Perintis

Lagi dan lagi, mataku terbangun dari tidurku dan aku melihat bahwa jam di handphone masih menunjukan jam 02.30 pagi.

Tanpa terasa pikiran ku berpikir tentang sesuatu hal.

Iya, ku ambil hp yang ternyata baterai nya sudah 100 % full dan ku lanjutkan menulis.

Saat mulai menulis, rasanya kaki masih pegal saja.

Ku pikir aku mesti banyak latihan lari nantinya agar kaki ku menjadi kuat.

Maklum, penopang badan ya kaki.

Ya, tentang personal branding.

Aku sepakat bahwa personal branding adalah apa yang kita dokumentasi dan kita bagikan kepada orang lain.

Tentu, hal ini membuat mudah saja rasanya, sehingga kita tak perlu merekayasa apa yang harus dibuat.

Ini pernyataan dari Raditya Dika, yang mana aku sepakatin.

Namun dalam membagikan nya kadang ada proses yang mungkin membuat orang lain merasa

” Ini ngapain sih orang “

Atau pun reaksi yang kaya ini orang

” Dagang Mulu, ataupun kaya haus validasi “.

Hm, mulai dari mana ya.

Sebenarnya sih kadang aku malu juga ketika membagikan hal kaya beberapa dokumentasi ku ataupun karya ku.

Bisa dibilang bahkan selama 5 tahun dari periode 2018 – 2023, gambar foto profil WhatsApp ku itu alam di Bali yang mana aku waktu itu di 2018 sedang berkunjung kesana dan tidak pernah diganti.

Baru dimulai tahun 2024 ya mulai diganti.

Tapi, aku sepakat dengan buku ataupun video yang mana aku nonton, tapi lupa judulnya.

Bahwa orang-orang yang berasal dari kita sebut ” Generasi Perintis “ ya harus menjemput bola.

Alias harus koar-koar, dalam hal ini yang positif misalkan karya, dagangan ataupun apa gitu.

Biar apa ? Biar dunia aware dengan keunikan kita. Kl

Kalo engga gitu ya akan sulit untuk dunia menotif keunikan kita.

Ya mungkin niat kita emang baik, tapi ga semua niat bisa dipahami oleh orang lain.

Tapi yauda deh, kalo bukan dari keluarga yang kita sebuah pewaris, ga usah banyak malu.

Maju terus saja !

Toh juga kalo elo susah kan belum tentu dibantu orang lain kan.

Iya, jadi ga usah malu.

Kalo punya dagangan ya hayuk jual.

Ga usah banyak malu – malu.

Karena saat ini posisi kita menjemput pintu rejeki.

Lagi pula nih ya, kita ga usah perlu pikir banyak hal yang di luar kendali kita, pikir apa yang ada di dalam kendali aja.

Jadi, ya begitu.

Itu yang saat ini aku yakini.

Ya mungkin kedepan bisa berubah karena hidup akan dinamis.

Jadi, kalo ada orang yang bilang

” Kalo memang dia kaya ya ga usah koar-koar ” .

Iya bener, ya mungkin dia enak dari orang kaya alias bapaknya kaya.

Tapi kalo dari keturunan generasi pewaris ,

” Ya mesti koar-koar dong “.

Maksudnya saat di telah mencapai posisi yang disebut puncak, pasti proses nya juga jualan, ataupun yang disebut koar-koar.

Kalo udah di level yang bener – bener kaya banget ya mungkin udah ga perlu koar-koar.

Tapi, kalo menurut ku nih ya, koar-koar selama itu positif dan ga merugikan orang lain ya maju aja.

Ini bahkan nih ya, presentase entrepreneur Indonesia itu rendah banget, presentase nya lupa tapi kecil lah buat standar minimal berapa banyak entrepreneur yang minimal ada dalam suatu bangsa.

Kenapa ?

Ya karena budaya entrepreneur Indonesia yang kurang.

Mungkin alasan nya salah satu nya ya kurang koar-koar dalam berjualan.

Nah itu dulu kali ya.

Nulis kaya gini aja sampe di posting di website ini aja udah butuh waktu 30 menit hehe.

Udah dulu ya.

Jakarta, 11 Juli 2025 Pukul 02.59 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *