Day#8 RTM (Road To Marathon)

Pada akhirnya, manusia akan selalu terguncang oleh sesuatu yang paling ia anggap penting dalam hidupnya.

Pagi ini sebenarnya aku ingin berlari.

Saat melihat layar handphone pukul enam pagi, rasa malas masih menyelimuti tubuhku.

Aku sempat berpikir untuk kembali merebahkan diri, tetapi akhirnya aku tetap bersiap.

Setidaknya, jika aku sudah keluar rumah, langkah selanjutnya akan terasa lebih mudah.

Aku tiba di Taman Mini sekitar pukul setengah delapan pagi dan langsung mulai berlari.

Hari ini aku sudah mengenakan running vest karena memang berniat melakukan long run.

Dalam bayanganku, mungkin aku akan terus berlari hingga waktu Zuhur, bahkan kalau kuat sampai menjelang Ashar.

Namun, rencana sering kali berubah hanya karena pesan singkat.

Aku membuka ponsel sebentar.

Hanya sebentar.

Ternyata ada beberapa pesan WhatsApp yang berisi urusan penting.

Seketika pikiranku teralihkan.

Semangat yang sejak pagi sudah kukumpulkan perlahan menghilang, berganti dengan rasa lemas yang sulit dijelaskan.

Akhirnya, aku hanya berlari hingga sekitar pukul sebelas siang sebelum memutuskan pulang.

Memang belum mencapai target yang kuinginkan, tetapi setidaknya pagi ini aku tetap melangkah.

Kadang, menyelesaikan sebagian tujuan masih jauh lebih baik daripada tidak memulai sama sekali.

Sesampainya di rumah, aku kembali mengurus berbagai pekerjaan yang memang harus diselesaikan.

Rutinitas kembali mengambil alih.

Aku mulai menyadari bahwa rasa lelah dan rasa sedih mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang.

Keduanya akan selalu datang dalam bentuk yang berbeda.

Namun, ketika dunia bersikap keras kepada kita, mungkin kita juga harus belajar menjadi lebih kuat daripada dunia itu sendiri.

Aneh memang.

Luka yang dulu terasa begitu menyakitkan, lama-kelamaan berubah menjadi sesuatu yang biasa.

Bukan karena semuanya telah selesai, melainkan karena kita perlahan terbiasa memikulnya.

Setelah semua urusan selesai, aku membuat secangkir kopi, membuka laptop, lalu membereskan rumah.

Hari terasa berjalan seperti biasa, tetapi pikiranku terus melangkah jauh ke depan.

Aku tahu jalan di depan akan semakin berat.

Masalah yang akan datang pun semakin kompleks.

Untuk saat ini, mungkin pikiranku masih mampu menghadapinya.

Namun, jika semua itu berlangsung terlalu lama, aku pun tidak tahu apakah aku akan tetap sekuat itu.

Meski begitu, selalu ada satu keyakinan yang tidak pernah berubah.

Aku tidak ingin sekadar hidup.

Aku ingin mengubah dunia.

Jakarta, 17 Juli 2026 Pukul 16.16 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *