Belajar Dari seroang yang bekerja di silikon valley

Hari itu seperti nya hari biasa.

Hari tersebut pada hari Selasa, 27 Agustus 2024.

Banyak sekali drama yang terjadi, dan pada akhirnya aku lah yang menyelesaikan masalah demi masalah.

Ya seperti itu lah aku, padahal masalah itu bukan datang dari aku tapi ya sudahlah.

Gara-gara itu, aku pun tak sempat ke kantor dikarenakan mesti fokus menyelesaikan masalah itu.

Dan ya, setelah selesai waktu pun sudah mulai siang dimana aku tak sempat ke kantor di daerah Sudirman,

Kemudian aku mengingat kembali di hari ini dimana temanku Juan mengingat kan aku bahwa hari ini ada undangan dari orang silicon valley yang akan berbagi pengalaman nya di kampus UI.

Iya, khusus beberapa start up saja yang lulus dalam tahap dana hibah dari kampus UI.

Dan ya, aku pikir aku akan bekerja dari sana.

Jarak rumahku dengan kampus UI itu menurut ku sangat dekat yakni 15 menit saja menggunakan motor.

Aku datang di gedung Direktorat Inovasi dan Science Techno Park (DISTP) UI disekitar jam 2 siang.

Sampai saat ini aku masih mengenal nya sebagai gedung perpustakaan lama UI yang sekarang di renovasi menjadi gedung DISTP UI.

Ada beberapa orang yang datang sekitar 20 orang dalam ruangan tersebut.

Acara pun dimulai.

Acara dimulai dengan pembukaan dari team DISTP UI dan dilanjutkan dengan sesi perkenalan dari Pembicara yakni Pak Bullith.

Pak Bullit Sesariza adalah seorang Development Director Turingsense yang merupakan Startup dari Silicon Valley yang berfokus pada pengembangan IOT dibidang olahraga.⠀

Jika ku cermati apa dari Pak Bullith itu seperti apa ya, seseorang programmer coding yang juga memulai nya dari nol, memulai dari membuat games, kemudian bekerja di sebuah perusahaan games, dan memperkenalkan games nya ke kampung demi kampung.

Dan terus berjalan maju, hingga mengikuti kontest start up, mendapatkan pendanaan dan memulai riset games yang saat ini dapat dijual dengan bebas.

Ya, seperti itulah kira-kira yang ku tangkap dari penjelasan nya.

Tidak ada jalan istimewah, melainkan proses demi proses nya.

Mungkin aku akan jabarkan dalam beberapa point dibawah ini.

Passion

Dimulai dengan passion.

Iya, Pak Bul saja kusebut nya biar gampang.

Itu dari kecil sudah suka games, dan terus ingin main games, dimana dia berencana untuk kuliah ambil jurusan komputer untuk membuat games.

Feedback ku :

Kedengeran nya sih kayanya lurus-lurus aja ya ?.

Tapi menurutku ini benar banget.

Kalo kita melakukan pekerjaan yang kita memang suka di bidang tersebut, ya walau kerja lebih daripada normal, banyak tekanan, tapi kita masih mau berjuang untuk melakukan itu semua.

Hm, itu juga sih yang aku rasakan ketika aku memulai ke insinyuran ini.

Jadi, kita dalam memilih pekerjaan harus sesuai dengan passion kita.

Berani

Ya, Pak Bul itu sama seperi kigta yakni pegawai yang kerja di kantoran biasa, tapi dia dan teman -teman nya bernai untuk membuat jalan baru dengan cara mengikuti lomba start up.

Dan ya, dari situ mendapat pendanaan, presentasi di luar negeri, dan jalan terbuka demi terbuka.

Terkadang, kita hanya perlu membuka satu pintu untuk terbuka pintu lainnya.

Feedback ku : Maju terus !

Menerima Kritik

Ya, games yang dibuat Pak Bul & team itu kaya kita misal nih ikut yoga online tapi nanti kita ikutin gerakan nya.

Nanti ketahuan deh berapa persen gerakan yang kita lakukan apakah sama atau engga.

Awal nya yoga itu bukan urutan pertama sebagai pilihan, melainkan tenis, dan lainnya seperti basket.

Namun, itu terlalu sulit yang dirasakan oleh pak Bul & team nya.

Selain itu juga yang bersedia menggunakan teknologi yang Pak Bul & team bikin itu paling kalangan atlet proseffsional saja.

Sehingga, bisnis tak mungkin sustain jika seperti ini.

Akhirnya di pilihlah Yoga, selain gerakan nya lambat dan juga peminat nya banyak.

Feedback ku :

Iya, terkadang dalam bisnis kita tak perlu terlalu egois.

Alias, memahami market market.

Mana market yang ingin dituju kan. kan ini bisnis ya wajar saja menurutku.

Riset, dan riset

Menariknya Pak Bul & team nya itu selama 5 tahun tak menjual satu pun games nya.

Loh kok bisa ?.

Iya karema culture yang berbeda.

Alias, venture capital masih mau menerima jangka panjang business nya walau belum mendapatkan uang.

Ini juga dalam sesi tanya jawab ku tanya kepada beliau,

” Terus investor dapat duit nya dari mana ? “

Beliau menjawab dari kepemilikan sebagian hak paten.

Iya, dari situ informasi yang ku dapat.

Jika dibandingakn dengan negara Indonesia ya masih jauh, masa iya kita mau kasih duit dan selama lima tahun kita selaku investor ga dapat pemasukan uang, dan hanya mendapat laporan pekerjaan ?

Nah itulah bedanya dengan kita.

Mereka sudah maju, mereka mau menunggu, dan mereka saling percaya satu sama lain.

Semoga suatu hari nanti Indonesia perkembangan pendanaan venture capital nya dapat seperti ini.

Feedback ku :

Ini epic sih, masa iya kita kasih duit buat orang belajar dan belum tentu berhasil ?.

Tapi fakta begitu, di negara-negara maju sudah menerapkan seperti itu.

Selain itu, juga perusahaan yang mendapat uang tersebut juga terus melakukan riset inovasi untuk dapat mengwujudkan mimpi nya.

Bayangin saja lima tahun ga ada penjualan dan hanya inovasi ?.

Gila ini, lama banget. tapi semua terbayarkan ketika berhasil.

Ini masih epic sih menurutku.

Go Global

Saat ini, Pak Bul itu tinggal di Indonesia dan paling 6 bulan sekali ke Amerika.

Hal ini karena perusahana nya sudah existing. Terus aku nanya ke beliau

” Cara kerja nya gimana ? “.

Dan dia menjawab yakni dengan meeting online seminggu sekali, dengan tim yang di itali juga seminggu sekali, dengan tim di USA seminggu sekali dan ada monthly meeting yang bersamaan.

Feedback ku :

Jadi, zaman sekarang kita ga perlu ketemuan offline selalu, selama goals tercapai ya cukup.

Dan tentu, kompetensi bahasa sangat penting yakni dalam ini bahasa inggris.

Dan menurutku acara seperti iu bagus sekali ya, memang jika kita mau maju harus mendapat perspektif baru juga, terutama dari negara maju.

Dan ya, setelah nya aku makan di Fakultas Ilmu Budaya ( FIB ) bersama temanku untuk membahas start up kami.

Dan ketika aku di kantin FIB, aku melihat generasi baru yang terus tumbuh, artinya usiaku akan terus bertambah dan muncul lah generasi baru demi baru.

Ini juga membuat aku sadar bahwa kesehatan ku juga makin tua akan makin lemah. Jika aku terlalu terlena maka kesehatan ku akan habis begitu saja.

Aku harus bergegas, bergegas membuat sesuatu yang bisa aku lakukan selama aku masih sehat !

Foto bersama Pak Bullit Sesariza Setelah acara selesai

Jakarta, 27 Agustus 2024

Pak Bul, aku akan ke Silicon Valley !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *