Sore Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Mataku mulai terbuka.

Perlahan dan mulai melihat dunia.

Ku lihat jam di handphone dan jam menunjukan jam setengah lima.

Setelah shubuh, aku lanjut untuk tidur.

Ya, tidur.

Rasanya sudah lama aku ga tidur pagi di hari Sabtu.

Tentu, itu karena setiap Sabtu pagi aku pergi Tallaqi.

Bagi yang belum tahu Tallaqi adalah metode pembelajaran dari ustad ke murid nya dimana seorang murid harus mengucapkan yang sama seperti guru mengucapkan ayat Alquran.

Tapi pagi ini ga ada, alias libur.

Iya, karena pekan lalu aku sudah ujian untuk kenaikan tingkat.

Sehingga, pekan ini libur dan sembari menunggu hasil ujian nya.

Jujur saja, aku ga tahu apakah aku akan naik tingkat atau tidak.

Tapi yang pasti adalah aku akan tetap melanjutkan proses pembelajaran dengan Ustad.

Kemudian, aku lihat jam di handphone ku lagi dan ku lihat sudah jam delapan pagi.

Aku mulai terbangun dari kasur ku, dan aku menyalakan lampu di ruangan ku.

Perlahan aku membuka Handphone ku.

Hingga aku melihat tentang film Sore istri dari masa depan.

Hm, ga jelas ini judul filmnya sih menurut ku.

Tapi, film sore ini aku memang ga asing sih.

Terlebih, beberapa teman ku membuat status di WhatsApp tentang menonton film ini dan ngasih pujian yang bagus.

Kemudian, juga di beberapa grup ku, film ini sudah tersebar karena pemain wanita yang menjadi Sore adalah alumni dari Universitas Indonesia yang juga merupakan aku alumninya.

Film sore

Hm, jam masih menunjukkan jam sembilan pagi.

Aku mulai tertarik dengan film ini, aku cari beberapa tulisan dari yang sudah menonton film ini di Internet.

Yang kutemukan bagus sih film ini.

Kayanya juga film ini mirip film Kimi No Nawa yang juga menurut ku bagus sekali itu film.

Oh iya, film Kimi No Nawa juga menonton tak sengaja.

Saat itu, di kosan teman kuliah ku, tempat yang biasa menjadi basecamp kami sebelum atau sesudah kuliah biasa ngumpul anak Elektro yang merupakan jurusan ku.

Teman ku ada yang suka nonton drama ataupun anime jepang dan dia merekomendasikan aku dan teman-teman yang ada disana untuk menonton Kimi No Nawa di laptop nya.

Dan kami pun menonton bersama.

Menurutku bagus sekali film nya.

Setelah mencari review dari berbagai sumber.

Aku mulai mencari tempat bioskop terdekat untuk menonton film bioskop ini.

Ya, itu ada di Graha Cijantung yang lokasi nya dekat dengan ku hanyalah sepuluh menit saja.

Hm tapi ini baru jam sepuluh pagi.

Oh iya, setelah nya aku menelpon teman ku yang baru pulang dari kerja di tambang di pulau Kalimantan.

Awalnya dia ingin kerumah ku, tapi ku bilang kita ketemu di Graha Cijantung saja sambil makan di Marugame Udon.

Iya, awalnya aku berencana untuk bertemu dengan dia sebelum jam dua belas siang dimana film itu sudah dimulai.

Ngobrol sejam kah dari jam sebelas sudah cukup lah.

Namun jam setengah sebelas dia menginformasikan untuk belum bisa ketemu karena ada urusan keluarga.

Yowis, aku langsung jalan aja ke Mall Graha Cijantung.

Tapi sebelum itu, aku makan dulu di soto ayam langgananku.

Iya, ini langganan karena udah makan disini lebih dari lima belas tahun.

Jadi, udah kenal lah ya hehe.

Setelah selesai makan, aku lanjut ke mall Graha Cijantung dan sampai di jam sebelas.

Sesampainya di mall, aku langsung ke lantai empat dimana tempat bioskop berada tapi sayang masih tutup.

Akhirnya, aku ke lantai bawah nya yakni lantai tiga untuk melihat dan baca – baca sedikit di Gramedia.

Di Gramedia, ada buku yang sering ku abaikan tapi entah kenapa aku melihat buku itu.

Buku itu berjudul seporsi mie ayam sebelum mati.

Hm, aku baca sedikit yang udah dibuka dan ku pikir ini bukunya menarik.

Namun, jam sudah menunjukkan jam setengah dua belas dan akhirnya aku naik lagi ke atas untuk membeli tiket film Sore dan menunggu film bioskop tersebut.

Oh iya, aku lupa bahwa sebelum ke bioskop aku juga membeli kopi Goodday dingin seharga lima ribu rupiah di depan Gramedia.

Iya, aku ga bikin kopi dari rumah karena aku biasanya kalo bikin kopi buat sesuatu yang penting saja.

Setidaknya kafein sedikit dari kopi Goodday itu membuat otak ku lebih fresh saja.

Jam sudah menunjukkan jam dua belas dan aku pun masuk ke dalam bioskop.

Hm, aku pikir aku sudah menempatkan posisi tempat duduk ku yang enak untuk menonton film ini.

Sejujurnya aku jarang sekali menonton bioskop, tak sampai belasan kali, itu pun karena biasanya bersama teman-teman ku saja.

Bahkan, hingga hari ini aku tak pernah menonton Netflix.

Iya, aku ga tahu apa itu Netflix tentang apa.

Yang aku tahu itu aplikasi resmi untuk menonton film.

Bisa dibilang YouTube adalah tempat favorit ku dalam hal menonton.

Jika bukan YouTube ya aplikasi lain yang mungkin belum tentu aku kunjungi sekali dalam setiap bulan nya.

Kembali menonton, film dimulai dengan seorang pria yang bernama Jonathan yang hidup nya kurang sehat.

Suka ngerokok, mabuk, tidur malam dan begitu dah.

Hingga, saat baru bangun tidur dia melihat ada sosok wanita yang bernama Sore di kasur nya.

Jonathan yang biasa dipanggil Jo pun kaget dan bertanya kepada wanita yang bernama Sore ini.

Sore menjawab bahwa dia adalah istri joh dari masa depan dan datang untuk merubah agar Jo menjadi lebih baik lagi.

Selama perjalanan film, Sore selalu gagal dan terjadinya pengulangan waktu dimana Sore terus mencoba dan gagal.

Hingga akhirnya Sore menyerah.

Dan ya, sore melakukan itu semua karena nanti Jo setelah menikah akan meninggal dunia karena serangan jantung.

Hingga akhirnya, Jo merasa harus berubah dengan sendiri nya.

Dan film pun selesai hehe.

Nah, takut spoiler gue wkwk.

Iya pokoknya bagus sih ini film.

Membuat perubahan itu bukan berasal dari eksternal tapi dari internal nya sendiri.

Setelah nonton film ini, membuat aku sadar bahwa banyak hal yang mesti nya bisa aku syukuri lagi.

Penerimaan diri pun juga menjadi faktor kunci.

Film sore selesai itu di jam dua siang.

Setelahnya aku mengingat bahwa aku berjanji untuk membawa keluarga ku makan Pizza.

Iya, sejujurnya aku sibuk sekali, jadi kalo masalah beginian biasanya di hari weekend saja.

Aku pun kerumah dan sampai di jam setengah tiga dan kemudian langsung bersiap bersama keluarga untuk ke mall graha Cijantung lagi untuk makan pizza.

Kami tiba di jam setengah empat.

Saat makan pizza, aku ingat tentang buku seporsi mie ayam sebelum mati tadi yang kulihat di Gramedia.

Aku pun ke Gramedia sebentar dan membeli buku itu lalu kembali ke Pizza lagi.

Setelah nya kami sampai dirumah jam lima sore.

Grup

Di beberapa grup ada yang ramai saja, aku cek beberapa saja sih.

Ku pikir salah satu nya grup tentang pemira ILUNI UI.

Ya, pemilihan raya ketua ILUNI UI.

Hm, sejujurnya aku ga pernah ikut ILUNI an ini.

Namun, karena tahun lalu aku dipilih sebagai ketua ILUNI Pendidikan Profesi Insinyur FTUI ya pasti aku mewakili ini untuk tingkat FTUI nya.

Dan ya, ada juga yang direct chat aku untuk menjadi bagian dari tim sukses untuk tingkat ILUNI UI.

Tentu, ini sudah pernah ku bicarakan dengan teman – teman dari pendidikan profesi Insinyur FTUI bahwa sikap kami netral.

Ya, lebih ke sikap ku juga selalu ketua yang tidak condong ke kandidat tertentu.

Lagi pula, bagiku saat ini, aku tak tertarik dengan proses politik di tingkat ILUNI UI ini.

Bagiku, aku hanya fokus pada amanah ku saja dan berharap ILUNI UI nantinya bakalan bagus dan bisa dikenal secara luas.

Lagi pula, aku juga salah satu utusan dari ILUNI FTUI sebagai verifikator saat PEMIRA nanti , jadi sudah pasti aku netral.

Oh iya, dalam setiap hari ku, rasanya tidak mungkin aku melewati satu hari pun tanpa komunikasi minimal chat dengan alumni UI.

Ga tahu ya kenapa, ini sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun sih.

Lagi pula aku suka dengan UI.

UI, salah satu mimpiku yang tercapai dan begitulah UI juga yang menyematkan aku sebagai lulusan terbaik dari prodi Insinyur tahun 2020.

Aku juga rasa sampai mati pun pola ini akan terus berlangsung dan aku tak masalah dengan ini.

Dan ya, akhirnya aku mulai membaca buku seporsi mie ayam sebelum mati ini habis magrib dan aku langsung selesai kan tak kurang dari dua jam.

Iya, jam delapan kurang sudah selesai ku baca tanpa halaman yang ku skip.

Sifat buruk ku keluar, ketika aku sudah membaca buku dan tertarik ya bisa lupa waktu dan terus membaca.

Bahkan ini sering terjadi pada saat kuliah, saat ku berada di perpustakaan the crystal of knowledge di UI aku sering keasyikan membaca dan lupa waktu.

Bahkan, sering kali aku tidak masuk kelas baik disengaja maupun tidak disengaja hanya untuk melanjutkan membaca buku.

Hm, gimana ya, ini malu atau gimana ya.

Bisa dibilang, jam terbang ku lebih lama di perpustakaan UI daripada di fakultas ku yakni fakultas teknik universitas Indonesia dan juga asrama beasiswa yang ku tinggali.

Jadi, ku pikir aku bisa mengklaim sebagai sarjana di tempat perpustakaan UI ini hehe.

Iya, di tempat ini aku membaca banyak karya dari penjuru dunia.

Seporsi mie ayam sebelum mati

Sejujurnya ini buku dari awal sudah menarik perhatian ku.

Dimulai dari seorang yang menjadi inti tokoh buku ini yang bernama Ale.

Seorang pria kantoran yang berusia 37 tahun, hitam, gendut lebih dari 100 kg, bau, belum menikah, belum mapan dan hidup lagi.

Dia hanya ingin meninggal saja.

Di hari ulang tahun ke 37 nya, dia memutuskan untuk bunuh diri saja dalam 24 jam kedepan.

Dalam rentang durasi ini, dia terus mempersiapkan kematian nya biar nanti yang menemukan nya minimal ga rasa jijik.

Ya, contohnya saja bahwa sih Ale ini pakai baju yang bagus saat kematian nya dan kamarnya pun juga sudah dibersihkan.

Hingga di menit terakhir, Ale terasa lapar dan jam sudah menunjukkan waktu pagi hari.

Akhirnya, Ale memutuskan untuk bunuh diri nya setelah makan mie ayam yang biasa dia beli setiap hari nya.

Ya, Ale ingin merasakan nikmat sebelum dia meninggal.

Ale keluar dari apartemen dan mencari mie ayam yang biasa di belinya.

Tapi, ternyata tutup.

Bagi Ale bahkan hingga dia mau mati pun saja dia masih gagal untuk makan mie ayam.

Dan dari sinilah perjalanan Ale dimulai.

Nah, ini kalo diceritain bakalan panjang banget.

Ale bakalan bantuin orang mati, bakalan masuk penjara, masuk gerbong narkoba, main di tempat pelacur, diselamatkan orang buta dan lainnya.

Hingga akhirnya Ale sadar bahwa dia bukanlah orang gagal.

Ada orang – orang yang peduli dengan dia, bila Ale melihat lebih dekat.

Ale pun tak jadi bunuh diri dan akhirnya melanjutkan hidup lagi.

Iya, gara-gara ga bisa makan mie ayam saat itu, Ale pun kini masih hidup.

Aku pikir, buku ini sangat bagus ya.

Aku rekomendasi untuk pada pembaca membaca buku ini.

Mungkin kisahku bukanlah seperti Ale.

Tapi dari buku ini, aku mendapat pencerahan baru lagi.

Ya, tentang meneruskan hidup dan melihat kehidupan dari berbagai sisi.

Jujur saja, aku suka dengan buku ini.

Hm, hidup ya.

Aku pikir juga banyak hal yang ingin ku lakukan.

Banyak.

Aku ingin mendapat gelar Ironman, aku ingin berdiri di semua puncak dunia, aku ingin ideologi yang aku ciptakan RA di seluruh dunia tersebar, aku ingin lari di gurun Sahara dan benua Antartika.

Bahkan, aku berencana untuk melihat bumi dari luar angkasa dan menginjak kaki ku di planet mars.

Banyak hal.

Dan, tadi juga mau cerita itu tapi ga jadi deh wkwk.

Pokoknya lebih banyak hal yang tak di tuliskan daripada yang ku tuliskan ini.

Dalam setiap doa, semoga Tuhan mendengar kan nya.

Lagi pula, hal yang paling ku inginkan adalah kematian.

Tapi sebelum itu, aku akan berusaha sebagai manusia.

Jakarta, 19 Juli 2025 Pukul 21.30 WIB

2 Replies to “Sore Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

  1. Wahhh, aku baca seporsi mie ayam juga bulan lalu dan bagus yaa..
    Ceritanya witty gitu dan kalau difilemin pasti bagus.

    Sore baru nonton kemarin siang dan suka juga.

    1. Hi Kak Indri,

      Wah sorry baru liat comment di Website. Tapi sebelumnya udah ku reply juga di grup WA dengan komen yang sama ya Kak :). Terima kasih sudah baca ya Kak & Comment. Memang bagus itu novel & film nya. Sekarang makin banyak buku yang bagus sama film yang bagus ya Kak. Kalo ada Blog bisa share juga biar saling Comment 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *