Orang-Orang yang Tak Dipilih Dunia: Jadi Terbit atau Tidak

Kemarin aku menghadapi sebuah dilema.

Draft novel pertamaku yang berjudul Orang-Orang yang Tak Dipilih Dunia (OOTDD) mungkin tidak jadi diterbitkan.

Awalnya, setelah naskah selesai, aku mengirimkannya kepada beberapa teman dekat.

Mereka adalah orang-orang yang selama ini selalu membaca bukuku sebelum aku mengirimkannya ke penerbit.

Menariknya, ketika ide buku ini masih berupa konsep, mereka mendukung penuh dan bahkan mendorongku untuk menulisnya.

Namun, setelah membaca naskah yang sudah jadi, pendapat mereka berubah.

Menurut mereka, banyak tokoh dalam cerita yang masih bisa dikenali oleh orang-orang yang dekat dengan lingkunganku.

Mereka khawatir ada pihak yang merasa tersinggung atau tidak nyaman ketika buku ini diterbitkan.

Padahal, buku ini berisi kumpulan kisah tentang kegagalan, perjuangan, dan luka yang dialami banyak orang.

Cerita-ceritanya tidak saling terhubung, tetapi semuanya lahir dari pengalaman nyata yang pernah aku lihat atau dengar secara langsung.

Sejak awal sebenarnya aku juga sudah memiliki keraguan.

Apakah aku benar-benar harus menulis buku ini?

Namun, dorongan dari teman ku juga untuk membuat karya fiksi akhirnya membuatku memberanikan diri menuliskannya sedikit demi sedikit hingga menjadi sebuah naskah utuh.

Masalahnya, aku menulis buku ini dengan sangat jujur.

Aku tidak merasa melebih-lebihkan ataupun mengurangi kenyataan yang terjadi.

Karena itulah emosi dalam setiap cerita terasa kuat.

Akan tetapi, justru kejujuran itulah yang menjadi sumber masalah.

Orang-orang yang mengenal lingkungan tempat cerita itu berasal mungkin dapat menebak siapa sosok yang dimaksud.

Aku sempat berpikir untuk mengubah lebih banyak detail.

Namun, setiap kali mencoba melakukannya, rasanya emosi dalam cerita ikut menghilang.

Kisah-kisah itu menjadi terasa datar dan kehilangan kekuatannya.

Saat ini aku masih menahan rencana penerbitan buku tersebut.

Mungkin aku akan melakukan revisi besar-besaran.

Mungkin juga buku ini memang belum saatnya terbit.

Sebelum mengambil keputusan, aku ingin meminta pendapat dari beberapa orang yang lebih berpengalaman dalam dunia penulisan novel.

Kalau dipikir-pikir, mungkin salah satu kesalahanku adalah meminta izin kepada beberapa orang yang kisah hidupnya menjadi inspirasi dalam buku ini.

Di satu sisi, aku merasa itu adalah bentuk penghormatan.

Namun di sisi lain, setelah mereka membaca naskahnya, muncul kekhawatiran bahwa cerita tersebut akan membuka kembali bagian hidup yang selama ini ingin mereka simpan sendiri.

Memang begitulah manusia.

Ketika sudah berhasil, banyak orang bersedia menceritakan kegagalannya kepada publik.

Namun ketika masih berada di tengah perjuangan, kegagalan sering kali menjadi sesuatu yang ingin disembunyikan.

Entahlah.

Untuk sementara, Orang-Orang yang Tak Dipilih Dunia masih berada di persimpangan jalan: direvisi, ditunda, atau mungkin tidak pernah diterbitkan sama sekali.

Jakarta, 12 Juni 2026 Pukul 04.02 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *