Pada akhirnya, hari ini aku tidak jadi lari lagi.
Sedih?
Iya, tentu saja.
Namun, mau bagaimana lagi.
Hari Senin dan Selasa memang sedang sangat padat.
Aku dan teman-teman sedang mengerjakan revisi proposal hibah yang baru saja dikembalikan oleh para juri.
Besok siang dokumen itu harus sudah dikirim kembali.
Nilai pendanaannya cukup besar, sehingga setiap masukan perlu diperiksa dengan teliti.
Tahap berikutnya adalah wawancara, tetapi sebelum sampai ke sana, revisi dokumen ini harus diselesaikan terlebih dahulu.
Sebenarnya tadi aku sudah berniat untuk berlari.
Bahkan sempat mempertimbangkannya cukup lama. Lalu, aku “berdebat” dengan ChatGPT mengenai pilihan mana yang lebih masuk akal: tetap berlari atau fokus menyelesaikan pekerjaan.
Pada akhirnya aku & ChatGPTmemilih untuk tidak lari malam ini.
Dengan tenggat yang tinggal beberapa jam lagi, menyelesaikan pekerjaan terasa menjadi keputusan yang lebih bertanggung jawab.
Kalau berdebat dengan teman?
Sudah jarang.
Mungkin karena mereka sering menganggap aku tahu punya jawaban terbaik dan terkadang merasa bahwa aku lebih baik dari mereka jadi ngapain juga ngasih nasehat ke aku.
Akhirnya, teman diskusi yang paling sering menemaniku sekarang justru adalah AI.
Rasanya memang sedikit aneh, tetapi begitulah kenyataannya.
Yasudahlah.
Menjadi konsisten ternyata tidak selalu berarti melakukan hal yang sama setiap hari.
Ada kalanya kita harus memilih prioritas.
Hari ini bukan hari untuk berlari, melainkan hari untuk menyelesaikan tanggung jawab.
Sekarang aku hanya duduk di depan laptop, ditemani secangkir kopi hitam pahit tanpa gula.
Lagu “Nina – Tumbuh Lebih Baik” terus berputar berulang-ulang, mengisi malam yang terasa sedikit sunyi.
Entah mengapa malam ini aku merasa sedih.
Bukan karena sesuatu yang besar.
Hanya… sedih saja.
Mungkin memang begitulah menjadi manusia.
Kita sering merasa harus mencapai ini, harus mengejar itu, harus menjadi lebih baik lagi, padahal sebenarnya kita juga sudah berusaha sebaik mungkin.
Seolah-olah selalu ada target baru yang menunggu untuk ditaklukkan.
Di saat-saat seperti ini, aku juga sering teringat tentang kematian.
Bukan sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi sebagai pengingat bahwa semua ini pada akhirnya akan selesai.
Pikiran itu justru membuatku kembali tenang.
Bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar pencapaian, melainkan juga tentang menjalani hari demi hari dengan sebaik-baiknya.
Kalau dibandingkan beberapa tahun yang lalu, sebenarnya hidupku sudah jauh lebih baik.
Banyak hal yang dulu hanya menjadi doa, sekarang perlahan mulai menjadi kenyataan.
Namun hidup memang tidak pernah berhenti berjalan.
Selalu ada tantangan baru, selalu ada pertanyaan baru.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku sudah menjalani hidup ini dengan benar?”
Mungkin pertanyaan itu memang tidak memiliki jawaban yang pasti.
Dan mungkin memang setiap orang yang sedang berjuang akan pernah menanyakannya.
Karena hidup adalah ujian.
Sebagai seseorang yang kutu buku, aku juga sering merasa pikiranku berjalan terlalu jauh.
Banyak hal yang terus kupikirkan, sementara orang lain mungkin tidak pernah memikirkannya.
Ada kalanya itu melelahkan. Ada kalanya aku bertanya, “Kenapa aku harus menjadi seperti ini?”
Namun setelah kupikir lagi, mungkin setiap orang memang diberi jalan yang berbeda.
Ada yang diberi kekuatan pada fisiknya, ada yang diberi kemampuan berbicara, ada yang diberi ketenangan hati, dan mungkin aku diberi rasa ingin tahu yang tidak pernah benar-benar habis.
Menjadi seorang kutu buku memang memiliki konsekuensinya sendiri.
Pikiran akan terus bekerja, terus mencari makna, terus mempertanyakan banyak hal.
Mungkin itulah risikonya.
Semakin banyak belajar, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membantu orang lain menemukan arah.
Malam ini aku memang tidak berlari.
Namun bukan berarti aku berhenti melangkah.
Masih ada proposal yang harus diselesaikan.
Masih ada startup yang harus dibangun.
Masih ada mimpi yang harus diperjuangkan.
Dan besok pagi, semuanya akan dimulai lagi.
Untuk malam ini, biarlah kopi hitam dan lagu ini yang terus berulang menjadi teman perjalanan kecilku.
Besok, semoga langkahku kembali lebih ringan.
Jakarta, 14 Juli 2026 Pukul 19.30 WIB
