Dalam kesepianku, terkadang pikiranku pergi ke mana-mana.
Aku sering bertanya pada diri sendiri, apakah tahun ini aku masih akan menerbitkan buku lagi?
Dulu, aku pernah berpikir bahwa aku bisa menerbitkan empat buku dalam satu tahun.
Artinya, setiap tiga bulan harus ada satu buku yang selesai.
Pola tiga bulan itu aku pelajari dari buku The 12 Week Year.
Buku itu mengajarkan bahwa orang-orang unggul tidak selalu menunggu resolusi tahunan.
Bahkan, banyak resolusi satu tahun yang akhirnya gagal karena terlalu panjang dan terlalu lama ditunda.
Maka, target itu dipersingkat menjadi siklus tiga bulan agar lebih fokus dan lebih serius dijalani.
Namun kenyataannya, selama dua tahun terakhir aku hanya mampu membuat dua buku dalam setahun.
Itu pun terasa sangat melelahkan.
Aku pernah bertanya kepada ChatGPT, sebenarnya rata-rata seorang pekerja bisa menulis berapa buku dalam setahun?
Jawabannya sederhana: satu buku dalam setahun saja sudah termasuk bagus.
Maka, dua buku dalam setahun sebenarnya juga sudah baik.
Tetapi kemudian aku berpikir lagi, kenapa harus membatasi jumlah buku yang bisa kutulis?
Selama masih ada ide, masih ada tenaga, dan masih ada kemampuan, kenapa tidak menulis lebih banyak?
Pikiran itu terus muncul di kepalaku.
Aku juga sering merasa malu ketika mengingat para ulama terdahulu.
Mereka rela mengurangi waktu tidur hanya demi menulis.
Bahkan ada yang sengaja membuat tempat tidurnya tidak nyaman agar mudah terbangun untuk kembali menulis di malam hari.
Di zaman sekarang memang ada banyak kemajuan, tetapi ada juga kemunduran.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, sebenarnya aku ingin mengikuti yang mana?
Mengikuti standar modern yang serba santai, atau mengikuti semangat para ulama yang menghabiskan hidupnya untuk ilmu dan tulisan?
Aku sadar bahwa jalan menuju surga juga penuh perjuangan.
Dan aku yakin, orang-orang berilmu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan.
Karena itu, menulis bagiku bukan hanya soal hobi.
Menulis adalah usaha meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada umur kita sendiri.
Apalagi sekarang mungkin adalah masa emas dalam hidupku.
Aku masih punya waktu luang, masih punya tenaga, dan pikiranku masih kuat untuk berpikir dan berkarya.
Seiring bertambahnya usia, waktu akan semakin sempit, tenaga akan semakin berkurang, dan daya ingat pun perlahan akan menurun.
Itu hal yang wajar dalam kehidupan manusia.
Aku teringat perkataan Malala Yousafzai, perempuan dari Pakistan itu.
Dia pernah berkata bahwa satu buku dan satu pena bisa mengubah dunia.
Kalimat itu sederhana, tetapi sangat kuat.
Kadang orang berkata, “Menulislah hanya saat ada mood,” atau “Tulislah dengan santai dan mengikuti passion.”
Namun bagiku, itu sering kali hanyalah alasan untuk membenarkan rasa malas dan keengganan untuk menulis.
Sebagai seorang muslim, aku percaya bahwa hidup bukan hanya tentang melakukan apa yang terasa nyaman.
Banyak hal besar lahir dari disiplin dan komitmen.
Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi penghafal Al-Qur’an jika hanya menghafal ketika sedang ingin?
Bahkan orang yang sudah hafal pun tetap harus murajaah agar hafalannya tidak hilang.
Aku percaya pada takdir.
Tetapi aku juga percaya bahwa takdir sering kali berada di ujung ikhtiar.
Karena itu, aku menulis bukan hanya karena suka.
Aku menulis karena aku tahu tulisan bisa hidup lebih lama daripada penulisnya sendiri.
Komitmen adalah sesuatu yang tidak semua orang mampu jalani.
Dan satu hal yang pasti, menulis memang tidak selalu menyenangkan.
Kadang melelahkan, kadang membosankan, bahkan kadang membuat ingin menyerah.
Tetapi menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Jakarta, 15 Mei 2026 Pukul 21.35 WIB
