Mati Sebelum Mati

” Some people die at 25 and aren’t buried until 75 ” – Benjamin Franklin 

Banyak orang mati di umur 25 tapi engga dikubur bahkan sampai umur 75.

Itulah apa yang telah disampaikan oleh Benjamin Franklin.

Kenapa umur 25 ?

Karena umumnya umur 25 ke atas itu orang udah ga belajar lagi.

Umumnya orang-orang udah lulus sekolah dan bekerja, menikah, dan menglewati hari aja.

Ya, menglewati hari aja tanpa ada semangat akan hidup.

Kenapa bisa begini ?

Banyak faktor, contohnya budaya, ekonomi, keturunan, dan lainnya.

Kalo gue ambil contoh dari budaya di Indonesia justru lebih condong quotes ini akan terwujud.

Kenapa ?

Karena umumnya orang Indonesia takut akan mengambil resiko, dia akan mengorbankan idealisme mimpinya demi idealisme keluarga nya.

Makanya, ada yang justru mati ketika baru saja menikah.

” Salah ga sih budaya begini ?

Engga ko, ga ada yang salah, dan emang budaya kita sudah dibangun dengan sistem ini. “

Ciri-ciri orang yang udah mati sebelum mati ya menglewati hari ya lewat aja.

Engga antusias untuk menjalani harinya, hampa bisa dibilang.

Hidupnya bisa jadi yang penting bayar cicilan rumah, kendaraan atau kartu kredit.

Sedangkan nasib nya ?

Ga berubah.

Kenapa ga berubah ?

Karena semua daya nya baik energinya, uangnya, waktunya udah habis duluan sama cicilan-cicilan tadi daripada untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik.

Gimana maksudnya ?

Maksudnya kalo seseorang ingin mengubah dunia maka dimulai mengubah dirinya sendiri dahulu untuk menjad lebih baik.

Contohnya ?

Bisa beli buku buat nambah wawasan mendalam, ikut training untuk menunjang pekerjaan nya, atau usaha bisnis dan masih banyak lainnya.

Akan sangat sulit bagi orang yang memiliki hutang jangka panjang untuk bisa melakukan apa yang disebut akselarasi mengubah nasib.

Tanggapan

Sebenarnya, engga ada yang salah dengan melakukan sistem cicilan dari sudut pandang nalar umumnya, kan mau sama mau.

Tapi, sebagai seorang muslim bahwa apa yang dimaksud sebagai cicilan yang umumnya terjadi untuk kondisi saat ini menurut sepahaman saya bahwa masih masuk kategori riba.

Riba itu sudah jelas dilarang oleh Tuhan.

Lalu, manfaat nya dari riba apa ?

Ya ga ada, makanya dilarang.

Yang didapat ya pasti minimal ketidaktenangan dan sisanya yang udah ngambil tindakan riba bakal lebih ngerti.

Lalu, punya rumah gimana kalo ga makai kredit ?

Yang mana gue tahu.

Yang jelas, di Islam dalam Al-Quran kan engga ditanya elo harus punya rumah di dunia, tapi yang jelas elo diharamkan melakukan riba.

Ya ikhtiar aja bahwa bisa punya rumah secara pembelian tunai.

Kesimpulan

Menurut pemahaman saya bahwa budaya kita makin kesini lebih cendrung menggunakan prinsip kapitalisme.

Semua dinilai dari material.

Bila begini terus, akan banyak orang yang menjadi hampa karena yaudah lewati harinya cuman lewat aja, alias engga punya harapan atau mengwariskan mimpinya ke generasi selanjutnya karena dia sadar bahwa dia udah stuck dalam hidup.

Solusinya ?

Kembali ke Islam.

Percaya itu artinya berharap, bahwa udah ikhtiar dan hasilnya pasti yang terbaik.

Mau berhasil ataupun belum berhasil udah bukan ranah kita, alias ranah tuhan.

Dan, harapan itu amat sangat penting dan jangan sampai kita mati sebelum mati.

Kalo udah terlanjur mati ?

Pasti ga mati alias akan selalu ada harapan bagi orang-orang yang niat, berani, dan bertindak.

The last, dari itu semua tentunya apa yang diyakini setiap orang berbeda-beda, dan budaya emang udah begini, lalu apa ?

Tetap berharap untuk kehidupan yang lebih baik.

Kenapa ?

Karena harapan amat sangat penting.

Sebagai penutup, get busy living or get busy dying.

Thanks & see u !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *