Time is Up

Halo semuanya, apa kabar ?

Semoga baik-baik ya.

Nah, gue mau share dari buku yang gue baca di aplikasi Ipusnas.

Nah, elo bisa download juga tuh di playstore, aplikasinya gratis ko.

Jadi, gue enggak punya buku fisik nya tapi gue udah baca dari aplikasi Ipusnas.

Nah, judul bukunya Time is Up karya Yusuf Qardhawi.

Gue di post kali ini cuman mau ambil kutipan-kutipan dari bukunya dia aja.

Karena emang karya Yusuf Qardhawi tuh menurut gue berat-berat banget isinya.

Ditambah gue juga ngga perlu elaborasi dengan yang lain.

Kenapa ?

Karena kalimatnya udah jelas banget, fokus, dan menjadi pengingat.

Ya, kalo dibaca bikin sakit hati karena umumnya manusia merupakan makhluk yang paling rugi kan tapi tetap aja kita dablek untuk ga mau berubah menjadi lebih baik.

Ini terjadi bila hari ini tidak lebih baik daripada hari kemarin.

Nah, u get my point, right ?

Nah begitu.

Menurut gue kita resapin aja apa yang disampaikan oleh Yusuf Qardhawi dan semoga menjadi pengingat biar kita engga jadi manusia-manusia rugi & dapat memanfaatkan waktu yang sementara ini.

Thanks ya udah baca, sampai jumpa di post-post selanjutnya.

Kutipan dari Book : Time is up by Yusuf Qardhawi

  • “ Barang siapa melewatkan suatu hari dari umurnya dalam selain hak yang ia selesaikan, atau kewajiban yang ia tunaikan, atau suatu keagungan yang ia muliakan, atau pujian yang ia capai, atau kebijakan yang ia adakan, atau ilmu pengetahuan yang ia ambil, maka berarti ia telah merobek-robek harinya dan juga menganiaya dirinya “

  • Sebenarnya, kebodohan dalam mempergunakan waktu adalah lebih berbahaya daripada kebodohan dalam membelanjakan harta. Para pemboros yang menghabiskan waktu adalah lebih berhak untuk diberi batasan atau larangan daripada para pemboros harta, sebab harta itu apabila hilang sia-sia masih dapat dicarikan gantinya, sedangkan waktu jika telah hilang sia-sia tak akan ada gantinya.

  • “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas).

  • “ Luangnya waktu dari kesibukan-kesibukan adalah nikmat yang besar . Jika seorang hamba mengkufuri nikmat tersebut, dengan cara membuka pintu hawa nafsu untuk dirinya, dan ia akan terjerumus ke dalam perangkap birahi, maka Allah akan mengganggu kenikmatan hatinya. Kebeningan hatinya pun akan dicabut.

Menganggur bagi kaum pria adalah kelengahan dan bagi kaum wanita adalah sebagai penggerak naluri seksual serta berpikir tentang birahi.

  • “ Sesungguhnya usia muda, pengangguran dan kemampuan harta, Menghancurkan orang dengan dasyatnya “

  • “ Pengangguran menimbulkan kesibukan, Timbulnya petaka daripada pengangguran “

  • Pada saat Abu Bakar mengangkat Umar sebagai khalifah penggantinya, Beliau berpesan, “ Ketahuilah bahwasanya ada amal yang akan diterima oleh Allah di siang hari dan tidak diterima-Nya di malam hari. Dan ada amal yang diterima di malam hari serta tidak diterima di siang hari “. Jika demikian halnya, maka tidaklah penting bagi seorang manusia mengerjakan sesuatu setiap waktu, namun yang penting adalah mengerjakan amal perbuatan yang ada relevansinya dengan waktu. Oleh karena itu, Allah SWT menentukan sebagian besar peribadatan dan kewajiban dengan waktu yang ditetapkan. Tidak boleh diajukan dan tida boleh diundurkan. Yang demikian itu memberitahukan kepada kita bahwa suatu amalan tak akan diterima sebelum datang waktunya dan setelah lewat waktunya. 

  • Riba merupakan sistem dimana sejumlah harta dengan cara pasti dapat melahirkan harta yang lain tanpa kerja, tanpa adanya praktek gotong royong dan tanpa menempuh usaha. Seorang hanya duduk bersila di atas kursi panjang dan dijamin akan mendapatkan keuntungan sepuluh dari seratus atau seratus dari seribu, tanpa memikul tanggung jawab sedikitpun. Tindakan seperti itu bertentangan dengan pandangan Islam terhadap manusia, sebab. ia diciptakan sebagai makhluk yang harus berkerja.

  • “ Sejelek-jelek perkara di dunia ini adalah menganggur “.

  • “ Jika engkau membanggakan Orang tua yang dimuliakan, Sungguh benar, akan tetapi, Amat buruk yang mereka lahirkan “.

  • “ Pemuda sejati yang mengatakan : Ingatlah, ini adalah aku. Bukan pemuda yang mengatakan: Semua itu jasa ayahku, “

  • “ Kehidupan individu tanpa pancaran cita-cita adalah lebih sempit daripada lingkaran lubang cincin, bahkan lebih sempit lagi daripada lubang jarum. “ Alangkah sempitnya kehidupan, andaikata tiada luasnya cita “

  • “ Janganlah seorang yang beriman itu pergi, melainkan dalam tiga keadaan…, yaitu mencari bekal untuk kembali ke akhirat, memperbaiki kehidupan, dan mencari kelezatan yang tidak haram “

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *