Surga

Sore ini aku pergi ke toko swalayan untuk belanja bulanan.

Setelah mengantarkan ke toko swalayan, aku pun pergi dulu untuk mencari tempat makan di area sekitar.

Aku pun menemukan mie ayam dan disebelah nya ada tempat jual minuman es yang keterangan nya kalo es teh manis kecil harganya 3000 rupiah.

Dan aku liat di spanduk nya kalo di hari Jumat harganya menjadi 2000 rupiah.

Luar biasa.

Iya luar biasa, pedagang kecil itu butuh uang tapi dia tetap berusaha untuk bersedekah pada saat jumat berkah.

Tentu, orang – orang tipikal ini luar biasa.

Ini mengingatkan aku pada saat kuliah, dimana aku mendapat salah satu beasiswa dari pihak swasta.

Ya, itu merupakan beasiswa asrama rumah kepemimpinan.

Dan siapa aja bisa berdonasi untuk memberikan beasiswa kepada para mahasiswa / mahasiswi.

Yang membuatku takjub ialah bahwa sebagian pemberi beasiswa juga sebenarnya adalah orang yang mungkin kekayaanya belum banyak juga, alias masih banyak kekurangan nya.

Ada yang uang nya pas – pasan.

Pertanyaannya ialah,

” Kenapa mereka mendonasikan uang padahal uang nya tidaklah banyak ? “.

Ada beberapa jawaban yang ku temukan, ada yang menitipkan mimpinya pada generasi muda, ada yang untuk akhiratnya, ada yang ingin memberikan dampak, walau kecil gapapa, tapi tetap terus konsisten.

Jujur saja, aku terkagum dengan mereka !, Allahu Akbar.

Turun dari langit dunia

Saat di Atas Langit Grasberg

Tentu, katanya surga itu diatas.

Setidaknya, itu pula yang aku tahu juga.

Namun, ketika aku melewati awan, melewati ketinggian diatas 4000 MDPL, melewati sesuatu yang tidak banyak manusia bisa jejaki, yang kutemukan ialah kekosongan, kehampaan.

Akhirnya, aku sadari bahwa surga dunia bukanlah diatas awan, bukan !.

Dia justru ada di bawah, dia merupakan persoalan hidup yang terjadi di masyarakat.

Dan untuk mencapai surga di akhirat, maka harus melewati surga di dunia, surga yang berisi persoalan hidup di masyarakat.

Dan tugas seorang manusia ialah menyelesaikan persoalan untuk mendapat solusi terbaik & untuk melanjutkan kehidupan umat yang lebih baik.

Itulah apa yang ku dapat ketika aku turun dari langit.

Dan ya, setelah nya aku pun melanjutkan perjalanan hidupku yang mana ku temukan banyak sekali surga, banyak sekali manusia yang membuat aku terkagum – kagum.

Memberikan Kompetensi Terbaik

Berbicara mengenai kesuksesan maka setiap orang berbeda – beda.

Ada yang bilang harus S3, harus kaya raya, ataupun segala hal tentang dunia.

Namun, bagiku berbeda.

Aku pikir aku telah menemukan tujuan dari manusia itu sendiri ada, tentu karena aku manusia maka itulah menjadi tujuan ku juga.

Dan, tujuan itu bukanlah berasal dariku, melainkan tuhan sendirilah yang telah menjabarkan nya.

Apa itu ?.

Untuk beribadah kepada – Nya dan untuk menjadi pemimpin di muka bumi untuk mencapai ridho nya.

Sehingga, semua yang ada di dunia ujung nya yaa akhirat.

Caranya dengan memberikan kontribusi terbaik dari kita.

Bukan hanya menjadi yang bermanfaat saja, tapi menjadi bermanfaat dari kompetensi terbaik kita.

Ngomong – ngomong masalah memberikan terbaik dari kompetensi terbaik kita.

Akhir – akhir ini ada yang sedang heboh bahwa seorang yang lulusan dari PTN ternama kemudian bekerja menjadi cleaner di Australia.

Tentu, dia hebat karena dia percaya diri dan mau bekerja apa saja.

Tapi itu bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan dan perlu di sebarluaskan.

Aku yakin bahwa dia pasti bisa lebih baik dari saat ini, karena aku yakin bahwa dia bisa lebih baik.

Selanjutnya tentang hal itu, aku tak ingin berkomentar lagi.

Iya, kembali ke topik.

Dari orang – orang yang pernah ku temui yang tulus dan ikhlas itu pula yang menginspirasiku untuk bisa memberikan kontribusi sesuai kompetensi ku.

Aku ialah Insinyur, bagi yang belum tahu bahwa Insinyur berbeda dengan Ilmuwan, berbeda dengan Matematikawan ataupun Wan-Wan lainnya.

Insinyur ialah orang yang menggunakan kompetensi teknologi dan mengelola keuangan secara optimal untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan masalah.

Iya, 2 point itu ialah teknologi dan optimalisasi uang.

Teknologi dalam hal ini artinya kita punya beberapa opsi teknologi untuk menyelesaikan masalah ataupun mencapai tujuan.

Kemudian, uang dalam hal ini artinya mengelola pada titik optimal, bukan yang paling mahal ataupun yang penting murah.

Yang paling penting ialah efektif & efisien.

Tentu, itulah latar belakang profesiku.

Namun, aku pikir bahwa aku lebih bisa lebih menglebarkan dalam hal kontribusiku.

Iya, aku pikir aku mampu memberikan dampak yang lebih besar daripada orang-orang umumnya.

Hal ini dikarenakan aku mempunyai guru – guru yang hebat, yang terus konsisten mengajariku, dan buku – buku yang ku baca yang begitu menginspirasiku, dan pastinya niatan dalam diriku yang diizinkan Allah bahwa aku bisa memberikan dampak yang lebih besar.

Aku tahu mungkin bagi beberapa orang ada yang bilang narsisme, biarkan saja.

Karena bagiku bahwa seorang muslim mesti yakin terhadap apa yang dipikirkannya dan apa yang dilakukannya.

Ya pelan – pelan.

Aku pun menjadi bagian dari relawan Palang Merah Indonesia ( PMI ) dan bagian dari WWF Indonesia.

Bisa dibilang Palang Merah Indonesia yang berurusan dengan manusia, sedangkan WWF Indonesia berurusan dengan hewan, tumbuhan, dan alam.

Dibayar ?.

Enggaklah, cuman sukarelawan.

Pastinya juga menjadi relawan yaa diajarin dahulu ilmu nya dong.

Menjadi relawan tuh mesti ikhlas & tulus, karena kita yang udah keluar energi, waktu dan mungkin juga uang.

Tapi ya tadi, kita bukan hanya bermanfaat saja, tapi harus bermanfaat semaksimal mungkin.

Aku tahu mungkin aksiku masihlah kecil, tapi aku tak perlu merasa malu, aku akan tetap melakukan aksi- aksi tersebut yang mungkin bisa berdampak besar atau bisa jadi menginpirasi buat orang lain.

Terakhir, mengutip dari Kitab Ta’lim Muta’allim Karya Syekh Burhanudiin Al-Islam Az- Zarnuji bahwa

Semoga kita mendapat mendapat keuntungan & keselamatan di akhirat

Rio Agustian Fajarin
Jakarta, 07 Juli 2024 Pukul 17.00 WIB

Fotoku pada saat menjadi relawan mengantarkan pasien patah tulang dari Rumah Sakit menuju rumah nya pada tanggal 01 Juni 2024 bersama Palang Merah Indonesia ( PMI )

Fotoku pada saat menanam Kopi di Desa Cibulao pada tanggal 29 Juni 2024 bersama WWF Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *