“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur:1)
Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah.
Allah, telah menciptakan manusia di muka bumi ini hanya untuk tujuan beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah ( di muka bumi ).
Dalam kamus besar bahasa indonesia ( KBBI ), beribadah artinya ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Lalu khalifah, menjadi pemimpin minimal pemimpin untuk dirinya sendiri, lalu ke keluarga, kemudian ke skala yang lebih besar.
Dua hal inilah yang mestinya kita resapi, maknai, laksanakan, segerakan agar kita tak menjadi orang-orang yang merugi.
PROLOG
Ya, mungkin itulah yang kurasakan, apa yang kini kurasakan yakni justru seperti ibadah menjadi berkurang.
Ya, direnungkan juga ternyata tidak hanya kemiskinan yang merupakan ujian, tapi nikmat pun juga.
Contohnya ?
Perasaan lapar.
Saat kita mempunyai uang dan membelikan makanan & makan hingga kenyang, justru disitulah awal dari kebatilan.
Dia akan mulai mengantuk dan yang menyebabkan orang tersebut cendrung malas belajar, malas bekerja, dan hanya akan menjadi orang-orang yang merugi.
Lalu, ketika kita punya uang justru yang terjadi merasa cukup.
Padahal, hidup adalah ruang tunggu ujian demi ujian.
Sampai kapan ?
Sampai hembusan nafas terakhir.
Selama itu pula, harus berusaha semaksimal mungkin & seikhtiar mungkin untuk mencapai ridhonya melalui dua tujuan diatas yakni beribadah & khalifah.
Allah terlah berfirman :
Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. ( QS. At-Taubah Ayat 24 )
Ya Allah, selalu berikanlah petunjukmu kepadaku.
Dan jangan sampai aku menjadi orang yang fasiq.
Orang yang telah kehilangan dirinya sendiri.
Kesulitan & kenikmatan ialah ujian, yang mana manusia harus lewati dengan lapang, ikhlas, sabar, & harus percaya diri.
Dua tujuan yang telah dijelaskan oleh Al-Quran dengan jelas, terang, tegas & jernih ialah apa yang seharusnya ku tanam tempel kuat-kuat di otak ku.
Ya, aku berusaha.
Maka, tatkalah aku merasa hampa, dapat semestinya diriku dapat membaca tulisan ini lagi, tulisan yang kutulis dengan kesadaran.
Sebagai pengingat apa yang pernah kutulis dengan jernih, lugas & tak mendua dalam penafsiran nya.
” Verba volant scripta manent , ( lisan sementara, sementara tulisan abadi ) “
APA YANG AKU PERANGI ?
Hawa nafsu, riba, kemalasan ialah apa yang aku perangi untuk diriku sendiri.
Ya, untuk diriku sendiri. Khalifah ialah manusia pemimpin.
Manusia berjiwa besar sadar bahwa tugas kepemimpinan pertama ialah jiwanya sendiri.
Ya, itulah apa yang aku mulai & proses.
Selesai ?
Tidak, aku akan berjuang sekuat tenaga hingga hari kemenangan datang, hari kepastian akan datang, bahwa apakah aku telah lulus ujian di dunia fana ini atau justru gagal merana derita.
Hari itu ialah hari kematian, yang mungkin kita sudah lama mengenal dengan sebutan kematian ini.
Ya, aku sepakat dengan sebutan itu.
Namun, dalam pikiran ku untuk diriku sendiri bahwa itu ialah gerbang menuju kebahagiaan abadi atau justru derita merana yang tiada berakhir.
Ini semua masih netral, kitalah yang memilih jalan hidup kita masing-masing.
Kembali di kalimat pertama dalam paragraf ini bahwa kata pertama ialah hawa nafsu.
Menurut KBBI, hawa nafsu artinya keinginan.
Jadi itu masih kata netral. Namun, umumnya kata itu terdengar buruk.
Entahlah, sejak kapan makna nya menjadi seperti itu, aku pun tak tahu.
Padahal, bisa juga bahwa keinginan untuk berbuat kebaikan.
Tapi, pembahasan di tulisan ini memaknai bahwa hawa nafsu ialah kencendrungan untuk berbuat maksiat.
Utamanya ?
Pornografi & belanja berlebihan.
Ya, dua hal itulah yang paling kutahu, paling ku ingat sejak aku hanya memiliki pengetahuan yang sedikit ini.
Namun, dua hal ini pula yang sudah cukup merusak otak dari pikiran manusia.
Inipula yang membuat manusia bahkan lebih buruk daripada binatang.
Kemudian, kata kedua ialah riba.
Riba artinya penambahan.
Memang zaman sekarang sulit bahwa kita benar-benar bebas dari riba ini.
Namun, yang kukatakan ialah berusaha untuk menjauhi riba & menentang sistem itu.
Ya, aku sangat keras juga pada hal ini sejak manusia pasti butuh uang.
Kita lulus sekolah, kerja juga pasti ujung nya uang.
Dengan adanya sistem riba, ini artinya jiwa manusia akan terkekang oleh sistem ini.
Di Al-quran sudah jelas dalam surat Al Baqarah : 275 :
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba “.
Dari segi pemikiran banyak orang pun berpendapat bahwa riba justru akan membuat rugi.
Riba, aku benar-benar mengerti sistem ini & karena itu pula membenci sistem ini.
Bahkan, aku tak sudi untuk menulis teknis riba didalam tulisan ini pada kali ini.
Kenapa ?
Emosi di dalam jiwaku memuncak bahwa sistem inilah yang nantinya akan menjadi pembunuh manusia & menghancurkan manusia yang mengambil pilihan ini.
Godaannya dari sistem ini ?
Besar, sangat.
Dalam lingkup keluargaku pun juga pasti ada yang memakai sistem ini, ke skala lebih besar seperti rekan & seterusnya, apalagi.
Temanku bertanya kepadaku apakah aku punya kartu kredit, ambil kredit ataupun sejenis ?
Ku bilang aku tak punya semua itu, tak butuh, & tak ingin.
Dia pu terkejut & mengatakan keren bahwa masih ada orang kaya gini di zaman sekarang, terlebih bahwa temanku ini tahu bahwa riba ialah dosa, namun tetap menggunakan nya, karena katanya susah kalo ngga ada katu kredit.
Ya, aku hanya punya ATM yang kugunakan sebagai alat transportasi pembayaran tunai.
Tapi aku tak pernah berpikir sejauh itu hingga kata keren itu muncul, tidak.
Aku hanya berpikir aku tak menggunakan sistem ini sebagai salah satu jalan penyelamatku agar aku tak masuk orang-orang yang merugi.
Dasarnya apa ?
Al-Quran, dari Tuhanku, Allah.
Itu saja.
Kemudian kata ketiga, kemalasan.
Ini telah banyak dijelaskan oleh banyak orang, ya salah satunya ialah Yusuf Qardhawi dalam bukunya time is up, salah satu kutipan nya ialah
” Barang siapa melewatkan suatu hari dari umurnya dalam selain hak yang ia selesaikan, atau kewajiban yang ia tunaikan, atau suatu keagungan yang ia muliakan, atau pujian yang ia capai, atau kebijakan yang ia adakan, atau ilmu pengetahuan yang ia ambil, maka berarti ia telah merobek-robek harinya dan juga menganiaya dirinya.
Serta,
” Sebenarnya, kebodohan dalam mempergunakan waktu adalah lebih berbahaya daripada kebodohan dalam membelanjakan harta. Para pemboros yang menghabiskan waktu adalah lebih berhak untuk diberi batasan atau larangan daripada para pemboros harta, sebab harta itu apabila hilang sia-sia masih dapat dicarikan gantinya, sedangkan waktu jika telah hilang sia-sia tak akan ada gantinya “.
Ya, waktu ialah kehiduan, nilainya ?
Tak terganti karena tak akan kembali.
ENDING
Ya, itulah prolog, apa yang aku perangi, dan ending ini. Ini murni dari pikiranku, tak ada paksaan dari pihak manapun.
Tujuan manusia yakni ibadah & khalifah.
Ujian hidup bisa kesulitan & kenikmatan.
Apa yag aku perangi ialah hawa nafsu, riba, & kemalasan.
Ini semua adalah apa yang ku tulis & tidak akan pernah selesai sampai hari kemenangan ku datang.
Aku hanya berharap Allah meridhoi hidupku & memberikan aku petunjuk – Nya, agar aku tak menjadi orang fasiq.
Terakhir, ada quotes yang selalu ku sukai dibawah ini.
Ya, selesai. Ditulis ketika apa adanya saja, dari manusia biasa, pikiranku berbicara kepadamu.
Oke, thanks & see u di tulisan selanjutnya !

