Aku lihat jam handphone, dan ternyata aku terbangun pukul setengah empat pagi.
Iya, aku terbangun tanpa alarm.
Rasanya tubuh sudah memanggil saja kalo mau shubuh.
Setelah nya aku bangun dari kasur ku, mandi, dan ku lanjutkan dengan tahajjud 2 rakaat selama 2 kali.
Sembari menunggu adzan shubuh, aku berberes kasur dan perabotan rumah.
Adzan shubuh pun terdengar.
Aku langsung bergegas ke mushola yang jaraknya sangat dekat dengan rumahku.
Hanya satu menit dengan jalan kaki.
Setelah shubuh, ku lanjutkan membaca Al Matsurat Sugro sekitar sepuluh menit.
Kemudiann, aku berjalan keluar rumah sekitar lima ratus meter dengan tanpa alas kaki seperti biasa.
Sampai rumah masih pukul setengah enam pagi.
Tapi badan ku rasanya ngantuk sekali, ku lihat depan rumah ternyata gerimis, gerimis yang lama.
Akhirnya ku tidur kembali di kasur, dan baru benar-benar bangun pukul setengah sembilan pagi.
Sebenarnya aku udah tahan ngantuk, di setengah sadar ku tahu bahwa aku tak kuat tidur malam.
Alias jam sembilan malam biasanya aku udah tidur, makanya mesti bangun.
Namun, di pagi itu, dengan rintihan hujan yang membasahi bumi, aku benar-benar ngantuk.
Sebelum aku memulai cerita hariku pada hari ini.
Aku kembali pada cerita ku di hari kamis di blog ini yang berjudul A Day With A Warrior.
Ketika aku membagikan link tersebut, banyak sekali yang memberikan apresiasi positif.
Umumnya seperti ini :
” Wah jarang – jarang anak muda main blogger “
Maka ku jawab
” Iya, Alhamdulillah Pak “
Namun, aku teringat jawaban ku ketika hari kamis malam saat sesi sharing buku dimana aku mendapat pertanyaan
” Bang Rio, bagaimana cara percaya diri dalam menulis buku ? “
Maka ku jawab panjang dan detail.
Namun, pada intinya aku menjawab :
” Aku membuat tulisan untuk persiapan ketika aku wafat.
Ini akan menjadi legacy “
Benar, andaikan dunia trend nya tidak menulis, maka aku hanya perlu memulai apa yang ku bisa lakukan, yakni menulis.
Sisanya trend terkait dunia, ya menyesuaikan saja.
Namun menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Ok, kembali ke pagi ini.
Tentu, awalnya aku ada janji jam delapan pagi dengan Pak Dayat, seorang pengusaha madu yang sudah ku kenal lebih dari pada tujuh tahun yang lalu.
Namun, di jam setengah sebelas pagi ini, aku ada ketemuan dengan salah satu orang yang ku idolakan yakni Prof Rhenald Kasali.
Tentu, akhirnya karena jam sudah menunjukkan jam sembilan, pilihan untuk bertemu dengan Prof Rhenald Kasali itu yang ku utamakan.
Oh iya, makan nasih uduk dulu dengan rendang yang sudah ku beli di hari kamis kemarin 🙂

Bertemu dengan Prof. Rhenald Kasali
Awalnya aku melihat di sosial media bahwa Prof Rhenald mengudang secara umum ke acara rumah perubahan nya untuk ngobrol santai.
Tentu, itu gratis dan aku daftar.
Sejujurnya Prof Rhenald Kasali itu dalah satu idolaku dan itu sudah ku sampaikan dalam buku terimakasih jilid 1 : Terimakasih kepada para penulis buku.
Dan di perpustakaan ku itu banyak sekali bukunya beliau.
Tujuan ku datang ke acara tersebut ya karena ingin foto bersama beliau dan memberikan buku karya ku.
Iya hanya itu saja.
Setelah mandi, aku pun langsung ke rumah perubahan yang ternyata jarak nya hanya sekitar 25 menit dari rumah ku.

Jarak yang begitu dekat.
Aku sampai di sekitar jam sepuluh pagi.
Dan ya, acara baru dimulai di jam setengah sebelas.
Aku pun datang sebagai peserta yang paling pertama.
Sembari menunggu Prof Rhenald, aku pun minum kopi yang sudah ku buat terlebih dahulu saat di rumah.
Sebuah kopi hitam Gayo robusta yang panas lalu ku masukkan es batu.
Sebuah minuman yang segar sekali.
Sembari minum kopi, aku check out di marketplace online.
Iya aku membayar sesuatu yang kemarin aku sudah pesan.
Apa tuh ?
Iya perlengkapan main golf, seperti sepatu golf, celana golf, dan sarung tangan golf.
Tentu, yang harga nya paling murah.
Yang paling penting buatku ya penting bisa berfungsi.
Kalo mau bagus, ya harga puluhan juta pun ya ada saja.
Intermezzo
Ketika aku menceritakan bahwa aku kembali ke medan golf pada cerita A Day With A Warrior.
Tentu, aku mendapat sambutan yang hangat dari teman-temanku untuk bermain golf bareng.
Dan setelah menerima chat itu.
Aku baru sadar bahwa di alumni FTUI, alumni kampus ku ada komunitas golf.
Pas aku cek memang, ada dan sangat aktif.
Tapi insting ku mengatakan aku akan gabung kemereka bukan pada pertengahan tahun ini.
Entah, kenapa.
Yang jelas cepat atau lambat, aku pasti gabung mereka, sebuah komunitas yang memang adalah bagian dari takdirku.
Kemudian, tentang membeli baju.
Jujur saja, sudah lebih dari lima belas tahun aku tak pernah membeli baju lebaran.
Ku pikir dalam keluarga ku, tak ada tradisi itu.
Ya terjadi seperti itu.
Dan mungkin selama lima belas tahun pun, aku pun tak membeli baju lebih dari pada lima belas baju.
Biasanya aku membeli saat ada kepentingan saja, seperti baju muslim, baju timnas, baju adat daerah tertentu ataupun yang ada kepentingan saja.
Memang, ini tak memperhitungkan baju yang ku dapat saat aku ikut event lari.
Sisanya, biasanya dikasih.
Dari siapa ?
Biasanya dari saudara ataupun teman kantor, baik bekas ataupun baru.
Hm, ga pernah minta sih, tapi dikasih saja, ya sudah diterima & terima kasih.
Kembali ke cerita, akhirnya prof Rhenald datang, dan jumlah peserta munkin sekitar 30 an yang hadir.
Aku duduk di bangku yang depan karena aku datang di awal.
Saat mulai pun aku menyadari bahwa Prof Rhenald begitu banyak ilmu yang dibagikan, ini baru pengantar.
Setelah nya, pertanyaan pun dibatasin, dan aku mendapat kesempatan bertanya.
Jujur saja, awalnya aku tak ada niatan bertanya.
Namun, prof Rhenald memantik kata pengantar yang tajam tentang kondisi dunia.
Aku pun mulai bertanya dengan pertanyaan tajam
Aku bertanya :
” Banyak pejabat sekarang seperti para direktur BUMN itu menjadi target dari KPK, ku sebut nama mereka semua.
Hal ini menurut penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari luar negeri, mereka bekerja lurus saja tanpa mengikuti politik kehendak pemerintah.
Dan di level menteri pun terjadi yang berakhir dengan pemecatan menteri, pahadal menteri tersebut bagus kerjanya, dan memperhitungkan secara nominal uang pada kebijakan tertentu.
Bagaimana sikap kita ?
Iya sikap kita saat menjabat seperti itu ?
Kemudian Prof Renald menjawab.
Dia menjawab :
” Dalam setiap masa ada yang masa tertentu, seperti zaman Soeharto dengan masa para ekonom yang kita kenal dengan mafia Berkeley, pada masa Habibie dengan masa teknokrat nya, masa Megawati dan SBY dengan masa para konsultan hukum nya, dan masa Jokowi hingga sekarang dengan masa para politikus nya.
Saat ini masa yang naik ialah masa politikus, jadi ya seperti itu. “
Kemudian Prof Rhenald memberikan nasehat kepadaku, yang tak bisa ku ceritakan disini namun akan ku pertimbangkan.
Hingga jawaban itu selesai, nama-nama yang kusebutkan di awal tidak disinggung oleh beliau.
Ya, memberikan jawaban yang jelas tanpa menyudutkan nama tertentu adalah sesuatu yang luar biasa.
Ku pikir itu salah satu hal yang ku pelajarin hari ini.
Memang beliau luar biasa.
Oh iya, sebenarnya jarang sekali aku mau ikut agenda yang sifatnya umum.
Kenapa ?
Karena menurut ku terlalu ramai dan aku kurang mendapatkan manfaat.
Namun, untuk penulis yang ku memang idolakan itu berbeda.
Walaupun aku dan Prof Rhenald berasal dari kampus UI, faktanya aku tak pernah bertemu dengan beliau.
Kenapa ya ?
Entahlah, aku juga dulu tak mencari beliau sih jadi ya takdir saja.
Pertanyaan dari peserta yang lain pun juga dijawab dengan baik.
Hingga akhirnya waktu menunjukan jam setengah satu siang dan acara pun selesai.
Aku pun memberikan buku RA Jilid 1 Perpustakaan ku kepada beliau dan berfoto bersama.

Setelah pulang, aku lanjutkan ke tempat madu Pak Dayat.
Entrepreneur
Ya, perjalanan ke tempat Pak Dayat dari Rumah Perubahan pun juga dekat, tak sampai 30 menit sudah sampai.
Namun, perutku sudah lapar dan aku mampir ke mie ayam dan makan dengan harga 15 ribu rupiah.

Setelah makan mie ayam, aku membeli kue dari Holland bakery sebagai ada bawaan saja kerumah nya.

Sesampai nya di rumah Pak Dayat, ada mahasiswa yang sedang dibina untuk magang di tempat Pak Dayat sekitar 3 bulan.
Melihat kedatanganku, mahasiswa tersebut kemudian dibina oleh anaknya Pak Dayat, dan Pak Dayat pun langsung menemuiku.
Sudah lebih dari tujuh tahun tak bertemu dan ya ditanya aktifitas ku.
Hingga kemudian ke topik inti dimana berbicara mengenai bisnis.
Iya, ku pikir, aku akan mengaktifkan kartu ku sebagai pengusaha.
Sesuatu yang sudah lama tak pernah aku lakukan.
Sejak aku dikenal sebagai seorang Insinyur, rasanya personal branding itu sudah menempel begitu kuat.
Namun, jangan lupa bahwa aku juga pernah menjabat sebagai ketua bisnis di UI.
Kenapa bisa begitu ya ?
Sederhananya, karena mereka memilih ku, itu sih.
Ya, menjadi pengusaha pejuang, pejuang pengusaha.
Kemudian, kami pun foto bersama dan nantinya akan update secara berkala.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga dan aku belum sholat Zuhur, sesampainya di rumah aku pun langsung sholat Zuhur.
Setelahnya aku pergi ke pasar.
Iya, ke pasar dimana setiap Minggu aku kesana, dalam hal ini aku membeli kopi Gayo.
Ke pasar
Jarak rumah ku ke pasar itu juga dekat, hanya lima menit saja menggunakan motor.
Saat sampai di pasar, aku hampir menabrak anak kucing.
Ku parkir motor, dan melihat anak kucing tersebut.
Pantas saja di tengah jalan, ternyata kucing itu terluka, mungkin habis kesempret motor sebelumnya.
Akhirnya, aku geser anak kucing itu ke bahu jalan.
Selanjutnya, aku pergi ke tukang kopi.

Di tukang kopi ini aku udah langganan lebih dari 5 tahun dan ya ngobrol biasa saja.
Aku membeli kopi Gayo robusta 250 gram dengan harga Rp. 50.000.
Dan aku juga ingat kucing yang tadi sih.
Setelah membayar kopi aku meminta kantong plastik.
Kembali ke motor ku, dan aku lihat ternyata anak kucing itu merangkak ke jalan lagi,dan memang arah yang dia tuju itu ada kadang kucing sih.
Ku lihat memang ada anak kucing lainnya & yang besar yang mungkin itu ibunya yang menatapku seakan meminta anak kucing tersebut dipindahkan ke sebelah bahu jalan yang jarak nya sangat tinggi.
Ya sudah, ku lakukan saja.
Jika tak ku lakukan, mungkin anak kucing tersebut sudah mati karena terlintas motor ataupun mobil yang lewat.

Kecil kan mana keliatan, namun kalo di kandang & bersama keluarga nya setidaknya dia bertahan hidup lebih lama.
Pulang dari pasar, waktu sudah menunjukkan Ashar dan selanjutnya aku sholat Ashar di mushola.
Setelah itu, aku menuju ke arah jalan raya Kelapa Dua – Margonda.
Tapi, aku mampir dulu ke JNE.
Soalnya sebelumny aku beli sepatu trail run cuman salah ukuran.
Iya kesalahanku, mestinya ukuran 43, cuman yang ku pesan & datang ukuran 39.
Untung nya bisa di retur ukuran dan dikembalikan ke tokonya hehe.

Laptop dan Kacamata
Iya, aku berangkat untuk membeli charger salah satu laptop ku yang rusak.
Sebelumnya sudah ku WA tokonya, namun tak dibalas.
Pas sesampainya di toko nya yang berlokasi di jalan Kelapa Dua depan Universitas Guna Darma, Abang yang sudah lebih dari 10 tahun langgananku pun nampak.

Oh ternyata bosnya dia sudah bangkrut, makanya nomor itu tak membalas.
Pantas saja kaya beda ruko, iya ruko sebelah nya dia pindah, alias pindah kerja ke toko sebelah yang masih ada.
Setelah itu aku ke arah Margonda untuk membeli kacamata ku yang begitu dah.
Menuju ke Mall DETOS tempat ku beli kacamata, ternyata hujan dan aku mampir ke rumah makan Padang sederhana.
Yasudah makan, eh habis di angka Rp. 60.000.

Setelah hujan turun, di motor aku sadarin, nyesel juga beli makan sendiri dengan harga segitu.
Sayang duit wkwk.
Tapi udah terlanjur kan, yasudahlah.
Sesampai nya di toko kacamata, aku pun disambut hangat dengan keluarga toko tersebut
” Eh Mas Rio datang “.
Iya suami, istri, dan karyawan nya pun menghampiri ku.
Bisa dibilang aku sudah langganan 3 tahun di toko ini, alasan nya karena murah dan ya oke aja.
Tapi ketika aku sampai pun yang terjadi aku banyak diceramahin.
” Jangan sampai hilang lagi ya mas “
Ya, ya, dan ya.
Ku dengar saja.
Ku pikir mestinya sebagai toko yang menjual kacamata mestinya senang ketika ada pengunjung yang datang untuk membeli kacamata.
Ini kalo aku yang datang, kayanya banyak nasehat dah, aku seperti yang tertuduh.

Sebuah hubungan yang aneh antara customer dan penjual.
Kadang memang pas aku ditanya, mereka meminta aku mengajari bagaimana menggunakan chat GPT dan semacamnya.
Ya aku ajarin saja.
Sesampainya dirumah sudah magrib, dan aku magrib di rumah lalu langsung ke gym.
Jarak gym juga dekat, 5 menit lah dari rumah menggunakan motor.
Aku baru sadar kalo gym yang di kampung itu disebut gym Majapahit, ya murah sih 160 ribu sebulan.

Iya kadang lebih sebulan juga sih, kaga pernah ditagih soalnya wkwk.
Tapi di gym, kok cape rasanya, jadi cuman 25 menit habis itu aku beli beras dulu langsung pulang ke rumah.

Di rumah ya menulis tulisan ini dan setelahnya ada beberapa lagi sih.
Ku pikir itulah cerita ku hari ini.
Terkadang aku berpikir tentang apa yang aku share, ini perlu ga ya ?
Membuat cerita seperti ini tuh buat ku agak cape karena di dokumentasi sih hehe.
Dan gapapa, ya kehidupan ku ya begini, ada saja dinamikanya.
Bagi beberapa orang, mungkin aku keliatan produktif, tapi engga juga kok.
Aku hanya memadatkan aktifitas ku pada saat ada matahari.
Umumnya waktu berakhir untuku itu saat magrib pada hari itu, sisanya sih ya bonus dikit-dikit deh.
Selesai dan tidur deh.
Bentar-bentar.
Bayar wifi rumah sama bayar air PAM juga sih hari ini wkwk.
Selain itu, ada dua grup yang kulihat seru hari ini, kenapa ?
Ya karena ada event saja.
Pertama, grup FTUI Runner dimana ada event Bintaro Loop lari 120 dan 200 KM dalam 2 hari.
Ada yang Did Not Finish ( DNF ) dan ada yang berhasil.
Itu gila sih.
Awalnya aku mau ikut yang 60 Km, tapi sadar diri alias ga siap di tahun ini wkwk.
Ini membuat ku takjub dan ketawa, katanya sih ngapain gue kaya gini, tapi nanti daftar lagi tahun depan wkwk.
Kedua, yang grup KSR PMI Jaktim, ya biasa regenerasi alias wawancara kandidat.
Pastinya lancar itu mereka karena sudah biasa dilakuin.
Ok, itu dulu ya, cape juga ngetik di notes HP ini hehe. Makasih ya udah baca 🙂
Karena setiap orang yang pantang menyerah adalah seorang WARRIOR
Jakarta, 04 Mei 2025 Pukul 20.59 WIB
