Pagi ini aku cukup senang karena akhirnya bisa kembali berlari.
Hari masih sangat gelap ketika aku memulai aktivitas.
Sekitar pukul empat pagi, aku bangun untuk menunaikan salat tahajud, lalu dilanjutkan dengan salat Subuh.
Setelah itu, aku berangkat menuju TMII dan tiba sebelum pukul enam pagi.
Tanpa banyak berpikir, aku langsung mulai berlari.
Selama dua jam penuh, aku terus berlari tanpa berhenti.
Rasanya menyenangkan.
Meski pace-ku mungkin hanya berada di kisaran 7 hingga 8 menit per kilometer, aku tidak terlalu memikirkannya.
Saat ini, yang paling penting bagiku adalah membangun ketahanan tubuh.
Kecepatan bisa menyusul nanti, tetapi kemampuan untuk terus bergerak selama berjam-jam harus dibentuk mulai sekarang.
Selesai berlari, muncul sedikit rasa percaya diri.
Untuk pertama kalinya, aku mulai benar-benar yakin bahwa nanti aku bisa menyelesaikan marathon.
Memang, targetku masih cukup jauh.
Aku ingin menembus waktu sekitar enam jam, dan tentu masih banyak yang harus diperbaiki.
Latihanku pun harus terus ditingkatkan.
Hari ini dua jam tanpa henti.
Besok, masih dua jam.
Nanti, semoga bisa tiga jam.
Setelah itu empat jam, lima jam, hingga akhirnya mampu berlari enam jam tanpa berjalan.
Semua itu tentu tidak akan terjadi dalam semalam.
Namun, setiap langkah yang kuambil hari ini adalah bagian dari perjalanan menuju garis finis impianku.
Setelah latihan selesai, aku kembali menjalani rutinitas seperti biasa.
Bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, dan menikmati hari apa adanya.
Tidak ada yang istimewa, tetapi justru di situlah proses itu berlangsung—hari demi hari, sedikit demi sedikit.
Untuk besok, aku berencana kembali berlari selama dua jam.
Tidak perlu terburu-buru.
Aku hanya ingin terus menikmati prosesnya, memperkuat tubuh ini, menjaga semangat, dan terus melangkah sampai impian itu benar-benar menjadi kenyataan.
Jakarta, 15 Juli 2026
Pukul 20.20 WIB
