Melihat Blog Lama

Rasanya belakangan ini hidupku terasa bosan saja.

Ya, mungkin cuma perasaan.

Bisa jadi karena liburan terlalu lama, atau mungkin karena rutinitas yang itu-itu saja, entahlah.

Tapi kalau lagi ada di fase seperti ini, bayangan tentang Pulau Bali sering muncul di pikiranku.

Ya, Bali memang salah satu tempat liburan yang paling aku suka.

Mungkin setelah Jakarta, ya Bali.

Rasanya tenang saja, dan aku cocok dengan auranya.

Walaupun untuk sekarang itu masih sebatas angan-angan.

Kalau sedang jenuh, biasanya yang aku lakukan cuma scroll HP, lihat macam-macam hal tanpa tujuan jelas.

Kadang pikiran juga jadi ke mana-mana, lalu tanpa sadar aku suka baca tulisan-tulisan lama.

Dulu waktu masih dapat beasiswa saat kuliah, setiap bulan aku diminta menulis apa saja yang aku lakukan selama sebulan dan mengirimkannya lewat email.

Dan entah kenapa, lucu saja rasanya membaca tulisan lama seperti itu.

Lebih ke nostalgia.

Aku juga memang termasuk orang yang malas bermain terlalu banyak media sosial.

Facebook-ku saja sudah sekitar 17 tahun, dan email Gmail-ku ternyata juga sudah lebih dari 11 tahun dipakai.

Lalu tanpa sengaja aku jadi ingat Tumblr.

Dulu aku memang sempat sering menulis di sana.

Kalau ditanya kapan aku mulai perjalanan menulis, mungkin sekitar tahun 2015.

Berarti sekarang sudah lebih dari 11 tahun juga.

Kenapa 2015?

Kayanya karena saat itu aku baru punya laptop sendiri.

Laptop second hasil beli pakai uang beasiswa.

Aku lupa belinya di ITC Depok atau Harco Glodok.

Yang penting waktu itu bisa dipakai buat Microsoft Word dan bikin PPT saja sudah senang banget.

Laptop itu berat sekali, mungkin lebih dari 2 kilogram.

Kalau menyala bunyinya berisik banget, seperti kipas angin di ruangan.

Panasnya juga luar biasa.

Bahkan pernah aku lihat ada cairan di atas meja, ternyata lilin yang meleleh karena panas laptopku sendiri.

Kocak juga kalau diingat sekarang.

Sekarang laptop itu ke mana ya?

Harusnya masih ada sih.

Biasanya barang-barang yang punya pengaruh besar dalam hidupku tidak aku jual.

Semacam benda bersejarah dan penuh kenangan.

Mestinya, masih tersimpan di rumah dan harus dicari lagi saat beres-beres nanti.

Sejak punya laptop itulah aku mulai benar-benar menulis.

Menulis di blog, menulis di Tumblr.

Dulu aku juga main Facebook dan Ask.fm, tapi masih zaman pergi ke warnet, sejam atau dua jam saja.

Rasanya sekarang dunia sudah berubah jauh banget ya.

Akhirnya aku coba buka Tumblr lamaku lagi.

Kukira Tumblr sudah hilang entah ke mana, ternyata masih ada.

Aku coba login, tentu saja password-nya salah.

Ya wajar, sudah lebih 10 tahun tidak dibuka.

Tapi ternyata email yang kupakai masih sama, jadi setelah klik “forgot password” aku bisa masuk lagi.

Pas berhasil login, aku malah mikir sendiri, “Eh, ternyata aku pernah punya foto seperti ini ya?”

Lucu juga rasanya melihat apa yang terjadi masa lalu.

Lalu aku jadi berpikir, “Orang-orang ini sekarang ada di mana ya?”

Ada beberapa yang memang masih aku kenal.

Ada juga yang ternyata sudah meninggal.

Dan banyak lainnya yang aku bahkan tidak tahu lagi kabarnya sekarang.

Mungkin memang begitu hidup.

Pada akhirnya, orang akan datang dan pergi.

Kita hanya menunggu di stasiun mana masing-masing akan berhenti.

Apakah itu hal yang baik?

Entahlah.

Tapi mungkin memang begitu seharusnya.

Manusia harus terus bergerak maju, terus hidup, dan jangan sampai terjebak terlalu lama di masa lalu.

Kadang kita suka berpikir:

“Ke mana ya orang yang dulu ranking satu di kelas?”

“Ke mana ya orang yang paling terkenal di sekolah?”

Ada juga yang dulu hidupnya kaya raya tapi sekarang justru kesulitan.

Ada juga yang dulu hidup susah, sekarang kehidupannya jauh lebih baik.

Hidup benar-benar misteri.

Kita pernah sangat dekat dengan seseorang, tapi sekarang bahkan saling menyapa pun tidak lagi.

Ya, begitulah kehidupan.

Tapi karena adanya foto dan tulisan-tulisan lama itu, jadi terasa bahwa ternyata kita memang pernah memiliki momen seperti itu.

Tentang menulis, akhir-akhir ini aku jadi ingin memperbanyak tulisan lagi.

Dua tahun belakangan aku berhasil menerbitkan dua buku dalam setahun.

Tahun ini targetnya mungkin empat buku.

Ke depan, kalau bisa ingin meningkat jadi lima sampai delapan buku per tahun.

Kenapa aku mengejar jumlah buku?

Karena aku merasa, di masa depan ketika tanggung jawab hidup semakin besar — mungkin juga ketika aku menjadi seseorang yang lebih penting di negeri ini — waktu untuk menulis akan jauh berkurang.

Jadi sebelum masa itu datang, aku ingin menulis sebanyak mungkin.

Kalau bisa sampai seratus buku.

Bismillah ya Allah.

Untuk soal kualitas, jujur sekarang aku masih lebih fokus pada kuantitas dulu.

Yang penting terus menulis dan terus bergerak.

Tapi lucunya, belakangan ini aku juga merasa mulai malas menulis.

Rasanya capek saja.

Astaghfirullah.

Padahal kita tidak pernah tahu umur sampai kapan.

Jadi ya, ayo semangat lagi.

Semangat menulis.

Semangat hidup.

Semangat bermimpi.

Oke lah, ini ada beberapa foto yang aku ambil dari Tumblr lamaku.

Lucu juga ternyata kalau melihat masa lalu sendiri, hehe.

Ini pas lagi di kampung inggris terus jalan-jalan sama temen-temen kemana ya wkwk
Jujur gue lupa pernah kesini. Funfact nya, gue tadi nyari foto gw sekitar 3 menit belum ketemu tapi akhirnya ketemu. Buset udah kaya beda orang gue sama dulu, pasti karena kurus banget dulu wkwk

Oh iya, gambar nya udah pakai jaket kuning ya, gile gue bangga banget ternyata sama UI dari dulu ye wkwk.

Ya gapapalah, tolong dimaklumin.

Itu dulu ya, gue mau makan dulu, udah datang ini grabfood hehe.

Jakarta, 21 Mei 2026 Pukul 19.57 WIB

Tentang Menulis

Dalam kesepianku, terkadang pikiranku pergi ke mana-mana.

Aku sering bertanya pada diri sendiri, apakah tahun ini aku masih akan menerbitkan buku lagi?

Dulu, aku pernah berpikir bahwa aku bisa menerbitkan empat buku dalam satu tahun.

Artinya, setiap tiga bulan harus ada satu buku yang selesai.

Pola tiga bulan itu aku pelajari dari buku The 12 Week Year.

Buku itu mengajarkan bahwa orang-orang unggul tidak selalu menunggu resolusi tahunan.

Bahkan, banyak resolusi satu tahun yang akhirnya gagal karena terlalu panjang dan terlalu lama ditunda.

Maka, target itu dipersingkat menjadi siklus tiga bulan agar lebih fokus dan lebih serius dijalani.

Namun kenyataannya, selama dua tahun terakhir aku hanya mampu membuat dua buku dalam setahun.

Itu pun terasa sangat melelahkan.

Aku pernah bertanya kepada ChatGPT, sebenarnya rata-rata seorang pekerja bisa menulis berapa buku dalam setahun?

Jawabannya sederhana: satu buku dalam setahun saja sudah termasuk bagus.

Maka, dua buku dalam setahun sebenarnya juga sudah baik.

Tetapi kemudian aku berpikir lagi, kenapa harus membatasi jumlah buku yang bisa kutulis?

Selama masih ada ide, masih ada tenaga, dan masih ada kemampuan, kenapa tidak menulis lebih banyak?

Pikiran itu terus muncul di kepalaku.

Aku juga sering merasa malu ketika mengingat para ulama terdahulu.

Mereka rela mengurangi waktu tidur hanya demi menulis.

Bahkan ada yang sengaja membuat tempat tidurnya tidak nyaman agar mudah terbangun untuk kembali menulis di malam hari.

Di zaman sekarang memang ada banyak kemajuan, tetapi ada juga kemunduran.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri, sebenarnya aku ingin mengikuti yang mana?

Mengikuti standar modern yang serba santai, atau mengikuti semangat para ulama yang menghabiskan hidupnya untuk ilmu dan tulisan?

Aku sadar bahwa jalan menuju surga juga penuh perjuangan.

Dan aku yakin, orang-orang berilmu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan.

Karena itu, menulis bagiku bukan hanya soal hobi.

Menulis adalah usaha meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada umur kita sendiri.

Apalagi sekarang mungkin adalah masa emas dalam hidupku.

Aku masih punya waktu luang, masih punya tenaga, dan pikiranku masih kuat untuk berpikir dan berkarya.

Seiring bertambahnya usia, waktu akan semakin sempit, tenaga akan semakin berkurang, dan daya ingat pun perlahan akan menurun.

Itu hal yang wajar dalam kehidupan manusia.

Aku teringat perkataan Malala Yousafzai, perempuan dari Pakistan itu.

Dia pernah berkata bahwa satu buku dan satu pena bisa mengubah dunia.

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat kuat.

Kadang orang berkata, “Menulislah hanya saat ada mood,” atau “Tulislah dengan santai dan mengikuti passion.”

Namun bagiku, itu sering kali hanyalah alasan untuk membenarkan rasa malas dan keengganan untuk menulis.

Sebagai seorang muslim, aku percaya bahwa hidup bukan hanya tentang melakukan apa yang terasa nyaman.

Banyak hal besar lahir dari disiplin dan komitmen.

Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi penghafal Al-Qur’an jika hanya menghafal ketika sedang ingin?

Bahkan orang yang sudah hafal pun tetap harus murajaah agar hafalannya tidak hilang.

Aku percaya pada takdir.

Tetapi aku juga percaya bahwa takdir sering kali berada di ujung ikhtiar.

Karena itu, aku menulis bukan hanya karena suka.

Aku menulis karena aku tahu tulisan bisa hidup lebih lama daripada penulisnya sendiri.

Komitmen adalah sesuatu yang tidak semua orang mampu jalani.

Dan satu hal yang pasti, menulis memang tidak selalu menyenangkan.

Kadang melelahkan, kadang membosankan, bahkan kadang membuat ingin menyerah.

Tetapi menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Jakarta, 15 Mei 2026 Pukul 21.35 WIB

Yakinkah

Terkadang aku hanya perlu meyakinkan diriku lagi dan lagi bahwa aku adalah seorang warrior, seorang pejuang.

Kadang aku merasa orang-orang di luar sana menganggapku hebat.

Aku juga sering berkata bahwa hal terpenting adalah percaya pada diri sendiri.

Namun hidup tetaplah hidup, tidak selalu berjalan mulus.

Ada saat-saat ketika aku bertanya pada diriku sendiri: apakah langkah yang kuambil sudah benar?

Apakah hidupku berada di jalan yang tepat?

Manusia memang tempatnya salah dan khilaf.

Tetapi apa pun yang terjadi, hidup akan terus berjalan.

Karena itu, aku merasa bahwa kesadaran untuk tetap hidup dan terus melangkah adalah hal yang paling penting.

Tidak apa-apa merasa takut, ragu, atau lelah.

Semua itu adalah perasaan yang manusiawi.

Tuhan, sampai kapan aku harus berjuang?

Mungkin memang hidup di dunia ini adalah perjuangan itu sendiri.

Aku merasa harus terus bertahan menghadapi ujian dunia.

Tuhan, bimbinglah aku. Hidupkan hati dan jiwaku.

Dunia ini terasa begitu luas, dan terkadang aku takut.

Aku takut gagal menjalani hidup ini.

Apakah Engkau mengasihaniku, hamba yang lemah ini?

Hanya kepada-Mu aku mengabdi, hanya kepada-Mu aku bersujud.

Seberapa besar urusan dunia, seberapa jauh langkah yang kuambil, aku tetap ingin kembali bersujud kepada Sang Pemilik segalanya.

Bagiku, warrior bukan tentang selalu menang.

Warrior adalah tentang tetap percaya pada apa yang diyakininya.

Seorang warrior bukan orang yang tidak pernah lemah, melainkan orang yang tetap teguh dalam perjuangan meski dipenuhi keraguan dan rasa takut.

Tuhan, apakah Engkau mendengar isi hatiku?

Atau mungkin aku terlalu sombong dan terlalu jarang memohon kepada-Mu.

Mungkin aku memang masih egois.

Tetapi Tuhan, aku ingin berusaha menyerahkan hidupku kepada-Mu.

Aku ingin yakin bahwa aku bisa melewati ujian dunia ini.

Aku tidak ingin menyesal karena pernah lalai dan menyerah.

Aku akan terus berjuang, layaknya seorang warrior.

Jakarta, 10 Mei 2026 pukul 14.50 WIB

Hu

Pada akhirnya, aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari aku akan memikirkan akhir hidupku sendiri.

Apakah ini yang dirasakan oleh seorang kutu buku?

Entahlah.

Aku pernah mengenal beberapa orang yang seolah bisa melihat akhir hidupnya, bahkan masa depan dunia setelah mereka tiada.

Mungkin itu pertanda—bisa jadi musibah, bisa juga anugerah.

Hanya orang itu sendiri yang bisa memaknainya.

Tapi aku adalah aku.

Apa yang kupahami secara teori, belum tentu bisa kulakukan dalam kenyataan.

Tuhan, apakah ini yang mereka rasakan?

Hidup memang hanya sekali.

Terkadang terasa berat, seolah aku dipaksa menjalani ujian di dunia ini.

Tapi menyesal tidak ada gunanya.

Aku hanya bisa terus melangkah, menuju garis akhir kehidupanku.

Apakah aku akan membawa cahaya atau justru kegelapan?

Biarlah waktu dan sejarah yang menjawabnya.

Aku tidak bisa melawan waktu, tidak bisa melawan datangnya generasi baru.

Mungkin, memang sebaiknya aku biarkan takdir berjalan sebagaimana mestinya.

Yang aku takutkan adalah menjadi orang biasa, padahal aku mampu menjadi berbeda.

Di antara miliaran manusia, mungkin aku terdengar egois.

Untuk itu, aku minta maaf.

Aku menulis buku, bahkan membagikannya secara gratis.

Mungkin cepat atau lambat, dunia akan mengenalku—pemikiranku, caraku hidup.

Jika itu terjadi, itu adalah anugerah yang luar biasa.

Tugasku hanya satu: terus maju.

Bahagia, derita, semuanya hanyalah bagian dari takdir yang terus berubah.

Aku mencoba menerimanya dengan biasa saja.

Tuhan, aku serahkan hidupku kepada-Mu.

Tolong, jangan biarkan aku terlalu mencintai dunia yang fana ini.

Aku tidak ingin menyesal di akhir nanti.

Aku tidak ingin tersadar dalam penyesalan saat semuanya sudah terlambat.

Tuhan, apakah Engkau mendengarku?

Apakah Engkau melihat isi hatiku, bahkan ketika aku sudah kehabisan air mata?

Ampuni aku.

Maafkan aku.

Aku berjanji akan terus menjalani hidup ini, menjalani ujian ini.

Berikan aku kekuatan, berikan aku petunjuk yang lurus.

Aku hanyalah hamba yang lemah.

Jika aku bersujud kepada-Mu, apakah Engkau masih menerimanya?

Dunia… Aku sudah menuliskan dalam bukuku bahwa aku meminta maaf atas apa yang mungkin akan kulakukan di masa depan.

Tapi percayalah, aku hanya menjalani hidup sebagaimana seorang pejuang menjalankannya, sebagaimana seorang muslim berusaha hidup.

Aku hanya menjalani takdirku.

Sisanya, biarkan dunia yang menuliskannya.

Jakarta, 4 Mei 2026
22.50 WIB

Mimpi Tidak Pernah Mati

Pada akhirnya, mimpi itu tidak pernah benar-benar mati.

Ia hanya diam… menunggu waktu yang tepat untuk bangun.

Aku menyukai mimpi.

Bagiku, harapan adalah sesuatu yang amat penting—bahkan mungkin yang paling penting.

Dan tulisan ini, aku mulai dari sebuah muasal yang sederhana.

Hari ini aku melihat sebuah postingan lama.

Sebuah komunitas triathlon dari kampusku.

Postingan itu sudah lebih dari enam tahun berlalu.

Awalnya biasa saja.

Tapi kemudian aku menemukan sesuatu yang membuatku berhenti.

Seorang wanita, usianya di atas empat puluh.

Ia pernah gagal—DNF, did not finish.

Namun, ia tetap berdiri di sana, mengenakan medali itu karena rasa apresiasi.

Dan rasa penasaranku membawaku lebih jauh.

Aku membuka media sosialnya.

Desember 2025.

Ia berhasil menyelesaikan Ironman.
3,8 kilometer renang, 180 kilometer sepeda, 42 kilometer lari.

Semua diselesaikan di bawah batas waktu 17 jam.

Aku terdiam.

Bukan hanya karena pencapaiannya.

Tapi karena perjalanan di baliknya.

Dari gagal…

Dari pemula…

Dari titik yang mungkin diragukan banyak orang…

Lalu perlahan, ia bertransformasi menjadi sosok yang luar biasa.

Itu bukan sekadar hebat.

Itu adalah definisi seorang Warrior.

Bagiku, seseorang yang pernah jatuh, namun tetap berjalan dengan keyakinannya—itulah warrior sejati.

Jika aku memiliki seribu tangan, maka akan kuberikan semuanya untuk bertepuk tangan untuknya.

Dan di saat yang sama, aku sadar…

Di luar sana, ada begitu banyak manusia luar biasa.

Aku ingin mengenal mereka.

Aku ingin mendengar kisah mereka.

Dan aku ingin memberi mereka penghormatan.

Karena mimpi…

Akan bangun suatu hari nanti.

Dan kini, aku mulai melihat mimpiku sendiri dengan lebih jelas.

Dua atau tiga tahun lalu, aku bahkan tidak pernah membayangkan akan tertarik pada triathlon.

Tapi entah bagaimana, mimpi itu datang.

Pelan, lalu tumbuh.

Tahun lalu, aku mulai mencoba latihan gabungan untuk pertama kalinya.

Dan aku menyukainya.

Bulan depan, aku akan mencoba meraih medali pertamaku dalam sebuah event triathlon di Jakarta.

Tuhan, permudahkan jalanku.

Kuatkan diriku.

Aku tahu, jalanku masih jauh.

Latihanku belum konsisten.

Kesibukan sering menjadi alasan.

Tapi kali ini, aku tidak ingin berhenti hanya karena alasan.

Aku akan tetap berjalan.

Karena suatu hari nanti, aku yakin…
aku akan berdiri di garis finish itu.

Sebagai seorang Ironman.

Dan jika pada akhirnya aku gagal

Setidaknya aku tidak akan menyesal.

Karena aku sudah mencoba.

Karena aku sudah berjuang.

Mimpi bukan untuk diwariskan.

Biarlah setiap manusia merdeka menentukan jalannya sendiri.

Dan semesta akan bekerja dengan caranya.

Aku hanya perlu berjalan.

Let’s go, Rio.

Jakarta, 16 April 2026 Pukul 20.55 WIB

Mencoba Ikut Tes Duta Baca Provinsi Jakarta

Rasanya dalam hidup banyak hal yang terjadi di luar rencana kita dan terjadilah.

Ya, itulah hidup.

Dan sekarang mungkin aku ingin menceritakan tentang pengalamanku dalam mengikuti seleksi duta baca provinsi Jakarta tahun 2026.

Asal Muasal

Sejujurnya aku baru tahu bahwa ada duta baca.

Mungkin aku pernah mendengar tentang itu, tapi mungkin pula bahwa nama duta baca itu baru bersemarak akhir-akhir ini karena minat baca masyarakat yang semakin tinggi.

Bahkan di UI sendiri duta baca itu baru ada di tahun lalu.

Jujur saja bahwa aku ingin ikut yang duta baca UI, namun yang berhak ikut itu yang masih mahasiswa dan yang masih jadi dosen.

Sehingga, ada duta baca mahasiswa dan duta baca dosen.

Sedangkan aku sudah lulus alias alumni, jadi tidak diperkenankan untuk mengikuti.

Duta baca provinsi Jakarta

Di tahun 2024, aku melihat informasi mengenai seleksi duta baca provinsi Jakarta.

Tapi melihat persyaratan nya saja sudah ribet, seperti harus ada rekomendasi dari suku dinas kota wilayah asal.

Ya, karena aku dari timur ya aku harus mendapatkan rekomendasi dari wilayah kota Jakarta timur.

Aku menanyakan itu melalui kanal sosial media dan juga telepon.

Namun, seperti biasa pada umumnya bahwa tidak ada respon.

Ah, seperti biasa pada umumnya saja bahwa di sosial media ada informasi awal, tapi ketika difollow up lebih lanjut tidak ada kabar.

Setelah tidak ada tanda-tanda hilal untuk wilayah provinsi Jakarta, aku lihat berbarengan bahwa untuk kota Jakarta timur itu juga sedang buka untuk mencari duta baca kota Jakarta timur.

Kulihat persyaratan nya dan ternyata jauh lebih mudah, tak ada rekomendasi, hanya mengikuti persyaratan yang simple aja seperti isi form, surat komitmen, buat resensi 3 buku, foto perpustakaan pribadi dan beberapa hal yang bisa dilakukan.

Aku pun lulus seleksi administrasi, dan kayaknya seingatku itu langsung tahap akhir yakni buat essai tentang ide visi misi duta baca dan presentasi.

Saat itu, aku masih belum menemukan ide untuk mau ngapain aja ya aku kalau jadi duta baca.

Selain itu, aku pun juga belum menerbitkan buku pertama ku saat itu.

Rasanya malu aja duta baca kok ga nulis.

Selain itu, aku pun ga punya platform sosial media seperti Instagram ataupun TikTok.

Yowis, aku tak ikut presentasi akhir itu.

Seiring berjalannya waktu tak terasa bahwa hampir 2 tahun berlalu dan aku melihat informasi bahwa duta baca provinsi Jakarta tahun 2026 ini sedang dibuka.

Aku lihat persyaratannya, masih sama seperti dua tahun yang lalu.

Namun, untuk kali ini informasi dari Instragram bahwa surat rekomendasi bisa di lewatkan saja bagi yang belum punya.

Aku pun daftar untuk provinsi Jakarta tahun 2026 ini

Duta Baca Provinsi Jakarta

Setelah aku submit, hari pengumuman pun tiba bahwa aku pun lolos seleksi administrasi dan melanjutkan ke tahap seleksi tertulis dan setelahnya baru presentasi akhir.

Pengumuman seleksi administrasi

Rasanya aneh aja bisa lolos, tapi bersyukur sih.

Ya sudah aku jalanin saja takdir ku.

Mendapatkan pengumuman lolos seleksi administrasi dan mendapat email untuk mempelajari soal-soal seperti peraturan daerah, undang-undang, peraturan gubernur dan lainnya pun aku pelajarin di internet.

Sederhana aku siapkan untuk belajar untuk mengikuti tes seleksi tertulis nya.

Sebelumnya aku juga menonton podcast dari Duta Baca Indonesia yakni Gol A Gong.

Dia menceritakan dan mengkritik tentang duta baca di tingkat daerah ataupun sekolah.

Beberapa kritik pun aku juga sepakat dengan nya bahwa seorang duta baca itu adalah role model, artinya dia ga cuman suka membaca saja tapi juga mesti suka menulis dan memiliki minimal satu buku.

Kenyataan, banyak sekali duta baca yang tidak memiliki buku nya sendiri.

Bahkan, banyak yang dari sebelumnya duta pariwisata ataupun yang berkaitan dengan hubungan masyarakat yang terpilih menjadi duta baca karena jago dengan promosi.

Ini ga salah juga, tapi aku sepakat dengan Gol A Gong, bahwa yang benar itu ya duta baca ya harus punya bukunya sendiri.

Kalau engga punya, ya gimana ya wkwk.

Kedua, juga Gol A Gong menyoroti bahwa duta baca itu kalau bisa jangan yang masih sekolah.

Kenapa ?

Ya karena akan sulit dengan kesibukan dan sebenarnya lebih kearah kaya menara gading aja, sulit untuk dijangkau terutama ke anak tongkrongan.

Seakan duta baca itu kaya orang pintar yang obrolan nya hanya buku saja.

Padahal Duta baca itu haruslah membumi, dan umumnya bahwa orang yang sudah lulus dari sekolah yang baiknya menjadi duta baca untuk wilayah seperti kota ataupun provinsi.

Alasannya ya karena dunia sebenarnya itu bukan di sekolah tapi di kehidupan seperti pekerjaan dan masyarakat.

Itu penilaian subjektif ku.

Ya, setidaknya pikiran ku dengan Gol A Gong itu sudah sama.

Kemudian, aku kun mengikuti tes ujian tertulis nya.

Sebelum tes ada pengenalan tentang duta baca provinsi jakarta dan hal normatif lainnya.

Setelahnya tes berlangsung satu jam dan ternyata open book.

Pastinya kamera pun mesti dinyalakan.

Ya kalau open book mah enak banget, dan ternyata gampang ya soalnya.

Soal terdiri dari puluhan dari pilihan ganda dan ada satu soal essay tentang kalau mau jadi duta baca apa yang mau kamu lakukan.

Aku suka itu hampir 30 menit sendiri, ga tanggung – tanggung aku langsung tulis 30 ide ku dalam menjawab pertanyaan ini. 

Dan setelah aku menjawab rasanya aku pede untuk lolos ke seleksi akhir dong :).

Tapi ternyata aku tidak lolos wkwk.

Dari 8 besar ternyata yang diambil 6 besar.

Aku pun bingung ya kenapa aku ga lolos, untungnya jawabanku masih ada sehingga aku copy paste di chat gpt dan menganalisa kenapa ga lolos

1. Aku ga termasuk member Perpustakaan Jakarta

Memang di persyaratan ada seperti ini sih, cuman aku gatau sebenarnya yang dimaksud member ini seperti apa.

Kalau member sebagai perpustakaan nasional bahkan udah punya lebih dari 10 tahun lalu.

Kalau perpustakaan kaya Cikini yang dimaksud juga ga pernah di infokan tentang member

2. Tidak ada rekomendasi

Kayaknya emang kalau dilihat bahwa duta baca provinsi Jakarta yang kemarin itu kan dulunya duta baca kota Jakarta Timur, jadi ya biar berlanjut aja.

Sedangkan aku yang ga ada rekomendasi dari suku dinas ya selesai.

Ini kan pendapat ku saja

3. Tidak ada sosial media

Rasanya mungkin aku sendiri yang ada akun Instagram dan tiktok sehingga mereka memandang ku kurang cocok saja.

Yasudah tak masalah.

4. Program yang tidak membumi dan tidak fokus.

Tentu, aku bahkan buat 30 program cuy, aku percaya bahwa tidak hanya kualitas tapi juga kuantitas yang mendekat kan duta baca itu dengan masyarakat itu sendiri.

Bahkan, di beberapa program aku sudah sampaikan bahwa ini pakai dana pribadi ku juga masalah.

Tapi, kayaknya ga cocok saja dengan apa yang dicari oleh panitia seleksi.

Padahal, aku ngerasa jawabanku bagus.

5. Ketuaan.

Kalau dilihat dari duta baca sebelum nya yakni masih mahasiswa, dan yang ikut sekarang kayaknya aku yang paling tua deh, kebanyakan masih mahasiswa.

Ih, padahal kan maksimal usia yang boleh daftar saja yakni 35 tahun.

Apa ini hanya formalitas saja ya wkwk.

6. Disegani

Ya mungkin karena usiaku yang mungkin dianggap tua oleh mereka, jadi mereka segan kalau buat nyuruh nyuruh aku wkwk.

Ya kan ini menurut ku saja.

Lagi pula yang dicari emang bukan yang paling pintar, hebat ataupun lain nya sih, tapi yang paling cocok dengan panitia yang seleksi saja.

Aku juga bersyukur sih sudah masuk 8 besar, dan kayaknya juga emang aku udah sibuk saja.

Tapi, agak aneh sebenarnya sama panitia tapi ya sudahlah.

Amor fati, cintailah nasibmu wkwk.

Mungkin aku juga jadi sadar bahwa menjadi mitra dari pemerintah itu ribet, dimana itu prosedural tapi ditekan untuk mewujudkannya.

Berbeda dengan swasta ataupun individu dimana lebih ke goals orientasi saja.

Contoh Nadiem Makarim itu contoh nyata bahwa pemerintah belum siap dengan orang – orang yang berinovasi secara radikal.

Tapi aku dapat tips bahwa kalau kerja di pemerintah ikut prosedur saja, kalau ga mencapai target gapapa, yang penting tidak menyalahkan aturan.

Kalau swasta kan ga mungkin bisa menunggu lama.

Ya walau belum tentu menyalahkan aturan, tapi proses yang bergerak secara paralel itu yang kadang bisa dianggap menyalahkan aturan.

Yowis, aku pikir ini adalah akhir ku untuk mengikuti seleksi duta baca provinsi Jakarta.

Hal ini tentu mengingat waktu ku yang makin padat seiring berjalannya usia.

Setidaknya aku sudah masuk 8 besar lah ya wkwk.

Lumayan lah:).

Tapi, gue ngerasa janggal sebenarnya sama panitia, tapi yasudah lah.

Semoga duta baca Jakarta terpilih bisa membuat Jakarta menjadi kota yang semakin suka baca, dan pastinya juga tidak hanya membaca tapi juga menulis.

Karena nya menulis & memiliki buku sendiri adalah Duta yang abadi dan tidak bisa dicabut oleh siapapun.

Jakarta, 11 April 2026 pukul 04.00 WIB

Antara Kebutuhan Dan Keinginan

Terkadang dalam hidup, banyak hal yang kita inginkan—banyak sekali.

Dalam beberapa situasi, kita menjadi bimbang antara kebutuhan dan keinginan.

Bahkan, ada kemungkinan kita salah mengambil keputusan di antara keduanya.

Jujur saja, aku pun masih banyak belajar untuk hal ini.

Banyak sekali keinginan yang ingin kucapai, padahal apakah itu benar kebutuhan atau bukan, belum tentu juga.

Terkadang, apa yang kita butuhkan sebenarnya tidak terlalu rumit, alias simpel.

Kalau kita terbiasa makan nasi uduk dan memang mampu-nya nasi uduk, tidak perlu memaksakan membeli roti.

Kalau kita mampu menikah secara sederhana, tidak harus berutang untuk sesuatu yang melebihi kemampuan, ya sederhana saja.

Jika kita merasa belum mampu memiliki rumah, jangan dipaksakan mengambil utang jangka panjang.

Banyak sekali contoh lainnya.

Sejujurnya, semua itu berasal dari keinginan manusia itu sendiri.

Banyak orang berpikir bahwa rezeki tidak ada yang tahu ke depannya.

Namun kenyataannya, utang itu pasti, sedangkan rezeki tidak hanya berupa uang—ada kesehatan, lingkungan yang nyaman, dan banyak hal lainnya.

Terlebih lagi, jika kita meninggal dan masih memiliki utang, maka itu akan ditagih di akhirat.

Mungkin dalam beberapa situasi, ada keluarga atau pihak yang memberi utang yang mengikhlaskan.

Namun, hati manusia siapa yang tahu, kan?

Lagi pula, itu berada di luar kendali orang yang sudah meninggal tersebut.

Percayalah, tidak memiliki utang itu menenangkan.

Dan ketenangan itu mahal harganya.

Bagi yang masih memiliki utang, mari kita niatkan untuk bebas dari utang tersebut.

Perasaan merdeka dan tenang itu luar biasa nikmatnya.

Kalau keinginan, tentu banyak.

Namun, mari kita usahakan satu per satu.

Tidak apa-apa jika orang lain menganggap kita lambat atau bahkan gagal.

Setiap orang memiliki titik awal yang berbeda.

Bahkan, banyak di antara kita yang memulai dari minus.

Dan mungkin, tidak semua orang akan menjadi kaya secara finansial—belum tentu.

Yang penting, kita fokus pada diri sendiri dan tidak perlu memikirkan hal negatif dari orang lain.

Jika memang sudah menjadi takdir kita, maka itu akan terjadi.

InsyaAllah, dengan doa dan ikhtiar, satu per satu jalan akan terbuka.

Sekali lagi, ketika kita dihadapkan pada pilihan antara kebutuhan dan keinginan, utamakan kebutuhan terlebih dahulu.

Jika sudah terpenuhi, maka perlahan keinginan juga akan tercapai.

InsyaAllah.

Jakarta, 09 April 2026

Pukul 06.50 WIB

Pertanyaan Apa Itu Menjadi Muslim

Sebenarnya apa yang dimaksud menjadi seorang muslim.

Terkadang pertanyaan itu selalu menghantui dalam otakku.

Terkadang pula aku sudah menemukan jawaban yang sudah ku tetapkan.

Namun entah saja bahwa pertanyaan itu tetap saja menghantui dalam pikiran ku.

Menjadi muslim ya.

Hm, pertanyaan itu seakan menjadi pengingat yang terus berulang dalam otakku ku.

Ya, setelah pertanyaan kapan aku mati, maka pertanyaan tentang menjadi seorang muslim selalu ada dalam otakku.

Muslim adalah seorang yang berserah.

Seorang yang tunduk pada Nya.

Seseorang yang rindu akan kematian dan siap bila datang.

Seseorang yang berikhtiar hidup mulia atau mati terhormat.

Seseorang yang bertujuan menjadi pemimpin di muka bumi dan menjadi hamba tuhan.

Dan masih banyak sekali pengertian menjadi seorang muslim yang bisa ku sampaikan.

Bahkan mungkin aku bisa menulis ribuan definisi menjadi bagaimana menjadi seorang muslim.

Namun, dari semua jawaban itu, pertanyaan itu selalu muncul dalam kepalaku.

Muslim.

Muslim.

Muslim.

Bagiku, menjadi muslim adalah nikmat yang paling berharga dalam hidupku.

Terkadang pula, teorinya sih sudah benar tapi buat menjalankan saja yang terkadang rasanya sulit sekali.

Menjadi muslim ya.

Aku paling sepakat bahwa menjadi seorang muslim adalah menjadi orang yang paling rindu dengan kematian & bertemu surga di akhirat, tempat manusia berasal.

Dunia yang ada sekarang ini adalah ujian yang nabi Adam memulainya.

Sial sekali bahwa aku melihat banyak pertanyaan tentang alam semesta ini yang mungkin belum bisa terjawab dalam kehidupan ku.

Mungkin, itu akan menghabiskan banyak dekade yang banyak pertanyaan ku tidak bisa terjawab.

Layaknya Isaac Newton yang sudah meramalkan bahwa akan ada teori yang akan melewati teori nya sekitar dua ratus hingga 300 tahun kemudian.

Dan akhirnya, sosok yang ditunggu pun muncul yakni Albert Einstein dengan teori relativitasnya.

Mungkin banyak hal didunia ini yang memang tak pernah terjawab saat manusia itu masih hidup.

Ah, adil juga ya.

Bagi yang tidak beriman, akan sulit memahami konsep ini.

Bagi yang beriman rasanya mudah sekali.

Sederhana sih sebenarnya nih ya, menuju surga itu murah loh, bisa ke masjid, puasa, sedekah dan lainnya.

Kalo menuju neraka sebenarnya yang mahal, mau mabok, narkoba, ataupun mau males yang habisin uang aja.

Sial sekali kehidupan ku ini.

Bahwa di usia yang masih muda ku ini bahwa aku sudah mulai melihat akhir kematianku.

Namun, akan lebih sial bila aku tak menyadari kenapa aku hidup ini.

Hidup yang sangat singkat.

Hidup yang hanya sifatnya ujian.

Dan atas dasar itulah, aku harus maju terus untuk menjemput kematian ku.

Sehingga, ketika aku mati, aku rasa aku sudah tenang.

Ya, aku sudah menjalankan tugasku sebagai seorang manusia di waktu yang sangat singkat ini.

Semoga aku menjadi orang yang beruntung.

Namun, tetap saja, terkait dunia ya.

Aku takut bahwa aku jatuh cinta pada dunia.

Jelas sekali, bahwa sekarang aku masih menaruh dunia fana ini di tanganku bukan dihatiku.

Buktinya ?

Aku menulis curhatan ini dan para pembaca bisa tahu posisi ku dalam kehidupan ini mengambil posisi apa.

Manusia yang rindu kematian.

Namun, aku tak akan menampik bahwa aku takut bahwa aku jatuh cinta pada dunia ini, pada manusia ini, dan pada segala hal yang menjauhkan aku dengan Nya.

Ya Allah, tunjukkan lah kami jalan yang lurus.

Jakarta, 01 April 2026 Pukul 21.20 wib

Mendengar dari Lebaran Run: Antara Semangat, Batas Diri, dan Keselamatan

Tiga hari yang lalu, dunia lari sedang berduka.

Kembali, ada peserta yang meninggal dunia saat mengikuti event lari di Sentul.

Ironisnya, event yang mengusung tema halal bihalal pelari—atau disebut juga “Lebaran Run”—justru meninggalkan duka mendalam.

Untuk itu, pertama-tama aku ingin mengucapkan: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semoga amal ibadah almarhum diterima, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.

Mungkin, aku memulai tentang perkenalan diri sendiri dulu.

Perkenalkan, nama aku Rio.

Aku berprofesi sebagai insinyur.

Di dunia lari, aku masih tergolong baru—sekitar lima tahun.

Perjalanan aku pun tidak dimulai dari dorongan pribadi, melainkan ajakan teman untuk mengikuti event virtual run secara grup pada tahun 2021.

Dari situlah aku mendapatkan medali pertama.

Setelah itu, aku baru mulai rutin berlari kembali di tahun 2024.

Saat ini, aku adalah pelari road yang cukup percaya diri untuk mengikuti event hingga 21 km (half marathon) dengan batas cut-off time.

Untuk trail run, aku baru mencoba sejauh 5 km tahun lalu.

Ultra marathon?

Belum pernah.

Selain itu, aku juga pernah mengikuti duathlon dan triathlon, masih di kategori pemula.

Tentang Event Lebaran Run

Sebenarnya, aku sempat mendaftar event ini.

Alasannya sederhana: murah.

Namun, saat proses registrasi, aku mengalami kendala.

Aku sudah berhasil mendaftar, tetapi email pembayaran tidak kunjung masuk.

Setelah menunggu cukup lama, ternyata kuota sudah penuh, dan email baru masuk belakangan.

Saat aku menghubungi panitia, respon yang diberikan terasa kurang menyenangkan seolah harus siap siaga dan siapa cepat dia dapat.

Akhirnya, aku memilih menerima nasib dan move on.

Beberapa hari kemudian, ternyata ada penambahan slot.

Namun aku tidak mengetahuinya, dan pada akhirnya memang tidak ikut.

Secara jujur, aku pun merasa bahwa jika ikut saat itu, kemungkinan besar aku akan DNF (Did Not Finish).

Lalu kenapa tetap ingin ikut?

Ya, kembali lagi: karena murah.

Selain itu, ingin merasakan suasana trail run, bertemu teman-teman pelari, dan tentu saja foto-foto.

Namun aku sadar diri.

Aku tahu batas kemampuan aku.

Hari H dan Kabar Duka

Di hari pelaksanaan, aku sudah tidak terlalu memikirkan event tersebut.

Hingga sore hari, aku melihat informasi di grup lari yang aku ikuti yakni Taman Mini Running Club dan FTUI Runners bahwa ada peserta yang meninggal dunia saat race berlangsung.

Perasaan sedih langsung muncul.

Pikiran pertama aku:

” Siapa saja temanku yang ikut & bagaiamana keadaanya?

Meninggal dalam event lari adalah sesuatu yang jarang terjadi, tetapi bukan tidak mungkin.

Seiring waktu, informasi terus bermunculan.

Media sosial pun ramai.

Oh iya, aku sudah mengenal organisasi itu sejak lebih dari dua tahun lalu.

Bahkan, aku pernah ikut event lari yang mereka selenggarakan, meskipun saat itu aku DNF.

Dari kesan pertama, menurutku gaya komunikasi mereka terkesan agak arogan.

Tapi itu hanya pendapat pribadiku saja saat itu, bisa jadi memang hanya gaya komunikasi mereka saja.

Dan hal itu tidak terlalu aku permasalahkan.

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa mereka cukup aktif menyelenggarakan event lari di daerah Sentul, dan itu tentu hal yang positif.

Namun, dari berbagai informasi yang beredar, event dengan konsep self-support kali ini justru dinilai kurang memperhatikan aspek medis.

Ini memang hal yang cukup tricky, karena bisa saja masing-masing pihak memiliki sudut pandang sendiri.

Di sini, aku hanya mencoba menyampaikan pandanganku secara subjektif sebagai pelari.

Baiklah, aku mulai dari cerita ini.

Regulasi yang Terasa Ribet, Tapi Menyelamatkan Nyawa

Seringkali kita merasa aturan keselamatan itu ribet, berulang, dan membosankan.

Contoh sederhana yakni saat naik pesawat, pramugari selalu memperagakan prosedur keselamatan yang sama.

Bagi penumpang yang sering terbang, ini terasa seperti formalitas.

Padahal, pengulangan itu penting.

Dalam kondisi darurat, manusia cenderung panik dan lupa hal-hal mendasar.

Prosedur yang diulang membantu kita mengingat apa yang harus dilakukan saat waktu sangat terbatas.

Aturan keselamatan tidak muncul begitu saja.

Banyak di antaranya lahir dari tragedi di masa lalu.

Artinya, setiap aturan yang terasa “berlebihan” biasanya punya latar belakang pengalaman pahit.

Kita memang tidak bisa menghilangkan semua risiko.

Namun, kita tidak boleh hanya bergantung pada keberuntungan.

Persiapan adalah bentuk ikhtiar.

Mungkin, regulasi yang terasa ribet seringkali justru menjadi pembatas tipis antara selamat dan celaka.

Kaitannya dengan Event Ini

Event ini mengusung konsep self-support.

Artinya, fasilitas seperti water station mungkin terbatas atau mungkin juga ga harus ada.

Itu masih bisa dipahami.

Namun untuk aspek medis, ini hal yang krusial.

Dalam kondisi darurat, kehadiran tim medis bisa menjadi pembeda antara hidup dan tidaknya seseorang.

Setidaknya, kita memberikan kesempatan terbaik sebelum menyerahkan semuanya pada takdir.

Di sisi lain, sebagai pelari, kita juga harus sadar diri.

DNF bukanlah aib.

Tidak menyelesaikan lomba jauh lebih baik daripada memaksakan diri hingga membahayakan nyawa.

Tidak ada yang rugi.

Semua orang pernah gagal, dan kegagalan adalah bagian dari proses.

Kalau aku pribadi?

Gagal itu sudah jadi bagian hidup aku, dan itu tidak apa-apa.

Karena sejatinya, kemenangan terbesar dalam lari adalah pulang ke rumah dengan selamat.

Oh iya, sebenarnya, banyak juga event lain yang relatif lebih aman, seperti futsal yang hanya berlangsung sekitar dua jam, atau kegiatan study tour bahkan ada tim medis nya sendiri.

Dalam kegiatan seperti itu, penyelenggara biasanya sudah menyiapkan tim medis baik dengan menyewa maupun bekerja sama dengan pihak tertentu demi kelancaran acara.

Dan menurutku, itu adalah hal yang sangat baik.

Referensi dari Event Ekstrem

Memang, di dunia ini ada event yang jauh lebih ekstrem.

Misalnya ultra marathon di gurun seperti Marathon des Sables, yang menempuh ratusan kilometer dalam kondisi sangat berat.

Namun, event seperti itu memiliki seleksi ketat, standar keselamatan tinggi, dan peserta yang benar-benar siap secara fisik dan mental.

Untuk event lari di gurun seperti Marathon des Sables, aku pernah membaca di website resminya bahwa peserta harus menandatangani pernyataan siap menghadapi risiko ekstrem, termasuk risiko meninggal dunia, bahkan sampai mencantumkan ke mana jenazah akan dikirim.

Selain itu, untuk bisa ikut saja sudah melalui proses seleksi yang sangat ketat.

Tidak semua orang bisa mendaftar, dan memang hanya sedikit orang di dunia yang benar-benar siap mengikuti event seperti itu.

Lalu pertanyaannya, apakah event lari di Indonesia sudah sampai pada level kesiapan seperti itu?

Biarlah pertanyaan ini dijawab oleh kita masing-masing.

Sebagai penutup, aku hanya ingin mengingatkan bahwa bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi gotong royong, ramah, dan penuh semangat juang.

Nilai-nilai itulah yang seharusnya terus kita jaga, termasuk dalam dunia lari.

Dan pastinya, aku selalu kagum dengan para pelari: ada yang sudah lanjut usia tapi tetap berlari, ada yang memiliki berat badan berlebih namun tetap berusaha berlari.

Itu semua sangat menginspirasi.

Untuk para runner di mana pun berada,

Tetap semangat, jaga diri, dan kenali batas kemampuan.

Jakarta, 30 Maret 2026 Pukul 19.40 WIB

Menjadi Manusia Yang Hidup

Jadilah hidup, hidupilah semesta.

Itu adalah quotes yang kudengar saat aku masih kuliah.

Quotes itu berasal dari temanku yang sering menyebutnya.

Dulu aku berpikir, bukankah manusia memang sudah hidup?

Tapi ternyata, maknanya berbeda.

Manusia memang hidup secara biologis, namun belum tentu semua manusia benar-benar hidup.

Bahkan, Benjamin Franklin pernah mengatakan bahwa banyak manusia “mati” di usia 25 tahun.

Maksudnya, manusia hanya menjalankan aktivitas hidup tanpa memiliki makna dan tujuan.

Menjadi hidup berarti kita harus menjadi bermanfaat bagi sekitar.

Saat dunia penuh kegelapan, maka jadilah penerang di dalamnya.

“Kenapa harus berbeda dengan manusia pada umumnya?”

Ya memang, jalan menuju surga tidak semua orang bisa masuk—ada seleksi.

Semoga kita termasuk yang lolos.

Ngomong-ngomong, di dekat rumah ku ada beberapa orang yang sudah pensiun.

Setiap pagi dan sore, kegiatannya hanya duduk di depan gang.

Jujur, kadang aku malas lewat karena ramai sekali dengan mereka.

Kalau dilihat dari usia, sebenarnya belum terlalu tua.

Tapi kegiatannya hanya ngobrol.

Dulu aku sempat berpikir, “Ah, saya tidak mau seperti itu saat tua nanti.”

Bahkan sempat terlintas bahwa mereka mungkin malas.

Namun suatu hari, saya menemukan video di YouTube yang memberikan sudut pandang berbeda.

Intinya: mungkin mereka bukan malas, tapi stuck.

Stuck?

Maksudnya bagaimana?

Mereka mungkin sudah bingung harus melakukan apa.

Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak tahu lagi arah.

Tenaga mulai berkurang, kompetensi mungkin memudar, dan akhirnya hanya menjalani sisa hidup.

Kalau dipikir lebih dalam, mungkin ini juga soal pilihan hidup di masa muda.

Jika masa muda dijalani biasa saja, tanpa pengembangan diri atau keahlian khusus, maka saat tua bisa jadi tidak banyak yang bisa dilakukan.

Namun, apakah itu salah?

Tidak juga.

Mungkin saat muda mereka memiliki banyak tanggung jawab.

Yang pasti, selama masih muda—masih punya tenaga dan waktu—kita harus benar-benar hidup, agar tidak menyesal di kemudian hari.

Itu versi gue.

Kalau menurut kalian, ya terserah kalian, wkwk.

Walaupun begitu, banyak juga orang yang justru memulai aktivitas baru di usia tua.

Itu bagus.

Namun tetaplah ingat, usia muda adalah masa yang paling bisa diandalkan.

Bahkan dalam Al-Qur’an, sangat ditekankan bahwa masa muda harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebelum waktu dan energi habis di usia tua.

Sekian dulu.

Jakarta, 27 Maret 2026
Pukul 06.30 WIB