Day#2 RTM (Road To Marathon)

Jakarta, 06 Juli 2026

20.50 WIB

Aku baru saja sampai di rumah.

Setelah mandi dan membereskan beberapa hal, akhirnya tubuh ini bisa merebah di atas kasur.

Rasanya nyaman sekali.

Seperti biasa, sebelum tidur aku ingin menulis sedikit tentang hari ini.

Hari kedua.

Entah mengapa, rasanya aku sudah ingin menyerah.

Astaghfirullah…

Hari Senin memang selalu menjadi hari yang paling sibuk.

Pagi tadi aku memulainya dengan berlari selama satu jam.

Namun kenyataannya, bahkan sebelum satu jam selesai, tubuhku sudah berjalan saja.

Jujur saja, ada rasa malu pada diriku sendiri.

Mungkin karena sudah terlalu lama aku tidak berlari secara rutin.

Lemak yang perlahan menumpuk di perut ini seolah menjadi pengingat bahwa aku telah terlalu lama meninggalkan olahraga.

Setelah itu, hari berjalan seperti biasa.

Meeting demi meeting mengisi jam kerja hingga sore.

Rutinitas yang melelahkan, tetapi memang sudah menjadi bagian dari pekerjaanku.

Di tengah kesibukan itu, aku mengambil satu keputusan yang cukup penting.

Aku mendaftar ulang kelas mengaji.

Rasanya sudah hampir setahun sejak terakhir kali aku belajar bersama ustaz.

Dulu aku mengikuti kelas secara daring, tetapi tidak berhasil naik level.

Aku kemudian mencoba lagi melalui kelas tatap muka.

Sayangnya, hasilnya tetap sama.

Aku kembali tidak lulus ujian kenaikan level.

Saat itu aku memilih berhenti sejenak.

Bukan karena tidak ingin belajar, melainkan karena terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri.

“Kenapa aku bodoh sekali, ya Allah?”

Kalimat itu berkali-kali berputar di kepalaku.

Namun setelah merenung cukup lama, aku mulai sadar bahwa bukan hanya kemampuanku yang menjadi penyebab.

Kesibukan dunia ternyata juga perlahan merampas waktu yang seharusnya bisa kugunakan untuk belajar Al-Qur’an.

Hari ini, ketika melihat kelas kembali dibuka, aku memutuskan untuk mendaftar lagi.

Aku akan kembali belajar dari level terakhirku.

” Apakah kali ini aku akan lulus? ”

Entahlah.

Aku hanya berharap Allah memudahkannya.

Aku juga ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Al-Qur’an.

Kadang muncul pertanyaan yang aneh di dalam hati.

“Sebenarnya untuk apa aku masih mengaji? Bukankah teman-teman di tempat kerjaku juga banyak yang tidak mengikuti kelas seperti ini?”

Namun setiap pertanyaan itu muncul, selalu ada satu hal yang mengingatkanku.

Kematian.

Ia terus berjalan mendekat tanpa pernah menunggu siapa pun.

Lalu aku berpikir, apa gunanya memiliki jabatan, harta, atau pencapaian dunia jika pada akhirnya aku gagal mendapatkan surga?

Aku tidak ingin menyesal.

Karena itu, aku ingin tetap menjaga satu impian besar.

Aku ingin menjadi seorang penghafal Al-Qur’an 30 juz.

Alasannya sederhana.

Aku ingin keluargaku bisa berkumpul kembali di surga karena rahmat Allah.

Selain itu, aku juga malu pada diriku sendiri.

Masa seorang Pemimpin masih belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik?

Masa ketika menjadi imam, hafalannya hanya berputar-putar di Juz Amma?

Yang membuatku semakin tersentuh adalah melihat teman-teman sekelasku.

Sebagian besar justru berusia lebih tua dariku.

Mereka tetap semangat belajar, sementara aku yang masih lebih muda justru sering menyerah.

Semakin lama aku semakin menyesali kegagalanku saat ujian kenaikan level.

Namun yang lebih kutakuti adalah jika aku berhenti bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Bagiku, menjadi seorang muslim berarti terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Ya Allah…

Jangan biarkan kesibukan dunia membuatku lalai dari sujud kepada-Mu.

Aku sering memikirkan kematian.

Mungkin karena aku memang seorang kutu buku yang terlalu sering membaca dan merenungkan hidup.

Tetapi akan jauh lebih menyedihkan jika waktu terus berjalan, sementara pahala dan amal ibadahku tidak ikut bertambah.

Bukankah pada akhirnya setiap manusia akan dihisab atas dirinya sendiri?

Maka tidak ada alasan untuk berhenti memperbaiki diri.

Sore tadi aku juga mendapat kabar dari PIC ILUNI UI.

Dia kembali menghubungiku untuk membantu mempromosikan bukuku yang berjudul Menjadi Insinyur Masa Indonesia Kini (MIMIK).

Kalau dipikir-pikir lagi, ternyata buku itu sudah berjalan cukup jauh.

Mungkin ini terdengar seperti self-claim, tetapi menurutku buku itu memang layak menjadi salah satu referensi bagi para insinyur di Indonesia.

Di dalamnya terdapat kata sambutan dari Ketua Insinyur Dunia, Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, para profesor dan guru besar Teknik UI, serta berbagai profesional di bidang teknik.

Selain itu isinya juga Insinyur yang terjadi pada kondisi saat ini.

Sebuah gagasan, kritik, dan harapan namun juga membumi dengan cerita yang dapat dimengerti.

Kadang kita memang hanya perlu terus berkarya.

Biarkan Allah yang menentukan sejauh mana karya itu akan sampai.

Selepas Magrib aku kembali berlari selama satu jam.

Sejujurnya aku hampir tidak pernah berlari pada malam hari.

Semua ini gara-gara nekat mendaftar race marathon.

Benar-benar ada-ada saja.

Namun ternyata keputusan itu justru membawaku menemukan sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumah.

Tempatnya sangat nyaman.

Parkirnya gratis, ada toilet, dan tetap buka sampai malam.

Awalnya aku hanya ingin mencari tempat untuk berlari.

Ternyata aku menemukan tempat yang jauh lebih indah dari yang kubayangkan.

Mungkin benar pepatah yang mengatakan, “Where there is a will, there is a way.”

Aku memang berlari sendirian.

Namun taman itu tetap ramai.

Banyak orang berjalan santai, berolahraga, atau sekadar duduk menikmati malam sambil memainkan ponsel mereka.

Setelah selesai, aku pun pulang.

Di perjalanan, aku kembali menggerutu kepada diriku sendiri.

Kenapa tanggung jawabku terasa begitu banyak?

Namun aku kembali teringat ucapan salah seorang guruku.

“Kamu sedang dikader menjadi seorang pemimpin.”

Dan seorang pemimpin memang tidak hidup dalam kemudahan.

Dulu aku sering mendengar bahwa lebih baik produktif daripada sibuk.

Namun semakin hari aku mulai memahami bahwa pada level kepemimpinan yang lebih tinggi, kesibukan memang tidak bisa dihindari.

Banyak persoalan yang mungkin tidak menghasilkan sesuatu secara langsung, tetapi tetap harus diselesaikan.

Belum lagi ketika suatu hari nanti dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Kalau terus mencari alasan, alasan itu tidak akan pernah habis.

Selama Allah masih memberiku napas, berarti perjuanganku belum selesai.

Aku tidak tahu bagaimana akhir hidupku nanti.

Tetapi tugasku bukan memastikan bagaimana akhirnya.

Tugasku hanyalah terus berjuang.

Sebab selama masih ada napas, selalu ada kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada hari kemarin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *