Ya, menulis.
Terkadang aku berpikir apa hal yang ingin aku lakukan hingga hari tua nanti.
Maka, kutemukan bahwa salah satunya ialah Menulis.
Entah kenapa ya, bahwa menulis itu sebuah kebahagiaan ku.
Dan aku pikir bahwa aku punya segala hal untuk menulis.
Menurutku, untuk menulis kuncinya ialah membaca.
Dan kunci membaca ada rasa penasaran pada hal tertentu.
Aku pikir mungkin kalian sebagai pembaca juga mesti berpikir tentang apa aktifitas yang ingin kalian lakukan hingga hari tua nanti.
Hari Demi hari
Ya, pastinya hari-hari ku berlalu dengan menulis.
Menulis untuk buku terutama.
Dan, ga ada buku yang terjadi dalam satu malam, mungkin orang lain ada tapi bukan aku.
Bagiku, bahwa menulis dilakukan hari demi hari.
Memang ada target, tapi juga menikmati proses nya.
Aku percaya pada apa yang aku lakukan.
Kemudian, aku juga punya target ya minimal dalam satu tahun 3 – 5 buku terbit, minimal lah ya.
Yaa, kalo bisa lebih sudah aku anggap bonus.
Artinya kurang lebih 20 tahun lagi, baru target untuk publish buku ke – 100 bisa terbit.
Ya lama ya, ya gapapa, nikmatin saja proses nya.
Syukur-syukur bisa lebih cepat.
Lagi pula, dengan menulis itu juga sebuah legacy.
Tentu, aku juga punya orang-orang rujukan yang menulis buku hingga 100 buku lebih, contoh nya saja Ahmad Rifai Rifaan, atau Chappy Hakim.
Mereka adalah contoh orang-orang yang bisa menulis lebih dari 100 buku. Menganggumkan !
Buku Non Fiksi
Tentu seorang biasanya menulis sesuatu terkait apa yang ia baca, apa yang ia rasakan atau apa yang ia imajinasikan.
Kalo aku sendiri bahwa yang ku baca ialah buku non fiksi.
Jika aku baca buku fiksi ya mungkin saja, tapi perbandingan nya terlalu jauh, bisa 99 ( non fiksi ) : 1 ( fiksi ).
Atas dasar itulah, buku yang ku terbitkan ialah buku non fiksi, tentang keinsinyuran, tentang peradaban, tentang perjalanan atau yang berkaitan dengan diriku.
Karena aku paham nya disitu, bukan yang fiksi.
Lagi, bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Nah, kalo kalian gimana ?
Apa kelebihan kalian dan kekurangan kalian ?
Menurutku bahwa yang terbaik menjawab hal itu ya kalian sendiri.

Keheningan, Perpustakaan, dan para penunjang
Menurutku setiap orang punya caranya masing-masing, begitupula aku.
Aku pikir bahwa aku nyaman sekali menulis ketika saat hening.
Ya, hening memang umumnya di dini hari, pagi hari, atau malam hari.
Benar, tapi ku pikir bisa juga di siang hari tanpa gangguan.
Ya, jika terlalu banyak noise bagiku akan sangat sulit konsestrasi, dan juga kan kalo kerja ga enak juga melakukan sesuatu yang tidak terkait kerja tapi di jam kerja.
Menurutku ya gapapa sih, cuman kurang-kurangin dan sedikit saja ambil porsi waktu tersebut.
Kemudian, perpustakaan.
Bagiku perpustakaan ialah rumah, ya karena banyak buku yang bisa menjadikan referensi.
Dan pastinya, perpustakaan favoritku ialah perpustakaan The Crystal of Knowledge di Universitas Indonesia.
Dari situlah banyak gagasanku lahir.
Ketiga, penunjang. Kalo aku sendiri sih paling minum kopi dan dengerin musik instrumental.
Kalo kopi ya karena ada kafein yang membuat otak menjadi segar.
Kalo musik instrumental ya biar ada musik tapi tanpa terlalu banyak noise atau suara berlebihan.
Ya, itu kan menurutku saja.
Kedepan
Pastinya, aku akan terus menulis.
Menerbitkan buku kedua, ketiga, kesepuluh, keseratus hingga ke sekian.
Ya, atas dasar itulah aku berusaha untuk konsisten menulis.
Dan konsisten adalah hal yang paling susah cuy, asli !
Tapi aku akan berusaha dan terus maju.
Untuk penutup, maka ada quotes tentang menulis yang oke juga buat aku tulis disini.
Tulis saja apa yang ingin tulis, rasakan dengan jiwa mu. Maka, dengan melakukan nya kau telah menjadi seorang Penulis – Rio
Jakarta, 05 Mei 2024
