Sabtu, 07 Juni 2026
Mataku mulai terbuka dan melihat dunia lagi.
Ternyata Aku masih hidup, masih menjalani ujian di dunia ini.
Jam di HP menunjukkan pukul 00.10 WIB.
Aku terbangun lebih cepat dari biasanya, mungkin karena semalam tidur sejak pukul 19.30.
Seperti biasa, aku mengecek beberapa pesan WhatsApp terlebih dahulu.
Setelah itu aku mencoba tidur kembali, tetapi mata ini sulit terpejam.
Biasanya kalau sudah terbangun seperti ini, aku langsung membuka laptop untuk menulis.
Namun pagi nanti aku akan lari bersama teman-teman dari Taman Mini Running Club, jadi aku harus menjaga kondisi tubuh tetap fit.
Aku masih terjaga hingga sekitar pukul 01.30 WIB sebelum akhirnya tertidur kembali.
Menjelang subuh, suara adzan membangunkanku.
Aku sebenarnya sudah memasang alarm di HP dan jam weker manual, tetapi tetap saja suara adzan dari masjid sekitar rumah yang paling ampuh membuatku bangun.
Mungkin karena ada empat masjid yang jaraknya sangat dekat dari rumah.
Seperti biasa, pagi dimulai dengan makan seadanya yang tersedia di dapur, minum susu, dan vitamin.
Kebiasaan ini kulakukan hampir setiap hari agar tubuh tetap bugar.
Aku juga membuat kopi hitam panas, lalu memasukkan beberapa batu es ke dalam tumbler hingga berubah menjadi kopi dingin ala Americano.
Selain membuat mata tetap melek, cara ini jauh lebih hemat dibanding membeli kopi setiap hari.
Setelah salat Subuh, aku langsung bersiap menuju TMII.
Jarak rumahku ke sana sekitar 15 menit menggunakan motor.
Ngomong-ngomong, rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis seri A Weekend with Warrior.
Bahkan aku lupa apakah tahun ini sudah pernah menulisnya atau belum.
Tidak terasa tahun ini sudah memasuki bulan keenam.
Waktu terasa berjalan sangat cepat.
Mungkin karena tahun ini aku juga sangat sibuk menulis buku.
Saat ini sudah ada tiga buku yang selesai, satu yang hampir selesai, satu yang sudah memiliki konsep kuat, dan kemungkinan satu buku lagi yang akan lahir tahun ini.
Artinya, tahun ini total bisa mencapai lima hingga enam buku.
Jujur saja, menurutku itu luar biasa.
Dua tahun sebelumnya aku hanya mampu menyelesaikan dua buku setiap tahun.
Awalnya aku berpikir dua buku per tahun sudah cukup.
Namun kemudian aku bertanya kepada diri sendiri:
“Kalau aku bisa menulis lebih banyak, kenapa harus membatasi diri?“
Apalagi suatu hari nanti mungki aku akan memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Saat itu mungkin aku tidak akan memiliki waktu sebanyak sekarang.
Jadi mungkin inilah waktunya untuk berkarya sebanyak mungkin.
Menurutku, kunci terbesar tetaplah ide.
Ide bisa datang dari membaca buku, mengamati lingkungan sekitar, atau pengalaman hidup sehari-hari.
Aku juga selalu fokus menyelesaikan satu buku hingga selesai terlebih dahulu.
Ide untuk buku lain tetap dicatat, tetapi pengerjaannya tidak bersamaan.
Kalau tidak fokus, biasanya tidak ada buku yang benar-benar selesai.
Karena itulah aku memutuskan untuk kembali menulis A Weekend with Warrior untuk akhir pekan kali ini.
Pagi Bersama Taman Mini Running Club
Aku tiba di TMII pukul 06.15 WIB, sementara waktu kumpul pukul 06.30 WIB.
Jadi, masih ontime :).
Sudah lama sekali aku tidak latihan rutin.
Kesibukan pekerjaan membuat waktu latihan sangat berkurang.
Padahal bulan Agustus nanti aku berencana mengikuti marathon, jadi sudah waktunya kembali beradaptasi.
Hari ini sekaligus menjadi gathering Taman Mini Running Club tahun 2026.
Acara juga didukung oleh manajemen TMII yang menyediakan makanan dan minuman.
Terima kasih ya TMII.
Kegiatan dimulai dengan strength training, lalu dilanjutkan lari mengelilingi beberapa ikon TMII untuk dokumentasi.
Kami melewati Anjungan Sumatera Barat, Istana Anak-Anak Indonesia, dan kembali ke Plaza Kori.
Setelah itu acara ditutup dengan foto bersama.

Kalau ditanya apakah aku mengenal semuanya?
Tentu tidak.
Maklum, aku sudah lama tidak aktif latihan bersama mereka.
Namun begitulah hidup saat ini.
Selama memiliki tujuan dan kepentingan yang sama, orang-orang bisa berjalan bersama.
Bahkan aku pernah memiliki rekan kerja yang tidak pernah kutemui langsung selama dua tahun.
Saat akhirnya bertemu, aku baru mengenalinya dari suara.
Begitulah era meeting online.
Sore di TMII Lagi
Setelah pulang, aku mandi, minum kopi, membuka laptop, membalas chat, email, dan menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan.
Targetku saat itu semua urusan selesai sebelum pukul 14.00 WIB.
Setelahnya aku kembali ke TMII menggunakan sepeda.
Tujuannya sederhana: ingin mencoba acara kuliner dari Anjungan Kalimantan Selatan yang kulihat di media sosial.
Aku tiba sekitar pukul 15.15 WIB, tetapi ternyata acaranya tidak terlihat.
Akhirnya aku berkeliling TMII terlebih dahulu.
Setelah mengecek media sosial lagi, ternyata acara sudah dimulai.
Langsung saja aku menuju lokasi.
Aku menikmati berbagai makanan, naik perahu, dan semuanya gratis.
Anjungan Kalimantan Selatan memang sering mengadakan acara menarik seperti ini.


Setelah ngobrol santai dan menikmati suasana, aku pun pulang.
Kalau memang sering ke TMII, menurutku wajib memiliki annual pass.
Saat ini harganya sekitar Rp400.000 per tahun.
Dengan frekuensi kunjungan yang tinggi, menurutku cukup menguntungkan.
Malam di Gym
Malam harinya aku pergi ke Gym Majapahit.
Gym Majaphit itu sebutan bagi Gym kampung, itu kata orang-orang 🙂
Sudah lama juga tidak latihan di sana.
Biayanya cukup murah, sekitar Rp175.000 per bulan.
Bahkan petugas gym jarang mengingatkan soal pembayaran, benar-benar mengandalkan kesadaran anggota.
Aku hanya berlatih sekitar 40 menit karena besok pagi harus mengikuti acara Yellow Run.
Setelah latihan, aku membeli makan malam sekaligus sarapan untuk esok hari, lalu pulang dan beristirahat.
Sebelum tidur, aku hanya berharap “ Semoga besok tidak telat ya Allah, Aamiin.”
Minggu, 08 Juni 2026
Alarm berbunyi pukul 02.00 WIB.
Seperti biasa, aku memasang lebih dari tujuh alarm dengan waktu berbeda.
Strateginya sederhana: kalau alarm pertama gagal membangunkanku, masih ada alarm berikutnya.
Nyatanya tetap tidak berhasil.
Aku kembali tidur dan baru benar-benar baru bangun pukul 02.30 WIB karena jam weker manual.
Itu lah sebabnya kenapa aku masih menggunakan jam weker manual 🙂
Setelah mandi dan salat, aku sarapan ringan, minum susu, vitamin, dan roti.
Pukul 03.45 WIB aku berangkat menuju GBK, lokasi acara Yellow Run.
Aku tiba sekitar pukul 04.30 WIB dan langsung menuju masjid untuk salat.
Setelah itu aku bertemu teman kantor yang juga mengikuti acara ini.
Kami mengobrol sambil menunggu waktu start.
Acara dimulai sekitar pukul 05.40 WIB.
Jujur saja, kakiku sudah terasa lelah bahkan sebelum lomba dimulai.
Mungkin efek latihan strength training dan lari bersama Taman Mini Running Club sehari sebelumnya.
Namun memang beginilah proses kembali beradaptasi setelah lama tidak berlatih rutin.
Peserta acara sangat banyak, sekitar 10.000 orang.
Menurutku, dengan biaya pendaftaran hanya sekitar Rp200.000, acara ini sangat mewah.
Peserta mendapatkan medali, jersey lari, jersey finisher, goodie bag, snack, dan kesempatan mendapatkan doorprize.
Aku berhasil menyelesaikan lomba dalam waktu antara 31 hingga 38 menit.
Aku tidak terlalu ingat karena memang jarang menggunakan Strava atau jam lari.
Jadi, hanya perkiraan saja dari teman yang tiba sebelum dan sesudah finish dengan ku
Setelah melewati garis finis, aku berfoto bersama dan menikmati suasana acara.

Doorprize dan Rezeki Tak Terduga
Sambil menunggu pengundian doorprize, aku menikmati makanan yang kubeli di acara dan kopi yang kubawa dari rumah.

Suasana semakin meriah dengan hiburan musik dan penampilan para tamu undangan.
Salah satunya adalah Bahlil.
Aku mengenalnya sejak sekitar sepuluh tahun lalu.
Menurutku, beliau adalah sosok yang luar biasa.
Bayangkan, seorang pemuda dari Papua dengan latar belakang sederhana mampu menjadi salah satu tokoh penting di republik ini.
Terlepas dari benar atau salahnya kebijakan, perjalanan hidup seperti itu tetap layak dihargai.
Saat pengundian doorprize berlangsung, tiba-tiba namaku muncul di layar.
Aku mendapatkan rice cooker.
Alhamdulillah.
Hanya menjemput Rezeki takdir hehe

Dan ternyata pas mau pulang ketemu Om Agus, pelari yang kenceng ini.
Izin foto Om 🙂

Donor Darah
Setelah acara selesai, aku langsung menuju PMI Jakarta untuk donor darah.
Hari itu adalah hari ke-61 sejak donor darah terakhirku.
Dalam setahun, biasanya aku donor darah sekitar enam kali.
Aku pun menuju meja pengambilan darah dan proses donor dimulai.
Saat hendak naik ke tempat tidur donor, beberapa perawat menghampiriku dan menawarkan jenis donor lain yang bisa dilakukan setiap dua minggu sekali.
Bedanya, yang diambil adalah komponen tertentu dari darah, dan prosesnya jauh lebih lama, sekitar 45 menit.
Sementara donor darah biasa yang sering kulakukan biasanya hanya sekitar 10 menit saja.
Mungkin karena saat itu aku masih memakai jersey running sehingga terlihat cukup fit.
Padahal kenyataannya aku kurang tidur, kurang makan, dan baru saja menyelesaikan lari pagi yang cukup melelahkan.
Namun para perawat terus mencoba meyakinkanku.
Mereka melihat bahwa aku sudah lebih dari 20 kali donor darah dan masih tergolong muda.
Jujur saja, aku agak bimbang karena baru tahu ada jenis donor seperti ini.
Akhirnya, mereka mengambil sampel darahku terlebih dahulu untuk diperiksa di laboratorium.
Prosedurnya memang cukup ketat, terutama terkait kondisi darah dan pola makan.
Tidak lama kemudian hasilnya keluar.
Ternyata aku belum bisa mengikuti donor yang dilakukan setiap dua minggu tersebut karena kondisi darahku masih belum memenuhi syarat.
Kata petugas, hasilnya agak keruh atau semacam itu.
Mungkin karena pola makan juga.
Katanya perawat, jangan banyak makan satan.
Lah, tadi pagi aja aku makan rendang wkwk.
Jujur saja, aku sedikit lega.
Dua bulan lagi aku akan mengikuti marathon, jadi memang kondisi tubuh harus benar-benar dijaga.
Meski begitu, perawat tetap meminta nomor WhatsApp-ku dan mengatakan bahwa nanti aku bisa mencoba lagi setelah kondisi darahku lebih baik.
Kalau ditanya apakah aku tertarik atau tidak, jujur aku masih belum tahu.
Mungkin nanti saja setelah marathon selesai.
Bisa jadi mereka cukup tertarik karena golongan darahku AB, yang jumlahnya memang jauh lebih sedikit dibandingkan golongan darah lainnya.

Setelah selesai donor, mataku sudah sangat mengantuk.
Awalnya aku sempat berniat mencari makan terlebih dahulu, tetapi karena rasa kantuk yang luar biasa, aku memutuskan langsung pulang ke rumah.
Aku tiba di rumah sekitar pukul 13.30 WIB.
Begitu sampai di kasur, mungkin tidak sampai dua menit aku langsung tertidur pulas.
Sekitar satu jam kemudian aku terbangun dengan kondisi yang jauh lebih segar.
Mata terasa lebih ringan dan pikiran terasa lebih jernih.
Memang tubuh manusia memiliki mekanisme penyembuhannya sendiri.
Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan.
Untuk urusan makan, akhirnya aku memesan GrabFood saja, hehe.
Kurasa itu saja cerita selama dua hari ini.
Memang tidak sepenuhnya lengkap, mungkin hanya sekitar 60% dari semua yang terjadi, hehe.
Habis ini ya mau beres-beres rumah, makan, edit tulisan dan segala hal tentang dunia lah :).
Oh iya, kurang dari tiga hari lagi aku akan share buku ku yang keenam yang berjudul Terima Kasih Jilid 3 : MIMIK (Menjadi Insinyur Masa Indonesia Kini ).
Itu ada kata pengantar dari Ketua Insinyur Dunia, Ketua Insinyur Indonesia & para profesordari kampus Universitas Indonesia.
Kalo bulan depan, buku Barakah.
Ya gitulah, pokoknya stay tuned aja 🙂
Dan untuk menutup tulisan ini,
Terkadang kita selalu menunggu sosok pahlawan yang akan datang dan mengubah hidup kita. Padahal mungkin pahlawan yang selama ini kita tunggu adalah diri kita sendiri.
Selama masih bernapas, selama itu pula kita adalah seorang WARRIOR.
Jakarta, 08 Juni 2026 Pukul 15.50 WIB
