Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah.
Ku tarik nafas ku dalam – dalam dan ku lepaskan segala masalah ku dalam hembusan nafas ku.
Iya, itu apa yang kurasakan.
Tiba – tiba di pukul delapan malem ini entah kenapa aku mengingat kematian, ya, mengingat kematian.
Hm, tiba – tiba saja.
Mungkin juga terpengaruh oleh seorang ustad yang meninggal hari ini.
Dan banyak sekali orang yang kehilangan beliau.
Dan tanpa terasa, aku mengingat giliran ku kapan ya ?.
Aku udah ngapain aja ya ?, Masuk surga ga ya ?.
Tentu, pikiran- pikiran itu masuk dalam pikiran aku.
Aku tahu bahwa aku pernah bilang menjadi seorang muslim itu mesti percaya diri, mesti optimis.
Tapi, jujur saja, aku benar – benar takut neraka.
Dan dari ketakutan itulah yang membuat ku terkadang menjadi bimbang.
Kalo ujung – ujung nya masuk neraka buat apa hidup 1000 tahun ?, buat apa kaya-raya ?, buat apa gelar banyak – banyak ?.
Tentu ga semua orang berpikir yang sama, tapi inilah aku, seorang yang takut masuk neraka, seorang yang memang yakin bahwa agama Islam lah yang paling benar.
Dan ya, aku berusaha untuk memupuk hari – hari tuaku dari sekarang.
Aku takut pas udah pensiun itu ga bisa bermanfaat, hanya menjadi beban.
Oleh karena itu, aku juga masuk dan suka dalam beberapa komunitas yang mana sudah menjadi takdir ku.
Yaa, itu semua aku pupuk karena aku ingin berada bersama mereka, bukan hanya pada saat hari tuaku, bukan.
Aku ingin bersama mereka pada hitungan harian, hitungan bulanan, tahunan, dan puluhan tahun.
Ya syarat nya ?.
Ketulusan.
Aku ingin berada dengan orang – orang yang tulus dalam jangka waktu yang lama dan permanent.
Tentu, bersama juga ada tujuan, bukan hanya teman ngobrol saja, tapi teman ngobrol yang mengarah pada tujuan positif.
Aku ingin itu, ku pupuk demi pupuk untuk akhirat.
Ya tuhan, aku tak ini menjadi orang – orang yang merugi.
Aku benar – benar takut.
Ku tulis dengan mataku yang berkaca – kaca.
Jakarta, 11 Juli 2024
