Hu

Pada akhirnya, aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari aku akan memikirkan akhir hidupku sendiri.

Apakah ini yang dirasakan oleh seorang kutu buku?

Entahlah.

Aku pernah mengenal beberapa orang yang seolah bisa melihat akhir hidupnya, bahkan masa depan dunia setelah mereka tiada.

Mungkin itu pertanda—bisa jadi musibah, bisa juga anugerah.

Hanya orang itu sendiri yang bisa memaknainya.

Tapi aku adalah aku.

Apa yang kupahami secara teori, belum tentu bisa kulakukan dalam kenyataan.

Tuhan, apakah ini yang mereka rasakan?

Hidup memang hanya sekali.

Terkadang terasa berat, seolah aku dipaksa menjalani ujian di dunia ini.

Tapi menyesal tidak ada gunanya.

Aku hanya bisa terus melangkah, menuju garis akhir kehidupanku.

Apakah aku akan membawa cahaya atau justru kegelapan?

Biarlah waktu dan sejarah yang menjawabnya.

Aku tidak bisa melawan waktu, tidak bisa melawan datangnya generasi baru.

Mungkin, memang sebaiknya aku biarkan takdir berjalan sebagaimana mestinya.

Yang aku takutkan adalah menjadi orang biasa, padahal aku mampu menjadi berbeda.

Di antara miliaran manusia, mungkin aku terdengar egois.

Untuk itu, aku minta maaf.

Aku menulis buku, bahkan membagikannya secara gratis.

Mungkin cepat atau lambat, dunia akan mengenalku—pemikiranku, caraku hidup.

Jika itu terjadi, itu adalah anugerah yang luar biasa.

Tugasku hanya satu: terus maju.

Bahagia, derita, semuanya hanyalah bagian dari takdir yang terus berubah.

Aku mencoba menerimanya dengan biasa saja.

Tuhan, aku serahkan hidupku kepada-Mu.

Tolong, jangan biarkan aku terlalu mencintai dunia yang fana ini.

Aku tidak ingin menyesal di akhir nanti.

Aku tidak ingin tersadar dalam penyesalan saat semuanya sudah terlambat.

Tuhan, apakah Engkau mendengarku?

Apakah Engkau melihat isi hatiku, bahkan ketika aku sudah kehabisan air mata?

Ampuni aku.

Maafkan aku.

Aku berjanji akan terus menjalani hidup ini, menjalani ujian ini.

Berikan aku kekuatan, berikan aku petunjuk yang lurus.

Aku hanyalah hamba yang lemah.

Jika aku bersujud kepada-Mu, apakah Engkau masih menerimanya?

Dunia… Aku sudah menuliskan dalam bukuku bahwa aku meminta maaf atas apa yang mungkin akan kulakukan di masa depan.

Tapi percayalah, aku hanya menjalani hidup sebagaimana seorang pejuang menjalankannya, sebagaimana seorang muslim berusaha hidup.

Aku hanya menjalani takdirku.

Sisanya, biarkan dunia yang menuliskannya.

Jakarta, 4 Mei 2026
22.50 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *