Day#3 RTM(Road To Marathon)

Jakarta, 07 Juli 2026
19.30 WIB

Pada akhirnya, hidup akan terus berjalan, apa pun yang terjadi.

Manusia sering kali lebih mengingat apa yang mereka inginkan atau apa yang mereka butuhkan daripada apa yang pernah dilakukan orang lain untuk mereka.

Mungkin memang begitulah sifat manusia.

Ego sering kali berbicara lebih keras daripada rasa syukur.

Padahal, hidup hanyalah perjalanan yang dipenuhi suka dan duka.

Tidak ada kehidupan yang benar-benar hanya berisi kebahagiaan atau hanya berisi kesedihan.

Hari ini rasanya tubuhku kurang sehat.

Mungkin karena beban yang sedang kupikul terasa semakin berat.

Beban itu tidak terlihat oleh siapa pun. Aku seperti sebuah puzzle.

Orang lain hanya mengenal potongan-potongan yang sengaja kutunjukkan kepada mereka.

Sisanya kusimpan sendiri.

Aku pun tidak tahu sejak kapan menjadi seperti ini.

Mungkin karena sejak kecil aku memang lebih banyak diam.

Aku tidak terbiasa mencampuri urusan orang lain, dan mungkin karena itu pula orang lain tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang sedang kuhadapi.

Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena aku sendiri tidak pernah menceritakannya.

Begitulah diriku hingga hari ini.

Untungnya, pagi tadi aku sudah berlari selama satu jam tanpa berhenti.

Walaupun sore ini tubuh terasa kurang fit, setidaknya latihan hari ini sudah selesai.

Hari ketiga latihan pun terasa sedikit lebih ringan.

Tubuhku mulai beradaptasi.

Aku juga mulai mencoba mengatur pola makan.

Pagi tadi aku mengonsumsi empat butir telur rebus dan segelas susu.

Siang harinya aku makan nasi Padang ditemani secangkir kopi hitam tanpa gula.

Anehnya, setelah itu aku tidak merasa lapar lagi.

Mungkin karena cadangan lemak di tubuhku masih cukup banyak.

Selebihnya, hari ini berjalan seperti biasa.

Bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, lalu pulang.

Namun, ada satu perasaan yang sulit kujelaskan.

Aku merasa sedih.

Entah mengapa.

Tidak ada alasan yang benar-benar bisa kuucapkan.

Perasaan itu hanya muncul begitu saja di dalam pikiranku.

Kadang aku juga merasa takut menghadapi dunia ini.

Ujian kehidupan terasa begitu keras dan tidak pernah berhenti.

Di tengah semua itu, ada satu prinsip yang terus kupegang.

Guruku pernah mengajarkan bahwa apa pun yang terjadi, integritas harus tetap dijaga.

ku pun meyakini hal yang sama.

Memang berat.

Banyak pengorbanan yang harus dilakukan.

Ada kesempatan yang mungkin harus dilepaskan.

Ada jalan yang terasa lebih sulit dibandingkan jalan yang dipilih orang lain.

Tetapi selama aku masih mampu mempertahankannya, itulah yang akan terus kupegang.

Hari ini orang-orang mengenalku sebagai seorang insinyur.

Mereka juga mengenalku sebagai seorang penulis.

Bahkan, mungkin mereka mengenalku sebagai seseorang yang selalu tampak baik-baik saja.

Lucunya, wajahku pun sering dianggap seperti tokoh protagonis dalam sebuah cerita—seseorang yang selalu berada di sisi yang benar.

Mungkin memang itulah yang mereka lihat.

Namun, mereka hanya melihat hasilnya.

Mereka tidak melihat perjalanan panjang yang harus kulalui untuk sampai di titik ini.

Hari ini saja, belasan orang mengajakku berbincang secara langsung tentang dunia kepenulisan.

Mereka mengatakan bahwa aku menginspirasi.

Mereka mengapresiasi buku-bukuku.

Mereka memberikan begitu banyak kata-kata baik.

Aku bersyukur atas semua itu.

Namun, di balik rasa syukur tersebut, ada ketakutan yang ikut tumbuh.

Aku takut tidak mampu memenuhi harapan mereka.

Seolah-olah selama ini ekspektasi itu terus menumpuk.

Seolah aku tidak boleh berbuat salah.

Tidak boleh gagal.

Tidak boleh mengecewakan.

Lalu kepada siapa aku menceritakan semua ini?

Selama ini aku selalu bercerita kepada Tuhanku.

Tetapi kepada manusia?

Entahlah.

Mungkin banyak orang juga merasakan hal yang sama.

Mungkin setiap orang sedang memikul perjuangannya masing-masing.

Hanya saja, inilah perjuanganku.

Karena itu, ada satu hal yang akan terus kujaga selama aku masih hidup, yaitu integritas.

Aku mungkin tidak bisa selalu menyenangkan semua orang.

Aku juga mungkin tidak bisa memenuhi setiap harapan yang diberikan kepadaku.

Namun, percayalah.

Aku akan selalu berusaha menjadi orang yang bertanggung jawab atas setiap jalan yang kupilih.

Dan jika selama perjalanan ini aku pernah berbuat salah kepada siapa pun, izinkan aku meminta maaf.

Aku masih terus belajar.

Aku masih terus berjuang.

Dan selama napas ini masih ada, aku tidak akan berhenti melangkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *