Hari ini ialah hari Idul Adha, tapi aku sedang sariawan dan aku pikir aku mau mengaktifkan asuransi dari kantor ku.
Hm, asuransi ya, sesuatu yang belum pernah aku coba.
Terkait riwayat kesehatan dan rumah sakit yah pernah aku lalui, bagaimana aku memulai ya.
Mungkin aku ceritakan saja pengalaman ku dan biarkan para pembaca yang ambil kesimpulan.
Rumah Sakit UI
Ya, rumah sakit UI ialah rumah sakit yang gratis bagi mahasiswa-mahasiswi di UI.
Selama kuliah aku sering kesini baik berobat, dan bahkan ada konsultasi kesehatan mental.
Aku juga pernah konsultasi terkait IPK ku yang paduka ( pasukan dua komaan ) terus, ya coba-coba sih tapi okelah buat aku.
Emang benar – benar psikolog sih, jadi rahasia aman.
Aku pikir aku suka dengan pelayanan rumah sakit UI.
Menurutku profesional & cepat.
Rumah Sakit ISOS.
Ya, ini rumah sakit rekanan PT. Freeport Indonesia dan vendornya.
Jadi, menurutku ini rumah sakit yang bagus.
Pelayananya cepat, dokter profesional dan dikasih obatnya banyak banget.
Di rumah sakit ini kita udah ga perlu lagi pusing masalah biaya, karena perusahaan sudah cover semuanya.
Dan yang paling aku suka sih karena cepat sekali ya, mungkin ga banyak pasien yang datang.
Jadi cepat, aku udah pernah coba ISOS di Jakarta dan Tembagapura, dan menurutku ini yang paling bagus dari rumah sakit yang pernah aku alami.
Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah
Kalo ini sih langganan ku, bisa dibilang puskesmas hingga RSUD itu aku yang kesini kalo sakit di rumah.
Alasannya BPJS dan gratis. Dan dari kecil sih udah kesini sih, jadi ya percaya aja.
Tapi yaa kalo dari pelayanan nya ya antri panjang, diperiksa dokter paling 10 menit , dan obat nya template aja.
Kayanya dari aku kecil sampe sekarang itu obat kaga berubah, ditambah Paracetamol yang selalu ada.
Itu kalo Puskesmas, kalo RSUD pasti lebih proper, cuman urus administrasi nya panjang dan sharing kamar kalo aku.
Tapi enaknya ya ga perlu mikirin masalah biaya, karena umumnya sudah ditanggung sama pemerintah.
RS Swasta
Nah, ini aku jarang sih.
Mungkin kalo klinik swasta udah sering tapi kalo rumah sakit swasta ya ini awal- awal.
Ya, sebelum nya aku punya previledge ke rumah sakit universitas, rumah sakit kantor, rumah sakit pemerintah dimana semuanya gratis.
Tapi kalo rumah sakit swasta ada possible untuk membayar.
Dan mungkin memang ada asuransi tapi tetap saja ada possible membayar
Sakit sariawan
Ya, aku berobat kali ini menggunakan asuransi dari kantor.
Bisa dibilang asuransi yang cukup terkenal.
Dan ini aku pertama kali menggunakan asuransi.
Selesai di cek ternyata totalnya Rp. 330 ribu rupiah, mahal sekali.
Sedangkan asuransi aku tercover Rp. 250 ribu, sebenarnya tercover untuk berobat dan biaya administrasi, tapi ada batas tertentu.
Untuk biaya administrasi dan pengecekan dokter saja sudah 100 ribu masing-masing. Buset administrasi hampir 100 ribu, dokter cek yang ngobrol ga sampe 5 menit juga hampir 100 ribu.
Ya, sebenarnya aku kesini coba-coba aja, biar tau rasanya jelas berobat di kalangan menengah gimana.
Toh aku pernah ke rumah sakit yang menengah kebawah, yang diatas juga pernah.
Tapi kalo di kalangan middle income ya kali ini sih.
Sekali lagi, berobat sariawan aja segitu mahalnya.
Akhirnya aku nambah sekitar 75 ribu pakai uang sendiri.
Pandangan ku
Sejujurnya nih ya, menurutku sekarang banyak hal terkait kesehatan yang dikomersialisasi. Terutama, kalangan menengah yang paling terkena dampaknya kalo masalah biaya.
Kalo menengah kebawah bisa dibantu pemerintah, kalo kalangan atas bisa dicover sama perusahaan yang bagus, kalo menengah saja dicover sama asuransi tapi ada batas tertentu nya.
Yaa, menurut ku mahal saja.
Sejujurnya ini membuat jumlah klinik dan rumah sakit swasta subur sekali.
Tapi ini menurut ku yaa, fenomena inilah yang mesti diberesin.
Ini bukan karena aku mengeluarkan uang 75 ribu tambahan buat biaya berobat sariawan.
Tapi, ini karena aku termasuk bagian dari pemuda yang akan menjadi pemimpin negeri ini.
Dan gila aja masa urus administrasi saja 100 ribu,
Yaa itulah RS swasta yang aku alami.
Yaa, ini sih subjektif dan rumah sakit swasta mungkin ga semuanya seperti ini.
Tapi point kesehatan di komersialisasi itu menurut ku sangat jelas dan mesti dibenerin.
Caranya yaa belum tau yaa aku, cuman aku akan bahas detail nya di buku RA Bab 2 terkait kesehatan yang akan terbit di tahun 2025.
Itu dulu deh, pokoknya jaga kesehatan kalian ya :).
Depok, 17 Juni 2024
