Entah mengapa.

Tidak ada alasan yang benar-benar bisa kuucapkan.

Perasaan itu hanya muncul begitu saja di dalam pikiranku.

Kadang aku juga merasa takut menghadapi dunia ini.

Ujian kehidupan terasa begitu keras dan tidak pernah berhenti.

Di tengah semua itu, ada satu prinsip yang terus kupegang.

Guruku pernah mengajarkan bahwa apa pun yang terjadi, integritas harus tetap dijaga.

ku pun meyakini hal yang sama.

Memang berat.

Banyak pengorbanan yang harus dilakukan.

Ada kesempatan yang mungkin harus dilepaskan.

Ada jalan yang terasa lebih sulit dibandingkan jalan yang dipilih orang lain.

Tetapi selama aku masih mampu mempertahankannya, itulah yang akan terus kupegang.

Hari ini orang-orang mengenalku sebagai seorang insinyur.

Mereka juga mengenalku sebagai seorang penulis.

Bahkan, mungkin mereka mengenalku sebagai seseorang yang selalu tampak baik-baik saja.

Lucunya, wajahku pun sering dianggap seperti tokoh protagonis dalam sebuah cerita—seseorang yang selalu berada di sisi yang benar.

Mungkin memang itulah yang mereka lihat.

Namun, mereka hanya melihat hasilnya.

Mereka tidak melihat perjalanan panjang yang harus kulalui untuk sampai di titik ini.

Hari ini saja, belasan orang mengajakku berbincang secara langsung tentang dunia kepenulisan.

Mereka mengatakan bahwa aku menginspirasi.

Mereka mengapresiasi buku-bukuku.

Mereka memberikan begitu banyak kata-kata baik.

Aku bersyukur atas semua itu.

Namun, di balik rasa syukur tersebut, ada ketakutan yang ikut tumbuh.

Aku takut tidak mampu memenuhi harapan mereka.

Seolah-olah selama ini ekspektasi itu terus menumpuk.

Seolah aku tidak boleh berbuat salah.

Tidak boleh gagal.

Tidak boleh mengecewakan.

Lalu kepada siapa aku menceritakan semua ini?

Selama ini aku selalu bercerita kepada Tuhanku.

Tetapi kepada manusia?

Entahlah.

Mungkin banyak orang juga merasakan hal yang sama.

Mungkin setiap orang sedang memikul perjuangannya masing-masing.

Hanya saja, inilah perjuanganku.

Karena itu, ada satu hal yang akan terus kujaga selama aku masih hidup, yaitu integritas.

Aku mungkin tidak bisa selalu menyenangkan semua orang.

Aku juga mungkin tidak bisa memenuhi setiap harapan yang diberikan kepadaku.

Namun, percayalah.

Aku akan selalu berusaha menjadi orang yang bertanggung jawab atas setiap jalan yang kupilih.

Dan jika selama perjalanan ini aku pernah berbuat salah kepada siapa pun, izinkan aku meminta maaf.

Aku masih terus belajar.

Aku masih terus berjuang.

Dan selama napas ini masih ada, aku tidak akan berhenti melangkah.

Day#2 RTM (Road To Marathon)

Jakarta, 06 Juli 2026

20.50 WIB

Aku baru saja sampai di rumah.

Setelah mandi dan membereskan beberapa hal, akhirnya tubuh ini bisa merebah di atas kasur.

Rasanya nyaman sekali.

Seperti biasa, sebelum tidur aku ingin menulis sedikit tentang hari ini.

Hari kedua.

Entah mengapa, rasanya aku sudah ingin menyerah.

Astaghfirullah…

Hari Senin memang selalu menjadi hari yang paling sibuk.

Pagi tadi aku memulainya dengan berlari selama satu jam.

Namun kenyataannya, bahkan sebelum satu jam selesai, tubuhku sudah berjalan saja.

Jujur saja, ada rasa malu pada diriku sendiri.

Mungkin karena sudah terlalu lama aku tidak berlari secara rutin.

Lemak yang perlahan menumpuk di perut ini seolah menjadi pengingat bahwa aku telah terlalu lama meninggalkan olahraga.

Setelah itu, hari berjalan seperti biasa.

Meeting demi meeting mengisi jam kerja hingga sore.

Rutinitas yang melelahkan, tetapi memang sudah menjadi bagian dari pekerjaanku.

Di tengah kesibukan itu, aku mengambil satu keputusan yang cukup penting.

Aku mendaftar ulang kelas mengaji.

Rasanya sudah hampir setahun sejak terakhir kali aku belajar bersama ustaz.

Dulu aku mengikuti kelas secara daring, tetapi tidak berhasil naik level.

Aku kemudian mencoba lagi melalui kelas tatap muka.

Sayangnya, hasilnya tetap sama.

Aku kembali tidak lulus ujian kenaikan level.

Saat itu aku memilih berhenti sejenak.

Bukan karena tidak ingin belajar, melainkan karena terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri.

“Kenapa aku bodoh sekali, ya Allah?”

Kalimat itu berkali-kali berputar di kepalaku.

Namun setelah merenung cukup lama, aku mulai sadar bahwa bukan hanya kemampuanku yang menjadi penyebab.

Kesibukan dunia ternyata juga perlahan merampas waktu yang seharusnya bisa kugunakan untuk belajar Al-Qur’an.

Hari ini, ketika melihat kelas kembali dibuka, aku memutuskan untuk mendaftar lagi.

Aku akan kembali belajar dari level terakhirku.

” Apakah kali ini aku akan lulus? ”

Entahlah.

Aku hanya berharap Allah memudahkannya.

Aku juga ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Al-Qur’an.

Kadang muncul pertanyaan yang aneh di dalam hati.

“Sebenarnya untuk apa aku masih mengaji? Bukankah teman-teman di tempat kerjaku juga banyak yang tidak mengikuti kelas seperti ini?”

Namun setiap pertanyaan itu muncul, selalu ada satu hal yang mengingatkanku.

Kematian.

Ia terus berjalan mendekat tanpa pernah menunggu siapa pun.

Lalu aku berpikir, apa gunanya memiliki jabatan, harta, atau pencapaian dunia jika pada akhirnya aku gagal mendapatkan surga?

Aku tidak ingin menyesal.

Karena itu, aku ingin tetap menjaga satu impian besar.

Aku ingin menjadi seorang penghafal Al-Qur’an 30 juz.

Alasannya sederhana.

Aku ingin keluargaku bisa berkumpul kembali di surga karena rahmat Allah.

Selain itu, aku juga malu pada diriku sendiri.

Masa seorang Pemimpin masih belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik?

Masa ketika menjadi imam, hafalannya hanya berputar-putar di Juz Amma?

Yang membuatku semakin tersentuh adalah melihat teman-teman sekelasku.

Sebagian besar justru berusia lebih tua dariku.

Mereka tetap semangat belajar, sementara aku yang masih lebih muda justru sering menyerah.

Semakin lama aku semakin menyesali kegagalanku saat ujian kenaikan level.

Namun yang lebih kutakuti adalah jika aku berhenti bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Bagiku, menjadi seorang muslim berarti terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Ya Allah…

Jangan biarkan kesibukan dunia membuatku lalai dari sujud kepada-Mu.

Aku sering memikirkan kematian.

Mungkin karena aku memang seorang kutu buku yang terlalu sering membaca dan merenungkan hidup.

Tetapi akan jauh lebih menyedihkan jika waktu terus berjalan, sementara pahala dan amal ibadahku tidak ikut bertambah.

Bukankah pada akhirnya setiap manusia akan dihisab atas dirinya sendiri?

Maka tidak ada alasan untuk berhenti memperbaiki diri.

Sore tadi aku juga mendapat kabar dari PIC ILUNI UI.

Dia kembali menghubungiku untuk membantu mempromosikan bukuku yang berjudul Menjadi Insinyur Masa Indonesia Kini (MIMIK).

Kalau dipikir-pikir lagi, ternyata buku itu sudah berjalan cukup jauh.

Mungkin ini terdengar seperti self-claim, tetapi menurutku buku itu memang layak menjadi salah satu referensi bagi para insinyur di Indonesia.

Di dalamnya terdapat kata sambutan dari Ketua Insinyur Dunia, Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, para profesor dan guru besar Teknik UI, serta berbagai profesional di bidang teknik.

Selain itu isinya juga Insinyur yang terjadi pada kondisi saat ini.

Sebuah gagasan, kritik, dan harapan namun juga membumi dengan cerita yang dapat dimengerti.

Kadang kita memang hanya perlu terus berkarya.

Biarkan Allah yang menentukan sejauh mana karya itu akan sampai.

Selepas Magrib aku kembali berlari selama satu jam.

Sejujurnya aku hampir tidak pernah berlari pada malam hari.

Semua ini gara-gara nekat mendaftar race marathon.

Benar-benar ada-ada saja.

Namun ternyata keputusan itu justru membawaku menemukan sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumah.

Tempatnya sangat nyaman.

Parkirnya gratis, ada toilet, dan tetap buka sampai malam.

Awalnya aku hanya ingin mencari tempat untuk berlari.

Ternyata aku menemukan tempat yang jauh lebih indah dari yang kubayangkan.

Mungkin benar pepatah yang mengatakan, “Where there is a will, there is a way.”

Aku memang berlari sendirian.

Namun taman itu tetap ramai.

Banyak orang berjalan santai, berolahraga, atau sekadar duduk menikmati malam sambil memainkan ponsel mereka.

Setelah selesai, aku pun pulang.

Di perjalanan, aku kembali menggerutu kepada diriku sendiri.

Kenapa tanggung jawabku terasa begitu banyak?

Namun aku kembali teringat ucapan salah seorang guruku.

“Kamu sedang dikader menjadi seorang pemimpin.”

Dan seorang pemimpin memang tidak hidup dalam kemudahan.

Dulu aku sering mendengar bahwa lebih baik produktif daripada sibuk.

Namun semakin hari aku mulai memahami bahwa pada level kepemimpinan yang lebih tinggi, kesibukan memang tidak bisa dihindari.

Banyak persoalan yang mungkin tidak menghasilkan sesuatu secara langsung, tetapi tetap harus diselesaikan.

Belum lagi ketika suatu hari nanti dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Kalau terus mencari alasan, alasan itu tidak akan pernah habis.

Selama Allah masih memberiku napas, berarti perjuanganku belum selesai.

Aku tidak tahu bagaimana akhir hidupku nanti.

Tetapi tugasku bukan memastikan bagaimana akhirnya.

Tugasku hanyalah terus berjuang.

Sebab selama masih ada napas, selalu ada kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada hari kemarin.

Day#1 RTM (Road To Marathon)

Hatiku mulai bergetar.

Setiap kali mengingat bahwa marathon itu tinggal satu bulan lagi, keraguan perlahan muncul.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah aku benar-benar sudah siap?

Hari sebelumnya, aku baru saja menerbitkan dan membagikan buku ketujuh ku, BARAKAH.

Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan.

Berbulan-bulan menuangkan pikiran akhirnya berbuah menjadi sebuah buku yang bisa dipegang banyak orang.

Bersamaan dengan itu, muncul juga rasa lega, seolah satu beban besar telah selesai kutunaikan.

Namun, setelah semua euforia itu berlalu, datang sebuah pertanyaan yang terus menghantui.

“Setelah ini… aku harus melakukan apa?”

Aneh rasanya.

Ketika satu mimpi tercapai, justru muncul ruang kosong yang harus diisi.

Saat ini hanya ada satu jawaban di kepalaku: Marathon bulan Agustus.

Terakhir kali aku mengikuti marathon adalah pada tahun 2024, di Pocari Sweat Marathon.

Saat itu aku memang berhasil mencapai garis finis dan mendapatkan jersey finisher.

Namun aku gagal melewati cut-off time yang telah ditentukan.

Secara resmi, aku bukan seorang finisher marathon.

Karena itulah, hingga hari ini aku tidak pernah mengaku sebagai seorang marathoner.

Bagiku, marathon bukan hanya soal menempuh jarak 42,195 kilometer.

Marathon adalah tentang menyelesaikannya sesuai aturan perlombaan.

Kini, dua tahun telah berlalu.

Apakah aku akan gagal lagi?

Aku melihat informasi perlombaan.

Cut-off time-nya enam jam tiga puluh menit, tiga puluh menit lebih lama dibandingkan Pocari Marathon dahulu.

Harapanku kembali tumbuh.

Sejujurnya, aku sangat ingin menyelesaikan marathon ini.

Bukan hanya karena ingin mendapatkan medali, tetapi karena lomba ini diadakan begitu dekat dengan rumahku.

Lebih istimewa lagi, garis start dan finisnya berada di Universitas Indonesia, kampus yang telah memberikan begitu banyak warna dalam hidupku.

Aku ingin mendapatkan medali marathon pertamaku di tempat yang begitu berarti.

Pagi pun datang.

Sinar matahari mulai memasuki rumah, tetapi aku masih terduduk diam.

Ada rasa malas, ada rasa ragu.

Haruskah aku mulai berlari lagi?

Namun aku sadar satu hal.

Semakin lama aku menunda latihan, semakin besar peluang kegagalanku nanti.

Waktuku hanya tinggal satu bulan.

Aku akhirnya berangkat menuju Kampus Universitas Indonesia.

Tempat yang kelak akan menjadi saksi perjuanganku.

Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi.

Matahari sudah cukup tinggi dan udara mulai terasa panas.

Anehnya, masih banyak pelari yang berlari mengelilingi kampus.

Melihat mereka, semangatku sedikit demi sedikit mulai bangkit.

Aku melakukan pemanasan, lalu mulai berlari.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu langkah-langkah berikutnya.

Kali ini aku tidak menggunakan Strava.

Entah mengapa aplikasinya terus bermasalah.

Aku tidak tahu apakah yang salah aplikasinya atau telepon genggamku.

Untuk sementara, aku memilih mengabaikannya.

Yang terpenting adalah terus bergerak.

Sambil berlari, pikiranku terus dipenuhi berbagai macam rencana.

Aku harus mulai latihan setiap hari, mungkin dari pukul lima sampai tujuh pagi.

Aku harus mengatur pola makan.

Aku harus membuat jadwal latihan.

Bahkan, sempat terpikir untuk bertanya kepada ChatGPT agar dibuatkan program latihan yang paling memungkinkan.

Belum juga menempuh tujuh kilometer, aku sudah mulai berjalan.

Bukan karena benar-benar kehabisan napas.

Hanya saja kakiku seolah meminta berhenti.

Aku tertawa kecil dalam hati.

“Buset… kalau marathon itu 42 kilometer, berarti hampir enam kali putaran luar UI. Ini baru belum satu putaran penuh saja aku sudah mulai menyerah.”

Di tengah langkah-langkah itu, muncul ide lain.

Bagaimana kalau perjalanan menuju marathon ini kutulis menjadi sebuah buku?

Bukankah itu menarik?

Lalu aku tersenyum sendiri.

“Kalau gagal, malu juga ya…”

Namun tak lama kemudian aku menggeleng.

Tidak apa-apa.

Seorang penulis tetap harus menulis, apa pun hasil akhirnya.

Justru mungkin kegagalan itu pun bisa menjadi cerita.

Karena itulah aku memutuskan untuk tidak menulis tema lain dulu.

Untuk sementara, aku ingin fokus pada satu hal: marathon.

Semua energi, waktu, dan pikiranku akan kuarahkan ke sana.

Meskipun begitu, kesibukan dunia tetap saja berdatangan tanpa henti.

Pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai urusan lain seakan terus berebut perhatian.

Lalu aku berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri.

“Kalau aku terus mengeluh, apakah aku akan menjadi lebih kuat?”

Tentu tidak.

Yang kutahu tentang marathon hanyalah satu hal.

Musuh terbesar bukanlah jarak.

Bukan pula cuaca.

Melainkan diri sendiri.

Hari pertama latihan ini mungkin belum memuaskan.

Bahkan bisa dibilang gagal.

Ah…

Tidak juga.

Setidaknya hari ini aku keluar rumah.

Hari ini aku mulai lagi.

Dan itu sudah lebih baik daripada tidak memulai sama sekali.

Setelah selesai berlari, aku berjalan menuju Indomaret di Fakultas Psikologi.

Aku membeli sebotol minuman isotonik, lalu duduk sejenak.

Sambil menikmati minuman itu, aku membuka ChatGPT dan mulai menyusun skema latihan.

Pikiran tentang marathon terus muncul tanpa henti.

Aku tidak tahu apakah dalam waktu satu bulan aku benar-benar bisa menyelesaikan 42,195 kilometer.

Aku tidak tahu apakah aku akan berhasil.

Tetapi aku tahu satu hal.

Aku akan berjuang.

Aku akan berusaha.

Aku akan memberikan semua yang kumiliki.

Mungkin semua ini berawal dari keputusan sederhana: mendaftar marathon karena biaya pendaftarannya hanya sekitar enam ratus ribu rupiah.

Ditambah lagi lokasinya dekat rumah dan berada di Kampus UI.

Kombinasi yang rasanya mustahil kulewatkan.

Siapa sangka, keputusan sederhana itu kini berubah menjadi perjuangan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Aku menarik napas panjang.

“Ya Allah…”

Di tengah semua kesibukan dunia ini, izinkan aku bertahan.

Izinkan aku menyelesaikan marathon pertamaku.

Sebelum ulang tahunku tiba, semoga Engkau berkenan memberiku gelar yang selama ini kuimpikan.

Marathoner.

Bismillah, ya Allah.”

Kenapa Lari ?

Hm, kenapa ya ?

Jujur untuk menjawab pertanyaan itu, mungkin aku mulai dari awal aja kali ya.

Aku juga lupa pernah nulis ini atau engga, tapi ya sudahlah, aku hanya ingin menjawab pertanyaan itu yang ada di otak ku saat ini.

Kenapa lari ?

Jujur, dulu itu tahun 2021 ada event BK3N gitu di kantor.

Dulu itu aku lagi cuti di Jakarta, terus bos aku di Tembagapura bilang di WA katanya aku udah didaftarkan untuk ikut relay 100 km secara virtual.

Lah orang lagi cuti malah didaftarkan aja kan ya wkwk.

La gimana ya, sama bos ya cuman bilang ” Iya bang ” .

Karena virtual itu lari nya di aplikasi strava terus nanti submit ke grup dengan kode tertentu.

Seingatku itu lahirnya 100 km untuk 5 orang, jadi per orang nya 20 km.

Yasudah biar ku selesaikan saja dengan sekali jalan.

Saat itu, dunia lari belum kaya sekarang, belum seramai sekarang, dulu juga ga banyak event lari.

Terus aku datang tuh ke Jambore untuk lari, dari pagi sampe siang, asli capek banget cuy.

Cuman gimana ya, udah nanggung jadi yasudah.

Terus pas sampai Tembagapura dapet deh mendali nya.

Yang kocak itu juga mendali ada tahun nya, tahun 2020.

Artinya mendali tahun lalu yang masih sisah banyak wkwk.

Terus mulai deh ada event virtual lari lagi.

Ya masih biasa aja sih, tapi kalo ditanya kapan pertama ikut event lari ?

Ya gw jawabnya yang itu.

Dulu kayanya ada deh pas SMA itu event Milo, itu satu SMA ku ikut, jadi bareng – bareng.

Cuman aku juga lupa memori itu, inget nya ada tulisan Milo sama warna hijau aja wkwk.

Terus setelah covid rasanya tuh mulai event lari mulai berdatangan.

Aku juga lupa mulai dari kapan, ada event One Run dari TV One tahun 2023.

Ini kayanya event pertama nya mereka deh.

Dan masih banyak banget sih event-event lainnya.

Sampe sekarang masih lari juga gue, kenapa ya ?

Hm, walau dulu awalnya disuruh lari sama atasan sekarang justru gue udah ga punya alasan untuk berhenti lari.

Apa itu ya namanya cinta ?

Hm, terbang deh !

Lah sekarang jadi gue ya wkwk.

Tapi walau gue juga udah jarang lari banget sih, eits sekarang udah mulai lari lagi kok hehe.

Lari itu selalu membuat gue terkesima.

Saat itu di tahun 2024 gue ikut Maesa Run, gue datang telat dan gue mulai start dari belakang dong.

Gue lari 5 k atau 10 k ya lupa.

Gue mulai dari belakang banget, sampe ga keliatan di depan, perlahan gue udah ngelewatin beberapa orang.

Line di garis belakang justru itu yang jarang gue lihat.

Ada orang yang obesitas lari pelan tapi terus maju, ada orang tua yang terus lari, sesuatu yang gue rasa, jarang gue lihat di frontier tengah ya kalo gue :).

Kalo dilihat mereka luar biasa.

Terus apalagi ya ?

Banyak sih.

Ada mendali yang bikin kenang-kenangan.

Bahkan kalo gue inget gue tuh dulu dikasih training atau pelatihan gitu yang jumlahnya puluhan atau ratusan kali ya, cuman itu sertifikat ya kemana ya ?

Banyak dan kececeran aja.

Tapi kalo ada mendali, tuh lebih mewah aja dan jadi inget oh gue pernah ikut aja.

Selain itu, kalo dikeluarga nih ya, kalo ngelihat kita banyak mendali udah kaya kita juara dunia aja, apalagi bocil.

Padahal itu mendali finisher Abang, bukan mendali juara podium wkwk.

Jujur, mendali itu bahkan buat gue lebih penting dari pada Jersey dah kalo sekarang.

Terus Jersey.

Buset Jersey lari gue udah banyak banget.

Jumlahnya ?

Ga tahu, udah puluhan.

Setiap hari kalo dirumah atau nongkrong pakai Jersey lari.

Ini tidur pun udah kaya mau tanding lari dah wkwk.

Gue juga ga tahu  kenapa tapi nyaman aja pakai Jersey atau kaos lari wkwk.

Terus juga ada kaos finisher triathlon, finisher half marathon, finisher marathon.

Buset enak banget ya pamer ke orang wkwk.

Kacauu.

Bangga aku tuh… 🙂

Terus apa lagi ya ?

Hm ajang reuni kali ya.

Jujur males juga gue kalo nongkrong cuman buat reuni wkwk.

Ya paling bukber aja, terus kalo ngobrol lama-lama ga ada kepentingan sekarang koh mending rebahan aja ya hehe.

Tapi kan kalo di event lari ya bentar aja kali ya ngobrol nya, ga tahu kenapa tapi itu sih yang gue rasain.

Terus kalo kita sering latihan itu pengen kayak buat cari personal best aja.

Walau gue jarang sih yang cari personal best, gue juga jarang pakai jam, pakai strava dan lainnya, ya saat ini aja kali ya.

Kalo pakai headset juga jarang kalo lari, tapi belakangan ini kalo lari sendiri juga enak juga ternyata pakai headset

Kalo event kayanya ga pernah pakai headset deh.

Kenapa ?

Pengen denger suara selama race aja, berasa asyik dan nyaman aja.

Dulu gue juga ga pernah ikut ohlaraga sampe SMA.

Itu juga paling biasa aja kayak bola, futsal, bulu tangkis, cuma modal bisa aja.

Dulu itu di SMA di seriusin nya cuman karate gara- gara teman banyak yang ikut eskul sekalian dulu pamer ke cewek wkwk.

Terus kuliah asrama ada taekwondo, tapi itu sifatnya juga semuanya disuruh.

Kalo yang benar – benar mulai diseriusin dan sendiri ya kayanya baru lari sih yang paling jauh.

Lagipula lari itu beda sama main golf, walau udah setahun lebih ga main golf lagi wkwk.

Ya kedepan main lagi sih, golf itu olahraga middle keatas dan lebih kepentingan networking, lebih ke fokus dan skill.

Kalo lari ?

Beuh, lebih beragam sih, kalo bahasa lebay nya lebih banyak air mata di lari.

Lari juga ga ribet kalo cuman rekreasi aja, tinggal modal pakai sepatu terus lari deh.

Kenapa lari ?

Kenapa ya, muter lagi dong jawaban tadi wkwk.

Ya formalitas nya kesehatan, kebahagian, dan banyak lah hal positif yang bisa diungkapkan.

Tapi kalo ditanya kenapa lari ke hatiku ?

Karena aku jatuh cinta juga.

Di lari, seseorang mengandalkan dirinya sendiri, lari juga ga bisa ambil jalan pintas, dan juga lawan yang dihadapi juga diri sendiri.

Kenapa lari ?

Mungkin itu salah satu pertanyaan seumur hidup ku juga.

Lari ya ?

Pengen deh bisa lari di luar negeri kaya event world marathon major.

Dan kenapa lari ?

Bagi orang yang kalah di ekonomi, maka jangan kalah juga di kesehatan dong.

Dan lari mungkin juga bisa jadi pelampiasan positif.

Kenapa lari ?

Karena mungkin salah satu lawan rasa sakit hati, kecewa, kok habis lari lebih bahagia ya wkwk.

Kenapa lari ?

Duh, apa ya ?

Banyak banget kali jawaban kali ya.

Tapi satu hal yang pasti.

Aku ingin berusaha untuk lari bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri dulu, setelahnya urusan semesta

Jakarta, 22 juni 2026 pukul 23.00 WIB.

Oh iya, selamat ulang tahun Jakarta, kota nomor satu yang paling kucinta

Orang-Orang yang Tak Dipilih Dunia: Jadi Terbit atau Tidak

Kemarin aku menghadapi sebuah dilema.

Draft novel pertamaku yang berjudul Orang-Orang yang Tak Dipilih Dunia (OOTDD) mungkin tidak jadi diterbitkan.

Awalnya, setelah naskah selesai, aku mengirimkannya kepada beberapa teman dekat.

Mereka adalah orang-orang yang selama ini selalu membaca bukuku sebelum aku mengirimkannya ke penerbit.

Menariknya, ketika ide buku ini masih berupa konsep, mereka mendukung penuh dan bahkan mendorongku untuk menulisnya.

Namun, setelah membaca naskah yang sudah jadi, pendapat mereka berubah.

Menurut mereka, banyak tokoh dalam cerita yang masih bisa dikenali oleh orang-orang yang dekat dengan lingkunganku.

Mereka khawatir ada pihak yang merasa tersinggung atau tidak nyaman ketika buku ini diterbitkan.

Padahal, buku ini berisi kumpulan kisah tentang kegagalan, perjuangan, dan luka yang dialami banyak orang.

Cerita-ceritanya tidak saling terhubung, tetapi semuanya lahir dari pengalaman nyata yang pernah aku lihat atau dengar secara langsung.

Sejak awal sebenarnya aku juga sudah memiliki keraguan.

Apakah aku benar-benar harus menulis buku ini?

Namun, dorongan dari teman ku juga untuk membuat karya fiksi akhirnya membuatku memberanikan diri menuliskannya sedikit demi sedikit hingga menjadi sebuah naskah utuh.

Masalahnya, aku menulis buku ini dengan sangat jujur.

Aku tidak merasa melebih-lebihkan ataupun mengurangi kenyataan yang terjadi.

Karena itulah emosi dalam setiap cerita terasa kuat.

Akan tetapi, justru kejujuran itulah yang menjadi sumber masalah.

Orang-orang yang mengenal lingkungan tempat cerita itu berasal mungkin dapat menebak siapa sosok yang dimaksud.

Aku sempat berpikir untuk mengubah lebih banyak detail.

Namun, setiap kali mencoba melakukannya, rasanya emosi dalam cerita ikut menghilang.

Kisah-kisah itu menjadi terasa datar dan kehilangan kekuatannya.

Saat ini aku masih menahan rencana penerbitan buku tersebut.

Mungkin aku akan melakukan revisi besar-besaran.

Mungkin juga buku ini memang belum saatnya terbit.

Sebelum mengambil keputusan, aku ingin meminta pendapat dari beberapa orang yang lebih berpengalaman dalam dunia penulisan novel.

Kalau dipikir-pikir, mungkin salah satu kesalahanku adalah meminta izin kepada beberapa orang yang kisah hidupnya menjadi inspirasi dalam buku ini.

Di satu sisi, aku merasa itu adalah bentuk penghormatan.

Namun di sisi lain, setelah mereka membaca naskahnya, muncul kekhawatiran bahwa cerita tersebut akan membuka kembali bagian hidup yang selama ini ingin mereka simpan sendiri.

Memang begitulah manusia.

Ketika sudah berhasil, banyak orang bersedia menceritakan kegagalannya kepada publik.

Namun ketika masih berada di tengah perjuangan, kegagalan sering kali menjadi sesuatu yang ingin disembunyikan.

Entahlah.

Untuk sementara, Orang-Orang yang Tak Dipilih Dunia masih berada di persimpangan jalan: direvisi, ditunda, atau mungkin tidak pernah diterbitkan sama sekali.

Jakarta, 12 Juni 2026 Pukul 04.02 WIB

A Weekend with Warrior #06-07 Juni 2026

Sabtu, 07 Juni 2026

Mataku mulai terbuka dan melihat dunia lagi.

Ternyata Aku masih hidup, masih menjalani ujian di dunia ini.

Jam di HP menunjukkan pukul 00.10 WIB.

Aku terbangun lebih cepat dari biasanya, mungkin karena semalam tidur sejak pukul 19.30.

Seperti biasa, aku mengecek beberapa pesan WhatsApp terlebih dahulu.

Setelah itu aku mencoba tidur kembali, tetapi mata ini sulit terpejam.

Biasanya kalau sudah terbangun seperti ini, aku langsung membuka laptop untuk menulis.

Namun pagi nanti aku akan lari bersama teman-teman dari Taman Mini Running Club, jadi aku harus menjaga kondisi tubuh tetap fit.

Aku masih terjaga hingga sekitar pukul 01.30 WIB sebelum akhirnya tertidur kembali.

Menjelang subuh, suara adzan membangunkanku.

Aku sebenarnya sudah memasang alarm di HP dan jam weker manual, tetapi tetap saja suara adzan dari masjid sekitar rumah yang paling ampuh membuatku bangun.

Mungkin karena ada empat masjid yang jaraknya sangat dekat dari rumah.

Seperti biasa, pagi dimulai dengan makan seadanya yang tersedia di dapur, minum susu, dan vitamin.

Kebiasaan ini kulakukan hampir setiap hari agar tubuh tetap bugar.

Aku juga membuat kopi hitam panas, lalu memasukkan beberapa batu es ke dalam tumbler hingga berubah menjadi kopi dingin ala Americano.

Selain membuat mata tetap melek, cara ini jauh lebih hemat dibanding membeli kopi setiap hari.

Setelah salat Subuh, aku langsung bersiap menuju TMII.

Jarak rumahku ke sana sekitar 15 menit menggunakan motor.

Ngomong-ngomong, rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis seri A Weekend with Warrior.

Bahkan aku lupa apakah tahun ini sudah pernah menulisnya atau belum.

Tidak terasa tahun ini sudah memasuki bulan keenam.

Waktu terasa berjalan sangat cepat.

Mungkin karena tahun ini aku juga sangat sibuk menulis buku.

Saat ini sudah ada tiga buku yang selesai, satu yang hampir selesai, satu yang sudah memiliki konsep kuat, dan kemungkinan satu buku lagi yang akan lahir tahun ini.

Artinya, tahun ini total bisa mencapai lima hingga enam buku.

Jujur saja, menurutku itu luar biasa.

Dua tahun sebelumnya aku hanya mampu menyelesaikan dua buku setiap tahun.

Awalnya aku berpikir dua buku per tahun sudah cukup.

Namun kemudian aku bertanya kepada diri sendiri:

“Kalau aku bisa menulis lebih banyak, kenapa harus membatasi diri?

Apalagi suatu hari nanti mungki aku akan memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Saat itu mungkin aku tidak akan memiliki waktu sebanyak sekarang.

Jadi mungkin inilah waktunya untuk berkarya sebanyak mungkin.

Menurutku, kunci terbesar tetaplah ide.

Ide bisa datang dari membaca buku, mengamati lingkungan sekitar, atau pengalaman hidup sehari-hari.

Aku juga selalu fokus menyelesaikan satu buku hingga selesai terlebih dahulu.

Ide untuk buku lain tetap dicatat, tetapi pengerjaannya tidak bersamaan.

Kalau tidak fokus, biasanya tidak ada buku yang benar-benar selesai.

Karena itulah aku memutuskan untuk kembali menulis A Weekend with Warrior untuk akhir pekan kali ini.

Pagi Bersama Taman Mini Running Club

Aku tiba di TMII pukul 06.15 WIB, sementara waktu kumpul pukul 06.30 WIB.

Jadi, masih ontime :).

Sudah lama sekali aku tidak latihan rutin.

Kesibukan pekerjaan membuat waktu latihan sangat berkurang.

Padahal bulan Agustus nanti aku berencana mengikuti marathon, jadi sudah waktunya kembali beradaptasi.

Hari ini sekaligus menjadi gathering Taman Mini Running Club tahun 2026.

Acara juga didukung oleh manajemen TMII yang menyediakan makanan dan minuman.

Terima kasih ya TMII.

Kegiatan dimulai dengan strength training, lalu dilanjutkan lari mengelilingi beberapa ikon TMII untuk dokumentasi.

Kami melewati Anjungan Sumatera Barat, Istana Anak-Anak Indonesia, dan kembali ke Plaza Kori.

Setelah itu acara ditutup dengan foto bersama.

Foto TRC Tanggal 06 Juni 2026

Kalau ditanya apakah aku mengenal semuanya?

Tentu tidak.

Maklum, aku sudah lama tidak aktif latihan bersama mereka.

Namun begitulah hidup saat ini.

Selama memiliki tujuan dan kepentingan yang sama, orang-orang bisa berjalan bersama.

Bahkan aku pernah memiliki rekan kerja yang tidak pernah kutemui langsung selama dua tahun.

Saat akhirnya bertemu, aku baru mengenalinya dari suara.

Begitulah era meeting online.

Sore di TMII Lagi

Setelah pulang, aku mandi, minum kopi, membuka laptop, membalas chat, email, dan menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan.

Targetku saat itu semua urusan selesai sebelum pukul 14.00 WIB.

Setelahnya aku kembali ke TMII menggunakan sepeda.

Tujuannya sederhana: ingin mencoba acara kuliner dari Anjungan Kalimantan Selatan yang kulihat di media sosial.

Aku tiba sekitar pukul 15.15 WIB, tetapi ternyata acaranya tidak terlihat.

Akhirnya aku berkeliling TMII terlebih dahulu.

Setelah mengecek media sosial lagi, ternyata acara sudah dimulai.

Langsung saja aku menuju lokasi.

Aku menikmati berbagai makanan, naik perahu, dan semuanya gratis.

Anjungan Kalimantan Selatan memang sering mengadakan acara menarik seperti ini.

Tim pengincar gratis mana suaranya ? Ane dong 🙂
Habis Gowes diajak naik kapal ? Wong gratis gas 🙂

Setelah ngobrol santai dan menikmati suasana, aku pun pulang.

Kalau memang sering ke TMII, menurutku wajib memiliki annual pass.

Saat ini harganya sekitar Rp400.000 per tahun.

Dengan frekuensi kunjungan yang tinggi, menurutku cukup menguntungkan.

Malam di Gym

Malam harinya aku pergi ke Gym Majapahit.

Gym Majaphit itu sebutan bagi Gym kampung, itu kata orang-orang 🙂

Sudah lama juga tidak latihan di sana.

Biayanya cukup murah, sekitar Rp175.000 per bulan.

Bahkan petugas gym jarang mengingatkan soal pembayaran, benar-benar mengandalkan kesadaran anggota.

Aku hanya berlatih sekitar 40 menit karena besok pagi harus mengikuti acara Yellow Run.

Setelah latihan, aku membeli makan malam sekaligus sarapan untuk esok hari, lalu pulang dan beristirahat.

Sebelum tidur, aku hanya berharap “ Semoga besok tidak telat ya Allah, Aamiin.”

Minggu, 08 Juni 2026

Alarm berbunyi pukul 02.00 WIB.

Seperti biasa, aku memasang lebih dari tujuh alarm dengan waktu berbeda.

Strateginya sederhana: kalau alarm pertama gagal membangunkanku, masih ada alarm berikutnya.

Nyatanya tetap tidak berhasil.

Aku kembali tidur dan baru benar-benar baru bangun pukul 02.30 WIB karena jam weker manual.

Itu lah sebabnya kenapa aku masih menggunakan jam weker manual 🙂

Setelah mandi dan salat, aku sarapan ringan, minum susu, vitamin, dan roti.

Pukul 03.45 WIB aku berangkat menuju GBK, lokasi acara Yellow Run.

Aku tiba sekitar pukul 04.30 WIB dan langsung menuju masjid untuk salat.

Setelah itu aku bertemu teman kantor yang juga mengikuti acara ini.

Kami mengobrol sambil menunggu waktu start.

Acara dimulai sekitar pukul 05.40 WIB.

Jujur saja, kakiku sudah terasa lelah bahkan sebelum lomba dimulai.

Mungkin efek latihan strength training dan lari bersama Taman Mini Running Club sehari sebelumnya.

Namun memang beginilah proses kembali beradaptasi setelah lama tidak berlatih rutin.

Peserta acara sangat banyak, sekitar 10.000 orang.

Menurutku, dengan biaya pendaftaran hanya sekitar Rp200.000, acara ini sangat mewah.

Peserta mendapatkan medali, jersey lari, jersey finisher, goodie bag, snack, dan kesempatan mendapatkan doorprize.

Aku berhasil menyelesaikan lomba dalam waktu antara 31 hingga 38 menit.

Aku tidak terlalu ingat karena memang jarang menggunakan Strava atau jam lari.

Jadi, hanya perkiraan saja dari teman yang tiba sebelum dan sesudah finish dengan ku

Setelah melewati garis finis, aku berfoto bersama dan menikmati suasana acara.

Foto dengan teman kantor 🙂

Doorprize dan Rezeki Tak Terduga

Sambil menunggu pengundian doorprize, aku menikmati makanan yang kubeli di acara dan kopi yang kubawa dari rumah.

Sambil makan & minum kopi sambil nonton konser, enak ey wkw

Suasana semakin meriah dengan hiburan musik dan penampilan para tamu undangan.

Salah satunya adalah Bahlil.

Aku mengenalnya sejak sekitar sepuluh tahun lalu.

Menurutku, beliau adalah sosok yang luar biasa.

Bayangkan, seorang pemuda dari Papua dengan latar belakang sederhana mampu menjadi salah satu tokoh penting di republik ini.

Terlepas dari benar atau salahnya kebijakan, perjalanan hidup seperti itu tetap layak dihargai.

Saat pengundian doorprize berlangsung, tiba-tiba namaku muncul di layar.

Aku mendapatkan rice cooker.

Alhamdulillah.

Hanya menjemput Rezeki takdir hehe

Wkwk pulang-pulang bawa rice cooker 🙂

Dan ternyata pas mau pulang ketemu Om Agus, pelari yang kenceng ini.

Izin foto Om 🙂

Dengan Om Agus Prayogo 🙂

Donor Darah

Setelah acara selesai, aku langsung menuju PMI Jakarta untuk donor darah.

Hari itu adalah hari ke-61 sejak donor darah terakhirku.

Dalam setahun, biasanya aku donor darah sekitar enam kali.

Aku pun menuju meja pengambilan darah dan proses donor dimulai.

Saat hendak naik ke tempat tidur donor, beberapa perawat menghampiriku dan menawarkan jenis donor lain yang bisa dilakukan setiap dua minggu sekali.

Bedanya, yang diambil adalah komponen tertentu dari darah, dan prosesnya jauh lebih lama, sekitar 45 menit.

Sementara donor darah biasa yang sering kulakukan biasanya hanya sekitar 10 menit saja.

Mungkin karena saat itu aku masih memakai jersey running sehingga terlihat cukup fit.

Padahal kenyataannya aku kurang tidur, kurang makan, dan baru saja menyelesaikan lari pagi yang cukup melelahkan.

Namun para perawat terus mencoba meyakinkanku.

Mereka melihat bahwa aku sudah lebih dari 20 kali donor darah dan masih tergolong muda.

Jujur saja, aku agak bimbang karena baru tahu ada jenis donor seperti ini.

Akhirnya, mereka mengambil sampel darahku terlebih dahulu untuk diperiksa di laboratorium.

Prosedurnya memang cukup ketat, terutama terkait kondisi darah dan pola makan.

Tidak lama kemudian hasilnya keluar.

Ternyata aku belum bisa mengikuti donor yang dilakukan setiap dua minggu tersebut karena kondisi darahku masih belum memenuhi syarat.

Kata petugas, hasilnya agak keruh atau semacam itu.

Mungkin karena pola makan juga.

Katanya perawat, jangan banyak makan satan.

Lah, tadi pagi aja aku makan rendang wkwk.

Jujur saja, aku sedikit lega.

Dua bulan lagi aku akan mengikuti marathon, jadi memang kondisi tubuh harus benar-benar dijaga.

Meski begitu, perawat tetap meminta nomor WhatsApp-ku dan mengatakan bahwa nanti aku bisa mencoba lagi setelah kondisi darahku lebih baik.

Kalau ditanya apakah aku tertarik atau tidak, jujur aku masih belum tahu.

Mungkin nanti saja setelah marathon selesai.

Bisa jadi mereka cukup tertarik karena golongan darahku AB, yang jumlahnya memang jauh lebih sedikit dibandingkan golongan darah lainnya.

Alhamdulillah masih rutin donor darah 🙂

Setelah selesai donor, mataku sudah sangat mengantuk.

Awalnya aku sempat berniat mencari makan terlebih dahulu, tetapi karena rasa kantuk yang luar biasa, aku memutuskan langsung pulang ke rumah.

Aku tiba di rumah sekitar pukul 13.30 WIB.

Begitu sampai di kasur, mungkin tidak sampai dua menit aku langsung tertidur pulas.

Sekitar satu jam kemudian aku terbangun dengan kondisi yang jauh lebih segar.

Mata terasa lebih ringan dan pikiran terasa lebih jernih.

Memang tubuh manusia memiliki mekanisme penyembuhannya sendiri.

Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan.

Untuk urusan makan, akhirnya aku memesan GrabFood saja, hehe.

Kurasa itu saja cerita selama dua hari ini.

Memang tidak sepenuhnya lengkap, mungkin hanya sekitar 60% dari semua yang terjadi, hehe.

Habis ini ya mau beres-beres rumah, makan, edit tulisan dan segala hal tentang dunia lah :).

Oh iya, kurang dari tiga hari lagi aku akan share buku ku yang keenam yang berjudul Terima Kasih Jilid 3 : MIMIK (Menjadi Insinyur Masa Indonesia Kini ).

Itu ada kata pengantar dari Ketua Insinyur Dunia, Ketua Insinyur Indonesia & para profesordari kampus Universitas Indonesia.

Kalo bulan depan, buku Barakah.

Ya gitulah, pokoknya stay tuned aja 🙂

Dan untuk menutup tulisan ini,

Terkadang kita selalu menunggu sosok pahlawan yang akan datang dan mengubah hidup kita. Padahal mungkin pahlawan yang selama ini kita tunggu adalah diri kita sendiri.

Selama masih bernapas, selama itu pula kita adalah seorang WARRIOR.

Jakarta, 08 Juni 2026 Pukul 15.50 WIB

Melihat Blog Lama

Rasanya belakangan ini hidupku terasa bosan saja.

Ya, mungkin cuma perasaan.

Bisa jadi karena liburan terlalu lama, atau mungkin karena rutinitas yang itu-itu saja, entahlah.

Tapi kalau lagi ada di fase seperti ini, bayangan tentang Pulau Bali sering muncul di pikiranku.

Ya, Bali memang salah satu tempat liburan yang paling aku suka.

Mungkin setelah Jakarta, ya Bali.

Rasanya tenang saja, dan aku cocok dengan auranya.

Walaupun untuk sekarang itu masih sebatas angan-angan.

Kalau sedang jenuh, biasanya yang aku lakukan cuma scroll HP, lihat macam-macam hal tanpa tujuan jelas.

Kadang pikiran juga jadi ke mana-mana, lalu tanpa sadar aku suka baca tulisan-tulisan lama.

Dulu waktu masih dapat beasiswa saat kuliah, setiap bulan aku diminta menulis apa saja yang aku lakukan selama sebulan dan mengirimkannya lewat email.

Dan entah kenapa, lucu saja rasanya membaca tulisan lama seperti itu.

Lebih ke nostalgia.

Aku juga memang termasuk orang yang malas bermain terlalu banyak media sosial.

Facebook-ku saja sudah sekitar 17 tahun, dan email Gmail-ku ternyata juga sudah lebih dari 11 tahun dipakai.

Lalu tanpa sengaja aku jadi ingat Tumblr.

Dulu aku memang sempat sering menulis di sana.

Kalau ditanya kapan aku mulai perjalanan menulis, mungkin sekitar tahun 2015.

Berarti sekarang sudah lebih dari 11 tahun juga.

Kenapa 2015?

Kayanya karena saat itu aku baru punya laptop sendiri.

Laptop second hasil beli pakai uang beasiswa.

Aku lupa belinya di ITC Depok atau Harco Glodok.

Yang penting waktu itu bisa dipakai buat Microsoft Word dan bikin PPT saja sudah senang banget.

Laptop itu berat sekali, mungkin lebih dari 2 kilogram.

Kalau menyala bunyinya berisik banget, seperti kipas angin di ruangan.

Panasnya juga luar biasa.

Bahkan pernah aku lihat ada cairan di atas meja, ternyata lilin yang meleleh karena panas laptopku sendiri.

Kocak juga kalau diingat sekarang.

Sekarang laptop itu ke mana ya?

Harusnya masih ada sih.

Biasanya barang-barang yang punya pengaruh besar dalam hidupku tidak aku jual.

Semacam benda bersejarah dan penuh kenangan.

Mestinya, masih tersimpan di rumah dan harus dicari lagi saat beres-beres nanti.

Sejak punya laptop itulah aku mulai benar-benar menulis.

Menulis di blog, menulis di Tumblr.

Dulu aku juga main Facebook dan Ask.fm, tapi masih zaman pergi ke warnet, sejam atau dua jam saja.

Rasanya sekarang dunia sudah berubah jauh banget ya.

Akhirnya aku coba buka Tumblr lamaku lagi.

Kukira Tumblr sudah hilang entah ke mana, ternyata masih ada.

Aku coba login, tentu saja password-nya salah.

Ya wajar, sudah lebih 10 tahun tidak dibuka.

Tapi ternyata email yang kupakai masih sama, jadi setelah klik “forgot password” aku bisa masuk lagi.

Pas berhasil login, aku malah mikir sendiri, “Eh, ternyata aku pernah punya foto seperti ini ya?”

Lucu juga rasanya melihat apa yang terjadi masa lalu.

Lalu aku jadi berpikir, “Orang-orang ini sekarang ada di mana ya?”

Ada beberapa yang memang masih aku kenal.

Ada juga yang ternyata sudah meninggal.

Dan banyak lainnya yang aku bahkan tidak tahu lagi kabarnya sekarang.

Mungkin memang begitu hidup.

Pada akhirnya, orang akan datang dan pergi.

Kita hanya menunggu di stasiun mana masing-masing akan berhenti.

Apakah itu hal yang baik?

Entahlah.

Tapi mungkin memang begitu seharusnya.

Manusia harus terus bergerak maju, terus hidup, dan jangan sampai terjebak terlalu lama di masa lalu.

Kadang kita suka berpikir:

“Ke mana ya orang yang dulu ranking satu di kelas?”

“Ke mana ya orang yang paling terkenal di sekolah?”

Ada juga yang dulu hidupnya kaya raya tapi sekarang justru kesulitan.

Ada juga yang dulu hidup susah, sekarang kehidupannya jauh lebih baik.

Hidup benar-benar misteri.

Kita pernah sangat dekat dengan seseorang, tapi sekarang bahkan saling menyapa pun tidak lagi.

Ya, begitulah kehidupan.

Tapi karena adanya foto dan tulisan-tulisan lama itu, jadi terasa bahwa ternyata kita memang pernah memiliki momen seperti itu.

Tentang menulis, akhir-akhir ini aku jadi ingin memperbanyak tulisan lagi.

Dua tahun belakangan aku berhasil menerbitkan dua buku dalam setahun.

Tahun ini targetnya mungkin empat buku.

Ke depan, kalau bisa ingin meningkat jadi lima sampai delapan buku per tahun.

Kenapa aku mengejar jumlah buku?

Karena aku merasa, di masa depan ketika tanggung jawab hidup semakin besar — mungkin juga ketika aku menjadi seseorang yang lebih penting di negeri ini — waktu untuk menulis akan jauh berkurang.

Jadi sebelum masa itu datang, aku ingin menulis sebanyak mungkin.

Kalau bisa sampai seratus buku.

Bismillah ya Allah.

Untuk soal kualitas, jujur sekarang aku masih lebih fokus pada kuantitas dulu.

Yang penting terus menulis dan terus bergerak.

Tapi lucunya, belakangan ini aku juga merasa mulai malas menulis.

Rasanya capek saja.

Astaghfirullah.

Padahal kita tidak pernah tahu umur sampai kapan.

Jadi ya, ayo semangat lagi.

Semangat menulis.

Semangat hidup.

Semangat bermimpi.

Oke lah, ini ada beberapa foto yang aku ambil dari Tumblr lamaku.

Lucu juga ternyata kalau melihat masa lalu sendiri, hehe.

Ini pas lagi di kampung inggris terus jalan-jalan sama temen-temen kemana ya wkwk
Jujur gue lupa pernah kesini. Funfact nya, gue tadi nyari foto gw sekitar 3 menit belum ketemu tapi akhirnya ketemu. Buset udah kaya beda orang gue sama dulu, pasti karena kurus banget dulu wkwk

Oh iya, gambar nya udah pakai jaket kuning ya, gile gue bangga banget ternyata sama UI dari dulu ye wkwk.

Ya gapapalah, tolong dimaklumin.

Itu dulu ya, gue mau makan dulu, udah datang ini grabfood hehe.

Jakarta, 21 Mei 2026 Pukul 19.57 WIB

Tentang Menulis

Dalam kesepianku, terkadang pikiranku pergi ke mana-mana.

Aku sering bertanya pada diri sendiri, apakah tahun ini aku masih akan menerbitkan buku lagi?

Dulu, aku pernah berpikir bahwa aku bisa menerbitkan empat buku dalam satu tahun.

Artinya, setiap tiga bulan harus ada satu buku yang selesai.

Pola tiga bulan itu aku pelajari dari buku The 12 Week Year.

Buku itu mengajarkan bahwa orang-orang unggul tidak selalu menunggu resolusi tahunan.

Bahkan, banyak resolusi satu tahun yang akhirnya gagal karena terlalu panjang dan terlalu lama ditunda.

Maka, target itu dipersingkat menjadi siklus tiga bulan agar lebih fokus dan lebih serius dijalani.

Namun kenyataannya, selama dua tahun terakhir aku hanya mampu membuat dua buku dalam setahun.

Itu pun terasa sangat melelahkan.

Aku pernah bertanya kepada ChatGPT, sebenarnya rata-rata seorang pekerja bisa menulis berapa buku dalam setahun?

Jawabannya sederhana: satu buku dalam setahun saja sudah termasuk bagus.

Maka, dua buku dalam setahun sebenarnya juga sudah baik.

Tetapi kemudian aku berpikir lagi, kenapa harus membatasi jumlah buku yang bisa kutulis?

Selama masih ada ide, masih ada tenaga, dan masih ada kemampuan, kenapa tidak menulis lebih banyak?

Pikiran itu terus muncul di kepalaku.

Aku juga sering merasa malu ketika mengingat para ulama terdahulu.

Mereka rela mengurangi waktu tidur hanya demi menulis.

Bahkan ada yang sengaja membuat tempat tidurnya tidak nyaman agar mudah terbangun untuk kembali menulis di malam hari.

Di zaman sekarang memang ada banyak kemajuan, tetapi ada juga kemunduran.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri, sebenarnya aku ingin mengikuti yang mana?

Mengikuti standar modern yang serba santai, atau mengikuti semangat para ulama yang menghabiskan hidupnya untuk ilmu dan tulisan?

Aku sadar bahwa jalan menuju surga juga penuh perjuangan.

Dan aku yakin, orang-orang berilmu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan.

Karena itu, menulis bagiku bukan hanya soal hobi.

Menulis adalah usaha meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada umur kita sendiri.

Apalagi sekarang mungkin adalah masa emas dalam hidupku.

Aku masih punya waktu luang, masih punya tenaga, dan pikiranku masih kuat untuk berpikir dan berkarya.

Seiring bertambahnya usia, waktu akan semakin sempit, tenaga akan semakin berkurang, dan daya ingat pun perlahan akan menurun.

Itu hal yang wajar dalam kehidupan manusia.

Aku teringat perkataan Malala Yousafzai, perempuan dari Pakistan itu.

Dia pernah berkata bahwa satu buku dan satu pena bisa mengubah dunia.

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat kuat.

Kadang orang berkata, “Menulislah hanya saat ada mood,” atau “Tulislah dengan santai dan mengikuti passion.”

Namun bagiku, itu sering kali hanyalah alasan untuk membenarkan rasa malas dan keengganan untuk menulis.

Sebagai seorang muslim, aku percaya bahwa hidup bukan hanya tentang melakukan apa yang terasa nyaman.

Banyak hal besar lahir dari disiplin dan komitmen.

Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi penghafal Al-Qur’an jika hanya menghafal ketika sedang ingin?

Bahkan orang yang sudah hafal pun tetap harus murajaah agar hafalannya tidak hilang.

Aku percaya pada takdir.

Tetapi aku juga percaya bahwa takdir sering kali berada di ujung ikhtiar.

Karena itu, aku menulis bukan hanya karena suka.

Aku menulis karena aku tahu tulisan bisa hidup lebih lama daripada penulisnya sendiri.

Komitmen adalah sesuatu yang tidak semua orang mampu jalani.

Dan satu hal yang pasti, menulis memang tidak selalu menyenangkan.

Kadang melelahkan, kadang membosankan, bahkan kadang membuat ingin menyerah.

Tetapi menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Jakarta, 15 Mei 2026 Pukul 21.35 WIB