Fenomena naik haji dengan jalan kaki & tanggapan ku

Akhir akhir ini rasanya banyak sekali orang yang naik haji dari Indonesia dengan menggunakan jalan kaki, perahu, sepeda atau bahkan sampai membawa anak kecil untuk ikut.

Bahkan saking banyak nya orang Indonesia yang melakukan itu, akhirnya banyak konten kreator yang membuat itu menjadi komedi.

Namun, sekali lagi fenomena ini adalah fenomena yang terjadi secara real di sebuah bangsa dimana bangsa itu adalah bangsa yang kucintai.

Tanggapan ku

Bagiku fenomena ini jelas lah salah dan semakin jelas bahwa bangsa ini per saat ini masih lah menjadi bangsa yang belum dewasa.

Kenapa bisa dikatakan demikian ?

Ya karena orang tidak memahami apa yang menjadi kewajiban nya namun melakukan yang sesuatu bukan kewajiban nya.

Misalkan saja, ada seorang yang berjalan kaki untuk menunaikan ibadah haji dari pulau Jawa menuju kota Mekkah dengan membawa anak yang masih balita.

Apakah dia berpikir bahwa setiap langkah menuju Mekkah dihitung menjadi pahala ? Mana ku tahu.

Namun, itu bukanlah sebuah kewajiban.

Kewajiban dia sebagai seorang bapak apalagi orang susah dalam ekonomi ya kerja.

Memberikan nafkah dan pendidikan untuk anak-anak nya juga termasuk jihad.

Jangan salah ey, berjuang untuk keluarga juga termasuk jihad.

Jihad bukan hanya berperang pada pihak musuh islam.

Namun, bekerja dengan sungguh -sungguh juga termasuk jihad.

Kau tahu, bangsa ini sudah lama menjadi bangsa dengan populasi Islam yang terbesar di dunia, walau sekarang didahului oleh negara Pakistan secara jumlah.

Ceramah pun dimana-mana, namun kenyataannya apa yang terjadi saat ini ?

Menurut ku saat ini bangsa yang katanya orang dengan Islam paling banyak didunia masih bangsa lah yang belum maju.

Atau bahkan dengan populasi penduduk nomor empat di dunia pun masih banyak bangsa di dunia yang tidak kenal dengan bangsa Indonesia

Kau tahu kenapa ?

Karena kita tidak sadar.

Ya tidak sadar.

Menjadi muslim itu menjadi pemimpin dimuka bumi.

Sehingga, semestinya menjadi pemimpin itu harus memiliki ilmu dan iman yang tinggi.

Banyak orang beribadah saja namun ketika melakukan kegiatan seperti bekerja, melakukan kegiatan sosial ya begitu dah, engga sungguh – sungguh.

Selain itu, tradisi ngasih THR ke organisasi masyarakat ( Ormas ) yang bahkan tak pernah membantu di lingkungan pun dimaklumi oleh menteri agama yang mengatakan itu sudah tradisi.

Selain itu, bangsa ini juga lebih suka berbicara saja namun tak ingin ditulis.

Padahal dengan menulis, maka tulisan dapat di review dan output nya ialah mendapatkan tulisan yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu.

Jihad

Jihad untuk keluarga juga menurut ku juga termasuk jihad.

Bahkan dalam peperangan saja, tidak boleh semua orang muslim ikut berperang.

Mesti ada orang yang menjadi bagian nya seperti menjadi petani, ulama, insinyur ataupun lainnya.

Ini di jelaskan oleh Imam Yusuf Al Qardhawi dalam buku Fiqih Prioritas.

Jika di Indonesia bahkan ulama asal Minang yakni A.A. Navis juga menyindir dengan baik dalam tulisan ” Di bawah robohnya surau kami “.

Tulisan dari ” Dibawah robohnya surau kami “menceritakan bahwa ada seseorang yang selalu ibadah, namun pada akhirnya dia masuk neraka.

Dia protes kepada tuhan, dan ternyata tuhan menjelaskan kenapa dia masuk neraka.

Ya dia meninggalkan duniawi nya.

Keluarga nya tidak diprioritaskan dan hanya ibadah saja.

Padahal, dalam tubuh juga ada hak untuk diri sendiri, hak untuk keluarga, hak untuk tuhan dan lainnya.

Hingga saat ini bangsa ini, bangsa yang katanya mau menuju generasi emas.

Namun ya begitulah.

Katanya efek bonus demografi, namun kenyataannya bisa jadi derita demografi.

Apa yang mesti dilakukan ?

Hm, jujur saja beberapa tokoh politik seperti Nadiem Makarim, atau pun yang saat ini menjabat seperti Anis Matta merupakan salah satu pemikir yang baik.

Namun, mungkin perubahan mesti berasal dari level tertingginya yakni presiden untuk negara, dan gubernur untuk provinsi.

Kenapa ?

Ya karena bawah nya akan ikut.

Aku sepakat dengan kalimat dari seorang tokoh yang mengatakan bahwa politik adalah bagian dakwah paling tinggi karena bersifat kebijakan.

Walau aku tidak ikut politik saat ini, namun kalimat itu ialah kalimat yang benar.

Merujuk pada fenomena yang terjadi saat ini, bisa dikatakan bahwa keinginan manusia untuk melakukan sesuatu seperti naik haji melalui jalan kaki dari Indonesia ke Makkah memang tak bisa dihentikan.

Namun, itu menunjukkan bahwa bangsa ini masihlah jauh dari bangsa yang akan memimpin peradaban.

Terakhir, awalnya aku berpikir bahwa suatu hari nanti akan ada pahlawan yang dapat mengubah bangsa ini atau bahkan lebih jauh yakni lingkungan ku, keluarga untuk lebih baik lagi. Tapi,

Jangan-jangan, justru pahlawan yang selama ini kita tunggu – tunggu adalah diri kita sendiri.

Jakarta, 25 Maret 2025 Pukul 17.30 WIB.

Dari seseorang yang siap untuk menonton timnas antara Indonesia Vs Bahrain. Go Indonesia

Salam terbaik
Rıo Agustian Fajarin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *