Aku Ingin Menjadi Seorang Tahfizh

Hari ini aku pikir aku benar-benar mengantuk.

Yaa, selain karena banyak deadline yang telah ku selesaikan dengan baik sebelum jam 12 malam tadi, dilanjutkan aku menonton timnas Indonesia U23 VS Korea U-23 dalam ajang perempat final piala Asia U-23.

Dan pertandingan penuh dengan emosian yang mana aku pikir Indonesia beruntung bisa menang lawan Korea karena banyak drama.

Namun, juga permainan Indonesia begitu bagus juga.

Alhamdulillah, Indonesia maju ke semifinal.

Sekali lagi kita bangga, kita Indonesia.

Lanjut paginya aku ke kantor di daerah Sudirman dan banyak meeting secara online maupun offline.

Kemudian, setelah shalat Jumat aku pun pulang ke rumah.

Yaa, lanjut kerja dari rumah.

Tergeletak

Entahlah, saat ini banyak hal yang menjadi tanggung jawabku.

Banyak banget.

Karena itu, seperti biasa aku ingin makan yang enak, aku pun sebelum pulang ke rumah mampir beli rujak.

Aku pesen ke abangnya ” Cabe nya yang banyak ya bang ” .

Yaa, aku suka pedas tapi sepertinya tadi cabenya kebanyakan.

Sesampainya dirumah, aku buka laptop dan HP untuk melanjutkan pekerjaan.

Setelahnya, aku pun makan rujak yang sudah ku beli tadi.

Rujaknya benar-benar pedas.

Tapi, pada saat itu ya belum terasa.

Setelah selesai, sekitar 30 menitan bahwa langsung berasa sekali di perut, dan akhirnya aku sakit perut dan dilanjutkan dengan muntah.

Setelah muntah, aku tergeletak di kamar mandi dimana saat ini rumah ku kosong, dan muntah lagi lalu tergeletak lagi.

Dalam keadaan tergeletak karena ternyata perut ku sudah tak kuat makan pedas lagi, yang pertama ku pikirkan seperti biasa,

” Apakah sudah saatnya aku mati? ”

Yaa, selanjutnya gambar kedua orang tua ku, mama, papa, ada di benak otak ku.

Ku pikir aku benar-benar ingin masuk surga bersama mereka.

Itu saja pikirku saat itu.

Ya, ku pernah dengar dari ustad bahwa jika seorang anak menjadi penghafal Al-Quran atau Tahfizh maka Allah akan menghadiakan orang tua nya dapat di surga bersama mereka.

Menjadi Tahfizh

Yaa, bisa dibilang mungkin membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk diriku menjadi seorang penghafal Al-Quran 30 Juz.

Tapi, jangankan menghafal Al-Quran, baca Al-Quran saja sesuai dengan tahsin aku masih belum benar.

Ya, sebenarnya hasrat ingin menjadi seorang Tahfizh sudah ada sejak beberapa tahun terakhir.

Tapi, menjadi Tahfizh itu sesuatu yang tidak mudah, ingatlah bahwa cahaya tidak akan datang pada kegelapan.

Artinya, selain menghafal Al-Quran juga mesti menjaga perilaku agar kegelapan tak ada dalam diri kita, terlebih dalam kegelapan terdapat banyak hawa nafsu.

Teman

Aku pikir, aku ialah sedikit orang yang memiliki sahabat yang begitu unik.

Ya, sahabat dekat artinya orang kepercayaan.

Aku mulai dengan 2 temanku saat SMP yang beragama Katolik dan Kristen Advent.

Kemudian di SMA, teman dekatku beragama Hindu dan Kristen Protestan.

Yaa, ada 4 teman ku yang begitu dekat denganku.

Ada juga saat kuliah, temen baik ku yang beragama Budha, tapi tak aku masukkan ke dalam list berikut karena ya memang 4 orang itu yang benar-benar dekat hingga saat ini.

Sepertinya sih gara-gara temen sebangku ya.

Yaa, takdir yang sudah ditentukan.

Jadi, jika ada bisikan bahwa seorang Rio adalah seorang yang anti non islam?

Maka tak perlu kujawab & kau dapat mengecek nya.

Bahwa justru, teman-teman terdekat ku dari agama yang berbeda semua, dan tak ada teman ku yang bersama Islam yang masuk sebagai teman paling dekat ku.

Tapi, aku juga punya teman yang seorang penghafal Al-Quran 30 Juz yang telah memenangkan banyak penghargaan di tingkat nasional & internasional.

Aku bersama temanku yang seorang Tahfizh itu sekitar 2 tahun, karena aku berada di asrama beasiswa yang sama.

Jadi, aku tahu bagaimana keseharian seorang Tahfizh.

Yaa, murojaah selalu setiap habis shubuh adalah cara untuk tetap menjaga hafalan Al- Quran.

Aku pikir aku benar-benar terbantu dengan melihat keseharian nya.

Oh iya, pada saat aku di asrama juga dia guru ngaji ku dimana aku mesti setor hafalan Al-Quran setiap minggu nya.

Namun, aku termasuk murid yang kurang baik, kadang aku belum hafal jadi aku menghindari setoran hafalan.

Untung nya, teman ku termasuk orang yang profesional, dimana setiap sesi dia selesai dia tak akan membicarakan terkait hafalan Al-Quran 🙂

Perjuangan

Entah kenapa menghafal Al-Quran begitu sulit masuk ke otak ku.

Aku pikir aku harus segera introspeksi terkait keimanan lagi, agar menjadi bersih.

Padahal, ketika aku membaca peradaban Yunani, Barat, Amerika bahkan dunia, mudah sekali dicerna.

Tapi, jika mengaji, membaca Al-Quran langsung ngantuk & gampang lupa.

Yaa, aku mesti bersihkan diri lagi agar ilmu cahaya dapat segera masuk ke otak.

Tambahan

Ku pikir setelah pada tahun 2020 aku mendapat predikat lulusan terbaik Insinyur dan Profesi dari Universitas Indonesia.

Serta, pada tahun 2021 aku mendapatkan informasi sebagai Insinyur Profesional Madya termuda di Indonesia.

Serta, masih banyak hal baik lainnya.

Yaa, selanjutnya yang kucari ialah Akhirat.

Orang-orang kapitalis ataupun komunis tak akan benar-benar paham apa yang ku maksud.

Hanya orang yang beriman yang akan paham.

Ya , aku pun sedang kuliah agama, ngaji sama ustad, dan lain nya.

Pendidikan formal, nonformal, informal, aku tempuh agar aku tak termasuk orang-orang yang merugi seperti yang telah dijabarkan dalam Al-quran.

” Ya Allah, permudahkan urusan ku untuk menjadi penghafal ayat-ayat mu. Amin “

Ku tulis dalam notes di HP ku pada hari Jumat, 26 April 2024 pukul 17.55 WIB

Dari Hamba Allah

Rio Agustian Fajarin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *