Saat itu, aku membaca sebuah tulisan dari seorang warga Indonesia yang sudah lama bermukim di negara Inggris tentang pandangan nya terkait event marathon di Indonesia.
Katanya, marathon di Indonesia itu ga cocok, alasannya karena cuaca Indonesia yang panas.
Dan ya, kota Jakarta pun juga panas.
Jika sudah lebih dari jam 8 pagi maka biasanya waktu nya saja sudah panas.
Padahal, event marathon itu biasanya memiliki durasi waktu 6-7 jam.
Jika kita mulai waktu standar umumnya di kota Jakarta dimana start marathon mulai dari jam 5 pagi, maka baru selesai di jam 12 siang.
Ya, lebih dari 50 % waktu event lari kota Jakarta itu cuaca yang panas.
Jawaban ku
Aku sepakat dengan itu.
Namun, ada yang dia lupa bahwa seorang pelari atau yang biasa kita sebut Runner adalah seorang Warrior atau dalam bahasa Indonesia artinya pejuang.
Seorang warrior adalah seorang yang tidak pernah menyerah terhadap apa yang diyakini nya.
Ok, ditambah Kota Jakarta, kota tercinta ku lagi diserang dengan pertanyaan itu, hehe.
Pertanyaan ku, ” Apakah kau berpikir kenapa ada orang mau ikut event lari di benua Antartika dimana suhu nya begitu dingin ? “
” Apakah kau berpikir kenapa ada orang mau ikut event lari di gurun Sahara dimana suhu nya sangat panas ? “
Mengerti ?
Karena mereka adalah Warrior.
Seorang Warrior adalah seorang yang tak pernah menyerah.
Lagi pula, manusia akan terus berjuang.
Jadi, jika kau menganggap bahwa negara Indonesia ataupun kota Jakarta tak cocok dengan event marathon, mungkin dia sendiri lah bukan seorang Warrior.
Tidak ada seseorang yang memaksa untuk seseorang untuk ikut event marathon ataupun event lari.
Itu berasal dari dirinya sendiri.
Itu lah tanda bahwa mereka adalah seorang Warrior.
Terkait masalah kesehatan, ataupun yang berasal dari luar kendali kita maka itu sudah tugasnya event organizer yang mengadakan nya.
Harapan Baru
Saat itu, aku sedang di Yogyakarta.
Ya, sedang dinas kerja, namun pagi hari nya aku lari di jalan Malioboro dengan menggunakan Jersey dari hasil event UI Half Marathon pada tahun 2023.
Kemudian, ada seorang Runner yang berusia 60 tahunan menyapaku.
Kami pun berbicara sebentar sambil berdiri dan dia menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang nenek-nenek yang sudah pensiun tapi aktif lari.
Iya, dia menyapaku karena di tahun 2024 itu dia juga sudah daftar event lari di UI dalam dalam BNI UI Half Marathon 2024.
Atau pada saat aku ikut marathon pada event pocari sweat tahun 2024.
Jujur saja, aku mau menyerah.
Menyerah asli.
Itu event marathon pertama ku.
Padahal baru ikut event half marathon 2x tapi aku langsung ikut yang marathon.
Al hasil, aku sudah siap memangil tim medis dan menyatakan rasa nyerah ku.
Tapi setiap ke tim medis yang jarak nya mungkin sekitar 2 km dari setiap 2 km, itu aku selalu dikasih semprotan hansoplas agar aku tidak mengalami kekeraman dan selalu ada suporter menyemangati.
” Ayo Mas “
Akhirnya, maju lagi.
Maju lagi.
Maju lagi.
Itu sekarang sih jadi bahan tertawaan ku kalo aku ingat sekarang.
Padahal mah saat itu, sakit ey.
Hingga di kilomoter sekitar 30an itu, di tengah – tengah aku rasanya sudah ingin menyerah.
Namun, ada seorang bapak-bapak usia 58 tahunan yang menyemangati ku.
Dengan bapak yang berjuang dalam event Marathon di Pocari Sweat Marathon
Maju terus, jika cape, jalan dulu aja.
Seiring berjalan nya waktu, kami pun ngobrol.
Bapak itu bercerita bahwa dia mulai dunia lari ini sekitar 2 tahunan, dan ini marathon pertama nya.
Bahkan, saat hari kerja sebelum ikut event marathon ini, dia sudah disemangati oleh satu divisi grup kantor nya untuk ikut event marathon ini.
Selain itu, tadi pagi sebelum event dimulai dia juga sudah mengupload foto diri nya dan teman-teman nya untuk bersiap ikut marathon ini.
Aku mengerti.
Ya, ada beban moral juga yang dipertaruhkan.
Belum sampai disitu, bahkan anaknya pun juga ikut ke kota Bandung dari kota Jakarta dimana untuk support bapak nya.
Iya, dalam beberapa kilometer itu, anaknya sudah menunggu di titik tertentu untuk memberikan energi gel tambahan untuk bapaknya.
Energi gel itu kaya asupan energi buat mengisi energi kembali saat ohlaraga.
Aku pun dikasih energi gel, aku mencoba pertama dalam hidupku.
Ya, memang ada energi tambahan sih ataukan hanya mindset ?
Hehe belum mengerti.
Akhirnya kami pun lari kecil, jalan lagi dan seterusnya.
Menurut ku waktu kami ga kan cukup karena hanya 6 jam saja.
Namun, bapak itu tak menyerah dan aku pun lanjut saja.
Antara perasaan malu terhadap semangat bapak itu dan perasaan entah gimana.
Yang jelas, aku hanya terus membuat kaki ku terus bergerak kedepan.
Mataku dan otak ku masih jernih, namun rasa sakit di kaki tak bisa membohongi.
Menjadi pelari yang kategori akhir dalam mencapai garis finish dengan area rute yang sudah sepi
Jalanan pun sudah sepi, artinya sudah banyak peserta yang sudah mencapai finish dan event sudah mau selesai.
Saat itu, jalanan kota bandung sangatlah padat.
Dan ya, kami mencapai garis finis dengan waktu lebih dari cut off time.
Namun, panitia yang berbaik hati tetap memberikan mendali dan baju finisher.
Setelah itu, aku ke medical arena dekat garis finish.
Ya, kaki ku dipijat, dikasih batu es, dan istirahat sebentar.
Sebelumnya aku ga pernah sampai ke medical.
Sedangkan bapak itu kelihatan nya sehat -sehat saja.
Alhamdulillah.
Baju finisher dengan mendali 42 K
Hingga saat ini aku juga tak ingin mengatakan bahwa marathon di Pocari Sweat tahun 2024 adalah marathon yang bisa ku selesaikan.
Kenapa ?
Ya karena lebih dari cut off time yakni lebih dari 6 jam.
Oh iya aku lupa, setelah event marathon bapak itu juga tetap semangat untuk event yang lainnya.
Namun, kami adalah Warrior.
Seseorang yang tak menyerah dan tetap berjuang pada apa yang diyakini nya.
Euforia
Menurut ku makin kesini dunia lari makin gila saja.
Tapi dalam hal ini aku ingin menceritakan dalam hal yang positif.
Sekarang bahkan di jam 4 pagi ataupun malam masih ada saja yang lari.
Ketika aku berangkat kerja dari daerah Jakarta Timur ke daerah Sudirman sudah pasti ada yang lari.
Yang membuat ku terkesima juga kadang, ada orang yang obesitas lari sendiri, ada yang lari sendirian bahkan di tengah hujan.
Dan masih banyak hal yang membuat ku terkesima dalam dunia lari ini.
Ada yang bahkan mencapai mimpi nya melalui lari.
Oh iya, yang usia 70an pun juga masih luar biasa semangat nya dalam lari ini.
Orang-orang tersebut adalah orang yang punya karakter.
Hey bung, jika kau ingin santai rebahan saja di kamar.
Tapi, Warrior adalah berbeda.
Sekali lagi, untuk menutup tulisan ini.
Aku ingin berterima kasih pada keadaan dunia lari saat ini.
Sebuah euforia yang baik dan kurasa euforia ini belum pernah kurasakan sebelum tahun 2020 an kebawah.
Terima kasih telah menjadi Warrior.
Dari ku yang juga salah satu Warrior.
Salam WARRIOR Jakarta, 13 Mei 2025 Pukul 20.30 WIB Rio