Terkadang dalam hidup, banyak hal yang kita inginkan—banyak sekali.
Dalam beberapa situasi, kita menjadi bimbang antara kebutuhan dan keinginan.
Bahkan, ada kemungkinan kita salah mengambil keputusan di antara keduanya.
Jujur saja, aku pun masih banyak belajar untuk hal ini.
Banyak sekali keinginan yang ingin kucapai, padahal apakah itu benar kebutuhan atau bukan, belum tentu juga.
Terkadang, apa yang kita butuhkan sebenarnya tidak terlalu rumit, alias simpel.
Kalau kita terbiasa makan nasi uduk dan memang mampu-nya nasi uduk, tidak perlu memaksakan membeli roti.
Kalau kita mampu menikah secara sederhana, tidak harus berutang untuk sesuatu yang melebihi kemampuan, ya sederhana saja.
Jika kita merasa belum mampu memiliki rumah, jangan dipaksakan mengambil utang jangka panjang.
Banyak sekali contoh lainnya.
Sejujurnya, semua itu berasal dari keinginan manusia itu sendiri.
Banyak orang berpikir bahwa rezeki tidak ada yang tahu ke depannya.
Namun kenyataannya, utang itu pasti, sedangkan rezeki tidak hanya berupa uang—ada kesehatan, lingkungan yang nyaman, dan banyak hal lainnya.
Terlebih lagi, jika kita meninggal dan masih memiliki utang, maka itu akan ditagih di akhirat.
Mungkin dalam beberapa situasi, ada keluarga atau pihak yang memberi utang yang mengikhlaskan.
Namun, hati manusia siapa yang tahu, kan?
Lagi pula, itu berada di luar kendali orang yang sudah meninggal tersebut.
Percayalah, tidak memiliki utang itu menenangkan.
Dan ketenangan itu mahal harganya.
Bagi yang masih memiliki utang, mari kita niatkan untuk bebas dari utang tersebut.
Perasaan merdeka dan tenang itu luar biasa nikmatnya.
Kalau keinginan, tentu banyak.
Namun, mari kita usahakan satu per satu.
Tidak apa-apa jika orang lain menganggap kita lambat atau bahkan gagal.
Setiap orang memiliki titik awal yang berbeda.
Bahkan, banyak di antara kita yang memulai dari minus.
Dan mungkin, tidak semua orang akan menjadi kaya secara finansial—belum tentu.
Yang penting, kita fokus pada diri sendiri dan tidak perlu memikirkan hal negatif dari orang lain.
Jika memang sudah menjadi takdir kita, maka itu akan terjadi.
InsyaAllah, dengan doa dan ikhtiar, satu per satu jalan akan terbuka.
Sekali lagi, ketika kita dihadapkan pada pilihan antara kebutuhan dan keinginan, utamakan kebutuhan terlebih dahulu.
Jika sudah terpenuhi, maka perlahan keinginan juga akan tercapai.
InsyaAllah.
Jakarta, 09 April 2026
Pukul 06.50 WIB
