Sebelum aku memulai cerita ku, aku izin untuk memperkenalkan diri. Aku biasa dipanggil Rio, seorang Insinyur dan seorang projects manager.
Tentu, pekerjaan sehari – hari ku ialah menangani project telekomunikasi baik di level nasional maupun internasional. Tapi, bukan itu yang akan ku ceritakan dalam tulisan ini.
Aku ingin menceritakan pengalaman ku menjadi seorang relawan dari Palang Merah Indonesia ( PMI ) di kota ku. Ya, kotaku ialah Jakarta Timur.
Pada hari itu, hari Sabtu dan Minggu tanggal 03 – 04 Februari 202, saat aku menjadi petugas relawan di kecamatan ku, yakni kecamatan Ciracas.
Selama dua hari ini aku dan teman – temanku dari PMI Jakarta Timur akan mengajarkan terkait kepalang merahan pada siswa SD, SMP, dan SMA untuk kecamatanku.
Tentu, setiap sekolah mengirimkan sepuluh orang perwakilan nya untuk representatif dari sekolah. Dan, disini lah aku mulai menyadari sesuatu, sesuatu yang kusebut rantai yang tak pernah putus.
Ya, acaranya dibagi dua hari yakni, hari pertama yakni hari Sabtu untuk pelajar SD, dan hari kedua pada hari Minggu nya untuk pelajar SMP dan SMA.
Pada hari pertama, di sekitar pagi jam tujuh, aku sudah standby untuk menyambut anak – anak yang akan memasuki ruangan.
Ya, aku menunggu di lapangan kecamatan agar aku bisa memastikan bahwa tidak ada anak yang menunggu diluar, alias sudah ku jemput & ku cek.
Aku melihat bahwa banyak sekali anak – anak SD itu diantarkan dengan orang tua nya, kaka kelas nya, gurunya, dan perwakilan sekolahnya.
Kemudian, mereka berfoto, ada yang foto sendiri, ada yang bersama teman – teman nya dan ada yang dengan guru & orang tuanya.
Selama kegiatan pun orang tua, kakak kelas, dan gurunya pun menunggu mereka. Mereka sangat bangga dapat ikut pelatihan tentang kepalang merahan dari PMI.
Saat aku melihat anak kecil yang memakai topi PMI dan dirapihkan oleh orang tuanya, aku melihat di sana ada harapan yang terus berlanjut.
Bahkan mungkin, saat itu aku melihat bahwa agenda ini ialah agenda biasa saja, tapi mungkin bagi mereka bahwa agenda ini lebih dari biasa, bisa jadi yang pertamanya.
Serta, melihat mereka foto dengan bangga nya dengan logo PMI, maka kulihat bahwa terdapat harapan antar generasi, dari generasi tua ke generasi muda.
Ya, selama acara pun mereka begitu antusias, bertanya dengan begitu banyak, dan aku pikir bahwa mereka bukan hanya datang sebagai perwakilan sekolah saja, melainkan mereka memang ingin belajar dan menjadi bagian dari PMI.
Tentu, hatiku tersentuh dengan itu, aksi yang mungkin bagiku tak seberapa tapi ternyata begitu penting bagi mereka.
Jujur saja, baik peserta jenjang sekolah dasar, sekolah menengah, hingga sekolah madya bahwa mereka semua yang datang dan ikut mengantarkan dalam acara ini begitu luar biasa.
Yaa, mereka datang untuk belajar, untuk mengantarkan generasi muda nya untuk keberlanjutan.
Setelah selesai acara, kami pun berfoto dan banyak sekali masukan yang kami terima, seperti kapan acara seperti ini bisa dilakukannya lagi, serta juga beberapa keluhan yang kami terima seperti di sekolah nya kurang adanya guru PMR dan lainnya.
Selama dua hari itu aku belajar bahwa aksi kita mungkin bagi kita tak seberapa, tapi bagi orang lain mungkin sangat penting.
Melihat antusias nya mereka aku menyadari terdapat harapan yang tak pernah putus, harapan itu terus dipupuk dan dihidupkan, itu ialah rantai yang tak perna putus.
Jakarta, 04 Ferbuari 2024

Teman – teman, tulisan ku yang ini masuk dalam buku dengan TEMA: Antologi “Curhatan Hati Seorang Guru” bersama 49 penulis lainnya.
Nanti, jika bukunya sudah terbit akan ku infokan di website ini juga 🙂
