Rasanya setelah makan ayam penyet, perutku sakit sekali.
Iya bolak balik ke kamar mandi padahal makan nya sudah dari kemari dan masih sakit.
Aku pikir ini tanda.
Iya tanda terutama untuk diriku.
Artinya, perut ku sudah a ga kuat lagi.
Dan mungkin memang selama ini udah kurang makan yang pedes sih.
Nah, tubuh membiasakan apa yang biasa dimakan kan memang.
Tapi selain itu, aku rasa perut ku juga sudah gemuk.
Sudah lama aku ga sixpack wkwk.
Ya gemuk lah intinya.
Jujur saja, apabila badan kelebihan lemak artinya akan sulit bergerak.
Selain itu, akan muncul banyak penyakit nantinya.
Ya artinya harus perkuat otot.
Dan katanya sih ohlaraga yang bagus ya diusia 30an salah satu yang penting adalah latihan beban.
Sejujurnya aku ga pernah mencari tahu sih apakah itu benar atau engga, tapi aku sepakat.
Latihan beban penting sekali untuk menjaga masa otot.
Nih ya, kalo mau kemana-mana maka fisik yang kuat itu penting sekali.
Kalo fisik nya ga kuat ya lebih sulit aja rasanya.
Hm, enak ya cuman teori doang tapi kenyataannya kok aku mager ya wkwk.
Ya, udah beli matras buat dirumah, barbel, sepatu lari rasanya kok belum maksimal ya.
Hm, aku harus berusaha lagi!
Maksimalkan Hidup
Terkadang aku sedih sih, dan bertanya
” Apakah aku sudah memaksimalkan kehidupan ini ? “
Tentu, itu adalah saat dimana aku setiap saat mengingat akan kematianku.
Terkadang, yang membuat sedih bukanlah karena gagal, tapi karena banyak hal yang belum kita lakukan atau bahkan belum kita maksimalkan yang ada.
” Bagaimana aku menghadap Tuhan ?” Ya pikir ku.
Kau tahu, hidup hanyalah sementara.
Lalu jika kita nantinya masuk neraka ya buat apa.
Terkadang, ada orang yang selalu menyamakan bahwa uang itu nomor satu.
Aku sepakat, ya menurut dia saja.
Uang itu penting, tapi itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan.
Ya tujuan nya akhirat.
Makanya, kalo bisa uang nya banyak hehe.
Nah, kalo ada seseorang yang mendewakan uang ya artinya orang tersebut belum mengerti saja.
Sejarah telah membuktikan bahwa bahkan peradaban yang unggul saja bisa musnah karena suatu alasan.
Artinya, ketika peradaban itu musnah ya musnah saja.
Tapi, berbeda dengan iman.
Dia akan menjembatani mu sampai akhirat.
Lagi pula, banyak hal iman yang mungkin manusia belum mengerti saja.
Tapi, jika dia menggunakan akal nya akan banyak tanda yang dijelaskan Alquran tentang semua alam semesta dan akan membuat seorang yang menggunakan akal nya untuk semakin percaya bahwa kehidupan ini adalah perantara untuk menuju kehidupan sebenarnya.
Aku pikir itu dulu kali ya, udah ngantuk nih hehe.
Ya, aku mulai bersandar di sofa yang ada di halaman rumahku, kemudian ku tumpukkan dua bantal dan aku mulai menulis di notes di hp ku dengan ditemani kopi.
Ya, ini rasanya baru bisa bersantai.
Dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang ini aku berberes beres.
Apa aja sih.
Kaya beres kamar, beres halaman, beres dapur, dan bisa dibilang semuanya.
Mulai dari cuci piring, taruh baju laundry, buang sampah dan semuanya deh.
Dan ya, sekalian pasang bendera merah putih dengan bambu di tiang pagar rumah.
Maklum bulan depan sudah tanggal 17 Agustus 2025.
Tadi karena lagi berberes saja, ngeliat bambu dan bendera merah putih jadi sekalian saja.
Asli, berberes cape banget ya.
Cuman ya gimana ya, kalo ga berberes nanti malah bakalan ganggu pas hari kerja.
Memang biasanya weekend itu biasanya beberes sih, kalo hari kerja rasanya sibuk banget itu hari.
Hm terus mulai dari mana lagi ya ceritanya.
Ok, mulai dari Jakarta kali ya.
Jakarta.
Tentu, rasanya tinggal di Jakarta itu enak sekali.
Ku pikir, bagiku bahwa jakarta adalah tempat favorit ku.
Iya semuanya ada disini.
Udah aman, nyaman dan ini itu kaya miniatur Indonesia bahkan ASEAN.
Dan karena aku tinggal di wilayah timur jakarta, juga enak vibes nya terus makanan nya juga murah, nasi uduk lima ribu rupiah pun juga ada.
Bangunan tertinggi disini, hm apa ya, pasar Ciracas kayanya yang cuman dua lantai.
Ya mungkin ada rumah yang tinggi nya tiga lantai sih.
Tapi, berbeda dengan wilayah Jakarta pusat dan lainnya, bahwa darah Jakarta Timur itu memang lebih kampung sih.
Dan, rasanya tinggal di timur ya kaya vibes desa tapi lokasi nya di jakarta.
Lagi pula, di jakarta itu rumah.
Banyak hal yang disukai, orang-orang nya, vibes nya dan rumah nya.
Ya mungkin karena aku memang lahir dan besar disini makanya ini klaim subjektif saja.
Oh iya, kemarin tuh hari Sabtu setelah ujian di Al-Utsmani ya bawaan nya mau tidur aja.
Bisa dibilang agak stress ya.
Udah lama ga ngerasain itu.
Ya, mungkin stress itu terjadi karena kompetensi kita terasa kurang dengan ujian kenyataan yang akan dihadapi.
Ya kalo mau jadi orang yang ga stres mungkin salah satunya bahwa kompetensi kita bisa lebih baik dari kenyataan yang akan kita hadapi.
Ya ini kan salah satunya.
Kalo orang bisa banyak hal mah merdeka.
Artinya, ga perlu takut pada berbagai hal.
Misal, kalo orang bisa renang, di laut pun lebih pede daripada orang yang ga bisa renang.
Ataupun orang yang biasa ngomong didepan umum, umumnya lebih pede daripada orang yang belum terbiasa ngomong di depan umum.
Kuncinya apa ?
Ya mesti bisa banyak kompetensi hidup & dibiasakan.
Dibiasakan untuk ditingkatkan kompetensi nya dan lainnya.
Itu sih.
Kedepan aku juga pengen meningkatkan banyak kompetensi ku.
Buat apa ?
Buat merdeka dong.
Jadi hidup lebih mudah saja rasanya.
Ya mumpung masih muda, masih punya tenaga.
Nah uang nya itu wkwk.
So far sih gue seneng sih tinggal di jakarta.
Lagi pula, jakarta ini akan menjadi piloting gue buat memulai sesuatu yang besar.
Oh iya itu dulu aja kali ya.
Aku juga mau nyelesain beberapa tulisan yang udah numpuk terus share disini juga.
Lagi dan lagi, mataku terbangun dari tidurku dan aku melihat bahwa jam di handphone masih menunjukan jam 02.30 pagi.
Tanpa terasa pikiran ku berpikir tentang sesuatu hal.
Iya, ku ambil hp yang ternyata baterai nya sudah 100 % full dan ku lanjutkan menulis.
Saat mulai menulis, rasanya kaki masih pegal saja.
Ku pikir aku mesti banyak latihan lari nantinya agar kaki ku menjadi kuat.
Maklum, penopang badan ya kaki.
Ya, tentang personal branding.
Aku sepakat bahwa personal branding adalah apa yang kita dokumentasi dan kita bagikan kepada orang lain.
Tentu, hal ini membuat mudah saja rasanya, sehingga kita tak perlu merekayasa apa yang harus dibuat.
Ini pernyataan dari Raditya Dika, yang mana aku sepakatin.
Namun dalam membagikan nya kadang ada proses yang mungkin membuat orang lain merasa
” Ini ngapain sih orang “
Atau pun reaksi yang kaya ini orang
” Dagang Mulu, ataupun kaya haus validasi “.
Hm, mulai dari mana ya.
Sebenarnya sih kadang aku malu juga ketika membagikan hal kaya beberapa dokumentasi ku ataupun karya ku.
Bisa dibilang bahkan selama 5 tahun dari periode 2018 – 2023, gambar foto profil WhatsApp ku itu alam di Bali yang mana aku waktu itu di 2018 sedang berkunjung kesana dan tidak pernah diganti.
Baru dimulai tahun 2024 ya mulai diganti.
Tapi, aku sepakat dengan buku ataupun video yang mana aku nonton, tapi lupa judulnya.
Bahwa orang-orang yang berasal dari kita sebut ” Generasi Perintis “ ya harus menjemput bola.
Alias harus koar-koar, dalam hal ini yang positif misalkan karya, dagangan ataupun apa gitu.
Biar apa ? Biar dunia aware dengan keunikan kita. Kl
Kalo engga gitu ya akan sulit untuk dunia menotif keunikan kita.
Ya mungkin niat kita emang baik, tapi ga semua niat bisa dipahami oleh orang lain.
Tapi yauda deh, kalo bukan dari keluarga yang kita sebuah pewaris, ga usah banyak malu.
Maju terus saja !
Toh juga kalo elo susah kan belum tentu dibantu orang lain kan.
Iya, jadi ga usah malu.
Kalo punya dagangan ya hayuk jual.
Ga usah banyak malu – malu.
Karena saat ini posisi kita menjemput pintu rejeki.
Lagi pula nih ya, kita ga usah perlu pikir banyak hal yang di luar kendali kita, pikir apa yang ada di dalam kendali aja.
Jadi, ya begitu.
Itu yang saat ini aku yakini.
Ya mungkin kedepan bisa berubah karena hidup akan dinamis.
Jadi, kalo ada orang yang bilang
” Kalo memang dia kaya ya ga usah koar-koar ” .
Iya bener, ya mungkin dia enak dari orang kaya alias bapaknya kaya.
Tapi kalo dari keturunan generasi pewaris ,
” Ya mesti koar-koar dong “.
Maksudnya saat di telah mencapai posisi yang disebut puncak, pasti proses nya juga jualan, ataupun yang disebut koar-koar.
Kalo udah di level yang bener – bener kaya banget ya mungkin udah ga perlu koar-koar.
Tapi, kalo menurut ku nih ya, koar-koar selama itu positif dan ga merugikan orang lain ya maju aja.
Ini bahkan nih ya, presentase entrepreneur Indonesia itu rendah banget, presentase nya lupa tapi kecil lah buat standar minimal berapa banyak entrepreneur yang minimal ada dalam suatu bangsa.
Kenapa ?
Ya karena budaya entrepreneur Indonesia yang kurang.
Mungkin alasan nya salah satu nya ya kurang koar-koar dalam berjualan.
Nah itu dulu kali ya.
Nulis kaya gini aja sampe di posting di website ini aja udah butuh waktu 30 menit hehe.
Ku liat layar handphone ku dan jam masih menunjukkan jam setengah dua pagi.
Kemudian, aku buka WhatsApp ku dan ada beberapa chat grup yang masuk.
Aku buka beberapa yang memang ada kepentingan dengan ku.
Maklum, di handphone ku itu ada ratusan grup yang bahkan sudah ku arsipkan lebih dari seratus grup.
Biasanya, ketika ada yang mencari ku, bisa dengan melalui tag di WhatsApp ataupun dengan personal message ke aku.
Tapi, ku lihat engga ada kalo sekarang.
Sepertinya pesan yang ku balas tadi malam itu di sekitar jam delapan malam kemarin.
Ya, aku buka beberapa grup.
Ada yang masih kerja, ada yang masih larian, ada yang masih rapat organisasi.
Umumnya, kesibukan dunia.
Setelah nya, aku mulai memejamkan mata untuk kembali tidur.
Di momen – momen ini biasanya banyak hal yang terlintas di pikiran.
Sebuah kejernihan muncul dari keheningan.
Seperti, hari ini mau ngapain ya ?
Kalo misalkan ada agenda yang ga begitu penting di pikiran ku, ya di cancel aja jadinya.
Ya begitulah lah.
Selain itu, juga banyak hal yang umumnya ku pikirkan di waktu pagi ini.
Biasanya badan ku mulai bangun itu di jam empat pagi, tapi pagi ini tumben di jam setengah dua pagi.
Hm, aku juga udah pasang speaker alarm di handphone ku dan jam welkerku.
Maklum, kalo alarm hp biasanya lewat alias kebablasan.
Sehingga, pada saat momen yang menurut ku penting, aku membawa jam welker agar aku on time bangun nya, bahkan jika aku sedang ke luar kota.
Tapi, mataku tak bisa tidur.
Akhirnya, aku kembali membuka handphone ku dan ku lihat sosial media ku.
Hingga ada postingan tentang temanku dimana tanpa sengaja aku melihat postingan nya di bulan Maret tahun ini tentang wisuda dia.
Ya, wisuda sebagai lulusan yang membacah tilawah dengan benar dari sebuah pesantren.
Dan, ternyata pesantren itu ialah tempat ku juga yang mana aku masih mengaji disitu.
Dalam tulisan nya, dia bercerita tentang mengaji nya dia selama enam tahun di tempat itu.
Tentu, aku mengenal nya dia sejak kuliah dan memang dia adalah sosok yang luar biasa.
Kembali ke mengaji
Itu membuat aku menjadi refleksi tentang kenapa aku mengaji.
Tapi sebelum itu, mungkin aku mulai dari awal.
Sejak kecil, aku juga sudah mengaji, mulai dari baca iqro.
Ya, bersama teman-teman di rumah.
Habis magrib, aku dan beberapa temanku pergi ke tempat guru kami mengaji.
Namun, aku pernah berpindah tempat mengaji.
Seingatku ada tiga tempat aku pindah mengaji.
Tapi itu juga durasinya bukanlah yang cepat, tapi sekitar enam tahun sepertinya.
Alasan pindah kenapa ya ? Lupa.
Ada yang ngaji pagi lah, ada yang sore lah.
Ya beda-beda sih.
Tapi kalo yang terakhir itu pas aku kelas lima sampe enam SD itu di habis magrib.
Ya, habis magrib aku dan teman-teman ku mengaji ke rumah guru yang mungkin jarak nya lima belas menit dari rumah dengan jalan kaki.
Cowok semua, ada yang sepantaran usiannya dengan ku, ada yang lebih tua, ada yang lebih muda.
Setelah sampai di lokasi mengaji, seingatku membaca iqro dan nanti nya maju secara bergantian dengan level nya masing-masing.
Setelah selesai, ya pulang bareng lagi sekitar jam setengah delapan hingga delapan malam.
Itu kalo engga nongkrong.
Kalo nongkrong ya macem-macem.
Bisa perang sarung dulu, bisa main bola atau apapun lah.
Hingga aku mencapai lulus iqro di kelas 6 SD dan masuk ke level bacaan Al Qur’an.
Saat itu, aku sebenarnya udah merasa bahwa di kelas 6 SD tapi baru masuk level membaca Alquran itu udah kaya ketuaan.
Padahal yang masih kelas 4 SD aja udah masuk level membaca Alquran.
Ya merasa aja, tapi selesai disitu.
Terkadang, hidup di lingkungan juga menyesuaikan kan.
Apalagi kerjaanku hanya bermain saja.
Ketika teman-teman ku pada mengaji, dan aku tidak, ya ditanya dong kenapa ga ikut.
Jadi, ikut saja.
Setelah itu, aku pun pindah rumah dan masuk ke SMP.
Periode SMP hingga SMA ya benar-benar ga mengaji.
Tapi di periode ini, aku mulai berubah.
Yang biasanya rangking lima terbawah kini jadi rangking peringkat awal awal di sekolah karena sudah suka baca buku.
Macam-macam lah baca buku nya.
Tapi tidak ada kaitan dengan Alquran.
Lagi pula, kalo sekadar membaca Alquran aku udah bisa, jadi ga merasa ada yang kurang ataupun tertinggal dari orang lain.
Setelah nya, aku masuk kuliah.
Di kuliah, aku daftar beasiswa berpretasi yang aku juga mesti asrama alias mondok.
Singkat cerita, aku diterima beasiswa tersebut.
Kegiatan asrama macam-macam.
Mulai dari tahajjud, shubuh berjamaah, baca zikir pagi lah dan macam – macam.
Saat disanalah aku sudah merasa ada yang kurang.
Beberapa teman ku ada yang sudah hafal Al Qur’an 30 juz, ada juga yang beberapa juz.
Berbeda dengan ku, jauh lah.
Kalo jadi imam juga terasa berbeda sekali, terutama saat tahajjud.
Mereka yang memiliki kemampuan Alquran lebih baik, membaca ayat Alquran yang panjang – panjang dan kadang aku juga engga tahu ayat atau surat apa yang dia ucapkan.
Sedangkan aku, ya surat-surat pendek saja.
Tapi, namanya kan juga mondok ya, di gembleng buat lebih baik kedepan nya.
Kemudian, terkadang dalam dua Minggu ada setoran hafalan Qur’an.
Saat agenda ini, kadang aku balik kerumah dan izin tidak menginap wkwk.
Biasanya ini tuh di Jumat habis shubuh.
Ya rasanya sulit sekali setoran hafalan.
Belakangan juga aku menyadari bahwa alasan sulit menyetor hafalan karena waktu kita bersama Al Qur’an saja yang masih sedikit.
Singkat cerita, aku lulus dari asrama berbarengan dengan lulus dari kampus.
Hingga aku kerja merantau.
Ya, merantau ke Papua.
Saat itu ada hasrat ingin kembali mengaji lagi.
Ngomong – ngomong tentang mengaji atau yang biasa kami sebut liqo ( Dalam bahasa artinya lingkaran dari bahasa arab ), itu macem – macem.
Ada yang liqo tentang pembinaan kepemimpinan, ada yang tentang ilmu Al-Qur’an, dan sebagainya.
Di cerita ini, aku menceritakan liqo khusus ilmu Al-Qur’an.
Kembali di Papua, aku cek beberapa tempat rekomendasi dari teman ku via internet, dan ku hubungin tempat nya, tapi tidak ada kelas online.
Saat itu, tahun 2020an awal masih belum ada kelas online untuk mengaji secara umum.
Hingga di 2020an akhir sudah mulai banyak kelas mengaji yang membuka secara online dikarenakan pandemi yang tak kunjung usai.
Tapi, waktu di Papua berbeda dua jam dengan di Jakarta.
Tentu, ini sangat berpengaruh dengan ku.
Jika mengaji di jam enam pagi waktu jakarta, di Papua sudah kerja karena sudah jam delapan pagi.
Kalo mulai di jam delapan malam waktu jakarta, di Papua sudah jam sepuluh malam.
Aku pernah mencoba di kelas lain yang bukan kelas Alquran, tapi ga kuat ey.
Akhirnya, ya ga ngaji lagi.
Kemudian, aku pindah kerja di jakarta.
Hasrat ngaji belum kepikiran kembali.
Mulai kembali itu di tahun 2024.
Dan ya, di tempat yang dulu aku mendaftar.
Alasan memilih tempat itu karena aku punya teman yang ngaji disitu, lokasi nya juga dekat, dan ku liat juga bagus secara kurikulum.
Aku mendaftar di kelas online di pagi hari.
Pas di kelas, aku yang paling muda saat itu.
Banyak yang usianya jauh lebih tua dari ku, ada yang usianya 60 tahunan dan umumnya itu usia 40 hingga 50 tahunan.
Profesi nya pun macam-macam ada yang jadi dosen, pensiunan, kerja, dan lainnya.
Mungkin karena masih muda, sehingga aku jadi ketua kelas nya.
Ini berlangsung sekitar 7 bulanan alias 2 kelas.
Umumnya satu kelas itu durasi nya 3,5 bulan.
Waktu kelas pun juga menyesuaikan dengan kuota pelajar.
Misal, aku yang dulu di kelas Selasa jam enam pagi, setelah nya pindah ke Sabtu pagi.
Alasannya ?
Karena di Sabtu pagi ada level ku yang belajar juga.
Kalo aku ikut di Selasa pagi, sudah beda level dan kalo mau ikut ya bisa saja, cuman kurang efektif saja menurut ku.
Karena kan dengan waktu yang sama tapi dibagi dengan level yang lain.
Ok, aku dari tahun 2024 sampe sekarang, sudah satu tahun lebih lah ya konsisten hehe.
Aku pun juga kadang ga naik level, karena ujian nya belum lancar ataupun karena jumlah absen yang kurang.
Ya, kalo mau selesai ya selesai aja kan, kan ga ada yang nyuruh ngaji wkwk.
Tapi seorang Warrior ga semudah itu dalam berjuang.
Kita datang untuk belajar kan, buat apa ? Buat bisa dong.
Jadi, sekarang ngaji nya udah offline setiap Sabtu pagi, biar apa ? Biar lebih fokus saja, terlebih saat ini kan aku juga masih di Jakarta.
Kemudian, juga kadang merasa malu.
Malu kenapa ?
Kita baca buku beraneka ragam, tapi yang menuntun kita hingga kematian dan akhirat ya Al-Qur’an.
Masa cuma mau level bisa sekadar doang sih.
Tentu, alasan utama aku ingin mendalami Alquran itu karena aku mendengar bahwa penghafal Al-Quran itu bisa mengajak kedua orang tua nya masuk surga secara langsung.
Dan sekeluarga ku juga ingin nya.
Intinya surga sih.
Lagi pula siapa sih yang ga mau masuk surga ?
Semua hal didunia ini kan hanya tools buat masuk surga.
Terlebih, banyak kata-kata dari guru ku yang nendang juga.
“Masa sih ente kaga malu ga bisa ngajarin anak Alquran nantinya? “ ” Pemimpin ga bisa ngaji, malu ente ! “
Ya macam – macam lah.
Maklum, aku dikader untuk menjadi seorang pemimpin.
Menjadi pemimpin artinya memiliki tugas dan kewajiban yang lebih berat dari orang secara umumnya.
Tapi itu alasan dari luar, kalo alasan dari dalam diri ya ingin surga.
Kembali ke postingan teman ku itu.
Aku pun saat ini masih ngaji, masih berusaha.
Aku ga mau jika sudah tua tapi bisa dibilang masih minim lah ilmu agama nya.
Kalo bisa dimaksimalkan, kenapa tidak ?
Ilmu agama kan ilmu sepanjang hayat.
Bisa dibilang, masih jauh lah perjalanan ku untuk menjadi hafidz Alquran, dalam hal ini 30 juz.
Tapi, ya gapapa.
Perbanyak waktu dengan Alquran saja saat ini.
Aku pikir, itu dulu kali ya.
Jam sudah menunjukkan jam setengah empat pagi, dimana aku mesti bersiap buat lari di Depok run 5 Km.
Ya, happy-happy aja sih hehe.
Semoga aku dan kalian semua konsisten tentang mengaji.
Jakarta, 22 Juni 2025 Pukul 03.30 WIB Salam Rio
Oh iya, selamat ulang tahun kota Jakarta :).
Btw, jam di website ini standar USA time, jadi beneran 22 Juni kok ditulis nya 🙂
Ataupun banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam otak ku.
Terkadang, ketika aku menulis tulisan tentang Warrior, aku juga bertanya,
” Apakah tulisan kaya gini bisa dishare ? “
Entahlah.
Tulisan tentang Warrior pun juga sesuatu yang tak terencana.
Itu hadir di tengah jalan.
Sekali lagi,
” Apakah tulisan ku ini berguna bagi orang lain ? “
Sejujurnya, jika itu tak berguna bagi orang lain, tapi aku menulis untuk diriku sendiri.
Seseorang hidup dimulai dari diri sendiri dan pada akhirnya pun diri sendiri.
Hm, baiklah mari kita mulai !.
Tentu, aku pikir dalam tulisan ini aku akan membuat tulisan tentang 24 jam ku sebagai Warrior.
Ya, Warrior wkwk.
Tapi, ini yang bisa ku share saja sih.
Banyak hal yang gabisa dishare.
Pertama apa ya ?
Sebenarnya tuh aku pengen buat tulisan yang sudah lama juga sih belum dishare kaya open trip ke pulau pari lah, dan lain-lain.
Mungkin jika teman-teman tertarik bisa membaca tulisan ku di website ini juga, ya cari nanti, belum dibuat sih wkwk.
Sekarang, ini sih baru jam 7an malam.
Mulai dari daftar Depok run kali ya hehe.
Depok Run.
Awalnya itu aku mendengar Depok Run udah beberapa waktu lalu.
Itu lari 5 km aja sih.
Dan ya, sebenarnya aku udah malas ikut yang lari 5 km.
Kenapa ?
Ya, karena bisa lari sendiri aja dan ngapain gasih buang-buang uang ?.
Ya mungkin dalam case tertentu ya berbeda.
Tapi entah kenapa ya.
Ku pikir lagi, dan akhirnya aku daftar Depok run.
Kenapa daftar ?
Kasihan, dan ingin menjadi bagian aja dari event pertama kota Depok dalam pelarian.
Ya, kasihan.
Depok itu di underestimate menurut ku.
Walau aku tinggal di kota Jakarta, tapi rumahku itu lebih dekat ke Depok dari pada Jakarta Timur yang bahkan kota madya ku.
Dan bisa dikatakan, aku banyak sekali kegiatan di Depok, terutama jalan Margonda.
Rasanya kasihan aja, mereka bikin event tapi aku tak membantu mensukseskan acara mereka.
Kedua, ingin menjadi bagian aja.
Dunia lari di Depok itu sudah mulai diperhatikan, ada event car free day di Margonda itu setiap Minggu menurutku bagus.
Walau ada UI ya lokasi nya dekat, tapi berbeda aja.
UI itu ya kampus, kalo jalan Margonda itu jalan raya besar di Depok.
Dengan adanya car free day di jalan raya utama kota Depok.
Itu menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada dunia lari.
Ga cuman lari sih, banyak hal yang di event CFD, CFD Sudirman itu contoh yang bagus nya.
Dan makin banyak orang yang ohlaraga, dan ga tau ya rasanya senang aja.
Lagi pula, walau aku hanya ingin membantu kota Depok dalam acara suksesi nya, aku tak meminta apa – apa kok.
Apa iya dalam ketulusan kita meminta imbal balik ?
Ya enggaklah, kalo gitu ya ga tulus dong hehe.
Kemudian, tanpa aku ikut juga mungkin itu event ya jalan-jalan aja, namun event itu ibarat kaya membangun rumah, aku ingin menjadi bagian dari batu bata yang menyusun nya.
Ya karena hidupku juga banyak sekali di Depok.
Hanya ingin membantu kota itu saja.
Kota kedua yang paling banyak ku tinggali setelah kota Jakarta.
Dan moga lancar nanti acara nya.
Amin.
Lalu, donasi.
Ya, donasi udah hal yang biasa sih yang aku lakukan.
Sudah dari tahun 2020 hehe.
Bukan sombong tapi apa adanya lah wkwk.
Lagi pula, kan kita boleh iri sama orang yang dermawan.
Buat apa ?
Ya buat motivasi.
Tapi, kalo di ranah donasi ku masih jauh lah, masih berusaha.
Ya, aku lihat beberapa waktu lalu di grup WhatsApp elektro angkatan ku, dibuka donasi buat mahasiswa elektro yang kurang mampu.
Ya ada beberapa skenario.
Setelah mendaftar ya dihubungin beberapa hari oleh mahasiswa elektro UI nya.
Kemudian, nanti ada kode unik buat bayar nya.
Dan baru bayar nya hari Jumat malam ini.
Kenapa ?
Ya buat ada cerita juga di Warrior wkwk.
Tapi emang kalo weekday sibuk aja sih, kalo weekend itu lebih santai aja.
Jadi itu juga kadang kalo sesuatu yang ga urgent biasanya dilakukan pas weekend aja.
Kemudian, kalo inget masa kuliah mah berat, makan warkop dan warteg terus wkwk.
Yah, kalo di ingat berat.
Tapi, jika dipikir kembali.
Aku yang hanya seorang pemuda biasa dan kini bertransformasi dan berproses menjadi pemuda yang memiliki pengaruh yang besar.
Nah, itu asal nya dari masa lalu, pastinya kampus UI yang tempat ku belajar banyak hal.
Lalu, penulis.
Jujur saja, mungkin menurut ku ya.
Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh banyak orang tuh ya menulis.
Kenapa ?
Karena bisa menceritakan apa yang dilalui nya.
Lagi pula dengan menulis, lebih dihargai aja.
Berbeda dengan radio, video atau mungkin nanti ada hologram yang akan terganti terus menerus.
Kalo tulisan itu abadi, lihat saja tulisan Plato.
Sudah berapa ribu tahun itu, kita masih bisa baca.
Lagi pula, sekarang tuh zaman ini menjadi penulis kaya sesuatu yang langkah.
Padahal nih ya, zaman Indonesia merdeka, zaman ulama Islam, itu menulis terus, bahkan sampai kurang tidur.
Sekarang zaman maju tapi kok ada yang mundur,
Ya begitulah kondisi zaman sekarang.
Awalnya juga aku udah nikmat menjadi seorang pembaca buku saja.
Ku pikir membaca buku dan ditemenin oleh kopi itu udah enak.
Kita bisa melihat ribuan tahun lalu, pemikiran orang-orang hebat dan masih banyak lainnya.
Tapi, ku pikir orang yang selama ini kita tunggu – tunggu sebagai pahlawan untuk merubah dunia kita ini jangan-jangan diri kita sendiri.
Kita menunggu, dan menunggu.
Tapi, lingkungan kita begitu aja tuh, jalanan begitu, kali begitu, dan semacamnya nya.
Ya, mungkin kitalah orang yang ditunggu – tunggu.
Andaikan bukan kita, minimal kita udah usaha.
Atas dasar itulah, aku yang tadinya hanya membaca buku, kini juga ku sisihkan kerah baju ku dan turun ke lapangan.
Join the war.
Ya, minimal lewat tulisan ini aku juga bisa membantu agar orang lain juga ikut bergerak.
Membantu lingkungan sekitar nya.
Karena itu, aku meminta maaf.
Sebuah permintaan maaf yang telah ku jelaskan di buku ketiga ku yakni warrior.
Bagi yang penasaran baca deh buku Warrior nya hehe.
Oh iya, tapi tak perlu buru – buru menjadi orang penting.
Bergaul dengan orang penting bukan berarti diri kita menjadi penting.
Tapi, jadilah manusia yang bernilai.
Menjadi manusia bernilai, rasanya tepat.
Ya itu sih menurut ku.
Lagi pula jika kita sudah sukses, maka yang paling penting adalah makan bersama dengan orang – orang yang pada saat kita susah tetap ada bersama kita.
Itu penting banget asli.
Dan, banyak hal yang ga bisa langsung jadi.
Misalkan saja dalam membuat buku.
Ga mungkin dalam satu malam jadi, ya itu sih menurut ku.
Mulai huruf pertama, kata pertama dan terus berganti waktu, maka bisa menjadi buku.
Itu juga belum waktu mengedit, cross check nya yang lama juga hehe.
Pokoknya semua berproses deh.
Jadi, tetap bertahan terhadap apa yang kita yakini, dan majulah.
Terus, asli sudah jam 8 malam ini, perut lapar banget.
Makan dulu lah ya :).
Ini makan nasi goeng & martabak.
Kemudian, aku tidur.
Hingga. aku terbangun dalam tidur ku, dan ku lihat hp bahwa jam menunjukan masih di jam 1 lewat 45 pagi.
Banyak pikiran yang masuk dalam mimpi ku.
Banyak.
Saking banyak nya ku tuliskan dalam ketikan hp ini.
Bersyukur
Waktu membawa ku, saat aku ke masa – masa kerja di Papua, tepatnya di kota Tembagapura.
Kota itu begitu sangat dingin, hujan selalu ada di setiap hari nya.
Tapi, kita akan pernah kekruangan makanan, makan pun tergolong mewah.
Cuman paling hambar saja karena ga ada rasa.
Dua mingu pertama rasanya enak sekali makanan semewah itu & dikasih gratis.
Tapi, setelahnya juga nanti bosen.
Begitulah sifat manusia.
Selain itu, mengingatkan ku juga pada saat aku ada di mess.
Walaupun aku di level staff yang umumnya level staff itu satu kamar kecil dengan 2 orang, tapi tetap saja kurang bahagia.
Mungkin karena saat itu aku sudah terlalu lama ada disana, 8 bulan lebih tidak balik.
Padahal awalnya, itu cuman 6 Minggu kerja dan 2 Minggu cuti di Jakarta.
Cuman saat itu, saat aku baru mulai pertama kali merantau langsung covid.
Jadi ya, ga bisa balik dulu.
Tapi, aku bersyukur sih bisa kaya gitu.
Jadi, kita tau apa yang kurang cocok dengan kita.
Terkadang, kita ga langsung menemukan pekerjaan yang tepat dalam hidup, tapi menemukan pekerjaan yang tidak cocok dalam hidup juga adalah hal yang tepat.
Semua yang di Tembagapura itu enak, kecuali satu hal, lokasi.
Bagi orang yang sering merantau, mungkin biasa aja.
Tapi, bagi yang belum pernah atau jarang merantau mungkin ini akan menjadi pertimbangan, terutama aku.
Kenapa ?
Karena waktu terbesar pria adalah dengan pekerjaan.
Ya, ini haya preferensi saja.
Dan faktor lokasi sangat berhubungan erat dengan keluarga.
Tentu, ini akan menjadi pertimbangan yang penting untuk ku.
Singkat cerita, lokasi adalah salah satu faktor penting untuk jenjang karir ataupun jenjang hidup secara jangka panjang.
Lagi pula, ketika seseorang masuk dalam karir di suatu tempat, umumnya 2-3 tahun, orang tersebut sudah melihat tentang dimana dia kedepan nya dalam perusahaan itu.
Kemudian, tiba-tiba pikiran tentang WHV.
WHV atau biasa disebut sebagai Work Holiday Visa
Umumnya ini di Australia.
Beberapa orang yang ku kenal sudah mengikuti ini.
WHV ini seperti seseorang warga negara Indonesia yang diseleksi untuk dapat bekerja di negara Australia dan umumnya itu mungkin bisa sampai 3 tahun dengan menggunakan visa WHV.
Gaji nya pun yang ditawarkan juga begitu tinggi, jauh jika dibandingkan dengan di Indonesia.
Umumnya, pekerjaan WHV dimataku itu ya begitu.
Maksudnya, tak perlu kemampuan orang yang bergelar Sarjana untuk melakukan itu.
Umumnya kaya tukang sapu, tukang kebun dan lainnya.
Informasi yang ku dapat dari temanku yang di Australia.
Katanya, memang orang Australia kurang berkenan untuk melakukan pekerjaan yang disebut blue job atau pekerjaan begitu deh.
Sehingga, umumnya orang-orang dari negara berkembang terutama Indonesia yang melakukan nya.
Bayangkan saja, jika di Indonesia orang yang bergelar pendidikan S1/S2/S3 menjadi seorang office boy.
Umumnya akan sakit hati dengan banyaknya hujatan yang diterima dari orang indonesia sendiri.
Berbeda jika kita tinggal di Australia yang rasanya lebih aman melakukan pekerjaan seperti itu.
Serta, makin bagi banyak orang Indonesia yang ikut program WHV dan terlihat bisa jalan-jalan juga sampai ke Hongkong, Perancis dan negara Eropa lainnya.
Seakan mengatakan bahwa ikut program WHV pasti akan sukses.
Walau, beberapa orang yang ikut program WHV juga tidak sepakat dengan itu, dan lebih banyak tidak berkoar di sosial media, ya beberapa ada yang ku kenal.
Tapi, mungkin itu kurang cocok dengan ku.
Ya tidak salah, tapi kurang cocok saja dengan ku.
Melakukan pekerjaan yang umumnya tadi disebutkan seperti tukang sapu, tukang kebun dan lainnya, ya itu sih setiap hari aku lakukan wkwk.
Mungkin, berbeda durasi jam kerja dan hal teknis lainnya.
Tapi, aku punya cita-cita menjadi seorang insinyur, dan tercapai.
Sehingga, menjalani profesi ini ya dijalankan saja.
Kalo soal uang ya beda-beda ya.
Tapi, seperti nya ini tuh investasi minimal buat portofolio.
Jadi tumbuh nya kebawah dulu, layaknya pohon bambu.
Jadi, ku pikir kurang cocok saja dengan ku.
Mungkin ada yang bilang bahwa mencari pekerjaan di Indonesia itu sulit, makanya dia mencari pekerja di luar.
Ya bener juga sih, ya gapapa.
Mungkin juga jika kondisi seperti itu aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama.
Bahkan, dalam kalimat sebelum ini aku sudah membuat 2 kata mungkin dalam satu kalimat. Hehe.
Ya, cuman ya gitu, ku rasa para pembaca sudah menangkap maksud ku.
Lagi pula, ku lihat ini orang Indonesia umumnya manja, berbeda dengan di luar negeri yang bahkan sejak SMP pun juga bekerja.
Ini baru lulus sarjana di Indonesia baru mulai kerja.
Ya, ku lihat sekarang banyak juga orang yang sudah kerja sih walau sedang kuliah belakangan ini.
Kembali ke topik, mungkin karena budaya kita dimana orang tua kita, ga tega melihat anaknya sudah kerja di usia sekolah, dan berharap punya pekerjaan yang bagus setelah sekolah.
Budaya-budaya yang seperti ini lah yang membuat negara kita kurang maju.
Ya begitu adanya, sebuah negara dengan jumlah penduduk nomor 4 di dunia, tapi tak banyak negara di dunia mengenal nya.
Aku begitu mencintai negara ini, tapi aku juga mesti objektif bahwa negara ini termasuk dalam negara yang biasa aja.
Kita harus jujur, agar kita dapat melangkah maju.
Tanpa kejujuran, tak akan ada kemajuan.
Banyak hal yang mesti dilakukan.
Dalam buku RA ku yang telah ku tulis, ya baru jilid pertama sih, masih ada jilid lainnya.
Ku jelaskan bagaimana sebuah peradaban bisa maju.
Aku membuat RA untuk dunia, tapi aku berharap bahwa negara Indonesia ini yang bisa menjadi pemimpin peradaban.
Jika dilihat dengan kondisi sekarang, mungkin aku harus membuat satu buku tentang ini.
Negara ini, negara yang sangat besar ini, masih berada di tahap memalukan, bukan berada di level yang seharusnya.
Berbeda dengan Singapura yang negara law, Indonesia ini negara lawyer.
Padahal jelas di UUD 45 bahwa Indonesia adalah negara hukum.
Ah sudahlah, masih banyak hal yang bisa ku kritik cuman nanti saja, lebih baik nanti aku buat satu buku sendiri tentang Indonesia.
Oh iya, kemana-mana kan wkwk.
Iya, WHV itu begitu deh.
Entar bilang jilat ludah sendiri, waduh itu sih udah biasa ya,
Perubahan itu pasti.
Bukan berarti kita ga punya integritas, tapi faktor keadaan juga mempengaruhi.
Nah jam sudah menunjukkan jam setengah 3 pagi.
Ku pikir aku sudah mulai ngantuk lagi dan ingin tidur lagi. . . Aku terbangun dalam tidur ku, kulihat jam, jam sudah menunjukkan jam 6 pagi.
Ah, jam 6 pagi.
Tentu, aku langsung teringat bahwa pagi ini ada jadwal tallaqi ku.
Iya, tallaqi ku itu di jam 7 pagi.
Offline lagi.
Jarak antara rumah dengan lokasi tallaqi ku sekitar 30 menit.
Aku pun langsung bangkit dari tempat tidur, mandi dan sholat shubuh.
Kemudian, aku minum air putih, dan mengganti dengan baju muslim ku.
Bahkan, membuat kopi saja sudah ga cukup waktu.
Aku langsung ambil Alquran dan bergegas dengan naik motor.
Namun, aku gabisa kalo ga makan.
Strategi jitu yang selalu aku lakukan dalam situasi ini yakni mampir ke warung Madura dan membeli susu ultra dan beli kopi good day.
Susu ultra untuk melapisi perut agar tidak lapar dan setelah nya baru bisa minum kopi.
Ya, langsung ku tancap gas lagi dan menuju Al Ustmani.
Tempat belajar nya
Sampai di sana telat 10 menit, dan ku lihat memang pas waktu giliran ku.
Aku setoran hafalan dan lanjut belajar.
Tentang tallaqi sudah ku sampaikan di postingan ku sebelumnya.
Intinya sih, guru ucap apa, ya mesti sama persis.
Jangan dikira mudah, cape tahu lidah wkwk.
Banyak kali yang salah, maklum namanya juga belajar.
Ustadku yang satu ini juga galak, ya menurutku.
Tak sempat aku lihat jam, aku hanya berfokus pada gerakan mulut ustad dan Alquran.
Ya seperti itu lah belajar dengan sungguh sungguh.
Jam sudah menunjukkan jam sembilan pagi.
Aku pun langsung pulang.
Ya, setelah satu urusan selesai, maka pergi ke urusan yang lainnya.
Pergi dari Utsmani, aku pun makan bubur ayam dulu.
Ya, di pinggir jalan.
Makan di pinggir jalan rasanya itu enak kali.
Sambil ngeliat pemandangan jalan.
Lumayan harga bubur nya 10 ribu rupiah.
Setelahnya, aku ke pasar dulu.
Beli ayam 2 ekor yang besar harganya 110 ribu, udah diskon ini karena besar wkwk.
Tempe, 10 ribu, sama bumbu ayam goreng seharga 15 ribu.
Iya bumbu nya normal nya 10 ribu buat 2 ekor ayam, tapi ku lebihkan.
Ya, buat seminggu sih, biar ga usah masak masak lagi.
Alias tinggal dipanasin aja.
Sampai dirumah, aku ngantar keluarga ke acara dan pulang kembali ke rumah.
Langsung mandi, dan pergi ke jalan Margonda.
ILUNI PPI FTUI
Ya, meeting dengan ILUNI PPI FTUI.
Kepanjangan nya, Ikatan Alumni Pendidikan Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Banyak banget sih yang dibahas.
Aku sampai di jam sebelas pagi dan baru selesai di jam 3 sore.
Ya, pembahasan terkait program kerja dan kerja sama baik di internal maupun eksternal.
Gila, 4 jam meeting terus.
Ya engga tahu kenapa ya, meeting dengan PPI ini selalu lama dan menarik, jadi ga bosen.
Akhirnya selesai dan kami pun foto bersama.
Agenda terdekat yakni ketemu di pekan depan dengan PII Pusat atau Pengurus Insinyur Indonesia yang Pusat.
Jurnal
Melihat jam sudah menunjukkan jam tiga sore, aku ada meeting dengan Professor terkait jurnal.
Aku pun lanjut online meeting di cafe tersebut dan ya, menyimak.
Namun, masih banyak meeting sih setelah nya.
Sehingga aku memutuskan untuk lanjut pulang sambil mendengarkan di headset.
Setelah itu selesai, lanjut meeting lagi dengan Perhimpunan pelajar Dunia.
Ya selesai habis magrib.
Sambil meeting pun aku makan ayam yang tadi dibeli.
Ya, off cam camera dulu hehe.
Setelah nya aku ingin gym tapi asli cape banget.
Bahkan, badan ku saja hanya bisa tiduran di kasur sambil menulis tulisan ini di HP wkwk.
Otak ku juga rasanya cape sekali.
Kenapa ya ?
Kenapa ya aku melakukan seperti ini.
Terkadang pertanyaan itu ada dalam pikiran ku.
Tapi mungkin, ini jalan hidupku.
Ya, bahkan menjawab pertanyaan itu juga rasanya ingin yang sederhana saja.
Aku pun juga masih menjawab chat japri di WhatsApp, ya tentu aku sebagai ketua ILUNI, ada saja yang japri.
Ya gapapa, itu kan memang tanggung jawab ku.
Lagi pula, aku sudah sampaikan ke organisasi yang tak terkait dengan ILUNI ku bahwa aku tak begitu aktif di mereka.
Kenapa ?
Karena aku mau aktif di ILUNI ini, toh karena ku juga ketuan nya kan.
Aku juga mencari apa yang bisa aku arsipkan di chat WA wkwk.
Udah lebih dari 150an yang umumnya grup yang sudah ku arsip.
Ya, dilihat mana prioritas sih.
Tentu, banyak hal yang ingin aku lakukan.
Lari, renang, sepada, golf, gym dan lainnya.
Banyak sekali yang ingin aku lakukan.
Namun, terkadang mungkin ini jalan yang terbaik.
Jalan pemimpin adalah jalan penderitaan.
Aku pikir aku ingin istirahat esok di hari Minggu, dan menulis buku.
Ya, menulis buku.
Selain itu, berkomunikasi dengan orang -orang terdekat juga merupakan bagian yang sangat penting dalam hidupku.
Tanpa terasa bahwa setiap hari bahwa aku melangkah jauh.
Dari seseorang yang bukan siapa – siapa tapi menjadi seseorang.
Banyak hal yang perlu disiapkan.
Ku pikir bahwa aku juga berada di jalan yang sudah tepat.
Terkait dengan banyak yang ku ingin lakukan, bahkan naik gunung pun juga sampe lupa.
Mungkin rejeki ku di lain hari.
Gapapa, gapapa, gapapa.
Oh ya, aku juga mendapat kabar lewat telepon bahwa teman SMA ku ada yang meninggal.
Ya tabrakan.
Aku juga belum tahu sih detail nya seperti apa, karena baru dadakan juga informasinya.
Padahal, kata temanku baru kemarin dia chat dengan almarhum.
Semoga diterima amal dan ibadah dari almarhum. Amin.
Aku pikir itu dulu kali ya tulisan kali ini.
Kaki ku bahkan terasa cape kali.
Oh iya, banyak tulisan yang bagus cuman belum ke share di website ini.
Jadi jika kalian tertarik dengan website ini, ya pantau terus hehe.
Alhamdulilah, bisa nulis di hari ini di website ini.
Terimakasih teman-teman yang sudah membaca.
Semoga sehat selalu dan selamat hari Minggu buat besok hehe
Jakarta, 24 Mei 2025 Pukul 21.00 WIB Salam warrior Rio