Hatiku mulai bergetar.
Setiap kali mengingat bahwa marathon itu tinggal satu bulan lagi, keraguan perlahan muncul.
Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah aku benar-benar sudah siap?
Hari sebelumnya, aku baru saja menerbitkan dan membagikan buku ketujuh ku, BARAKAH.
Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan.
Berbulan-bulan menuangkan pikiran akhirnya berbuah menjadi sebuah buku yang bisa dipegang banyak orang.
Bersamaan dengan itu, muncul juga rasa lega, seolah satu beban besar telah selesai kutunaikan.
Namun, setelah semua euforia itu berlalu, datang sebuah pertanyaan yang terus menghantui.
“Setelah ini… aku harus melakukan apa?”
Aneh rasanya.
Ketika satu mimpi tercapai, justru muncul ruang kosong yang harus diisi.
Saat ini hanya ada satu jawaban di kepalaku: Marathon bulan Agustus.
Terakhir kali aku mengikuti marathon adalah pada tahun 2024, di Pocari Sweat Marathon.
Saat itu aku memang berhasil mencapai garis finis dan mendapatkan jersey finisher.
Namun aku gagal melewati cut-off time yang telah ditentukan.
Secara resmi, aku bukan seorang finisher marathon.
Karena itulah, hingga hari ini aku tidak pernah mengaku sebagai seorang marathoner.
Bagiku, marathon bukan hanya soal menempuh jarak 42,195 kilometer.
Marathon adalah tentang menyelesaikannya sesuai aturan perlombaan.
Kini, dua tahun telah berlalu.
Apakah aku akan gagal lagi?
Aku melihat informasi perlombaan.
Cut-off time-nya enam jam tiga puluh menit, tiga puluh menit lebih lama dibandingkan Pocari Marathon dahulu.
Harapanku kembali tumbuh.
Sejujurnya, aku sangat ingin menyelesaikan marathon ini.
Bukan hanya karena ingin mendapatkan medali, tetapi karena lomba ini diadakan begitu dekat dengan rumahku.
Lebih istimewa lagi, garis start dan finisnya berada di Universitas Indonesia, kampus yang telah memberikan begitu banyak warna dalam hidupku.
Aku ingin mendapatkan medali marathon pertamaku di tempat yang begitu berarti.
Pagi pun datang.
Sinar matahari mulai memasuki rumah, tetapi aku masih terduduk diam.
Ada rasa malas, ada rasa ragu.
Haruskah aku mulai berlari lagi?
Namun aku sadar satu hal.
Semakin lama aku menunda latihan, semakin besar peluang kegagalanku nanti.
Waktuku hanya tinggal satu bulan.
Aku akhirnya berangkat menuju Kampus Universitas Indonesia.
Tempat yang kelak akan menjadi saksi perjuanganku.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi.
Matahari sudah cukup tinggi dan udara mulai terasa panas.
Anehnya, masih banyak pelari yang berlari mengelilingi kampus.
Melihat mereka, semangatku sedikit demi sedikit mulai bangkit.
Aku melakukan pemanasan, lalu mulai berlari.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu langkah-langkah berikutnya.
Kali ini aku tidak menggunakan Strava.
Entah mengapa aplikasinya terus bermasalah.
Aku tidak tahu apakah yang salah aplikasinya atau telepon genggamku.
Untuk sementara, aku memilih mengabaikannya.
Yang terpenting adalah terus bergerak.
Sambil berlari, pikiranku terus dipenuhi berbagai macam rencana.
Aku harus mulai latihan setiap hari, mungkin dari pukul lima sampai tujuh pagi.
Aku harus mengatur pola makan.
Aku harus membuat jadwal latihan.
Bahkan, sempat terpikir untuk bertanya kepada ChatGPT agar dibuatkan program latihan yang paling memungkinkan.
Belum juga menempuh tujuh kilometer, aku sudah mulai berjalan.
Bukan karena benar-benar kehabisan napas.
Hanya saja kakiku seolah meminta berhenti.
Aku tertawa kecil dalam hati.
“Buset… kalau marathon itu 42 kilometer, berarti hampir enam kali putaran luar UI. Ini baru belum satu putaran penuh saja aku sudah mulai menyerah.”
Di tengah langkah-langkah itu, muncul ide lain.
Bagaimana kalau perjalanan menuju marathon ini kutulis menjadi sebuah buku?
Bukankah itu menarik?
Lalu aku tersenyum sendiri.
“Kalau gagal, malu juga ya…”
Namun tak lama kemudian aku menggeleng.
Tidak apa-apa.
Seorang penulis tetap harus menulis, apa pun hasil akhirnya.
Justru mungkin kegagalan itu pun bisa menjadi cerita.
Karena itulah aku memutuskan untuk tidak menulis tema lain dulu.
Untuk sementara, aku ingin fokus pada satu hal: marathon.
Semua energi, waktu, dan pikiranku akan kuarahkan ke sana.
Meskipun begitu, kesibukan dunia tetap saja berdatangan tanpa henti.
Pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai urusan lain seakan terus berebut perhatian.
Lalu aku berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri.
“Kalau aku terus mengeluh, apakah aku akan menjadi lebih kuat?”
Tentu tidak.
Yang kutahu tentang marathon hanyalah satu hal.
Musuh terbesar bukanlah jarak.
Bukan pula cuaca.
Melainkan diri sendiri.
Hari pertama latihan ini mungkin belum memuaskan.
Bahkan bisa dibilang gagal.
Ah…
Tidak juga.
Setidaknya hari ini aku keluar rumah.
Hari ini aku mulai lagi.
Dan itu sudah lebih baik daripada tidak memulai sama sekali.
Setelah selesai berlari, aku berjalan menuju Indomaret di Fakultas Psikologi.
Aku membeli sebotol minuman isotonik, lalu duduk sejenak.
Sambil menikmati minuman itu, aku membuka ChatGPT dan mulai menyusun skema latihan.
Pikiran tentang marathon terus muncul tanpa henti.
Aku tidak tahu apakah dalam waktu satu bulan aku benar-benar bisa menyelesaikan 42,195 kilometer.
Aku tidak tahu apakah aku akan berhasil.
Tetapi aku tahu satu hal.
Aku akan berjuang.
Aku akan berusaha.
Aku akan memberikan semua yang kumiliki.
Mungkin semua ini berawal dari keputusan sederhana: mendaftar marathon karena biaya pendaftarannya hanya sekitar enam ratus ribu rupiah.
Ditambah lagi lokasinya dekat rumah dan berada di Kampus UI.
Kombinasi yang rasanya mustahil kulewatkan.
Siapa sangka, keputusan sederhana itu kini berubah menjadi perjuangan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Aku menarik napas panjang.
“Ya Allah…”
Di tengah semua kesibukan dunia ini, izinkan aku bertahan.
Izinkan aku menyelesaikan marathon pertamaku.
Sebelum ulang tahunku tiba, semoga Engkau berkenan memberiku gelar yang selama ini kuimpikan.
Marathoner.
Bismillah, ya Allah.”
