Day#9 RTM (Road To Marathon)

Pada akhirnya, hari ini aku tidak jadi berlari.

Padahal sore ini aku sudah berniat untuk bangun pagi dan menyelesaikan latihan.

Namun, rencana itu tetap tinggal rencana.

Ya sudahlah.

Tidak semua hari harus berjalan sesuai keinginan.

Hari Senin pun berlalu seperti biasanya—padat dengan pekerjaan dan berbagai hal yang harus diselesaikan.

Di tengah kesibukan itu, aku kembali menyadari satu hal: ketenangan adalah sesuatu yang sangat berharga.

Saat pikiran tenang, semuanya terasa lebih ringan untuk dijalani.

Mungkin karena itulah aku ingin mulai menulis A Day with WARRIOR lagi.

Bukan untuk menceritakan hari-hari yang sempurna, tetapi untuk mengabadikan perjalanan yang apa adanya—tentang niat yang kadang tertunda, pekerjaan yang terus berjalan, dan pelajaran-pelajaran kecil yang hadir setiap hari.

Jakarta, 13 Juli 2026 Pukul 21.40 WIB

Day#8 RTM (Road To Marathon)

Pada akhirnya, manusia akan selalu terguncang oleh sesuatu yang paling ia anggap penting dalam hidupnya.

Pagi ini sebenarnya aku ingin berlari.

Saat melihat layar handphone pukul enam pagi, rasa malas masih menyelimuti tubuhku.

Aku sempat berpikir untuk kembali merebahkan diri, tetapi akhirnya aku tetap bersiap.

Setidaknya, jika aku sudah keluar rumah, langkah selanjutnya akan terasa lebih mudah.

Aku tiba di Taman Mini sekitar pukul setengah delapan pagi dan langsung mulai berlari.

Hari ini aku sudah mengenakan running vest karena memang berniat melakukan long run.

Dalam bayanganku, mungkin aku akan terus berlari hingga waktu Zuhur, bahkan kalau kuat sampai menjelang Ashar.

Namun, rencana sering kali berubah hanya karena pesan singkat.

Aku membuka ponsel sebentar.

Hanya sebentar.

Ternyata ada beberapa pesan WhatsApp yang berisi urusan penting.

Seketika pikiranku teralihkan.

Semangat yang sejak pagi sudah kukumpulkan perlahan menghilang, berganti dengan rasa lemas yang sulit dijelaskan.

Akhirnya, aku hanya berlari hingga sekitar pukul sebelas siang sebelum memutuskan pulang.

Memang belum mencapai target yang kuinginkan, tetapi setidaknya pagi ini aku tetap melangkah.

Kadang, menyelesaikan sebagian tujuan masih jauh lebih baik daripada tidak memulai sama sekali.

Sesampainya di rumah, aku kembali mengurus berbagai pekerjaan yang memang harus diselesaikan.

Rutinitas kembali mengambil alih.

Aku mulai menyadari bahwa rasa lelah dan rasa sedih mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang.

Keduanya akan selalu datang dalam bentuk yang berbeda.

Namun, ketika dunia bersikap keras kepada kita, mungkin kita juga harus belajar menjadi lebih kuat daripada dunia itu sendiri.

Aneh memang.

Luka yang dulu terasa begitu menyakitkan, lama-kelamaan berubah menjadi sesuatu yang biasa.

Bukan karena semuanya telah selesai, melainkan karena kita perlahan terbiasa memikulnya.

Setelah semua urusan selesai, aku membuat secangkir kopi, membuka laptop, lalu membereskan rumah.

Hari terasa berjalan seperti biasa, tetapi pikiranku terus melangkah jauh ke depan.

Aku tahu jalan di depan akan semakin berat.

Masalah yang akan datang pun semakin kompleks.

Untuk saat ini, mungkin pikiranku masih mampu menghadapinya.

Namun, jika semua itu berlangsung terlalu lama, aku pun tidak tahu apakah aku akan tetap sekuat itu.

Meski begitu, selalu ada satu keyakinan yang tidak pernah berubah.

Aku tidak ingin sekadar hidup.

Aku ingin mengubah dunia.

Jakarta, 17 Juli 2026 Pukul 16.16 WIB

Day#7 RTM (Road To Marathon)

Pagi ini entah mengapa tubuhku terasa sangat lelah.

Mungkin karena semalam aku baru bisa terlelap mendekati pukul sebelas malam.

Rasanya kepalaku dipenuhi begitu banyak pikiran.

Namun, di tengah semua itu, justru sebuah ide baru datang begitu saja.

Aku tiba-tiba ingin menulis sebuah buku tentang Taman Mini Indonesia Indah.

Entah mengapa, ide itu mengingatkanku pada buku karya Dee Lestari berjudul Rantai yang Tak Pernah Putus.

Buku tersebut menceritakan perjalanan UMKM binaan Astra dan bagaimana mereka berkembang.

Dari sanalah aku kembali menyadari bahwa inspirasi sering kali muncul saat kita sedang menikmati sebuah karya.

Membaca memang seperti menghubungkan titik-titik kehidupan—connecting the dots. Satu cerita bisa melahirkan cerita lainnya.

Taman Mini sendiri memiliki begitu banyak kisah yang layak dituliskan.

Ada puluhan anjungan daerah, museum, dan berbagai ikon yang menyimpan sejarah serta cerita menarik.

Rasanya sayang jika semua itu hanya menjadi tempat yang dikunjungi tanpa pernah diabadikan dalam sebuah buku.

Hubunganku dengan Taman Mini pun bukanlah sesuatu yang baru.

Sejak duduk di bangku SMP, aku sudah sering datang ke sana.

Bukan hanya untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan, tetapi juga untuk menyendiri dan menulis.

Di sanalah aku sering mencurahkan isi hati, menyusun mimpi, dan menuliskan berbagai rencana untuk masa depan.

Jika dipikir-pikir, sebagian besar rencana penting dalam hidupku lahir di Taman Mini.

Tempat itu selalu menghadirkan rasa tenang, bahagia, dan keyakinan bahwa masa depan akan baik-baik saja.

Pagi tadi aku juga mengikuti latihan strength training bersama teman-teman dari Taman Mini Running Club.

Latihan dimulai sekitar pukul setengah tujuh pagi hingga pukul sembilan.

Setelah selesai, kami menikmati semangkuk bakso di kawasan TMII.

Suasananya sederhana, tetapi selalu menyenangkan.

Sesampainya di rumah, rasa kantuk yang tertunda sejak semalam akhirnya datang.

Aku langsung merebahkan badan dan tertidur cukup lama.

Sepertinya memang tubuhku sedang meminta waktu untuk beristirahat.

Di sela-sela latihan tadi, aku juga sempat menceritakan rencana bukuku yang berjudul Terima Kasih Jilid 4: Taman Mini kepada teman-teman di Taman Mini Running Club.

Sambutan mereka begitu hangat.

Dari lebih dari seratus dua puluh anggota grup, mungkin hanya aku yang saat ini aktif menulis buku.

Mereka bahkan mengatakan siap membantu kapan pun aku membutuhkan informasi atau dukungan dalam proses penulisan.

Mendengar itu membuatku semakin yakin bahwa buku ini bisa terwujud.

Aku sendiri merasa tidak akan terlalu kesulitan menulisnya.

Aku sudah cukup mengenal Taman Mini, bukan hanya sebagai tempat wisata, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidupku.

Hanya saja, aku juga sedang mempersiapkan latihan marathon dan berbagai tanggung jawab lainnya.

Karena itu, aku tidak ingin terburu-buru.

Aku ingin menikmati setiap prosesnya.

Bahkan, aku membayangkan sebagian besar naskah buku ini akan kutulis langsung di Taman Mini.

Duduk di bawah pepohonan, memandang danau, atau menikmati suasana sore di antara museum dan anjungan daerah.

Rasanya akan lebih mudah menemukan kata-kata ketika aku berada di tempat yang menjadi sumber inspirasinya.

Menjelang siang, pikiranku kembali dipenuhi hal lain.

Aku masih memikirkan tanggung jawabku sebagai Ketua Ikatan Alumni Program Profesi Insinyur.

Ada beberapa hal yang terasa masih menjadi beban di pundakku.

Untuk mencari sudut pandang lain, aku menelepon salah satu teman SMP yang selama ini cukup sering menjadi tempatku berdiskusi.

Percakapan kami membuat pikiranku sedikit lebih tenang.

Aku sadar bahwa organisasi ini juga membutuhkan perhatian.

Aku ingin kembali menghidupkan grup, membangun komunikasi yang lebih aktif, dan perlahan menjalankan tanggung jawab itu dengan sebaik mungkin.

Malam ini, sebelum menutup hari, hanya satu doa yang ingin kusampaikan.

“Tuhan, tuntunlah setiap langkahku. Berikan aku kebijaksanaan untuk menjalankan setiap amanah, kekuatan untuk menyelesaikan setiap mimpi, dan petunjuk agar aku selalu berjalan di jalan yang Engkau ridai.”

Jakarta, 11 Juli 2026
Pukul 21.20 WIB

Day#6 RTM (Road To Marathon)

Tak kusangka, semangatku kini mulai melampaui sekadar proses pemulihan tubuh.

Beberapa waktu lalu, yang kupikirkan hanyalah bagaimana agar tubuhku kembali kuat.

Namun kini, setiap kali bangun pagi, yang ada di pikiranku justru keinginan untuk kembali berlari.

Pagi ini aku kembali berlari.

Bukan di Taman Mini seperti biasanya, melainkan di sekitar rumah.

Rencanaku sederhana, berlari selama sembilan puluh menit untuk menambah daya tahan.

Sayangnya, seperti hari kerja pada umumnya, rencana tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Di tengah latihan, panggilan WhatsApp masuk silih berganti.

Tanggung jawab pekerjaan memaksaku menghentikan langkah, kembali ke depan laptop, lalu melanjutkan rapat demi rapat hingga waktu terasa berlalu begitu cepat.

Meski begitu, aku tidak merasa kecewa.

Justru hari-hari biasa seperti inilah yang sering kali akan kita rindukan di kemudian hari.

Hari yang dipenuhi rutinitas, pekerjaan, dan waktu yang terasa begitu singkat.

Saat menjalaninya mungkin terasa melelahkan, tetapi suatu saat nanti, kenangan tentang hari-hari sederhana ini bisa menjadi sesuatu yang berharga.

Malam ini rasanya cukup sampai di sini.

Tubuhku perlu beristirahat karena esok, atau akhir pekan nanti, aku sudah menyiapkan tantangan berikutnya.

Aku berencana melakukan long run di Universitas Indonesia, Depok.

Waktu menuju marathon sudah kurang dari satu bulan.

Tidak ada lagi alasan untuk menunda latihan.

Setiap kilometer yang kutempuh hari ini adalah bekal untuk mencapai garis finis nanti.

Jakarta, 9 Juli 2026
20.10 WIB

Day#5 RTM (Road To Marathon)

Jakarta, 09 Juli 2026
21.50 WIB

Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat aku mulai menulis catatan ini.

Aku baru saja selesai makan malam.

Tubuh ini akhirnya bisa merebah sejenak setelah membereskan beberapa hal untuk esok hari.

Rasanya lelah, tetapi lelah yang menyenangkan.

Sore tadi, sejak pukul lima hingga sekitar pukul delapan malam, aku menghabiskan waktu berlari di kawasan TMII.

Entah mengapa, ada perasaan yang berbeda.

Aku mulai merasa kuat kembali.

Bukan hanya fisik yang perlahan pulih, tetapi juga kepercayaan diri yang sempat hilang.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu, aku benar-benar mulai yakin bahwa marathon itu bukan lagi sesuatu yang mustahil.

Hari ini aku berlari dengan pace sekitar delapan menit per kilometer.

Aku mengelilingi jalur luar TMII sebanyak empat putaran.

Jika satu putaran memiliki jarak sekitar enam hingga tujuh kilometer, berarti total jarak yang kutempuh sudah melewati half marathon.

Yang membuatku semakin bersyukur, tubuh ini masih sanggup terus bergerak. Selama lebih dari dua jam aku terus berlari.

Memang ada jeda untuk menunaikan salat, tetapi setelah itu aku kembali melanjutkan langkah demi langkah hingga latihan selesai.

Hari ini bukan hanya soal angka di jam atau jarak di aplikasi lari.

Hari ini adalah sebuah simulasi.

Simulasi yang memberitahuku bahwa tubuh ini mulai mengingat kembali bagaimana rasanya berlari jauh.

Otot-otot kaki yang selama ini terasa berat perlahan seperti menemukan kembali memorinya. Seolah-olah mereka berkata,

Kita pernah melakukan ini sebelumnya.”

Dan benar.

Kaki ini adalah kaki seorang Warrior.

Masih ada perjalanan yang harus ditempuh.

Masih ada latihan-latihan berikutnya yang menanti.

Aku juga belum tahu apakah besok akan kembali berlari atau memilih memberi waktu tubuh ini untuk beristirahat.

Namun satu hal yang pasti, minggu pertama perjalanan menuju marathon telah memberikan kabar baik.

Kepercayaan diri itu mulai kembali.

Dan terkadang, yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk mencoba, agar kita sadar bahwa ternyata kemampuan itu masih ada di dalam diri kita.

Day#4 RTM(Road To Marathon)

Sinar matahari selalu terasa membawa harapan baru.

Mungkin kemarin badai datang menghantam.

Langit terasa gelap, langkah terasa berat, dan hati dipenuhi banyak pertanyaan.

Namun, setiap kali fajar menyapa, selalu ada keyakinan bahwa hidup belum selesai.

Selalu ada kesempatan untuk memulai lagi.

Entah mengapa, aku memang selalu jatuh cinta pada pagi hari.

Ada sesuatu yang menenangkan saat cahaya pertama perlahan menerangi langit.

Rasanya seperti semesta sedang berbisik bahwa semua yang telah terjadi kemarin boleh dikenang, tetapi tidak harus terus dibawa.

Rasa gagal, rasa sedih, dan rasa kecewa memang bagian dari kehidupan.

Semuanya nyata, dan semuanya pasti pernah singgah.

Namun, seperti malam yang akhirnya berganti pagi, perasaan-perasaan itu pun memiliki waktunya sendiri untuk berlalu.

Hari ini sebenarnya aku tidak jadi berlari.

Kesibukan pekerjaan membuat rencana latihan harus ditunda.

Awalnya sempat merasa sedikit kecewa, tetapi kupikir tidak apa-apa.

Besok aku berencana melakukan long run, jadi anggap saja hari ini adalah waktu bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan tenaga.

Tadi aku juga sempat berpikir, “Perlu tidak ya menulis hari ini?”

Rasanya tidak ada cerita yang istimewa.

Namun, akhirnya aku tetap membuka halaman ini.

Karena perjalanan tidak selalu dipenuhi pencapaian besar.

Ada hari ketika kita berlatih dengan penuh semangat, ada juga hari ketika kita hanya beristirahat.

Dan keduanya sama-sama bagian dari proses.

Yang paling kusyukuri hari ini adalah perasaanku.

Anehnya, aku merasa bahagia.

Sulit menjelaskan alasannya, tetapi hatiku terasa lebih ringan.

Mungkin benar, setelah badai selalu ada fajar.

Setelah masa-masa yang berat, akan datang hari ketika kita kembali tersenyum tanpa alasan yang rumit.

Untuk hari ini, cukup sampai di sini.

Besok adalah hari yang baru.

Besok aku akan kembali berlari, melanjutkan perjalanan, dan mengejar versi diriku yang lebih baik daripada hari i

Jakarta, 08 Juli 2026 Pukul 21.38 WIB

Day#3 RTM(Road To Marathon)

Jakarta, 07 Juli 2026
19.30 WIB

Pada akhirnya, hidup akan terus berjalan, apa pun yang terjadi.

Manusia sering kali lebih mengingat apa yang mereka inginkan atau apa yang mereka butuhkan daripada apa yang pernah dilakukan orang lain untuk mereka.

Mungkin memang begitulah sifat manusia.

Ego sering kali berbicara lebih keras daripada rasa syukur.

Padahal, hidup hanyalah perjalanan yang dipenuhi suka dan duka.

Tidak ada kehidupan yang benar-benar hanya berisi kebahagiaan atau hanya berisi kesedihan.

Hari ini rasanya tubuhku kurang sehat.

Mungkin karena beban yang sedang kupikul terasa semakin berat.

Beban itu tidak terlihat oleh siapa pun. Aku seperti sebuah puzzle.

Orang lain hanya mengenal potongan-potongan yang sengaja kutunjukkan kepada mereka.

Sisanya kusimpan sendiri.

Aku pun tidak tahu sejak kapan menjadi seperti ini.

Mungkin karena sejak kecil aku memang lebih banyak diam.

Aku tidak terbiasa mencampuri urusan orang lain, dan mungkin karena itu pula orang lain tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang sedang kuhadapi.

Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena aku sendiri tidak pernah menceritakannya.

Begitulah diriku hingga hari ini.

Untungnya, pagi tadi aku sudah berlari selama satu jam tanpa berhenti.

Walaupun sore ini tubuh terasa kurang fit, setidaknya latihan hari ini sudah selesai.

Hari ketiga latihan pun terasa sedikit lebih ringan.

Tubuhku mulai beradaptasi.

Aku juga mulai mencoba mengatur pola makan.

Pagi tadi aku mengonsumsi empat butir telur rebus dan segelas susu.

Siang harinya aku makan nasi Padang ditemani secangkir kopi hitam tanpa gula.

Anehnya, setelah itu aku tidak merasa lapar lagi.

Mungkin karena cadangan lemak di tubuhku masih cukup banyak.

Selebihnya, hari ini berjalan seperti biasa.

Bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, lalu pulang.

Namun, ada satu perasaan yang sulit kujelaskan.

Aku merasa sedih.

Entah mengapa.

Tidak ada alasan yang benar-benar bisa kuucapkan.

Perasaan itu hanya muncul begitu saja di dalam pikiranku.

Kadang aku juga merasa takut menghadapi dunia ini.

Ujian kehidupan terasa begitu keras dan tidak pernah berhenti.

Di tengah semua itu, ada satu prinsip yang terus kupegang.

Guruku pernah mengajarkan bahwa apa pun yang terjadi, integritas harus tetap dijaga.

ku pun meyakini hal yang sama.

Memang berat.

Banyak pengorbanan yang harus dilakukan.

Ada kesempatan yang mungkin harus dilepaskan.

Ada jalan yang terasa lebih sulit dibandingkan jalan yang dipilih orang lain.

Tetapi selama aku masih mampu mempertahankannya, itulah yang akan terus kupegang.

Hari ini orang-orang mengenalku sebagai seorang insinyur.

Mereka juga mengenalku sebagai seorang penulis.

Bahkan, mungkin mereka mengenalku sebagai seseorang yang selalu tampak baik-baik saja.

Lucunya, wajahku pun sering dianggap seperti tokoh protagonis dalam sebuah cerita—seseorang yang selalu berada di sisi yang benar.

Mungkin memang itulah yang mereka lihat.

Namun, mereka hanya melihat hasilnya.

Mereka tidak melihat perjalanan panjang yang harus kulalui untuk sampai di titik ini.

Hari ini saja, belasan orang mengajakku berbincang secara langsung tentang dunia kepenulisan.

Mereka mengatakan bahwa aku menginspirasi.

Mereka mengapresiasi buku-bukuku.

Mereka memberikan begitu banyak kata-kata baik.

Aku bersyukur atas semua itu.

Namun, di balik rasa syukur tersebut, ada ketakutan yang ikut tumbuh.

Aku takut tidak mampu memenuhi harapan mereka.

Seolah-olah selama ini ekspektasi itu terus menumpuk.

Seolah aku tidak boleh berbuat salah.

Tidak boleh gagal.

Tidak boleh mengecewakan.

Lalu kepada siapa aku menceritakan semua ini?

Selama ini aku selalu bercerita kepada Tuhanku.

Tetapi kepada manusia?

Entahlah.

Mungkin banyak orang juga merasakan hal yang sama.

Mungkin setiap orang sedang memikul perjuangannya masing-masing.

Hanya saja, inilah perjuanganku.

Karena itu, ada satu hal yang akan terus kujaga selama aku masih hidup, yaitu integritas.

Aku mungkin tidak bisa selalu menyenangkan semua orang.

Aku juga mungkin tidak bisa memenuhi setiap harapan yang diberikan kepadaku.

Namun, percayalah.

Aku akan selalu berusaha menjadi orang yang bertanggung jawab atas setiap jalan yang kupilih.

Dan jika selama perjalanan ini aku pernah berbuat salah kepada siapa pun, izinkan aku meminta maaf.

Aku masih terus belajar.

Aku masih terus berjuang.

Dan selama napas ini masih ada, aku tidak akan berhenti melangkah.

Day#2 RTM (Road To Marathon)

Jakarta, 06 Juli 2026

20.50 WIB

Aku baru saja sampai di rumah.

Setelah mandi dan membereskan beberapa hal, akhirnya tubuh ini bisa merebah di atas kasur.

Rasanya nyaman sekali.

Seperti biasa, sebelum tidur aku ingin menulis sedikit tentang hari ini.

Hari kedua.

Entah mengapa, rasanya aku sudah ingin menyerah.

Astaghfirullah…

Hari Senin memang selalu menjadi hari yang paling sibuk.

Pagi tadi aku memulainya dengan berlari selama satu jam.

Namun kenyataannya, bahkan sebelum satu jam selesai, tubuhku sudah berjalan saja.

Jujur saja, ada rasa malu pada diriku sendiri.

Mungkin karena sudah terlalu lama aku tidak berlari secara rutin.

Lemak yang perlahan menumpuk di perut ini seolah menjadi pengingat bahwa aku telah terlalu lama meninggalkan olahraga.

Setelah itu, hari berjalan seperti biasa.

Meeting demi meeting mengisi jam kerja hingga sore.

Rutinitas yang melelahkan, tetapi memang sudah menjadi bagian dari pekerjaanku.

Di tengah kesibukan itu, aku mengambil satu keputusan yang cukup penting.

Aku mendaftar ulang kelas mengaji.

Rasanya sudah hampir setahun sejak terakhir kali aku belajar bersama ustaz.

Dulu aku mengikuti kelas secara daring, tetapi tidak berhasil naik level.

Aku kemudian mencoba lagi melalui kelas tatap muka.

Sayangnya, hasilnya tetap sama.

Aku kembali tidak lulus ujian kenaikan level.

Saat itu aku memilih berhenti sejenak.

Bukan karena tidak ingin belajar, melainkan karena terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri.

“Kenapa aku bodoh sekali, ya Allah?”

Kalimat itu berkali-kali berputar di kepalaku.

Namun setelah merenung cukup lama, aku mulai sadar bahwa bukan hanya kemampuanku yang menjadi penyebab.

Kesibukan dunia ternyata juga perlahan merampas waktu yang seharusnya bisa kugunakan untuk belajar Al-Qur’an.

Hari ini, ketika melihat kelas kembali dibuka, aku memutuskan untuk mendaftar lagi.

Aku akan kembali belajar dari level terakhirku.

” Apakah kali ini aku akan lulus? ”

Entahlah.

Aku hanya berharap Allah memudahkannya.

Aku juga ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Al-Qur’an.

Kadang muncul pertanyaan yang aneh di dalam hati.

“Sebenarnya untuk apa aku masih mengaji? Bukankah teman-teman di tempat kerjaku juga banyak yang tidak mengikuti kelas seperti ini?”

Namun setiap pertanyaan itu muncul, selalu ada satu hal yang mengingatkanku.

Kematian.

Ia terus berjalan mendekat tanpa pernah menunggu siapa pun.

Lalu aku berpikir, apa gunanya memiliki jabatan, harta, atau pencapaian dunia jika pada akhirnya aku gagal mendapatkan surga?

Aku tidak ingin menyesal.

Karena itu, aku ingin tetap menjaga satu impian besar.

Aku ingin menjadi seorang penghafal Al-Qur’an 30 juz.

Alasannya sederhana.

Aku ingin keluargaku bisa berkumpul kembali di surga karena rahmat Allah.

Selain itu, aku juga malu pada diriku sendiri.

Masa seorang Pemimpin masih belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik?

Masa ketika menjadi imam, hafalannya hanya berputar-putar di Juz Amma?

Yang membuatku semakin tersentuh adalah melihat teman-teman sekelasku.

Sebagian besar justru berusia lebih tua dariku.

Mereka tetap semangat belajar, sementara aku yang masih lebih muda justru sering menyerah.

Semakin lama aku semakin menyesali kegagalanku saat ujian kenaikan level.

Namun yang lebih kutakuti adalah jika aku berhenti bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Bagiku, menjadi seorang muslim berarti terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Ya Allah…

Jangan biarkan kesibukan dunia membuatku lalai dari sujud kepada-Mu.

Aku sering memikirkan kematian.

Mungkin karena aku memang seorang kutu buku yang terlalu sering membaca dan merenungkan hidup.

Tetapi akan jauh lebih menyedihkan jika waktu terus berjalan, sementara pahala dan amal ibadahku tidak ikut bertambah.

Bukankah pada akhirnya setiap manusia akan dihisab atas dirinya sendiri?

Maka tidak ada alasan untuk berhenti memperbaiki diri.

Sore tadi aku juga mendapat kabar dari PIC ILUNI UI.

Dia kembali menghubungiku untuk membantu mempromosikan bukuku yang berjudul Menjadi Insinyur Masa Indonesia Kini (MIMIK).

Kalau dipikir-pikir lagi, ternyata buku itu sudah berjalan cukup jauh.

Mungkin ini terdengar seperti self-claim, tetapi menurutku buku itu memang layak menjadi salah satu referensi bagi para insinyur di Indonesia.

Di dalamnya terdapat kata sambutan dari Ketua Insinyur Dunia, Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, para profesor dan guru besar Teknik UI, serta berbagai profesional di bidang teknik.

Selain itu isinya juga Insinyur yang terjadi pada kondisi saat ini.

Sebuah gagasan, kritik, dan harapan namun juga membumi dengan cerita yang dapat dimengerti.

Kadang kita memang hanya perlu terus berkarya.

Biarkan Allah yang menentukan sejauh mana karya itu akan sampai.

Selepas Magrib aku kembali berlari selama satu jam.

Sejujurnya aku hampir tidak pernah berlari pada malam hari.

Semua ini gara-gara nekat mendaftar race marathon.

Benar-benar ada-ada saja.

Namun ternyata keputusan itu justru membawaku menemukan sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumah.

Tempatnya sangat nyaman.

Parkirnya gratis, ada toilet, dan tetap buka sampai malam.

Awalnya aku hanya ingin mencari tempat untuk berlari.

Ternyata aku menemukan tempat yang jauh lebih indah dari yang kubayangkan.

Mungkin benar pepatah yang mengatakan, “Where there is a will, there is a way.”

Aku memang berlari sendirian.

Namun taman itu tetap ramai.

Banyak orang berjalan santai, berolahraga, atau sekadar duduk menikmati malam sambil memainkan ponsel mereka.

Setelah selesai, aku pun pulang.

Di perjalanan, aku kembali menggerutu kepada diriku sendiri.

Kenapa tanggung jawabku terasa begitu banyak?

Namun aku kembali teringat ucapan salah seorang guruku.

“Kamu sedang dikader menjadi seorang pemimpin.”

Dan seorang pemimpin memang tidak hidup dalam kemudahan.

Dulu aku sering mendengar bahwa lebih baik produktif daripada sibuk.

Namun semakin hari aku mulai memahami bahwa pada level kepemimpinan yang lebih tinggi, kesibukan memang tidak bisa dihindari.

Banyak persoalan yang mungkin tidak menghasilkan sesuatu secara langsung, tetapi tetap harus diselesaikan.

Belum lagi ketika suatu hari nanti dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Kalau terus mencari alasan, alasan itu tidak akan pernah habis.

Selama Allah masih memberiku napas, berarti perjuanganku belum selesai.

Aku tidak tahu bagaimana akhir hidupku nanti.

Tetapi tugasku bukan memastikan bagaimana akhirnya.

Tugasku hanyalah terus berjuang.

Sebab selama masih ada napas, selalu ada kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada hari kemarin.

Day#1 RTM (Road To Marathon)

Hatiku mulai bergetar.

Setiap kali mengingat bahwa marathon itu tinggal satu bulan lagi, keraguan perlahan muncul.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah aku benar-benar sudah siap?

Hari sebelumnya, aku baru saja menerbitkan dan membagikan buku ketujuh ku, BARAKAH.

Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan.

Berbulan-bulan menuangkan pikiran akhirnya berbuah menjadi sebuah buku yang bisa dipegang banyak orang.

Bersamaan dengan itu, muncul juga rasa lega, seolah satu beban besar telah selesai kutunaikan.

Namun, setelah semua euforia itu berlalu, datang sebuah pertanyaan yang terus menghantui.

“Setelah ini… aku harus melakukan apa?”

Aneh rasanya.

Ketika satu mimpi tercapai, justru muncul ruang kosong yang harus diisi.

Saat ini hanya ada satu jawaban di kepalaku: Marathon bulan Agustus.

Terakhir kali aku mengikuti marathon adalah pada tahun 2024, di Pocari Sweat Marathon.

Saat itu aku memang berhasil mencapai garis finis dan mendapatkan jersey finisher.

Namun aku gagal melewati cut-off time yang telah ditentukan.

Secara resmi, aku bukan seorang finisher marathon.

Karena itulah, hingga hari ini aku tidak pernah mengaku sebagai seorang marathoner.

Bagiku, marathon bukan hanya soal menempuh jarak 42,195 kilometer.

Marathon adalah tentang menyelesaikannya sesuai aturan perlombaan.

Kini, dua tahun telah berlalu.

Apakah aku akan gagal lagi?

Aku melihat informasi perlombaan.

Cut-off time-nya enam jam tiga puluh menit, tiga puluh menit lebih lama dibandingkan Pocari Marathon dahulu.

Harapanku kembali tumbuh.

Sejujurnya, aku sangat ingin menyelesaikan marathon ini.

Bukan hanya karena ingin mendapatkan medali, tetapi karena lomba ini diadakan begitu dekat dengan rumahku.

Lebih istimewa lagi, garis start dan finisnya berada di Universitas Indonesia, kampus yang telah memberikan begitu banyak warna dalam hidupku.

Aku ingin mendapatkan medali marathon pertamaku di tempat yang begitu berarti.

Pagi pun datang.

Sinar matahari mulai memasuki rumah, tetapi aku masih terduduk diam.

Ada rasa malas, ada rasa ragu.

Haruskah aku mulai berlari lagi?

Namun aku sadar satu hal.

Semakin lama aku menunda latihan, semakin besar peluang kegagalanku nanti.

Waktuku hanya tinggal satu bulan.

Aku akhirnya berangkat menuju Kampus Universitas Indonesia.

Tempat yang kelak akan menjadi saksi perjuanganku.

Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi.

Matahari sudah cukup tinggi dan udara mulai terasa panas.

Anehnya, masih banyak pelari yang berlari mengelilingi kampus.

Melihat mereka, semangatku sedikit demi sedikit mulai bangkit.

Aku melakukan pemanasan, lalu mulai berlari.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu langkah-langkah berikutnya.

Kali ini aku tidak menggunakan Strava.

Entah mengapa aplikasinya terus bermasalah.

Aku tidak tahu apakah yang salah aplikasinya atau telepon genggamku.

Untuk sementara, aku memilih mengabaikannya.

Yang terpenting adalah terus bergerak.

Sambil berlari, pikiranku terus dipenuhi berbagai macam rencana.

Aku harus mulai latihan setiap hari, mungkin dari pukul lima sampai tujuh pagi.

Aku harus mengatur pola makan.

Aku harus membuat jadwal latihan.

Bahkan, sempat terpikir untuk bertanya kepada ChatGPT agar dibuatkan program latihan yang paling memungkinkan.

Belum juga menempuh tujuh kilometer, aku sudah mulai berjalan.

Bukan karena benar-benar kehabisan napas.

Hanya saja kakiku seolah meminta berhenti.

Aku tertawa kecil dalam hati.

“Buset… kalau marathon itu 42 kilometer, berarti hampir enam kali putaran luar UI. Ini baru belum satu putaran penuh saja aku sudah mulai menyerah.”

Di tengah langkah-langkah itu, muncul ide lain.

Bagaimana kalau perjalanan menuju marathon ini kutulis menjadi sebuah buku?

Bukankah itu menarik?

Lalu aku tersenyum sendiri.

“Kalau gagal, malu juga ya…”

Namun tak lama kemudian aku menggeleng.

Tidak apa-apa.

Seorang penulis tetap harus menulis, apa pun hasil akhirnya.

Justru mungkin kegagalan itu pun bisa menjadi cerita.

Karena itulah aku memutuskan untuk tidak menulis tema lain dulu.

Untuk sementara, aku ingin fokus pada satu hal: marathon.

Semua energi, waktu, dan pikiranku akan kuarahkan ke sana.

Meskipun begitu, kesibukan dunia tetap saja berdatangan tanpa henti.

Pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai urusan lain seakan terus berebut perhatian.

Lalu aku berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri.

“Kalau aku terus mengeluh, apakah aku akan menjadi lebih kuat?”

Tentu tidak.

Yang kutahu tentang marathon hanyalah satu hal.

Musuh terbesar bukanlah jarak.

Bukan pula cuaca.

Melainkan diri sendiri.

Hari pertama latihan ini mungkin belum memuaskan.

Bahkan bisa dibilang gagal.

Ah…

Tidak juga.

Setidaknya hari ini aku keluar rumah.

Hari ini aku mulai lagi.

Dan itu sudah lebih baik daripada tidak memulai sama sekali.

Setelah selesai berlari, aku berjalan menuju Indomaret di Fakultas Psikologi.

Aku membeli sebotol minuman isotonik, lalu duduk sejenak.

Sambil menikmati minuman itu, aku membuka ChatGPT dan mulai menyusun skema latihan.

Pikiran tentang marathon terus muncul tanpa henti.

Aku tidak tahu apakah dalam waktu satu bulan aku benar-benar bisa menyelesaikan 42,195 kilometer.

Aku tidak tahu apakah aku akan berhasil.

Tetapi aku tahu satu hal.

Aku akan berjuang.

Aku akan berusaha.

Aku akan memberikan semua yang kumiliki.

Mungkin semua ini berawal dari keputusan sederhana: mendaftar marathon karena biaya pendaftarannya hanya sekitar enam ratus ribu rupiah.

Ditambah lagi lokasinya dekat rumah dan berada di Kampus UI.

Kombinasi yang rasanya mustahil kulewatkan.

Siapa sangka, keputusan sederhana itu kini berubah menjadi perjuangan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Aku menarik napas panjang.

“Ya Allah…”

Di tengah semua kesibukan dunia ini, izinkan aku bertahan.

Izinkan aku menyelesaikan marathon pertamaku.

Sebelum ulang tahunku tiba, semoga Engkau berkenan memberiku gelar yang selama ini kuimpikan.

Marathoner.

Bismillah, ya Allah.”

Kenapa Lari ?

Hm, kenapa ya ?

Jujur untuk menjawab pertanyaan itu, mungkin aku mulai dari awal aja kali ya.

Aku juga lupa pernah nulis ini atau engga, tapi ya sudahlah, aku hanya ingin menjawab pertanyaan itu yang ada di otak ku saat ini.

Kenapa lari ?

Jujur, dulu itu tahun 2021 ada event BK3N gitu di kantor.

Dulu itu aku lagi cuti di Jakarta, terus bos aku di Tembagapura bilang di WA katanya aku udah didaftarkan untuk ikut relay 100 km secara virtual.

Lah orang lagi cuti malah didaftarkan aja kan ya wkwk.

La gimana ya, sama bos ya cuman bilang ” Iya bang ” .

Karena virtual itu lari nya di aplikasi strava terus nanti submit ke grup dengan kode tertentu.

Seingatku itu lahirnya 100 km untuk 5 orang, jadi per orang nya 20 km.

Yasudah biar ku selesaikan saja dengan sekali jalan.

Saat itu, dunia lari belum kaya sekarang, belum seramai sekarang, dulu juga ga banyak event lari.

Terus aku datang tuh ke Jambore untuk lari, dari pagi sampe siang, asli capek banget cuy.

Cuman gimana ya, udah nanggung jadi yasudah.

Terus pas sampai Tembagapura dapet deh mendali nya.

Yang kocak itu juga mendali ada tahun nya, tahun 2020.

Artinya mendali tahun lalu yang masih sisah banyak wkwk.

Terus mulai deh ada event virtual lari lagi.

Ya masih biasa aja sih, tapi kalo ditanya kapan pertama ikut event lari ?

Ya gw jawabnya yang itu.

Dulu kayanya ada deh pas SMA itu event Milo, itu satu SMA ku ikut, jadi bareng – bareng.

Cuman aku juga lupa memori itu, inget nya ada tulisan Milo sama warna hijau aja wkwk.

Terus setelah covid rasanya tuh mulai event lari mulai berdatangan.

Aku juga lupa mulai dari kapan, ada event One Run dari TV One tahun 2023.

Ini kayanya event pertama nya mereka deh.

Dan masih banyak banget sih event-event lainnya.

Sampe sekarang masih lari juga gue, kenapa ya ?

Hm, walau dulu awalnya disuruh lari sama atasan sekarang justru gue udah ga punya alasan untuk berhenti lari.

Apa itu ya namanya cinta ?

Hm, terbang deh !

Lah sekarang jadi gue ya wkwk.

Tapi walau gue juga udah jarang lari banget sih, eits sekarang udah mulai lari lagi kok hehe.

Lari itu selalu membuat gue terkesima.

Saat itu di tahun 2024 gue ikut Maesa Run, gue datang telat dan gue mulai start dari belakang dong.

Gue lari 5 k atau 10 k ya lupa.

Gue mulai dari belakang banget, sampe ga keliatan di depan, perlahan gue udah ngelewatin beberapa orang.

Line di garis belakang justru itu yang jarang gue lihat.

Ada orang yang obesitas lari pelan tapi terus maju, ada orang tua yang terus lari, sesuatu yang gue rasa, jarang gue lihat di frontier tengah ya kalo gue :).

Kalo dilihat mereka luar biasa.

Terus apalagi ya ?

Banyak sih.

Ada mendali yang bikin kenang-kenangan.

Bahkan kalo gue inget gue tuh dulu dikasih training atau pelatihan gitu yang jumlahnya puluhan atau ratusan kali ya, cuman itu sertifikat ya kemana ya ?

Banyak dan kececeran aja.

Tapi kalo ada mendali, tuh lebih mewah aja dan jadi inget oh gue pernah ikut aja.

Selain itu, kalo dikeluarga nih ya, kalo ngelihat kita banyak mendali udah kaya kita juara dunia aja, apalagi bocil.

Padahal itu mendali finisher Abang, bukan mendali juara podium wkwk.

Jujur, mendali itu bahkan buat gue lebih penting dari pada Jersey dah kalo sekarang.

Terus Jersey.

Buset Jersey lari gue udah banyak banget.

Jumlahnya ?

Ga tahu, udah puluhan.

Setiap hari kalo dirumah atau nongkrong pakai Jersey lari.

Ini tidur pun udah kaya mau tanding lari dah wkwk.

Gue juga ga tahu  kenapa tapi nyaman aja pakai Jersey atau kaos lari wkwk.

Terus juga ada kaos finisher triathlon, finisher half marathon, finisher marathon.

Buset enak banget ya pamer ke orang wkwk.

Kacauu.

Bangga aku tuh… 🙂

Terus apa lagi ya ?

Hm ajang reuni kali ya.

Jujur males juga gue kalo nongkrong cuman buat reuni wkwk.

Ya paling bukber aja, terus kalo ngobrol lama-lama ga ada kepentingan sekarang koh mending rebahan aja ya hehe.

Tapi kan kalo di event lari ya bentar aja kali ya ngobrol nya, ga tahu kenapa tapi itu sih yang gue rasain.

Terus kalo kita sering latihan itu pengen kayak buat cari personal best aja.

Walau gue jarang sih yang cari personal best, gue juga jarang pakai jam, pakai strava dan lainnya, ya saat ini aja kali ya.

Kalo pakai headset juga jarang kalo lari, tapi belakangan ini kalo lari sendiri juga enak juga ternyata pakai headset

Kalo event kayanya ga pernah pakai headset deh.

Kenapa ?

Pengen denger suara selama race aja, berasa asyik dan nyaman aja.

Dulu gue juga ga pernah ikut ohlaraga sampe SMA.

Itu juga paling biasa aja kayak bola, futsal, bulu tangkis, cuma modal bisa aja.

Dulu itu di SMA di seriusin nya cuman karate gara- gara teman banyak yang ikut eskul sekalian dulu pamer ke cewek wkwk.

Terus kuliah asrama ada taekwondo, tapi itu sifatnya juga semuanya disuruh.

Kalo yang benar – benar mulai diseriusin dan sendiri ya kayanya baru lari sih yang paling jauh.

Lagipula lari itu beda sama main golf, walau udah setahun lebih ga main golf lagi wkwk.

Ya kedepan main lagi sih, golf itu olahraga middle keatas dan lebih kepentingan networking, lebih ke fokus dan skill.

Kalo lari ?

Beuh, lebih beragam sih, kalo bahasa lebay nya lebih banyak air mata di lari.

Lari juga ga ribet kalo cuman rekreasi aja, tinggal modal pakai sepatu terus lari deh.

Kenapa lari ?

Kenapa ya, muter lagi dong jawaban tadi wkwk.

Ya formalitas nya kesehatan, kebahagian, dan banyak lah hal positif yang bisa diungkapkan.

Tapi kalo ditanya kenapa lari ke hatiku ?

Karena aku jatuh cinta juga.

Di lari, seseorang mengandalkan dirinya sendiri, lari juga ga bisa ambil jalan pintas, dan juga lawan yang dihadapi juga diri sendiri.

Kenapa lari ?

Mungkin itu salah satu pertanyaan seumur hidup ku juga.

Lari ya ?

Pengen deh bisa lari di luar negeri kaya event world marathon major.

Dan kenapa lari ?

Bagi orang yang kalah di ekonomi, maka jangan kalah juga di kesehatan dong.

Dan lari mungkin juga bisa jadi pelampiasan positif.

Kenapa lari ?

Karena mungkin salah satu lawan rasa sakit hati, kecewa, kok habis lari lebih bahagia ya wkwk.

Kenapa lari ?

Duh, apa ya ?

Banyak banget kali jawaban kali ya.

Tapi satu hal yang pasti.

Aku ingin berusaha untuk lari bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri dulu, setelahnya urusan semesta

Jakarta, 22 juni 2026 pukul 23.00 WIB.

Oh iya, selamat ulang tahun Jakarta, kota nomor satu yang paling kucinta