Sebenarnya apa yang dimaksud menjadi seorang muslim.
Terkadang pertanyaan itu selalu menghantui dalam otakku.
Terkadang pula aku sudah menemukan jawaban yang sudah ku tetapkan.
Namun entah saja bahwa pertanyaan itu tetap saja menghantui dalam pikiran ku.
Menjadi muslim ya.
Hm, pertanyaan itu seakan menjadi pengingat yang terus berulang dalam otakku ku.
Ya, setelah pertanyaan kapan aku mati, maka pertanyaan tentang menjadi seorang muslim selalu ada dalam otakku.
Muslim adalah seorang yang berserah.
Seorang yang tunduk pada Nya.
Seseorang yang rindu akan kematian dan siap bila datang.
Seseorang yang berikhtiar hidup mulia atau mati terhormat.
Seseorang yang bertujuan menjadi pemimpin di muka bumi dan menjadi hamba tuhan.
Dan masih banyak sekali pengertian menjadi seorang muslim yang bisa ku sampaikan.
Bahkan mungkin aku bisa menulis ribuan definisi menjadi bagaimana menjadi seorang muslim.
Namun, dari semua jawaban itu, pertanyaan itu selalu muncul dalam kepalaku.
Muslim.
Muslim.
Muslim.
Bagiku, menjadi muslim adalah nikmat yang paling berharga dalam hidupku.
Terkadang pula, teorinya sih sudah benar tapi buat menjalankan saja yang terkadang rasanya sulit sekali.
Menjadi muslim ya.
Aku paling sepakat bahwa menjadi seorang muslim adalah menjadi orang yang paling rindu dengan kematian & bertemu surga di akhirat, tempat manusia berasal.
Dunia yang ada sekarang ini adalah ujian yang nabi Adam memulainya.
Sial sekali bahwa aku melihat banyak pertanyaan tentang alam semesta ini yang mungkin belum bisa terjawab dalam kehidupan ku.
Mungkin, itu akan menghabiskan banyak dekade yang banyak pertanyaan ku tidak bisa terjawab.
Layaknya Isaac Newton yang sudah meramalkan bahwa akan ada teori yang akan melewati teori nya sekitar dua ratus hingga 300 tahun kemudian.
Dan akhirnya, sosok yang ditunggu pun muncul yakni Albert Einstein dengan teori relativitasnya.
Mungkin banyak hal didunia ini yang memang tak pernah terjawab saat manusia itu masih hidup.
Ah, adil juga ya.
Bagi yang tidak beriman, akan sulit memahami konsep ini.
Bagi yang beriman rasanya mudah sekali.
Sederhana sih sebenarnya nih ya, menuju surga itu murah loh, bisa ke masjid, puasa, sedekah dan lainnya.
Kalo menuju neraka sebenarnya yang mahal, mau mabok, narkoba, ataupun mau males yang habisin uang aja.
Sial sekali kehidupan ku ini.
Bahwa di usia yang masih muda ku ini bahwa aku sudah mulai melihat akhir kematianku.
Namun, akan lebih sial bila aku tak menyadari kenapa aku hidup ini.
Hidup yang sangat singkat.
Hidup yang hanya sifatnya ujian.
Dan atas dasar itulah, aku harus maju terus untuk menjemput kematian ku.
Sehingga, ketika aku mati, aku rasa aku sudah tenang.
Ya, aku sudah menjalankan tugasku sebagai seorang manusia di waktu yang sangat singkat ini.
Semoga aku menjadi orang yang beruntung.
Namun, tetap saja, terkait dunia ya.
Aku takut bahwa aku jatuh cinta pada dunia.
Jelas sekali, bahwa sekarang aku masih menaruh dunia fana ini di tanganku bukan dihatiku.
Buktinya ?
Aku menulis curhatan ini dan para pembaca bisa tahu posisi ku dalam kehidupan ini mengambil posisi apa.
Manusia yang rindu kematian.
Namun, aku tak akan menampik bahwa aku takut bahwa aku jatuh cinta pada dunia ini, pada manusia ini, dan pada segala hal yang menjauhkan aku dengan Nya.
Ya Allah, tunjukkan lah kami jalan yang lurus.
Jakarta, 01 April 2026 Pukul 21.20 wib
