Mataku mulai terbangun dari tidurku.
Ku liat layar handphone ku dan jam masih menunjukkan jam setengah dua pagi.
Kemudian, aku buka WhatsApp ku dan ada beberapa chat grup yang masuk.
Aku buka beberapa yang memang ada kepentingan dengan ku.
Maklum, di handphone ku itu ada ratusan grup yang bahkan sudah ku arsipkan lebih dari seratus grup.
Biasanya, ketika ada yang mencari ku, bisa dengan melalui tag di WhatsApp ataupun dengan personal message ke aku.
Tapi, ku lihat engga ada kalo sekarang.
Sepertinya pesan yang ku balas tadi malam itu di sekitar jam delapan malam kemarin.
Ya, aku buka beberapa grup.
Ada yang masih kerja, ada yang masih larian, ada yang masih rapat organisasi.
Umumnya, kesibukan dunia.
Setelah nya, aku mulai memejamkan mata untuk kembali tidur.
Di momen – momen ini biasanya banyak hal yang terlintas di pikiran.
Sebuah kejernihan muncul dari keheningan.
Seperti, hari ini mau ngapain ya ?
Kalo misalkan ada agenda yang ga begitu penting di pikiran ku, ya di cancel aja jadinya.
Ya begitulah lah.
Selain itu, juga banyak hal yang umumnya ku pikirkan di waktu pagi ini.
Biasanya badan ku mulai bangun itu di jam empat pagi, tapi pagi ini tumben di jam setengah dua pagi.
Hm, aku juga udah pasang speaker alarm di handphone ku dan jam welkerku.
Maklum, kalo alarm hp biasanya lewat alias kebablasan.
Sehingga, pada saat momen yang menurut ku penting, aku membawa jam welker agar aku on time bangun nya, bahkan jika aku sedang ke luar kota.
Tapi, mataku tak bisa tidur.
Akhirnya, aku kembali membuka handphone ku dan ku lihat sosial media ku.
Hingga ada postingan tentang temanku dimana tanpa sengaja aku melihat postingan nya di bulan Maret tahun ini tentang wisuda dia.
Ya, wisuda sebagai lulusan yang membacah tilawah dengan benar dari sebuah pesantren.
Dan, ternyata pesantren itu ialah tempat ku juga yang mana aku masih mengaji disitu.
Dalam tulisan nya, dia bercerita tentang mengaji nya dia selama enam tahun di tempat itu.
Tentu, aku mengenal nya dia sejak kuliah dan memang dia adalah sosok yang luar biasa.
Kembali ke mengaji
Itu membuat aku menjadi refleksi tentang kenapa aku mengaji.
Tapi sebelum itu, mungkin aku mulai dari awal.
Sejak kecil, aku juga sudah mengaji, mulai dari baca iqro.
Ya, bersama teman-teman di rumah.
Habis magrib, aku dan beberapa temanku pergi ke tempat guru kami mengaji.
Namun, aku pernah berpindah tempat mengaji.
Seingatku ada tiga tempat aku pindah mengaji.
Tapi itu juga durasinya bukanlah yang cepat, tapi sekitar enam tahun sepertinya.
Alasan pindah kenapa ya ? Lupa.
Ada yang ngaji pagi lah, ada yang sore lah.
Ya beda-beda sih.
Tapi kalo yang terakhir itu pas aku kelas lima sampe enam SD itu di habis magrib.
Ya, habis magrib aku dan teman-teman ku mengaji ke rumah guru yang mungkin jarak nya lima belas menit dari rumah dengan jalan kaki.
Cowok semua, ada yang sepantaran usiannya dengan ku, ada yang lebih tua, ada yang lebih muda.
Setelah sampai di lokasi mengaji, seingatku membaca iqro dan nanti nya maju secara bergantian dengan level nya masing-masing.
Setelah selesai, ya pulang bareng lagi sekitar jam setengah delapan hingga delapan malam.
Itu kalo engga nongkrong.
Kalo nongkrong ya macem-macem.
Bisa perang sarung dulu, bisa main bola atau apapun lah.
Hingga aku mencapai lulus iqro di kelas 6 SD dan masuk ke level bacaan Al Qur’an.
Saat itu, aku sebenarnya udah merasa bahwa di kelas 6 SD tapi baru masuk level membaca Alquran itu udah kaya ketuaan.
Padahal yang masih kelas 4 SD aja udah masuk level membaca Alquran.
Ya merasa aja, tapi selesai disitu.
Terkadang, hidup di lingkungan juga menyesuaikan kan.
Apalagi kerjaanku hanya bermain saja.
Ketika teman-teman ku pada mengaji, dan aku tidak, ya ditanya dong kenapa ga ikut.
Jadi, ikut saja.
Setelah itu, aku pun pindah rumah dan masuk ke SMP.
Periode SMP hingga SMA ya benar-benar ga mengaji.
Tapi di periode ini, aku mulai berubah.
Yang biasanya rangking lima terbawah kini jadi rangking peringkat awal awal di sekolah karena sudah suka baca buku.
Macam-macam lah baca buku nya.
Tapi tidak ada kaitan dengan Alquran.
Lagi pula, kalo sekadar membaca Alquran aku udah bisa, jadi ga merasa ada yang kurang ataupun tertinggal dari orang lain.
Setelah nya, aku masuk kuliah.
Di kuliah, aku daftar beasiswa berpretasi yang aku juga mesti asrama alias mondok.
Singkat cerita, aku diterima beasiswa tersebut.
Kegiatan asrama macam-macam.
Mulai dari tahajjud, shubuh berjamaah, baca zikir pagi lah dan macam – macam.
Saat disanalah aku sudah merasa ada yang kurang.
Beberapa teman ku ada yang sudah hafal Al Qur’an 30 juz, ada juga yang beberapa juz.
Berbeda dengan ku, jauh lah.
Kalo jadi imam juga terasa berbeda sekali, terutama saat tahajjud.
Mereka yang memiliki kemampuan Alquran lebih baik, membaca ayat Alquran yang panjang – panjang dan kadang aku juga engga tahu ayat atau surat apa yang dia ucapkan.
Sedangkan aku, ya surat-surat pendek saja.
Tapi, namanya kan juga mondok ya, di gembleng buat lebih baik kedepan nya.
Kemudian, terkadang dalam dua Minggu ada setoran hafalan Qur’an.
Saat agenda ini, kadang aku balik kerumah dan izin tidak menginap wkwk.
Biasanya ini tuh di Jumat habis shubuh.
Ya rasanya sulit sekali setoran hafalan.
Belakangan juga aku menyadari bahwa alasan sulit menyetor hafalan karena waktu kita bersama Al Qur’an saja yang masih sedikit.
Singkat cerita, aku lulus dari asrama berbarengan dengan lulus dari kampus.
Hingga aku kerja merantau.
Ya, merantau ke Papua.
Saat itu ada hasrat ingin kembali mengaji lagi.
Ngomong – ngomong tentang mengaji atau yang biasa kami sebut liqo ( Dalam bahasa artinya lingkaran dari bahasa arab ), itu macem – macem.
Ada yang liqo tentang pembinaan kepemimpinan, ada yang tentang ilmu Al-Qur’an, dan sebagainya.
Di cerita ini, aku menceritakan liqo khusus ilmu Al-Qur’an.
Kembali di Papua, aku cek beberapa tempat rekomendasi dari teman ku via internet, dan ku hubungin tempat nya, tapi tidak ada kelas online.
Saat itu, tahun 2020an awal masih belum ada kelas online untuk mengaji secara umum.
Hingga di 2020an akhir sudah mulai banyak kelas mengaji yang membuka secara online dikarenakan pandemi yang tak kunjung usai.
Tapi, waktu di Papua berbeda dua jam dengan di Jakarta.
Tentu, ini sangat berpengaruh dengan ku.
Jika mengaji di jam enam pagi waktu jakarta, di Papua sudah kerja karena sudah jam delapan pagi.
Kalo mulai di jam delapan malam waktu jakarta, di Papua sudah jam sepuluh malam.
Aku pernah mencoba di kelas lain yang bukan kelas Alquran, tapi ga kuat ey.
Akhirnya, ya ga ngaji lagi.
Kemudian, aku pindah kerja di jakarta.
Hasrat ngaji belum kepikiran kembali.
Mulai kembali itu di tahun 2024.
Dan ya, di tempat yang dulu aku mendaftar.
Alasan memilih tempat itu karena aku punya teman yang ngaji disitu, lokasi nya juga dekat, dan ku liat juga bagus secara kurikulum.
Aku mendaftar di kelas online di pagi hari.
Pas di kelas, aku yang paling muda saat itu.
Banyak yang usianya jauh lebih tua dari ku, ada yang usianya 60 tahunan dan umumnya itu usia 40 hingga 50 tahunan.
Profesi nya pun macam-macam ada yang jadi dosen, pensiunan, kerja, dan lainnya.
Mungkin karena masih muda, sehingga aku jadi ketua kelas nya.
Ini berlangsung sekitar 7 bulanan alias 2 kelas.
Umumnya satu kelas itu durasi nya 3,5 bulan.
Waktu kelas pun juga menyesuaikan dengan kuota pelajar.
Misal, aku yang dulu di kelas Selasa jam enam pagi, setelah nya pindah ke Sabtu pagi.
Alasannya ?
Karena di Sabtu pagi ada level ku yang belajar juga.
Kalo aku ikut di Selasa pagi, sudah beda level dan kalo mau ikut ya bisa saja, cuman kurang efektif saja menurut ku.
Karena kan dengan waktu yang sama tapi dibagi dengan level yang lain.
Ok, aku dari tahun 2024 sampe sekarang, sudah satu tahun lebih lah ya konsisten hehe.
Aku pun juga kadang ga naik level, karena ujian nya belum lancar ataupun karena jumlah absen yang kurang.
Ya, kalo mau selesai ya selesai aja kan, kan ga ada yang nyuruh ngaji wkwk.
Tapi seorang Warrior ga semudah itu dalam berjuang.
Kita datang untuk belajar kan, buat apa ? Buat bisa dong.
Jadi, sekarang ngaji nya udah offline setiap Sabtu pagi, biar apa ? Biar lebih fokus saja, terlebih saat ini kan aku juga masih di Jakarta.
Kemudian, juga kadang merasa malu.
Malu kenapa ?
Kita baca buku beraneka ragam, tapi yang menuntun kita hingga kematian dan akhirat ya Al-Qur’an.
Masa cuma mau level bisa sekadar doang sih.
Tentu, alasan utama aku ingin mendalami Alquran itu karena aku mendengar bahwa penghafal Al-Quran itu bisa mengajak kedua orang tua nya masuk surga secara langsung.
Dan sekeluarga ku juga ingin nya.
Intinya surga sih.
Lagi pula siapa sih yang ga mau masuk surga ?
Semua hal didunia ini kan hanya tools buat masuk surga.
Terlebih, banyak kata-kata dari guru ku yang nendang juga.
“ Masa sih ente kaga malu ga bisa ngajarin anak Alquran nantinya? “
” Pemimpin ga bisa ngaji, malu ente ! “
Ya macam – macam lah.
Maklum, aku dikader untuk menjadi seorang pemimpin.
Menjadi pemimpin artinya memiliki tugas dan kewajiban yang lebih berat dari orang secara umumnya.
Tapi itu alasan dari luar, kalo alasan dari dalam diri ya ingin surga.
Kembali ke postingan teman ku itu.
Aku pun saat ini masih ngaji, masih berusaha.
Aku ga mau jika sudah tua tapi bisa dibilang masih minim lah ilmu agama nya.
Kalo bisa dimaksimalkan, kenapa tidak ?
Ilmu agama kan ilmu sepanjang hayat.
Bisa dibilang, masih jauh lah perjalanan ku untuk menjadi hafidz Alquran, dalam hal ini 30 juz.
Tapi, ya gapapa.
Perbanyak waktu dengan Alquran saja saat ini.
Aku pikir, itu dulu kali ya.
Jam sudah menunjukkan jam setengah empat pagi, dimana aku mesti bersiap buat lari di Depok run 5 Km.
Ya, happy-happy aja sih hehe.
Semoga aku dan kalian semua konsisten tentang mengaji.
Jakarta, 22 Juni 2025 Pukul 03.30 WIB
Salam
Rio
Oh iya, selamat ulang tahun kota Jakarta :).
Btw, jam di website ini standar USA time, jadi beneran 22 Juni kok ditulis nya 🙂
