Mimpi Tidak Pernah Mati

Pada akhirnya, mimpi itu tidak pernah benar-benar mati.

Ia hanya diam… menunggu waktu yang tepat untuk bangun.

Aku menyukai mimpi.

Bagiku, harapan adalah sesuatu yang amat penting—bahkan mungkin yang paling penting.

Dan tulisan ini, aku mulai dari sebuah muasal yang sederhana.

Hari ini aku melihat sebuah postingan lama.

Sebuah komunitas triathlon dari kampusku.

Postingan itu sudah lebih dari enam tahun berlalu.

Awalnya biasa saja.

Tapi kemudian aku menemukan sesuatu yang membuatku berhenti.

Seorang wanita, usianya di atas empat puluh.

Ia pernah gagal—DNF, did not finish.

Namun, ia tetap berdiri di sana, mengenakan medali itu karena rasa apresiasi.

Dan rasa penasaranku membawaku lebih jauh.

Aku membuka media sosialnya.

Desember 2025.

Ia berhasil menyelesaikan Ironman.
3,8 kilometer renang, 180 kilometer sepeda, 42 kilometer lari.

Semua diselesaikan di bawah batas waktu 17 jam.

Aku terdiam.

Bukan hanya karena pencapaiannya.

Tapi karena perjalanan di baliknya.

Dari gagal…

Dari pemula…

Dari titik yang mungkin diragukan banyak orang…

Lalu perlahan, ia bertransformasi menjadi sosok yang luar biasa.

Itu bukan sekadar hebat.

Itu adalah definisi seorang Warrior.

Bagiku, seseorang yang pernah jatuh, namun tetap berjalan dengan keyakinannya—itulah warrior sejati.

Jika aku memiliki seribu tangan, maka akan kuberikan semuanya untuk bertepuk tangan untuknya.

Dan di saat yang sama, aku sadar…

Di luar sana, ada begitu banyak manusia luar biasa.

Aku ingin mengenal mereka.

Aku ingin mendengar kisah mereka.

Dan aku ingin memberi mereka penghormatan.

Karena mimpi…

Akan bangun suatu hari nanti.

Dan kini, aku mulai melihat mimpiku sendiri dengan lebih jelas.

Dua atau tiga tahun lalu, aku bahkan tidak pernah membayangkan akan tertarik pada triathlon.

Tapi entah bagaimana, mimpi itu datang.

Pelan, lalu tumbuh.

Tahun lalu, aku mulai mencoba latihan gabungan untuk pertama kalinya.

Dan aku menyukainya.

Bulan depan, aku akan mencoba meraih medali pertamaku dalam sebuah event triathlon di Jakarta.

Tuhan, permudahkan jalanku.

Kuatkan diriku.

Aku tahu, jalanku masih jauh.

Latihanku belum konsisten.

Kesibukan sering menjadi alasan.

Tapi kali ini, aku tidak ingin berhenti hanya karena alasan.

Aku akan tetap berjalan.

Karena suatu hari nanti, aku yakin…
aku akan berdiri di garis finish itu.

Sebagai seorang Ironman.

Dan jika pada akhirnya aku gagal

Setidaknya aku tidak akan menyesal.

Karena aku sudah mencoba.

Karena aku sudah berjuang.

Mimpi bukan untuk diwariskan.

Biarlah setiap manusia merdeka menentukan jalannya sendiri.

Dan semesta akan bekerja dengan caranya.

Aku hanya perlu berjalan.

Let’s go, Rio.

Jakarta, 16 April 2026 Pukul 20.55 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *