Naik LRT

Akhir-akhir ini aku sering sekali naik transportasi umum.

Sesuatu yang sepertinya sudah lama tidak aku lakukan.

Ya maklum, karena biasanya naik motor, jadi udah nyaman aja.

Terlebih jalanan di kota Jakarta begitu macet, rasanya malas saja terlalu lama di jalanan.

” Ah, hanya buang-buang waktu saja “ itu lah pikiran ku dan hingga saat ini.

Namun, mungkin atau terkadang hidup akan terasa berbeda ketika kita mengambil dari sisi berbeda.

Awalnya, itu aku naik transportasi umum yakni LRT dikarenakan motor ku yang rusak sehingga perlu ke bengkel.

Yowis, naik LRT saja.

Cuman biasanya naik dari LRT Stasiun Kampung Rambutan.

Tapi ternyata aku baru sadar bahwa ada LRT yang lebih dekat dengan ku yakni naik LRT Ciracas dan tetap dengan tujuan akhir yakni LRT Dukuh Atas.

Bisa dibilang naik LRT itu lebih simple, artinya kita ga perlu mengendarai alias tinggal duduk saja ataupun berdiri saja.

Kalo dihitung sih naik di jam sibuk yang biasanya dari jam 6 sampai 9 pagi itu tarif normal yakni bisa di angka 17 ribuan.

Dan sore pun juga dari jam 4 sore sampai jam 8 malam juga sama.

Namun, jika berangkat di luar jam itu jadi paling maksimal 10 ribu.

Bayangkan saja, jika naik transportasi motor online itu bisa 80 ribuan sendiri baru berangkat.

Dari stasiun LRT ke tempat bekerja juga bisa jalan ataupun naik transportasi online yang biasanya Rp.5000.

Tapi bukan itu yang ingin kubagikan.

Enak sih naik LRT, walau jauh lebih murah juga kalo naik motor.

Tapi, aku melihat begitu banyak orang yang berangkat kerja, dan menjalani aktifitas hidup.

Begitu banyak orang sekali.

Terkadang aku mengingat saat aku berpikir untuk menjadi orang kaya dan ingin segera pensiun dini.

Orang sebut nya ” Financial freedom “, berapa banyak buku ataupun video youtube yang sudah kubaca untuk mencapai itu, itu jumlah yang banyak sekali.

Hingga, tahun 2021 aku pikir resign dari tempat kerja dan kegiatan ku hanyalah membaca buku.

Lebih sering nya membaca buku di Perpustakaan Nasional.

Alasan nya sederhana, itu tempat gede banget, jadi minimal ga bosen aja para pegawai ngeliat gue lagi gue lagi.

Bahkan di rumah saja aku juga masih sering baca buku digital dari IPUSNAS itu.

Ya, pensiun dini.

Tak ada gaji tapi pengeluaran pun sama dan masih tetap hidup.

Saat itu aku berpikir, ” Gue mau ngapain lagi ya ? ”

Asli bosen juga ternyata kalo gini.

Ya, ajak temen juga sibuk kerja.

Sedangkan aku ? ” Hanya tukang baca buku “.

Ku pikir ini periode paling banyak aku baca buku juga sih.

Jumlah nya ? banyak banget itu.

Aku pun terus mencari di google ” Orang -orang ngisi hidup nya sampai tua ngapain sih ? ” .

Kebanyakan orang sukses itu umumnya pas tua jadi filantropis.

Tapi apakah aku harus setua itu ?

Hm. baca buku tentang makna hidup yang beragam pun ku baca.

Satu hal yang ku pahami, bahwa ini adalah salah satu masa hiatus ku.

Mungkin manusia harus ada fase hiatus.

Sesuatu yang dulu aku menggebu gebu yakni pengen bisa financial freedom, dan tercapai saat itu, terus mau apa lagi ? asli bosen deh.

Walaupun lebih sedih kalo ga punya uang sih wkwk.

Namun, hidup tanpa tantangan ataupun berhasil terus pun juga kadang membuat rasa menjadi bosen.

Kenapa ya ? kenapa ya aku hidup ? di fase ini pun juga aku mulai menyadari siapa orang -oang yang dekat dengan ku, teman-teman yang ingin ku pertahankan.

Dulu aku ada sosial media instagram, banyak sekali DM yang masuk.

Isinya ? ya beraneka ragam.

Deket sih juga engga ya, cuman banyak sekali DM yang masuk terkait kepentingan saja.

Ku pikir daripada aku tak membalas tapi aku bikin story yang mending aku delete instagram saja.

Dan akhirnya aku delete, di fase -fase ini aku hanya sering main facebook saja.

Walau facebook tak begitu banyak temanku yang masih main, tapi ku rasa, aku nyaman dengan sosial media ini .

WA ? hm, jarang ada yang chat sih.

Mau ngapain kah, ga ada kerjaan juga kan.

Tapi beberapa teman dekat ku tetap kirim pesan menanyakan kabarku.

Pasti mereka tahu bahwa aku berhenti dari instagram dimana memang aku menyampaikan itu di story ku dahulu.

Mereka yang tetap bersama ku disaat aku kesepian hingga hari ini adalah sahabatku, aku senang jika bisa bersama hingga sampai tua.

Tapi, ada satu hal yang pasti adalah bahwa aku harus mencari kemana aku mau pergi ini !.

Oh iya, untuk mencapai financial freedom maka harus mencari uang, mengelola uang, hingga mempertahankan uang.

Ya banyak konsep lah terkait ini.

Kalo mencari uang ya kerja, kerja sampingan, banyakin duit lah intinya dan mengurangi sedikit pengeluaran.

Kalo mengelola uang ya pindahin uang ke instrumen yang bertumbuh.

Kalo mempertahankan uang ya beli emas, ataupun sesuatu yang membuat lo gagal untuk miskin.

Tapi satu hal yang ku rasakan saat itu ialah” Aku tak ingin pensiun lagi ! “.

Ya aku ingin bekerja hingga mati.

Bekerja sesuai dengan kemampuan ku saja, apapun itu.

Kenapa ? ya karena hidup adalah ujian, jadi jangan salah kira bahwa nikmat dunia juga termasuk ujian, ujian untuk lebih dekat dengan atau menjauhi -Nya.

Untuk kembali ke surga melalui fase kematian.

Bekerja pun juga ibadah.

Itulah kenapa aku ingin berjuang, bekerja, agar hidupku berkah, hidupku menarik, dan hidupku bisa ku pertanggung jawbakan di hadapan -Nya.

Namun, ternyata aku disadarkan bahwa aku harus menulis idelogi ku sendiri.

Sebuah ideologi yang akan mengubah dunia di masa depan.

Awalnya siapasih yang mau bikin ideologi.

” Masa iya dari seluruh orang Indonesia, gue sendiri yang mau bikin ideologi ? ”

” Atau jangan-jangan dari seluruh dunia yang hidup saat ini, aku yang bikin ? ”

Aku yakin pasti masih ada beberapa orang yang seperti ku.

Lagi pula, aku adalah akumulasi apa yang aku baca.

Dan mungkin perubahan besar dapat dimulai dari seseorang, dan banyak sejarah yang telah membuktikan.

Yang paling penting adalah aku hanyalah menjalani tugas ku sebagai hamba tuhan dan pemimpin di dunia yang sementara ini.

Saat aku menciptakan & menulis ideologi ini, sejujurnya aku bukanlah orang yang benar-benar fokus untuk menulis.

Aku menjalani kehidupan ku seperti orang biasa.

Kedepan, kita ga tahu hidup sampai kapan.

Lagi pula mestinya, penderitaan ku akan makin banyak.

Alasannya sederhana, ga mungkin jadi orang besar kalo ga ada penderitaan besar.

Bayangkan Nabi Muhammad SAW saja begitu besar cobaanya, contoh lain juga banyak sekali, aku bisa ungkapkan ratusan contoh.

Tapi satu hal yang ku tahu, satu hal yang pasti bahwa aku akan terus maju dan menjadi seorang Warrior ( pejuang ) hingga akhir kehidupan ku.

Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku seluruhnya. Sungguh tidak ada tuhan selain Engkau.

Ya Allah, apapun yang terjadi dalam kehidupan ku, aku berserah pada mu.

Jakarta, 23 September 2025 Pukul 10.10 PM

Hm, ku pikir besok aku ingin naik LRT lagi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *