Rasanya dalam hidup banyak hal yang terjadi di luar rencana kita dan terjadilah.
Ya, itulah hidup.
Dan sekarang mungkin aku ingin menceritakan tentang pengalamanku dalam mengikuti seleksi duta baca provinsi Jakarta tahun 2026.
Asal Muasal
Sejujurnya aku baru tahu bahwa ada duta baca.
Mungkin aku pernah mendengar tentang itu, tapi mungkin pula bahwa nama duta baca itu baru bersemarak akhir-akhir ini karena minat baca masyarakat yang semakin tinggi.
Bahkan di UI sendiri duta baca itu baru ada di tahun lalu.
Jujur saja bahwa aku ingin ikut yang duta baca UI, namun yang berhak ikut itu yang masih mahasiswa dan yang masih jadi dosen.
Sehingga, ada duta baca mahasiswa dan duta baca dosen.
Sedangkan aku sudah lulus alias alumni, jadi tidak diperkenankan untuk mengikuti.
Duta baca provinsi Jakarta
Di tahun 2024, aku melihat informasi mengenai seleksi duta baca provinsi Jakarta.
Tapi melihat persyaratan nya saja sudah ribet, seperti harus ada rekomendasi dari suku dinas kota wilayah asal.
Ya, karena aku dari timur ya aku harus mendapatkan rekomendasi dari wilayah kota Jakarta timur.
Aku menanyakan itu melalui kanal sosial media dan juga telepon.
Namun, seperti biasa pada umumnya bahwa tidak ada respon.
Ah, seperti biasa pada umumnya saja bahwa di sosial media ada informasi awal, tapi ketika difollow up lebih lanjut tidak ada kabar.
Setelah tidak ada tanda-tanda hilal untuk wilayah provinsi Jakarta, aku lihat berbarengan bahwa untuk kota Jakarta timur itu juga sedang buka untuk mencari duta baca kota Jakarta timur.
Kulihat persyaratan nya dan ternyata jauh lebih mudah, tak ada rekomendasi, hanya mengikuti persyaratan yang simple aja seperti isi form, surat komitmen, buat resensi 3 buku, foto perpustakaan pribadi dan beberapa hal yang bisa dilakukan.
Aku pun lulus seleksi administrasi, dan kayaknya seingatku itu langsung tahap akhir yakni buat essai tentang ide visi misi duta baca dan presentasi.
Saat itu, aku masih belum menemukan ide untuk mau ngapain aja ya aku kalau jadi duta baca.
Selain itu, aku pun juga belum menerbitkan buku pertama ku saat itu.
Rasanya malu aja duta baca kok ga nulis.
Selain itu, aku pun ga punya platform sosial media seperti Instagram ataupun TikTok.
Yowis, aku tak ikut presentasi akhir itu.
Seiring berjalannya waktu tak terasa bahwa hampir 2 tahun berlalu dan aku melihat informasi bahwa duta baca provinsi Jakarta tahun 2026 ini sedang dibuka.
Aku lihat persyaratannya, masih sama seperti dua tahun yang lalu.
Namun, untuk kali ini informasi dari Instragram bahwa surat rekomendasi bisa di lewatkan saja bagi yang belum punya.
Aku pun daftar untuk provinsi Jakarta tahun 2026 ini
Duta Baca Provinsi Jakarta
Setelah aku submit, hari pengumuman pun tiba bahwa aku pun lolos seleksi administrasi dan melanjutkan ke tahap seleksi tertulis dan setelahnya baru presentasi akhir.

Rasanya aneh aja bisa lolos, tapi bersyukur sih.
Ya sudah aku jalanin saja takdir ku.
Mendapatkan pengumuman lolos seleksi administrasi dan mendapat email untuk mempelajari soal-soal seperti peraturan daerah, undang-undang, peraturan gubernur dan lainnya pun aku pelajarin di internet.
Sederhana aku siapkan untuk belajar untuk mengikuti tes seleksi tertulis nya.
Sebelumnya aku juga menonton podcast dari Duta Baca Indonesia yakni Gol A Gong.
Dia menceritakan dan mengkritik tentang duta baca di tingkat daerah ataupun sekolah.
Beberapa kritik pun aku juga sepakat dengan nya bahwa seorang duta baca itu adalah role model, artinya dia ga cuman suka membaca saja tapi juga mesti suka menulis dan memiliki minimal satu buku.
Kenyataan, banyak sekali duta baca yang tidak memiliki buku nya sendiri.
Bahkan, banyak yang dari sebelumnya duta pariwisata ataupun yang berkaitan dengan hubungan masyarakat yang terpilih menjadi duta baca karena jago dengan promosi.
Ini ga salah juga, tapi aku sepakat dengan Gol A Gong, bahwa yang benar itu ya duta baca ya harus punya bukunya sendiri.
Kalau engga punya, ya gimana ya wkwk.
Kedua, juga Gol A Gong menyoroti bahwa duta baca itu kalau bisa jangan yang masih sekolah.
Kenapa ?
Ya karena akan sulit dengan kesibukan dan sebenarnya lebih kearah kaya menara gading aja, sulit untuk dijangkau terutama ke anak tongkrongan.
Seakan duta baca itu kaya orang pintar yang obrolan nya hanya buku saja.
Padahal Duta baca itu haruslah membumi, dan umumnya bahwa orang yang sudah lulus dari sekolah yang baiknya menjadi duta baca untuk wilayah seperti kota ataupun provinsi.
Alasannya ya karena dunia sebenarnya itu bukan di sekolah tapi di kehidupan seperti pekerjaan dan masyarakat.
Itu penilaian subjektif ku.
Ya, setidaknya pikiran ku dengan Gol A Gong itu sudah sama.
Kemudian, aku kun mengikuti tes ujian tertulis nya.
Sebelum tes ada pengenalan tentang duta baca provinsi jakarta dan hal normatif lainnya.
Setelahnya tes berlangsung satu jam dan ternyata open book.
Pastinya kamera pun mesti dinyalakan.
Ya kalau open book mah enak banget, dan ternyata gampang ya soalnya.
Soal terdiri dari puluhan dari pilihan ganda dan ada satu soal essay tentang kalau mau jadi duta baca apa yang mau kamu lakukan.
Aku suka itu hampir 30 menit sendiri, ga tanggung – tanggung aku langsung tulis 30 ide ku dalam menjawab pertanyaan ini.
Dan setelah aku menjawab rasanya aku pede untuk lolos ke seleksi akhir dong :).
Tapi ternyata aku tidak lolos wkwk.
Dari 8 besar ternyata yang diambil 6 besar.
Aku pun bingung ya kenapa aku ga lolos, untungnya jawabanku masih ada sehingga aku copy paste di chat gpt dan menganalisa kenapa ga lolos
1. Aku ga termasuk member Perpustakaan Jakarta
Memang di persyaratan ada seperti ini sih, cuman aku gatau sebenarnya yang dimaksud member ini seperti apa.
Kalau member sebagai perpustakaan nasional bahkan udah punya lebih dari 10 tahun lalu.
Kalau perpustakaan kaya Cikini yang dimaksud juga ga pernah di infokan tentang member
2. Tidak ada rekomendasi
Kayaknya emang kalau dilihat bahwa duta baca provinsi Jakarta yang kemarin itu kan dulunya duta baca kota Jakarta Timur, jadi ya biar berlanjut aja.
Sedangkan aku yang ga ada rekomendasi dari suku dinas ya selesai.
Ini kan pendapat ku saja
3. Tidak ada sosial media
Rasanya mungkin aku sendiri yang ada akun Instagram dan tiktok sehingga mereka memandang ku kurang cocok saja.
Yasudah tak masalah.
4. Program yang tidak membumi dan tidak fokus.
Tentu, aku bahkan buat 30 program cuy, aku percaya bahwa tidak hanya kualitas tapi juga kuantitas yang mendekat kan duta baca itu dengan masyarakat itu sendiri.
Bahkan, di beberapa program aku sudah sampaikan bahwa ini pakai dana pribadi ku juga masalah.
Tapi, kayaknya ga cocok saja dengan apa yang dicari oleh panitia seleksi.
Padahal, aku ngerasa jawabanku bagus.
5. Ketuaan.
Kalau dilihat dari duta baca sebelum nya yakni masih mahasiswa, dan yang ikut sekarang kayaknya aku yang paling tua deh, kebanyakan masih mahasiswa.
Ih, padahal kan maksimal usia yang boleh daftar saja yakni 35 tahun.
Apa ini hanya formalitas saja ya wkwk.
6. Disegani
Ya mungkin karena usiaku yang mungkin dianggap tua oleh mereka, jadi mereka segan kalau buat nyuruh nyuruh aku wkwk.
Ya kan ini menurut ku saja.
Lagi pula yang dicari emang bukan yang paling pintar, hebat ataupun lain nya sih, tapi yang paling cocok dengan panitia yang seleksi saja.
Aku juga bersyukur sih sudah masuk 8 besar, dan kayaknya juga emang aku udah sibuk saja.
Tapi, agak aneh sebenarnya sama panitia tapi ya sudahlah.
Amor fati, cintailah nasibmu wkwk.
Mungkin aku juga jadi sadar bahwa menjadi mitra dari pemerintah itu ribet, dimana itu prosedural tapi ditekan untuk mewujudkannya.
Berbeda dengan swasta ataupun individu dimana lebih ke goals orientasi saja.
Contoh Nadiem Makarim itu contoh nyata bahwa pemerintah belum siap dengan orang – orang yang berinovasi secara radikal.
Tapi aku dapat tips bahwa kalau kerja di pemerintah ikut prosedur saja, kalau ga mencapai target gapapa, yang penting tidak menyalahkan aturan.
Kalau swasta kan ga mungkin bisa menunggu lama.
Ya walau belum tentu menyalahkan aturan, tapi proses yang bergerak secara paralel itu yang kadang bisa dianggap menyalahkan aturan.
Yowis, aku pikir ini adalah akhir ku untuk mengikuti seleksi duta baca provinsi Jakarta.
Hal ini tentu mengingat waktu ku yang makin padat seiring berjalannya usia.
Setidaknya aku sudah masuk 8 besar lah ya wkwk.
Lumayan lah:).
Tapi, gue ngerasa janggal sebenarnya sama panitia, tapi yasudah lah.
Semoga duta baca Jakarta terpilih bisa membuat Jakarta menjadi kota yang semakin suka baca, dan pastinya juga tidak hanya membaca tapi juga menulis.
Karena nya menulis & memiliki buku sendiri adalah Duta yang abadi dan tidak bisa dicabut oleh siapapun.
Jakarta, 11 April 2026 pukul 04.00 WIB
