Ikut UI Ultra 2025 : Thankyou

Hari ini Minggu, 04 Januari 2025, aku mengikuti event UI Ultra 2025 yang berjudul Thankyou.

Sekarang jam menunjukan jam setengah dua siang, aku baru bangun tidur.

Rasanya, kepalaku sakit sekali.

Iya, habis lari dan pulang kerumah di jam sembilan, rasanya kepalaku sakit sekali.

Biasanya, setelah merasakan ini aku tahu satu hal bahwa, aku belum minum kopi hitam lebih dari 20 jam.

Aku tahu tentang diriku, tentang tubuhku.

Aku seperti sudah ketergantungan kopi.

Dulu, ini pernah terjadi padaku sebelumnya.

Jika kau tertarik, cari saja tulisan ku tentang aku ingin berhenti dari kopi.

Namun, rasanya aku ingin makan rujak dulu.

Iya, makan pedas.

Terkadang, makan pedas itu menjadi mood booster ku dalam menangani sakit kepala ini.

Terkadang tahu gejrot, terkadang beli rujak, terkadang bikin rujak sendiri ataupun kadang makan ayam penyet yang pedas.

Rasanya, itu bisa mengurangin rasa sakit kepalaku.

Walau, beberapa kali rasa pedas itu justru berlebihan yang membuatku sakit perut dan pernah sekali muntah.

Biasanya juga, langsung minum obat promag yang mana membuat lambungku lebih stabil ataupun minum susu.

Iya, rasanya perut udah ga kaya dulu lagi.

Ini mungkin karena dulu periode tahun 2020 & 2021, aku benar-benar makan sehat.

Maklum, dulu kerja di tambang dan tertahan disana karena pandemi.

Sial sekali, pertama kali ngerantau, langsung tertahan lama.

Tapi, itulah hidup.

Banyak hal yang kita siap dan banyak hal yang memang engga siap, tapi terjadi.

Hm, mulai dari mana ya ?

Mungkin aku mulai dari 2 hari sebelumnya, hari kamis.

Aku mendapat informasi bahwa ada race UI Ultra yang di adakan di hari Minggu ini, 04 Januari 2026 dan gratis.

Memang di poster ada gratis mendali bagi para finisher.

Selanjutnya, ya gratis daftar aja kan.

Aku pun juga menginformasikan ke grup Whatsaap & ada yang personal chat ke teman ku, teman kerja, dan komunitas yang aku aktif ikutin untuk lari yakni FTUI Runners & Taman Mini Running Club.

Selanjutnya, hari berlalu dan di esoknya hari sabtu malam, aku tidur cepat.

Iya biasanya habis isya jam delapan malam.

Alasan nya sederhana, biar bangun lebih awal karena ikutrace kan.

Hari Minggu pagi pun tiba.

Iya hari ini, aku bangun jam 3 pagi.

Sebelumnya, aku udah beli martabak keju, buat dimakan malam kemarin dan hari ini dipanasin dengan microwave untuk dimakan.

Aku panaskan microwave nya dan ku lanjutkan makan dulu.

Setelah makan, mandi dan dilanjutkan sholat & ku siapkan peralatan yang siap untuk bertempur.

Aku minum enervon c, iya setiap hari sih & tambahan tolak angin wkwk.

Kemudian, bikin kopi, bawa air putih dan bawa tas yang di pinggang.

Ku pikir sudah siap ya.

Dan pastinya panaskan motor dulu sebelum terbang.

Setelah selesai, aku pergi untuk sholat berjamaah di masjid dekat rumah ku, dan selesai aku langsung berangkat dari rumah di sekitar jam 04.40 WIB.

Jarak antara rumahku dan tempat lari itu sekitar 37 menit.

Artinya, aku sampai di jam 05. 20 WIB.

Tapi sebelum aku lanjut tulis, izin kan aku membuat kopi hitam dulu.

Kopi sekarang yang ku punya yakni kopi toraja.

Iya beli di pekan ini di daerah rumah ku di pasar tradisonal.

Harganya 37.500 / 250 gram.

Biasanya aku beli kopi hitam itu kaya Toraja, Gayo, dan yang lain lupa namanya,

Cuman itu sih yang paling murah, bisa bertahan 10 – 14 hari.

Beberapa beli yang merek terkenal, bukan karena mau beli, tapi karena kadang dapat voucher dari kantorku, ya namanya gratis ya kujual atau kugunakan juga, salah satunya beli kopi.

Bentar, masak air panas dulu, masukin kopi ke gelas & sekalian tuang es batu.

…….

Kopi sudah selesai, dan kini dia ada di samping laptopku.

Ok, tadi sampai mana ya ?

Biar ku lanjtukan lagi.

Aku tuh datang di jam 05.20 pagi dan rasanya dari tempat parkir itu sudah ramai sekali orang berdiri dan menuju tempat race.

Ya sama dong, setelah parkir, aku l;angsung kesana.

Bahkan, aku tinggalkan kopi ku di motor, yah ga diminum jadinya saking buru-buru wkwk.

Aku datang di jam 05.28 WIB kayanya.

Setelahnya, belum sampai 2 menit, sudah ada puluhan yang mengantri di belakang ku.

Padahal, menurut info bahwa registrasi itu dimulai jam 05.30 WIB.

Ya cuman karena gratis aku datang lebih pagi saja, biasanya jarang sekali datang pas awal registrasi.

Cuman benar keputusan ku kali ini, bahwa rame kali ini.

Katanya mendali hanya sampai untuk 400 orang pertama.

Aku bingung apakah aku masuk atau engga untuk mendapatkan mendali.

Yang jelas, mungkin masuk itu juga paling di nomor-nomor akhir saja.

Tapi yowislah, masih ada harapan.

Aku infoin di grup teman-teman ku, jelasin keadaanya, dan teman yang datang jam 6an, udah pasti mendingan ku rekomendasikan untuk keluar aja dari barisan ini.

Karena aku aja yang mengantri lebih dulu saja belum tentu dapat.

Beberapa ada yang langsung saja keluar barisan dan lari di Car Free Day.

Aku ngantri panjang ey, kondisinya udah chaos itu, panitia yang sedikit, informasi yang ga jelas, banyak penyerobot, dan udah ga kondusif pokoknya.

Ku lihat beberapa panitia ada yang ku kenal, tapi ku sapa saja dan biarkan saja dia bertugas.

Akhirnya peserta dihitung, secara urutuan gitu, aku juga ga tahu aku urutan ke berapa.

Seingatku, itu sudah 100 orang yang masuk, karena antrian itu bergerak maju.

Dan sisa tinggal 300 saja.

Dihitung sama panitia, aku dapat di angka 78, aku ga tahu apakah itu 278 ataupun 378.

Seingatku, mestinya 278 dikarenakan total sudah masuk 100.

Jelas sekali, bahwa antrian bergerak maju & informasi kuota tinggal 300.

Tapi, pas aku mulai mendekat itu udah ga kondusif.

Panitia nya marah-marah lah, dan barisan yang udah ga rapi juga.

Akhirnya pas maju, aku dapat tapi kaya tinggal 5 terakhir.

Untung masih dapat.

Sudah jelas sekali, banyak yang masuk di depan ku.

Ada juga yang di depan ku, tapi akhirnya ditegur sama yang di belakang ku, dan aku baru sadar kenapa ada orang ini ya.

Pas ditanya dia juga bingung, katanya barisan udah ngacak.

Alahh, nyerobot saja kau.

Cuman ya dijelasin bahwa kita bergrup bu, jadi sih ibu itu mengerti dan keluar dari barisan.

Chaos, itulah yang menggambarkan keadaan antrian tersebut.

Aku dapat di jam 06.30 WIB, sejam aku berdiri.

Ya karena antrian dan dapat nomornya sudah habis, sisanya di belakang ya bubar, dan race mulai jam 06.40 WIB.

Ini masih masuk ontime sih.

Yowislah, lari dulu aja.

Anjir lah rasanya, udah lama gue ga lari, pegel ey.

Tapi kalo cuman 7 Km, masih sanggup dan ada lari & ada jalan.

Oh iya, gue itu lari biasanya kaga pakai strava, cuman salah satu resolusi gw kedepan pakai strava juga biar ke record.

Ini mungkin karena HP gw itu, memori udah penuh, udah pasti aplikasi yang ga begitu berguna ya gw uninstall dulu.

Pasti ngerti lah ya wkwk.

Terus sampai di finisher itu jam delapan kurang deh.

Aku pun menukarkan kupon nomor dengan mendali & refreshment.

Bagi yang ga punya kupon, dapatnya refreshement saja.

Katanya, yang dapat kupon yang datang belakangan, mendalinya juga habis, hayooo gimana tuh wkwk.

Setelah nya foto dong, dan ini foto nya :).

Habis itu mau balik, cuman gue lupa ga bawa dompet, dimana tadi masuk parkiran nya pakai struk dan bayarnya infonya pakai e-money & sejenisnya.

Pas ditanya orang rumah, dompet emang ketinggalan.

Yowis lah nyarap bubur ayam & es teh manis dulu saja bareng teman di situ.

Lanjut pulang, dan aku tanya dulu ke petugas katanya Qris cuman bisa dari aplikasi Gopay saja.

Ya sudah uninstall aplikasi lain, install gopay, dan kirim uang.

Murah juga sih parkir 6000 aja.

Yowis, palaku pusing sekali aku langsung pulang saja.

Pas sampai rumah di jam 9 pagian itu di grup rame terkait kekecewaan terhadap race ini.

Memang ini race gratis dan mungkin ini so far selama gue lari 3 tahun lebih ini termasuk yang paling buruk sih.

Baiklah mari kita beda versi gue wkwk.

  1. Pendaftaran yang dibuka kurang dari 3 hari. Ini sih dadakan banget ya dimana ternyata yang daftar membludak sekali. Dan mungkin panita dari awal menyiapkan mendali itu hanya 400 saja, tapi lupa mungkin untuk menutup form registrasi. Tadi tuh yang datang mungkin 2000 an lebih.
  2. Jumlah panitia yang sangat minim sekali. Alhasilnya, banyak yang nyerobot, banyak yang ga denger informasi dan akhirnya panitia kelelahan sendiri.
  3. Sejujurnya kalo emang jumlah terbatas ya bisa dibilang di filter aja, yang pendaftar 300 pendaftar pertama saja, atau bahkan di filter saja misal hanya untuk internal alumni UI saja.
  4. Itu panitia hitung urutan peserta juga ga ngasih tanda, alias cuman inget di kepala aja, mestinya di kasih tanda kaya kupon, kemudian tali warna atau sejenisnya. Alhasil, gue aja yang ngerasa dari ” Oh masih ada 20an orang di belakang gue yang dapat “, jadi tinggal lima terakhir. Buset dah.
  5. Misal nih ya, panitia udah kondisi seperti itu, setelah menghitung sampai 400 orang di antrian pertama, ya sisanya dibubarkan lah. Buat apa antri kan, kalo ga dapat. Rantai komando ga jalan sih.
  6. Misalkan masih mau dilanjutkan, yaudah peserta suruh bayar aja misal Rp. 50 ribu kemudian nanti mendali dikirimkan ke alamat peserta.
  7. Kalo emang ga siap, di infoin aja pas malam lewat sosial media, email, atau whatsapp bahwa di cancel aja. Kasihan kan sudah sampai disana tapi ga dapat mendali.
  8. Ya kalo dilihat kombinasi yang kurang pas di panitianya. Panitia yang sudah tua-tua, terlihat dari rambutnya. Ya muda ada ga ya ? ya tadi engga ngeliat sih, dan mungkin ada, cuman aku ga ngeliat.
  9. Ya kalo dilihat dari panitia yang ku kenal, itu mah udah berpengalaman ya sebenarnya, cuman emang ga siap aja, dan rantai komando yang kurang jelas aja. Tapi jika dibandingkan dengan ku, ya jauh ya, para senior itu jauh lebih berpengalaman
  10. Oh iya, ditambah bawa nama UI lagi. Aku sering kali disampaikan seniorku, bahwa jaga nama baik & marwa kita sebagai alumni UI. Dan jujur ya, itu ngaruh si gue. UI itu kampus yang menyandang nama negara, dia mestinya menjadi pelopor kebaikan dalam negara ini. Ya itukan versi gue wkwk,

Tapi emang kuncinya tadi di kesiapan sih, terkadang niat kita baik, tapi ga siap, bahkan yang tadi orang kompeten kalo ga siap, ya habis juga.

Gue juga selalu sepakat bahwa inkompetensi itu membunuh banyak orang loh.

Banyak orang sekarang itu bukan di “The right man on the right place”

Orang Indonesia memang baik sih, cuman asas profesional juga jangan dilupakan.

Negara ini negara yang paling banyak ceramah di dunia, ya karena jumlah islamnya paling banyak, walau sekarang nomor 2 sih, ya begitu.

Ceramah doang.

Kita memaklumin namanya premanisme kaya parkir liar, orang dalam lah, menyogok lah.

Buset emang, benar-benar.

Contoh nih ya, elo kalo mau kaya jangan kerja jadi abdi pemerintah.

Abdi pemerintah itu uang nya dikit, tapi punya impact yang besar karena melalui kebijakan.

Kalo elo mau kaya ya masuk private sector, kaya bisnis, kerja di swasta.

Cuman ya ga tenang karena based by performance dimana bisa di pecat lebih mudah.

Dan kalo elo mau punya nama ya main di sektor ketiga, kaya yayasan, komunitas semacamnya.

Lo bisa punya nama nya cuman uang nya belum tentu ada.

Ya contohnya Anies Baswedan deh.

Negara ini masih lah terlalu jauh dari negara berperadaban tinggi.

Tapi, memang kunci kemajuan adalah menerima dulu, baru maju.

Tanpa menerima, kita hanyalah akan mencari-cari alasan saja.

Oh iya setelah minum kopi, rasanya kepalaku sudah kembali normal.

Bener-bener lo ya kopi.

Tapi, alhamdulillah.

Sekarang jika aku bertanya pada kalian, apakah kalian siap mati hari ini ?

Orang-orang yang siap mati kapan pun, adalah orang yang paling siap hidup.

Dia yang tak terlekat dunia akan bisa terbang bebas, dia yang terikat dunia hanya akan terikat.

Apakah kau akan menerima sesuatu yang sementara dan menggantikan sesuatu yang pasti.

Jika kau tak mampu pada suatu hal, janganlah ambil itu.

Kita harus tahu batas diri kita masing-masing.

Jika amanah diberikan pada orang yang tidak tepat, hanya akan terjadi kekacauan saja.

2026, aku akan menulis juga, dan tentu aku akan mencoba konsisten untuk install strava atau mungkin harus beli HP yang baru kali ya wkwk.

Oh iya, katanya dengan menulis mengurangi rasa sakit kepala, aku sepakat dengan itu.

Dan terima kasih sudah membaca.

Jakarta, 04 Januari 2025 Pukul 15.01 WIB

2 Replies to “Ikut UI Ultra 2025 : Thankyou”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *