Mendengar dari Lebaran Run: Antara Semangat, Batas Diri, dan Keselamatan

Tiga hari yang lalu, dunia lari sedang berduka.

Kembali, ada peserta yang meninggal dunia saat mengikuti event lari di Sentul.

Ironisnya, event yang mengusung tema halal bihalal pelari—atau disebut juga “Lebaran Run”—justru meninggalkan duka mendalam.

Untuk itu, pertama-tama aku ingin mengucapkan: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semoga amal ibadah almarhum diterima, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.

Mungkin, aku memulai tentang perkenalan diri sendiri dulu.

Perkenalkan, nama aku Rio.

Aku berprofesi sebagai insinyur.

Di dunia lari, aku masih tergolong baru—sekitar lima tahun.

Perjalanan aku pun tidak dimulai dari dorongan pribadi, melainkan ajakan teman untuk mengikuti event virtual run secara grup pada tahun 2021.

Dari situlah aku mendapatkan medali pertama.

Setelah itu, aku baru mulai rutin berlari kembali di tahun 2024.

Saat ini, aku adalah pelari road yang cukup percaya diri untuk mengikuti event hingga 21 km (half marathon) dengan batas cut-off time.

Untuk trail run, aku baru mencoba sejauh 5 km tahun lalu.

Ultra marathon?

Belum pernah.

Selain itu, aku juga pernah mengikuti duathlon dan triathlon, masih di kategori pemula.

Tentang Event Lebaran Run

Sebenarnya, aku sempat mendaftar event ini.

Alasannya sederhana: murah.

Namun, saat proses registrasi, aku mengalami kendala.

Aku sudah berhasil mendaftar, tetapi email pembayaran tidak kunjung masuk.

Setelah menunggu cukup lama, ternyata kuota sudah penuh, dan email baru masuk belakangan.

Saat aku menghubungi panitia, respon yang diberikan terasa kurang menyenangkan seolah harus siap siaga dan siapa cepat dia dapat.

Akhirnya, aku memilih menerima nasib dan move on.

Beberapa hari kemudian, ternyata ada penambahan slot.

Namun aku tidak mengetahuinya, dan pada akhirnya memang tidak ikut.

Secara jujur, aku pun merasa bahwa jika ikut saat itu, kemungkinan besar aku akan DNF (Did Not Finish).

Lalu kenapa tetap ingin ikut?

Ya, kembali lagi: karena murah.

Selain itu, ingin merasakan suasana trail run, bertemu teman-teman pelari, dan tentu saja foto-foto.

Namun aku sadar diri.

Aku tahu batas kemampuan aku.

Hari H dan Kabar Duka

Di hari pelaksanaan, aku sudah tidak terlalu memikirkan event tersebut.

Hingga sore hari, aku melihat informasi di grup lari yang aku ikuti yakni Taman Mini Running Club dan FTUI Runners bahwa ada peserta yang meninggal dunia saat race berlangsung.

Perasaan sedih langsung muncul.

Pikiran pertama aku:

” Siapa saja temanku yang ikut & bagaiamana keadaanya?

Meninggal dalam event lari adalah sesuatu yang jarang terjadi, tetapi bukan tidak mungkin.

Seiring waktu, informasi terus bermunculan.

Media sosial pun ramai.

Oh iya, aku sudah mengenal organisasi itu sejak lebih dari dua tahun lalu.

Bahkan, aku pernah ikut event lari yang mereka selenggarakan, meskipun saat itu aku DNF.

Dari kesan pertama, menurutku gaya komunikasi mereka terkesan agak arogan.

Tapi itu hanya pendapat pribadiku saja saat itu, bisa jadi memang hanya gaya komunikasi mereka saja.

Dan hal itu tidak terlalu aku permasalahkan.

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa mereka cukup aktif menyelenggarakan event lari di daerah Sentul, dan itu tentu hal yang positif.

Namun, dari berbagai informasi yang beredar, event dengan konsep self-support kali ini justru dinilai kurang memperhatikan aspek medis.

Ini memang hal yang cukup tricky, karena bisa saja masing-masing pihak memiliki sudut pandang sendiri.

Di sini, aku hanya mencoba menyampaikan pandanganku secara subjektif sebagai pelari.

Baiklah, aku mulai dari cerita ini.

Regulasi yang Terasa Ribet, Tapi Menyelamatkan Nyawa

Seringkali kita merasa aturan keselamatan itu ribet, berulang, dan membosankan.

Contoh sederhana yakni saat naik pesawat, pramugari selalu memperagakan prosedur keselamatan yang sama.

Bagi penumpang yang sering terbang, ini terasa seperti formalitas.

Padahal, pengulangan itu penting.

Dalam kondisi darurat, manusia cenderung panik dan lupa hal-hal mendasar.

Prosedur yang diulang membantu kita mengingat apa yang harus dilakukan saat waktu sangat terbatas.

Aturan keselamatan tidak muncul begitu saja.

Banyak di antaranya lahir dari tragedi di masa lalu.

Artinya, setiap aturan yang terasa “berlebihan” biasanya punya latar belakang pengalaman pahit.

Kita memang tidak bisa menghilangkan semua risiko.

Namun, kita tidak boleh hanya bergantung pada keberuntungan.

Persiapan adalah bentuk ikhtiar.

Mungkin, regulasi yang terasa ribet seringkali justru menjadi pembatas tipis antara selamat dan celaka.

Kaitannya dengan Event Ini

Event ini mengusung konsep self-support.

Artinya, fasilitas seperti water station mungkin terbatas atau mungkin juga ga harus ada.

Itu masih bisa dipahami.

Namun untuk aspek medis, ini hal yang krusial.

Dalam kondisi darurat, kehadiran tim medis bisa menjadi pembeda antara hidup dan tidaknya seseorang.

Setidaknya, kita memberikan kesempatan terbaik sebelum menyerahkan semuanya pada takdir.

Di sisi lain, sebagai pelari, kita juga harus sadar diri.

DNF bukanlah aib.

Tidak menyelesaikan lomba jauh lebih baik daripada memaksakan diri hingga membahayakan nyawa.

Tidak ada yang rugi.

Semua orang pernah gagal, dan kegagalan adalah bagian dari proses.

Kalau aku pribadi?

Gagal itu sudah jadi bagian hidup aku, dan itu tidak apa-apa.

Karena sejatinya, kemenangan terbesar dalam lari adalah pulang ke rumah dengan selamat.

Oh iya, sebenarnya, banyak juga event lain yang relatif lebih aman, seperti futsal yang hanya berlangsung sekitar dua jam, atau kegiatan study tour bahkan ada tim medis nya sendiri.

Dalam kegiatan seperti itu, penyelenggara biasanya sudah menyiapkan tim medis baik dengan menyewa maupun bekerja sama dengan pihak tertentu demi kelancaran acara.

Dan menurutku, itu adalah hal yang sangat baik.

Referensi dari Event Ekstrem

Memang, di dunia ini ada event yang jauh lebih ekstrem.

Misalnya ultra marathon di gurun seperti Marathon des Sables, yang menempuh ratusan kilometer dalam kondisi sangat berat.

Namun, event seperti itu memiliki seleksi ketat, standar keselamatan tinggi, dan peserta yang benar-benar siap secara fisik dan mental.

Untuk event lari di gurun seperti Marathon des Sables, aku pernah membaca di website resminya bahwa peserta harus menandatangani pernyataan siap menghadapi risiko ekstrem, termasuk risiko meninggal dunia, bahkan sampai mencantumkan ke mana jenazah akan dikirim.

Selain itu, untuk bisa ikut saja sudah melalui proses seleksi yang sangat ketat.

Tidak semua orang bisa mendaftar, dan memang hanya sedikit orang di dunia yang benar-benar siap mengikuti event seperti itu.

Lalu pertanyaannya, apakah event lari di Indonesia sudah sampai pada level kesiapan seperti itu?

Biarlah pertanyaan ini dijawab oleh kita masing-masing.

Sebagai penutup, aku hanya ingin mengingatkan bahwa bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi gotong royong, ramah, dan penuh semangat juang.

Nilai-nilai itulah yang seharusnya terus kita jaga, termasuk dalam dunia lari.

Dan pastinya, aku selalu kagum dengan para pelari: ada yang sudah lanjut usia tapi tetap berlari, ada yang memiliki berat badan berlebih namun tetap berusaha berlari.

Itu semua sangat menginspirasi.

Untuk para runner di mana pun berada,

Tetap semangat, jaga diri, dan kenali batas kemampuan.

Jakarta, 30 Maret 2026 Pukul 19.40 WIB

2 Replies to “Mendengar dari Lebaran Run: Antara Semangat, Batas Diri, dan Keselamatan”

Leave a Reply to Riki Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *