Mataku mulai terbangun dan waktu menunjukan jam empat sore.
Rasanya badan ini remuk, tapi satu hal yang ku tahu bahwa aku masih hidup dan harus terus maksimal kan hidup.
Sebelum nya nya mataku benar-benar ngantuk sekali dan sesampainya di kasur ya tertidur.
Hm, tapi mulai dari mana ya ?
Baiklah mulai dari pagi hari ini saja.
Kau tahu bahwa terkadang hidup adalah sebuah hal dinamis, ya karena itu penuh dengan kejutan.
Aku terbangun di jam dua pagi dan ternyata masih ada online meeting terkait pekerjaan, artinya ada pekerjaan yang dimulai dari jam kosong pagi ini belum solve.
Ya, jika semua sesuai rencana mestinya tak sampai dua jam semua suda beres.
Ku liat Handphone dan yaudah gabung meeting.
Sebelum nya, aku memang sudah tidur sebelum jam delapan malam.
Alasan nya sederhana, ya ngantuk.
Terlebih, kalo ada keadaan dimana pun yang membutuhkan kita setidaknya kita sudah siap.
Baik tidur, makan, ohlaraga itu mesti jadi prioritas masing – masing.
Sembari menunggu pekerjaan selesai, aku pun juga bergegas untuk makan roti di meja ku dan kemudian mandi untuk ikut event pagi ini yakni event Titan Run 2025.
Ya, aku ikut yang lari sepanjang 17,8 km sih.
Tahun lalu juga ikut di rute yang sama sekarang ya ngulang aja hehe.
Oh iya, aku pun juga nginep di tempat penginapan terdekat dari event ruce.
Alasan nya apa ya ?
Lari jam lima pagi mungkin, ditambah jarak dari rumah ku ke ICE BSD dimana tempat berlangsungnya acara itu sekitar satu jam lebih Lima menit.
Jika dibandingkan dengan jarak antara rumah ku dengan kantor ku di Sudirman sih lebih jauh ya, ya lebih 3 menit lah wkwk.
Tapi karena insting aja sih, terlebih ini lari juga gratis, alias gratis dari kantor hehe.
Aku bergegas dari penginapan ke tempat acara naik motor dengan durasi tempuh sepuluh menit dan berangkat jam empat pagi.
Dan ternyata parkir motor nya jauh juga dari tempat acara.
Untung lebih pagi ya kan.
Aku pun menuju tempat penitipan tas dimana aku rencana lari ga bawa hp alias semua barang ku selain diri ini, baju celana, nomor BIB dan ada jelly itu saja yang kubawah.
Sisanya aku titipkan saja di tempat penitipan.
Setelah itu aku wudhu dan sholat di musholla yang disediakan panitia di dekat event.
Ternyata shubuh lama juga ya sekarang wkwk.
Dulu jam empat pagi kayanya udah adzan, ya bisa dibilang sembari nunggu adzan ya pemanasan di tempat.
Beberapa orang bahkan sholat dengan menggunakan sepatu.
Setelah shubuh langsung ke race dan mendengarkan lagu Indonesia raya.
Dari shubuh itu semua berlangsung cepat, tak sampai lima menit langsung event dimulai.
Aku mulai maju di garis start dengan pelan tapi pasti.
Melihat lingkungan BSD tempat ku berlari mirip dengan lingkungan Pantai pindah Kapuk 2.
Jalanan luas, masih banyak lahan kosong dan enak sekali rasanya lari.
Tapi bagiku ada yang kurang, ya masyarakat sekitar yang kurang banyak orang.
Di luar negeri seperti event world maraton major ataupun lari di UTMB itu lokasi nya berdekatan dengan penduduk dan penduduk sekitar sangat support.
Ya inikan hanya persepsi.
Pelan tapi pasti, pace ku juga menurun kayanya.
Kan aku juga ga tahu pace ku berapa.
Seingat ku, umunya aku di pace antara tujuh ke delapan.
Namun, di kilometer ketiga belas kayanya aku sudah di belakang dimana pace delapan mendahului ku.
Sangat terasa bagiku bahwa meningkatnya berat badan sangat terasa dalam lari.
Maklum yang meningkat itu lemak bukan massa otot.
Pelan tapi pasti, satu kilometer demi kilometer aku lewatin dan sampai di kilometer ke enam belas.
Tapi rasanya perut ku sakit perut wkwk.
Ini kebanyakan minum air di water station kayanya.
Baju ku basah karena terkadang air minum ku tumpahkan ke atas rambut ku agar aku kembali segar lagi dan melihat ke depan fokus lagi.
Akhirnya, di kilometer ke enam belas aku jalan saja.
Pelan tapi pasti aku sudah melihat garis finish dan alhamdulillah aku finis di durasi dua jam dua puluh menit dan langsung mengambil mendali.
Setelah mengambil mendali, aku langsung mengambil tasku di tempat penitipan dan melihat HP dimana mengecek tempat teman-teman ku berkumpul dan sembari hunting makanan gratis kaya duren, soto ayam dan sebagainya.
Ya, event Titan Run ini memang agak unik dimana banyak makanan yang gratis.
Setelah nya aku foto sama teman-teman kantor pulang menuju tempat penginapan.
Sampai di tempat penginapan langsung mandi dan rebahan pastinya wkwk.
Dan juga aku lihat beberapa pesan di WhatsApp ku yang ku prioritaskan.
Seperti beberapa yang alumni Insinyur Profesi Universitas Indonesia yang baru regis di UI connect dimana hari ini jam dua belas siang sudah closed.
Bagi yang belum tahu bahwa UI connect itu kaya aplikasi dalah satu nya pemilihan calon ketua ILUNI UI ya dari sini.
Oh iya, pekan depan juga akan ada musyawarah besar dimana aku salah utusan dari fakultas teknik.
Sudah dipastikan bahwa Sabtu Minggu ku ada di UI.
Ya jalanin saja.
Aku rebahan sampa jam sebelas pagi dan langsung rapihkan barang barang dan pulang kerumah dengan durasi 90 menit kayanya.
Ya, biasa jalanan jakarta kan macet ya delay pastinya kalo siang hari.
Sebelum kerumah, aku mampir beli rujak langganan ku untuk makan siang.
Di tempat rujak dengan orang yang sama ini aku udah beli lebih dari 10 tahun pastinya.
Banyak sekali orang-,orang yang saat ini yang berhubungan dengan ku lebih dari sepuluh tahun.
Kaya tukang listik, tukang hp, tukang nasi goreng, ayam geprek, ya jadi tinggal WA aja biar pesen dan ga nunggu lama.
Sesampainya di rumah aku bersih -bersih dan makan rujak yang tadi lh beli.
Setelah nya tidur wkwk.
Dan aku terbangun di jam empat sore ini, perlahan mataku kembali jernih.
Memang, tidur adalah obat terbaik.
Tapi perutku langsung sakit perut dan langsung ke kamar mandi.
Ku pikir hari akhir ini sudah cukup untuk ku, makanya aku mengetik tulisan ini.
Selanjutnya ya istirahat dan bersama keluarga saja.
Oh iya, pegel juga ya kaki.
Tapi, hari ini adalah hari ulang tahun ku, ulang tahun yang ke 29.
Terima kasih buat teman-teman ku yang mengucapkan hari ulang tahun ku baik ketemu langsung saat lari tadi, via pesan WhatsApp, ataupun telepon yang tak kuangkat tapi aku tahu maksudnya.
Terkadang dalam hidup, kau hanya perlu menjalani nya saja.
Suara adzan berkumandang dan aku mulai membuka mataku.
Adzan di rumah ku itu begitu kencang.
Maklum, di rumah ku bahkan ada tiga masjid dan satu mushola.
Ya, area rumah ku hanyalah satu menit dari pondok pesantren milik Muhamadiyah.
Namun, banyak dari warga sekitar adalah penganut NU atau kependekan dari Nadhlatul Ulama.
Dua aliran Islam terbesar di Indonesia dan sangat banyak kesamaan tapi ada yang berbeda dalam beberapa hal.
Terkadang, aku sholat tarawih di masjid Muhammadiyah karena raka’at nya yang sedikit yakni hanya 11 rakaat, berbeda dengan Madjid NU yang umumnya 23 rakaat.
Jarak rumah ku itu satu menit paling dari masjid dan mushola.
Iya berdekatan sekali, bahkan beberapa langkah saja dari Mushola ke masjid milik Muhamadiyah sudah sampai.
Begitupula dengan dua masjid lainnya yang ga sampe seratus meter jarak dari rumah ku.
Sehingga, suara adzan biasanya sebagai alarm alami ku saja untuk bangun.
Tapi tunggu dulu, ini bukannya hari Sabtu ?
Aku kan ada event lari di Pantai Indah Kapuk 2 atau biasa yang disebut sebagai PIK 2.
Seingatku aku sudah memasang jam weker untuk bangun jam tiga pagi.
Dan kucoba lihat layar handphone ku dan jam menunjukan jam empat pagi.
Terakhir seingatku, aku tinggalin laptop di atas meja yang masih meeting dan mataku tak kuat hingga aku tertidur dalam kondisi masih meting ada pekerjaan yang memang aku posisi nya monitor saja.
Sejujurnya meeting kaya gini jarang sekali untuk ku hingga malam hari.
Terkadang satu bulan juga belum tentu ada.
Oh iya, aku harus segera bergegas ke PIK 2.
Aku beranjak dari kasur ku dan pergi untuk mandi dan langsung berberes.
Baju lari, tas dengan laptop ku, dan berbagai hal yang akan menunjang hari ini.
Hm, hari yang padat.
Tapi sebelum hari ini dimulai, maka aku mulai dari sini.
Weekend yang padat
Tak ku sangka, di bulan Agustus ini weekend ku saja sudah full booking.
Ya, bisa lebih padat daripada hari kerja.
Kenapa ?
Ya karena berbagai aktifitas saja dan beruntun.
Banyak hal juga akhirnya aku tak lakuin karena sudah saking padatnya.
Kenapa ya ?
Terkadang saking sudah terbiasa ada kegiatan di weekend juga pertanyaan itu juga sudah jarang ada di otak ku.
Ini ku pikir sejak tahun 2016 dimana aku tinggal di asrama beasiswa saat aku masih kuliah dimana setiap weekend nya ada kegiatan.
Dan lanjut kerja di Papua yang terkadang bahkan hari Sabtu pun juga masuk.
Maklum roster.
Roster itu maksudnya kerja 6 Minggu di site & 2 Minggu libur kembali di kota nya.
Nyatanya aku tertahan 9 bulan di kota Tembagapura.
Dan cuti ku mestinya ada 3 bulan.
Tapi itu tak pernah bisa kuambil alias diganti dengan uang.
Hm, waktu itu covid sih.
Jadi, orang yang ada di Tembagapura ya tertahan, dan ga ada yang bisa masuk selama beberapa waktu.
Bagi yang belum tahu bahwa kota Tembagapura itu di Papua.
Dan ya, kuterima saja nasibku ini.
Padat ya.
Hm, seperti nya ini akan berlangsung hingga puluhan tahun kedepan atau hingga akhir hayat ku ?
Hanya waktu yang akan menjawab.
Buddhayana run
Setelah berberes, aku sholat shubuh dan langsung pergi ke PIK 2.
Lari 5 km ya.
Hm, kenapa aku mau ikut ya ?
Entahlah, terkadang aku mengikuti feeling saja.
Tapi jika aku berpikir kembali bahwa kenapa aku ikut event lari ini yang sangat biasa saja ini, ya mungkin karena pertama ini yang mengadakan agama Budha.
Ya, ikatan Budha gitu loh.
Mereka mengadakan event di beberapa kota dan Jakarta juga termasuk.
Ditambah murah harganya hanya 150 ribu dan mendapatkan banyak isian di race pack nya.
Ku pikir apa yang ku dapati sudah lebih dari nilai 150 itu.
Mendali, baju lari, isi race pack juga banyak .
Terkadang aku bertanya pada diri sendiri ” Ini kaga rugi apa ya panitia nya ? “
Tapi aku udah ga kaget.
Dulu lebih parah lagi.
Pada saat aku dan teman-teman elektro UI yang saat itu masih mahasiswa baru dan mencari banyak danusan.
Kami mendapat ajakan untuk makan di sebuah restoran jepang yang mahal.
Ku pikir kita ngumpuin yang buat acara jurusan malah kenapa ngeluarin duit.
Harga makanan pun seharga 200 ribuan dan pada tahun 2015 gitu.
Tapi ternyata dibayar kita.
Buset, makan mahal dan dibayar.
Katanya sih mereka baru buka jadi butuh diramein oleh anak muda.
Sebuah dunia yang aneh.
Tapi ya karena sudah pernah dilalui ya ga aneh sih.
Terkadang kita hanya perlu menjalani sesuatu yang tak biasa agar itu menjadi sesuatu yang biasa.
Kedua, karena lokasinya di PIK 2.
Tentu, aku punya konsep bagaimana membangun sebuah kota yang sangat berperadaban.
Aku memvisualisasikan banyak hal.
Misalkan saja, sebuah sungai dengan di kanan kiri nya ada tempat buat orang bisa jogging ataupun lari.
Dan PIK 2, sudah mewujudkan nya.
PIK 2 bahkan menurutku lebih hebat dari kota yang bahkan menurut ku hebat yakni kota Tembagapura dan kota Kuala kencana yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia.
Dan mungkin juga lebih dari pada negara Singapura suatu saat nanti.
Itulah tentang PIK 2 menurutku.
Atas dasar alasan itulah aku berpikir untuk kembali ke PIK 2.
Terakhir aku kesana sih buat ikut latihan duathlon yakni berenang di kanal laut sejauh 750 m dan dilanjutkan lari dengan jarak 5 km.
Oh iya, itu di bulan Februari bersama komunitas Tribudies.
Ini salah satu komunitas triathlon di Indonesia.
Jarak rumah ku dengan PIK 2 itu jauh, tapi karena pagi ya sekitar 90 menit.
Kebetulan ini event nya mulai jam 6 pagi.
Aku pun langsung berangkat dari rumah sekitar setengah lima lewat habis shubuh sih.
Dan sampai sana di jam 6 pagi.
Aku bawa tas yang isinya laptop.
Kenapa ?
Nanti aku jelaskan !
Jelas selama lari ya santai aja akunya, lebih ke banyak jalan juga sih wkwk.
Banyak Koko dan Cici disini dan banyak sekali orang tua disini yang ikut event lari ini.
Ya menurut ku saja kan ini.
Aku lari dengan membawa tas yang isinya paling berapa kilo.
Cuman isi laptop, buku, botol minum sih yang paling berat.
Langsung saja, ini buat aku latihan ku.
Mestinya, lebih dari 20 kg aku membawa tas ini.
Kenapa ?
Ya karena buat latihan.
Ya, 8 mata arah angin telah memanggil ku.
Mungkin semua akan terjawab di akhir tahun ini, hehe.
Ya ada rencana yang belum bisa ku bagikan.
Tapi asli itu ekstrem sih, ya itu kalo jadi.
Yowis aku mencapai garis finish dan ngantri mendali.
Mendali 🙂
Hm, berapa ya tadi menit nya ?
Lupa & ga pasang strava juga.
Setelah selesai, sekitar jam setengah delapan aku langsung pergi ke rumah temanku yakni Juan karena kami ada kelas kursus Internet Of Things ( IOT ) di jam setengah 10 pagi ini.
Kursus IOT
Rumah Juan juga di Jakarta Utara, cuman sekitar 40 menitan dari PIK 2.
Di tengah jalan aku melimpir ke tempat makan mie ayam untuk makan pagi.
Ya, aku belum makan dan aku sampai di rumah Juan jam sembilan pagi.
Kami pun langsung bersiap dan membuka zoom meeting.
Kursus berbayar kaya gini juga pertama kali aku lakuin.
Ya gimana ya ?
Mereka kan udah bayar buat datang acara kita walau online jadi mesti disiapkan.
Ada 21 orang yang membayar tapi yang datang di zoom meeting sekitar 19 orang.
Yang ga datang ya sudah diingatkan tapi mungkin sedang ada kesibukan lain nya.
Meeting dimulai dengan aku sebagai pembuka. Aku yang merupakan Chief Operating Officer ( COO ) dari start up KAMIS (Karya Mandiri Indonesia Sehat) ini dengan produk MOLITAV.
Berbicara start up KAMIS dan MOLITAV ini bakalan panjang.
Kalo tertarik mungkin bisa baca tulisan ku sebelum-sebelumnya di website ini hehe.
Intinya sih, ini produk yang bisa ukur lima alat vital dan dalam waktu satu menit langsung terukur.
Aku memulai dengan membuka meeting seperti MC yang mengenalkan pembicara yakni temanku Juan selalu CEO MOLITAV dan nanti ada pembuka dari Prof RALDI KOESTOER.
Tapi ini Prof Raldi kok belum masuk ya.
Baru dihubungi oleh Juan beberapa kali via telepon akhirnya baru bisa join.
Tapi sebelum beliau masuk , ya akhirnya aku memperkenalkan tentang produk MOLITAV milik kita dan inkubator gratis milik Prof Raldi.
Sesi kursus pun sangat dinamis dan diakhir kami meminta form evaluasi.
Ya umumnya bagus semua tapi ada satu yang ku highlight dimana pembahasan nya terlalu teknis, sehingga orang awam belum bisa mengerti.
Sebuah kritik yang membangun dan harus terima dong.
Ini baru pertama semoga kedepan nya lebih baik.
Dokumentasi di akhir kursus
Sesi kursus selesai saat adzan Dzuhur.
Kemudian, aku pun langsung kerumah dan sampai di jam setengah dua siang.
Setelah nya aku makan nasi goreng dari bakmi GM yang ternyata sudah dibelikan oleh ibunya Juan dan sembari melihat debat pemila calon ketua ILUNI UI periode 2025 – 2028.
Pemila ILUNI UI
Tentu, pemilihan ketua ILUNI UI periode 2025-2028 ini semakin memanas.
Aku yang merupakan ketua ILUNI dari sisi Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Indonesia ( PPI FTUI ) kini ikut serta.
Selain itu, aku pun validator & nanti juga salah satu utusan ILUNI FTUI untuk tingkat ILUNI UI saat musyawarah besar.
Jika kau tanya padaku apakah tahun lalu bakalan kebayang kaya gini ?
Ya enggaklah, kadang semua terjadi tiba-tiba.
Aku pun juga hari ini sudah berkomunikasi dengan lebih dari lima puluh orang secara direct message terkait masalah PEMIRA ini.
Oh kayanya banyak yang menanyakan sikapku memilih calon yang mana ?
Aku sudah jawab banyak kali, jawaban ku netral.
Ya, silahkan sesuai hati nurani saja.
Oh iya, aku udah jarang buat buku dan baca buku juga jarang.
Kenapa ?
Ya sibuk aja.
Sibuk nya juga ga bisa dibilang ga produktif sih, jadi ini part of life yang mesti dijalanin saja.
Tapi, kalo ku pikir ulang lagi.
Beberapa teman ku sudah pada ikut politik ya.
Sedangkan aku?
Hm, hanya sibuk pada duniaku saja.
Tapi yowis lah, belum saat nya saja.
Lagi pula aku orang yang percaya pada prinsip takdir, kalo emang takdirnya ya takdirnya saja.
Ya walaupun juga harus diusahakan.
Tapi beda aja kok rasanya.
Tapi jam sudah menunjukkan jam 3 sore
Ustmani
Hari ini sudah masuk kelas ngaji lagi.
Ya, tallaqi.
Bagi yang belum tahu tallaqi, itu kaya murid mesti ngikuti ucapan guru saat membaca Alquran.
Sebelumnya itu Sabtu pagi, tapi kalo Sabtu pagi sering bentrok saja dengan agenda lain, sehingga pindah ke Sabtu sore dari habis ashar sampai sebelum magrib.
Hm, bisa dibilang aku kembali mengulang di level yang sama.
Ya nilai ujian ku belum lulus.
Sedih sih tapi yaudahlah artinya memang mesti dimantapkan lagi.
Tentu, memahami Alquran itu sepanjang masa tapi terus diusahakan.
Lagi pula, keuntungan ku ya masih muda jadi masih banyak waktu untuk terus belajar.
Lagi pula orang seperti ku bagaimana mungkin ketika di akhirat aku ditanya ” apakah aku sudah menguasai ilmu Al-Qur’an ?”
Jika jawaban ku belum bisa, habis lah sudah.
Bahkan saat aku tadi mau berangkat saja itu sudah dikasur, asli enak banget.
Tapi antara mau memperbaiki diri atau ya bego selamanya.
Kunci awal memperbaiki diri yakni adalah penerimaan.
Kalo kita ga nerima diri kita bego dan merasa pintar ya udah stuck aja.
Lagi pula orang merdeka itu enak, merdeka bisa renang jadi ga takut tenggelam atau ga perlu pelampung.
Merdeka mengerti buku, jadinya ga perlu bawa buku karena sudah di otak.
Dan kunci untuk merdeka ya disipilin.
Sesampainya di Utsmani sih mulai belajar seperti biasa.
Diperbaiki bacaan nya.
Kunci nya sabar sih.
Ya, banyak-banyak sabar.
Ngaji selesai di jam setengah enam sore, tapi kepala ku udah pusing banget.
Akhirnya sebelum pulang ke rumsh, aku ingin makan sambal yang enak saja.
Hm, mungkin bisa mengurangi rasa stress ku.
Ku pikir stress terjadi karena kompetensi kita kurang terhadap realita yang akan dihadapi.
Sejujurnya sudah lama aku ga merasakan ini.
Terkadang bosen juga kalo berhasil mulu wkwk.
Ya, begitulah hidup.
Habis itu aku pulang dan nonton YouTube.
YouTube memang hiburan ku.
Bentar, besok kan aku ada lari trail.
Sebelum nya aku gagal karena ga kuat, ataupun mau ikut tiba-tiba ada kerjaan.
Aku harus tidur dan mengamankan mendali trail run pertama ku.
Tapi, besok lebih sibuk dari yang aku kira.
Hm, tidur dulu deh.
Jam sudah menunjukkan jam sembilan malam.
Semoga esok akan baik-baik saja, amin.
Minggu, 03 Agustus 2025
‌Hp ku bunyi terus.
Mataku mulai membuka dan mulai menyadari bahwa suara itu bunyi alarm dari HP ku.
Sebelumnya ternyata jam weker ku rusak.
Hm, maklum itu udah lebih dari tiga tahun dan murah sekali harganya.
Masih bisa dipakai, cuman untuk mengeluarkan bunyi sudah tak bisa.
Alhasil, aku pasang berapa banyak alarm ya di HP ku ?
Lebih dari sepuluh sih dengan durasi antara jam setengah tiga hingga jam empat pagi.
Aku melihat HP dan jam masih menunjukkan jam tiga pagi.
Hm, aku pun kembali menutup mata dan alarm HP ku juga kembali berbunyi.
Tapi, ini akan lari trail run pertama ku yang berpotensi mendapatkan mendali.
Perlahan dengan keyakinan tinggi, aku ke kamar mandi dan kubasuh wajahku.
Perlahan mata mulai membuka dan akhirnya ku lanjutkan dengan mandi.
Setelah nya, aku memakai baju lari dari UI Trail Run.
Iya, sekarang lari nya sih 5 km aja untuk Trail Run.
Tapi ternyata bagus juga sih, selain karena belum pernah dapat mendali Trail Run, itu juga karena acara yang mengadakan ada nama UI nya.
Iya, aku senang jika dekat dengan UI.
Itu saja.
UI Trail RUn
Aku pun langsung berangkat sekitar jam setengah lima pagi dan sampai di pukul setengah enam pagi di titik kumpul.
Aku sampai di titik kumpul nya di Indomaret Sentul.
Sesampainya disana aku membeli roti dan susu sebagai pengisi perut.
Setelah nya aku pun naik mobil pick up bersama para peserta lain dari Indomaret Sentul menuju tempat race.
Ya, sesuai informasi dari panitia yang ku dapat katanya mesti parkir di dekat Indomaret Sentul dikarenakan parkir yang terbatas di dekat race.
Tapi sesampainya di tempat race, begitu banyak kendaraan yang parkir dekat race.
Ya sudahlah. Sampai di tempat race, aku pun memulai pemanasan dan bersiap untuk berlari.
Tapi ternyata, di samping aku ada yang menyapa dan dia adalah Rayhan yang merupakan teman lari di komunitas Taman Mini Indonesia Indah Running Club ( TRC ).
Kami pun foto bersama dan meng-share foto ke grup.
Dan eng ing eng, start dimulai di jam 06.30 pagi.
Aku pun merasa fit saja hari ini padahal kurang tidur.
Rasa ingin kencing di awal saat ingin race sendiri pun sudah tidak terasa lagi mengingat banyaknya keringat yang ku keluarkan.
Oh iya, aku juga memakai kacamata baru yang murah sih harganya.
Biar apa ?
Ya biar kece wkwk.
Ditambah kadang kalo lari di siang hari itu terik matahari yang membuat sakit mata.
Sedangkan kedepan aku harus melatih fisik ku agar lebih kuat.
Selama perjalanan trail run, aku melihat sekitar.
Benar-benar indah ya alam.
Berbeda dengan trail run ku sebelumnya yang dari awal sampai akhir benar-benar langsung tanah, malam hari pula, jarak 21 km, dan ada badai.
Iya saat itu di Sentul juga dan sedang ramadhan.
Bisa ditebak, trail run pertama dan langsung gagal.
Saat itu seperti nya baru 4 km saja aku sudah sangat kelelahan dan saat hujan aku menepi di rumah warga yang memang ada kaya pondok nya.
Saat itu badai semakin kencang, aku rasa aku tak kuat melanjutkan lari tersebut.
Walau aku sudah ada jas hujan, tapi masih ada hari esok pikirku.
Akhirnya, di rumah warga yang ku tempati pun aku menanyakan untuk mengantar ku ke bawah, ke tempat mulai start.
Dan ya bisa, pulang naik ojek wkwk.
Tapi, ada yang lain juga kok ternyata, #cari temen.
Balik ke cerita lari trail run di UI, sesampainya mendekati garis finish, sudah terdengar suara MC yang memandu acara.
Ku percepat langkah ku dan mencapai finis.
Yeay, ku ambil mendali pertama ku dan ku foto dengan teman ku yang tadi tak bertemu saat start, ya bang Mizfar.
Setelah nya, aku langsung bergegas pulang.
Saat mau pulang ternyata aku ketemu dengan Rayhan lagi dan akhirnya pun menuju tempat mobil pick up lagi.
Ku pikir ada mobil yang mengantarkan kami kembali turun ke bawah bertemu titik kumpul.
Tapi kok ga ada, akhirnya ya jalan kaki sekitar 2,5 km sembari ngobrol tentang dunia pelarian.
Sampai di kendaraan, ada dua agenda selanjutnya yakni kondangan dan bertemu dengan Prof Rhenald Kasali di acara NGOBRAS ( Ngobrol Santai ).
Aku liat waktu dari masing – masing acara dimulai dan jarak dari lokasi ku di Sentul.
Ku putuskan untuk datang ke acara NGOBRAS nya prof Rhenald kasali. terlebih dahulu.
Acara NGOBRAS adalah acara yang diinisiasi oleh prof Rhenald Kasali sendiri untuk datang ke tempat tinggalnya yakni Rumah Perubahan.
Cara daftar nya juga gratis, tapi kita mesti beli voucher seharga 50 ribu rupiah jika sudah sampai, dengan catatan bisa membeli makanan ataupun minuman dengan harga voucher 35 ribu rupiah yang tadi sudah dikasih.
Selain datang ke acara NGOBRAS, rencana nya aku ingin diskusi lebih lanjut dengan Prof Rhenald, tapi ya lihat situasi saja.
Aku pun menuju ke Rumah Perubahan.
Tetapi sebelum sampai, aku mampir untuk makan dahulu.
Ya, makan soto mie saja.
Asli, lapar cuy hehe.
Setelah selesai makan, aku pun sampai di Rumah Perubahan.
Ternyata acara yang dimulai di pukul setengah sebelas ini belum dimulai.
Hm, biasanya tepat waktu.
Acara baru dimulai hampir menuju jam sebelas.
Ternyata, yang mengisi yakni Prof Rhenald & ada rekan nya yang berlatar belakang seorang Wirausaha.
Seperti biasa, acara dimulai dengan kata pengantar dari Prof Rhenald dan dilanjutkan dengan rekan nya yang menceritakan pengalaman kewirausaha nya.
Setelah nya ada sesi tanya jawab.
Sesi satu dengan lima pertanyaan.
Dan kemudian nanti ada sesi pertanyaan lagi.
Ku pikir hari ini aku ingin duduk dibelakang saja dan hanya mendegarkan saja.
Sesi NGOBRAS 🙂
Terlebih peserta yang hadir cukup ramai sekitar lima puluhan orang.
Mendengarkan.
Ku pikir tidak semua orang harus berbicara, mesti ada yang mendengarkan.
Aku suka dengan kalimat sebelum ini.
Tapi, adzan Zuhur sudah berkumandang.
Aku harus putuskan apakah aku lanjut di acara ini atau pergi lagi ke acara lain.
Dan kuputuskan untuk pergi setelah Zhuhur meninggalkan acara ini.
Lagi pula masih ada waktu lain untuk diskusi dengan Prof Rhenald.
Kondangan
Aku berangkat dari rumah perubahan ke kondangan yang merupakan teman alumni Program Profesi Insinyur FTUI.
Ya, aku diundang dan ga enak rasanya jika tak hadir.
Waktu perjalanan hanya sekitar 30 menit dikarenakan lokasi ya dekat di Depok yang tak jauh dari Rumah Perubahan.
Sesampainya di lokasi, aku bertemu dengan teman ku alumni PPI FTUI lain dan berbicara sebentar.
Kemudian, aku langsung menghampiri pengantin yang merupakan teman ku.
Setelah nya aku langsung pulang.
Ya pulang ke rumah dulu untuk istirahat.
Waktu yang di tempuh sekitar satu jam, dan aku tiba sampai di rumah sekitar jam setengah tiga sore.
Rencana nya sih mau mandi dan lanjut ke Pasar dan donor darah.
Tapi setelah setelah mandi dan rebahan dikasur, rasanya malas sekali.
Kemudian, aku mendengar suara hujan dimana semakin syahdu saja di kamar.
Tanpa terasa aku sudah tertidur .
Perlahan, aku membuka mataku dan melihst HP bahwa jam sudah menunjukan jam lima sore.
Sebelum tidur, aku sudah memesan gofood untuk dimakan di rumah.
Di catatan gofood iu ku tulis untuk taruh di pagar saja.
Baru kusadari saat bangun tidur bahwa makanan yang kupesan masih di ada di pagar.
Ya, kehujanan.
Untung diplastikin sehingga aman.
Aku pun makan dan setelah Magrib langsung pergi untuk donor darah di PMI Jakarta.
Kenapa di PMI Jakarta, karena dia buka 24 jam.
Sedangkan PMI cabang sekarang bukanya hanya di office hour saja.
Sebenarnya, kemarin itu waktu ku untuk donor darah, tapi karena hari ini ada lari trail run sehingga jadinya kuputuskan saja untuk donor darah setelah lari.
Oh iya, aku rutin donor darah setiap dua bulan.
Alasanya apa ?
Hm, apa ya.
Ingin menolong saja.
Aku pun donor darah di PMI di jam setengah delapan malam dan sesudahnya langsung pulang ke rumah sampai di jam setengah sembilan.
Ku pikir ini adalah akhir dari aktifitas ku untuk hari ini.
Banyak Hal yang ingin aku lakukan, ingin gym, ingin renang, ingin golf dan lainnya.
Tapi, aku tak punya banyak waktu.
Oh iya belum kepasar, belum beresin kamar, wah masih banyak deh.
Mungkin hari lainnya saja, semoga.
Kemudian, aku semakin menyadari bahwa banyak sekali tanggung jawab ku yang mestinya ku jalanin.
Sebenarnya sih kalo aku cuman mentingin diri sendiri kayanya udah selesai hidup ini.
Tapi, semenjak aku sudah menulis dan membagikan ideologiku ku yakni RA dalam buku keduaku, dan ditambah dengan buku ketiga ku yang berjudul WARRIOR.
Sudah tak mungkin hidupku untuk diriku sendiri saja.
Ada tanggung jawab yang besar, ku pikir aku hanya perlu menjalani nya saja.
Mungkin pahlawan yang selama ini kita tunggu-tunggu untuk menggubah keadaan keluarga kita atau negara kita adalah diri kita sendiri
Ku lihat jam di handphone dan jam menunjukan jam setengah lima.
Setelah shubuh, aku lanjut untuk tidur.
Ya, tidur.
Rasanya sudah lama aku ga tidur pagi di hari Sabtu.
Tentu, itu karena setiap Sabtu pagi aku pergi Tallaqi.
Bagi yang belum tahu Tallaqi adalah metode pembelajaran dari ustad ke murid nya dimana seorang murid harus mengucapkan yang sama seperti guru mengucapkan ayat Alquran.
Tapi pagi ini ga ada, alias libur.
Iya, karena pekan lalu aku sudah ujian untuk kenaikan tingkat.
Sehingga, pekan ini libur dan sembari menunggu hasil ujian nya.
Jujur saja, aku ga tahu apakah aku akan naik tingkat atau tidak.
Tapi yang pasti adalah aku akan tetap melanjutkan proses pembelajaran dengan Ustad.
Kemudian, aku lihat jam di handphone ku lagi dan ku lihat sudah jam delapan pagi.
Aku mulai terbangun dari kasur ku, dan aku menyalakan lampu di ruangan ku.
Perlahan aku membuka Handphone ku.
Hingga aku melihat tentang film Sore istri dari masa depan.
Hm, ga jelas ini judul filmnya sih menurut ku.
Tapi, film sore ini aku memang ga asing sih.
Terlebih, beberapa teman ku membuat status di WhatsApp tentang menonton film ini dan ngasih pujian yang bagus.
Kemudian, juga di beberapa grup ku, film ini sudah tersebar karena pemain wanita yang menjadi Sore adalah alumni dari Universitas Indonesia yang juga merupakan aku alumninya.
Film sore
Hm, jam masih menunjukkan jam sembilan pagi.
Aku mulai tertarik dengan film ini, aku cari beberapa tulisan dari yang sudah menonton film ini di Internet.
Yang kutemukan bagus sih film ini.
Kayanya juga film ini mirip film Kimi No Nawa yang juga menurut ku bagus sekali itu film.
Oh iya, film Kimi No Nawa juga menonton tak sengaja.
Saat itu, di kosan teman kuliah ku, tempat yang biasa menjadi basecamp kami sebelum atau sesudah kuliah biasa ngumpul anak Elektro yang merupakan jurusan ku.
Teman ku ada yang suka nonton drama ataupun anime jepang dan dia merekomendasikan aku dan teman-teman yang ada disana untuk menonton Kimi No Nawa di laptop nya.
Dan kami pun menonton bersama.
Menurutku bagus sekali film nya.
Setelah mencari review dari berbagai sumber.
Aku mulai mencari tempat bioskop terdekat untuk menonton film bioskop ini.
Ya, itu ada di Graha Cijantung yang lokasi nya dekat dengan ku hanyalah sepuluh menit saja.
Hm tapi ini baru jam sepuluh pagi.
Oh iya, setelah nya aku menelpon teman ku yang baru pulang dari kerja di tambang di pulau Kalimantan.
Awalnya dia ingin kerumah ku, tapi ku bilang kita ketemu di Graha Cijantung saja sambil makan di Marugame Udon.
Iya, awalnya aku berencana untuk bertemu dengan dia sebelum jam dua belas siang dimana film itu sudah dimulai.
Ngobrol sejam kah dari jam sebelas sudah cukup lah.
Namun jam setengah sebelas dia menginformasikan untuk belum bisa ketemu karena ada urusan keluarga.
Yowis, aku langsung jalan aja ke Mall Graha Cijantung.
Tapi sebelum itu, aku makan dulu di soto ayam langgananku.
Iya, ini langganan karena udah makan disini lebih dari lima belas tahun.
Jadi, udah kenal lah ya hehe.
Setelah selesai makan, aku lanjut ke mall Graha Cijantung dan sampai di jam sebelas.
Sesampainya di mall, aku langsung ke lantai empat dimana tempat bioskop berada tapi sayang masih tutup.
Akhirnya, aku ke lantai bawah nya yakni lantai tiga untuk melihat dan baca – baca sedikit di Gramedia.
Di Gramedia, ada buku yang sering ku abaikan tapi entah kenapa aku melihat buku itu.
Buku itu berjudul seporsi mie ayam sebelum mati.
Hm, aku baca sedikit yang udah dibuka dan ku pikir ini bukunya menarik.
Namun, jam sudah menunjukkan jam setengah dua belas dan akhirnya aku naik lagi ke atas untuk membeli tiket film Sore dan menunggu film bioskop tersebut.
Oh iya, aku lupa bahwa sebelum ke bioskop aku juga membeli kopi Goodday dingin seharga lima ribu rupiah di depan Gramedia.
Iya, aku ga bikin kopi dari rumah karena aku biasanya kalo bikin kopi buat sesuatu yang penting saja.
Setidaknya kafein sedikit dari kopi Goodday itu membuat otak ku lebih fresh saja.
Jam sudah menunjukkan jam dua belas dan aku pun masuk ke dalam bioskop.
Hm, aku pikir aku sudah menempatkan posisi tempat duduk ku yang enak untuk menonton film ini.
Sejujurnya aku jarang sekali menonton bioskop, tak sampai belasan kali, itu pun karena biasanya bersama teman-teman ku saja.
Bahkan, hingga hari ini aku tak pernah menonton Netflix.
Iya, aku ga tahu apa itu Netflix tentang apa.
Yang aku tahu itu aplikasi resmi untuk menonton film.
Bisa dibilang YouTube adalah tempat favorit ku dalam hal menonton.
Jika bukan YouTube ya aplikasi lain yang mungkin belum tentu aku kunjungi sekali dalam setiap bulan nya.
Kembali menonton, film dimulai dengan seorang pria yang bernama Jonathan yang hidup nya kurang sehat.
Suka ngerokok, mabuk, tidur malam dan begitu dah.
Hingga, saat baru bangun tidur dia melihat ada sosok wanita yang bernama Sore di kasur nya.
Jonathan yang biasa dipanggil Jo pun kaget dan bertanya kepada wanita yang bernama Sore ini.
Sore menjawab bahwa dia adalah istri joh dari masa depan dan datang untuk merubah agar Jo menjadi lebih baik lagi.
Selama perjalanan film, Sore selalu gagal dan terjadinya pengulangan waktu dimana Sore terus mencoba dan gagal.
Hingga akhirnya Sore menyerah.
Dan ya, sore melakukan itu semua karena nanti Jo setelah menikah akan meninggal dunia karena serangan jantung.
Hingga akhirnya, Jo merasa harus berubah dengan sendiri nya.
Dan film pun selesai hehe.
Nah, takut spoiler gue wkwk.
Iya pokoknya bagus sih ini film.
Membuat perubahan itu bukan berasal dari eksternal tapi dari internal nya sendiri.
Setelah nonton film ini, membuat aku sadar bahwa banyak hal yang mesti nya bisa aku syukuri lagi.
Penerimaan diri pun juga menjadi faktor kunci.
Film sore selesai itu di jam dua siang.
Setelahnya aku mengingat bahwa aku berjanji untuk membawa keluarga ku makan Pizza.
Iya, sejujurnya aku sibuk sekali, jadi kalo masalah beginian biasanya di hari weekend saja.
Aku pun kerumah dan sampai di jam setengah tiga dan kemudian langsung bersiap bersama keluarga untuk ke mall graha Cijantung lagi untuk makan pizza.
Kami tiba di jam setengah empat.
Saat makan pizza, aku ingat tentang buku seporsi mie ayam sebelum mati tadi yang kulihat di Gramedia.
Aku pun ke Gramedia sebentar dan membeli buku itu lalu kembali ke Pizza lagi.
Setelah nya kami sampai dirumah jam lima sore.
Grup
Di beberapa grup ada yang ramai saja, aku cek beberapa saja sih.
Ku pikir salah satu nya grup tentang pemira ILUNI UI.
Ya, pemilihan raya ketua ILUNI UI.
Hm, sejujurnya aku ga pernah ikut ILUNI an ini.
Namun, karena tahun lalu aku dipilih sebagai ketua ILUNI Pendidikan Profesi Insinyur FTUI ya pasti aku mewakili ini untuk tingkat FTUI nya.
Dan ya, ada juga yang direct chat aku untuk menjadi bagian dari tim sukses untuk tingkat ILUNI UI.
Tentu, ini sudah pernah ku bicarakan dengan teman – teman dari pendidikan profesi Insinyur FTUI bahwa sikap kami netral.
Ya, lebih ke sikap ku juga selalu ketua yang tidak condong ke kandidat tertentu.
Lagi pula, bagiku saat ini, aku tak tertarik dengan proses politik di tingkat ILUNI UI ini.
Bagiku, aku hanya fokus pada amanah ku saja dan berharap ILUNI UI nantinya bakalan bagus dan bisa dikenal secara luas.
Lagi pula, aku juga salah satu utusan dari ILUNI FTUI sebagai verifikator saat PEMIRA nanti , jadi sudah pasti aku netral.
Oh iya, dalam setiap hari ku, rasanya tidak mungkin aku melewati satu hari pun tanpa komunikasi minimal chat dengan alumni UI.
Ga tahu ya kenapa, ini sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun sih.
Lagi pula aku suka dengan UI.
UI, salah satu mimpiku yang tercapai dan begitulah UI juga yang menyematkan aku sebagai lulusan terbaik dari prodi Insinyur tahun 2020.
Aku juga rasa sampai mati pun pola ini akan terus berlangsung dan aku tak masalah dengan ini.
Dan ya, akhirnya aku mulai membaca buku seporsi mie ayam sebelum mati ini habis magrib dan aku langsung selesai kan tak kurang dari dua jam.
Iya, jam delapan kurang sudah selesai ku baca tanpa halaman yang ku skip.
Sifat buruk ku keluar, ketika aku sudah membaca buku dan tertarik ya bisa lupa waktu dan terus membaca.
Bahkan ini sering terjadi pada saat kuliah, saat ku berada di perpustakaan the crystal of knowledge di UI aku sering keasyikan membaca dan lupa waktu.
Bahkan, sering kali aku tidak masuk kelas baik disengaja maupun tidak disengaja hanya untuk melanjutkan membaca buku.
Hm, gimana ya, ini malu atau gimana ya.
Bisa dibilang, jam terbang ku lebih lama di perpustakaan UI daripada di fakultas ku yakni fakultas teknik universitas Indonesia dan juga asrama beasiswa yang ku tinggali.
Jadi, ku pikir aku bisa mengklaim sebagai sarjana di tempat perpustakaan UI ini hehe.
Iya, di tempat ini aku membaca banyak karya dari penjuru dunia.
Seporsi mie ayam sebelum mati
Sejujurnya ini buku dari awal sudah menarik perhatian ku.
Dimulai dari seorang yang menjadi inti tokoh buku ini yang bernama Ale.
Seorang pria kantoran yang berusia 37 tahun, hitam, gendut lebih dari 100 kg, bau, belum menikah, belum mapan dan hidup lagi.
Dia hanya ingin meninggal saja.
Di hari ulang tahun ke 37 nya, dia memutuskan untuk bunuh diri saja dalam 24 jam kedepan.
Dalam rentang durasi ini, dia terus mempersiapkan kematian nya biar nanti yang menemukan nya minimal ga rasa jijik.
Ya, contohnya saja bahwa sih Ale ini pakai baju yang bagus saat kematian nya dan kamarnya pun juga sudah dibersihkan.
Hingga di menit terakhir, Ale terasa lapar dan jam sudah menunjukkan waktu pagi hari.
Akhirnya, Ale memutuskan untuk bunuh diri nya setelah makan mie ayam yang biasa dia beli setiap hari nya.
Ya, Ale ingin merasakan nikmat sebelum dia meninggal.
Ale keluar dari apartemen dan mencari mie ayam yang biasa di belinya.
Tapi, ternyata tutup.
Bagi Ale bahkan hingga dia mau mati pun saja dia masih gagal untuk makan mie ayam.
Dan dari sinilah perjalanan Ale dimulai.
Nah, ini kalo diceritain bakalan panjang banget.
Ale bakalan bantuin orang mati, bakalan masuk penjara, masuk gerbong narkoba, main di tempat pelacur, diselamatkan orang buta dan lainnya.
Hingga akhirnya Ale sadar bahwa dia bukanlah orang gagal.
Ada orang – orang yang peduli dengan dia, bila Ale melihat lebih dekat.
Ale pun tak jadi bunuh diri dan akhirnya melanjutkan hidup lagi.
Iya, gara-gara ga bisa makan mie ayam saat itu, Ale pun kini masih hidup.
Aku pikir, buku ini sangat bagus ya.
Aku rekomendasi untuk pada pembaca membaca buku ini.
Mungkin kisahku bukanlah seperti Ale.
Tapi dari buku ini, aku mendapat pencerahan baru lagi.
Ya, tentang meneruskan hidup dan melihat kehidupan dari berbagai sisi.
Jujur saja, aku suka dengan buku ini.
Hm, hidup ya.
Aku pikir juga banyak hal yang ingin ku lakukan.
Banyak.
Aku ingin mendapat gelar Ironman, aku ingin berdiri di semua puncak dunia, aku ingin ideologi yang aku ciptakan RA di seluruh dunia tersebar, aku ingin lari di gurun Sahara dan benua Antartika.
Bahkan, aku berencana untuk melihat bumi dari luar angkasa dan menginjak kaki ku di planet mars.
Banyak hal.
Dan, tadi juga mau cerita itu tapi ga jadi deh wkwk.
Pokoknya lebih banyak hal yang tak di tuliskan daripada yang ku tuliskan ini.
Dalam setiap doa, semoga Tuhan mendengar kan nya.
Lagi pula, hal yang paling ku inginkan adalah kematian.
Tapi sebelum itu, aku akan berusaha sebagai manusia.
Rasanya setelah makan ayam penyet, perutku sakit sekali.
Iya bolak balik ke kamar mandi padahal makan nya sudah dari kemari dan masih sakit.
Aku pikir ini tanda.
Iya tanda terutama untuk diriku.
Artinya, perut ku sudah a ga kuat lagi.
Dan mungkin memang selama ini udah kurang makan yang pedes sih.
Nah, tubuh membiasakan apa yang biasa dimakan kan memang.
Tapi selain itu, aku rasa perut ku juga sudah gemuk.
Sudah lama aku ga sixpack wkwk.
Ya gemuk lah intinya.
Jujur saja, apabila badan kelebihan lemak artinya akan sulit bergerak.
Selain itu, akan muncul banyak penyakit nantinya.
Ya artinya harus perkuat otot.
Dan katanya sih ohlaraga yang bagus ya diusia 30an salah satu yang penting adalah latihan beban.
Sejujurnya aku ga pernah mencari tahu sih apakah itu benar atau engga, tapi aku sepakat.
Latihan beban penting sekali untuk menjaga masa otot.
Nih ya, kalo mau kemana-mana maka fisik yang kuat itu penting sekali.
Kalo fisik nya ga kuat ya lebih sulit aja rasanya.
Hm, enak ya cuman teori doang tapi kenyataannya kok aku mager ya wkwk.
Ya, udah beli matras buat dirumah, barbel, sepatu lari rasanya kok belum maksimal ya.
Hm, aku harus berusaha lagi!
Maksimalkan Hidup
Terkadang aku sedih sih, dan bertanya
” Apakah aku sudah memaksimalkan kehidupan ini ? “
Tentu, itu adalah saat dimana aku setiap saat mengingat akan kematianku.
Terkadang, yang membuat sedih bukanlah karena gagal, tapi karena banyak hal yang belum kita lakukan atau bahkan belum kita maksimalkan yang ada.
” Bagaimana aku menghadap Tuhan ?” Ya pikir ku.
Kau tahu, hidup hanyalah sementara.
Lalu jika kita nantinya masuk neraka ya buat apa.
Terkadang, ada orang yang selalu menyamakan bahwa uang itu nomor satu.
Aku sepakat, ya menurut dia saja.
Uang itu penting, tapi itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan.
Ya tujuan nya akhirat.
Makanya, kalo bisa uang nya banyak hehe.
Nah, kalo ada seseorang yang mendewakan uang ya artinya orang tersebut belum mengerti saja.
Sejarah telah membuktikan bahwa bahkan peradaban yang unggul saja bisa musnah karena suatu alasan.
Artinya, ketika peradaban itu musnah ya musnah saja.
Tapi, berbeda dengan iman.
Dia akan menjembatani mu sampai akhirat.
Lagi pula, banyak hal iman yang mungkin manusia belum mengerti saja.
Tapi, jika dia menggunakan akal nya akan banyak tanda yang dijelaskan Alquran tentang semua alam semesta dan akan membuat seorang yang menggunakan akal nya untuk semakin percaya bahwa kehidupan ini adalah perantara untuk menuju kehidupan sebenarnya.
Aku pikir itu dulu kali ya, udah ngantuk nih hehe.
Ya, aku mulai bersandar di sofa yang ada di halaman rumahku, kemudian ku tumpukkan dua bantal dan aku mulai menulis di notes di hp ku dengan ditemani kopi.
Ya, ini rasanya baru bisa bersantai.
Dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang ini aku berberes beres.
Apa aja sih.
Kaya beres kamar, beres halaman, beres dapur, dan bisa dibilang semuanya.
Mulai dari cuci piring, taruh baju laundry, buang sampah dan semuanya deh.
Dan ya, sekalian pasang bendera merah putih dengan bambu di tiang pagar rumah.
Maklum bulan depan sudah tanggal 17 Agustus 2025.
Tadi karena lagi berberes saja, ngeliat bambu dan bendera merah putih jadi sekalian saja.
Asli, berberes cape banget ya.
Cuman ya gimana ya, kalo ga berberes nanti malah bakalan ganggu pas hari kerja.
Memang biasanya weekend itu biasanya beberes sih, kalo hari kerja rasanya sibuk banget itu hari.
Hm terus mulai dari mana lagi ya ceritanya.
Ok, mulai dari Jakarta kali ya.
Jakarta.
Tentu, rasanya tinggal di Jakarta itu enak sekali.
Ku pikir, bagiku bahwa jakarta adalah tempat favorit ku.
Iya semuanya ada disini.
Udah aman, nyaman dan ini itu kaya miniatur Indonesia bahkan ASEAN.
Dan karena aku tinggal di wilayah timur jakarta, juga enak vibes nya terus makanan nya juga murah, nasi uduk lima ribu rupiah pun juga ada.
Bangunan tertinggi disini, hm apa ya, pasar Ciracas kayanya yang cuman dua lantai.
Ya mungkin ada rumah yang tinggi nya tiga lantai sih.
Tapi, berbeda dengan wilayah Jakarta pusat dan lainnya, bahwa darah Jakarta Timur itu memang lebih kampung sih.
Dan, rasanya tinggal di timur ya kaya vibes desa tapi lokasi nya di jakarta.
Lagi pula, di jakarta itu rumah.
Banyak hal yang disukai, orang-orang nya, vibes nya dan rumah nya.
Ya mungkin karena aku memang lahir dan besar disini makanya ini klaim subjektif saja.
Oh iya, kemarin tuh hari Sabtu setelah ujian di Al-Utsmani ya bawaan nya mau tidur aja.
Bisa dibilang agak stress ya.
Udah lama ga ngerasain itu.
Ya, mungkin stress itu terjadi karena kompetensi kita terasa kurang dengan ujian kenyataan yang akan dihadapi.
Ya kalo mau jadi orang yang ga stres mungkin salah satunya bahwa kompetensi kita bisa lebih baik dari kenyataan yang akan kita hadapi.
Ya ini kan salah satunya.
Kalo orang bisa banyak hal mah merdeka.
Artinya, ga perlu takut pada berbagai hal.
Misal, kalo orang bisa renang, di laut pun lebih pede daripada orang yang ga bisa renang.
Ataupun orang yang biasa ngomong didepan umum, umumnya lebih pede daripada orang yang belum terbiasa ngomong di depan umum.
Kuncinya apa ?
Ya mesti bisa banyak kompetensi hidup & dibiasakan.
Dibiasakan untuk ditingkatkan kompetensi nya dan lainnya.
Itu sih.
Kedepan aku juga pengen meningkatkan banyak kompetensi ku.
Buat apa ?
Buat merdeka dong.
Jadi hidup lebih mudah saja rasanya.
Ya mumpung masih muda, masih punya tenaga.
Nah uang nya itu wkwk.
So far sih gue seneng sih tinggal di jakarta.
Lagi pula, jakarta ini akan menjadi piloting gue buat memulai sesuatu yang besar.
Oh iya itu dulu aja kali ya.
Aku juga mau nyelesain beberapa tulisan yang udah numpuk terus share disini juga.
Lagi dan lagi, mataku terbangun dari tidurku dan aku melihat bahwa jam di handphone masih menunjukan jam 02.30 pagi.
Tanpa terasa pikiran ku berpikir tentang sesuatu hal.
Iya, ku ambil hp yang ternyata baterai nya sudah 100 % full dan ku lanjutkan menulis.
Saat mulai menulis, rasanya kaki masih pegal saja.
Ku pikir aku mesti banyak latihan lari nantinya agar kaki ku menjadi kuat.
Maklum, penopang badan ya kaki.
Ya, tentang personal branding.
Aku sepakat bahwa personal branding adalah apa yang kita dokumentasi dan kita bagikan kepada orang lain.
Tentu, hal ini membuat mudah saja rasanya, sehingga kita tak perlu merekayasa apa yang harus dibuat.
Ini pernyataan dari Raditya Dika, yang mana aku sepakatin.
Namun dalam membagikan nya kadang ada proses yang mungkin membuat orang lain merasa
” Ini ngapain sih orang “
Atau pun reaksi yang kaya ini orang
” Dagang Mulu, ataupun kaya haus validasi “.
Hm, mulai dari mana ya.
Sebenarnya sih kadang aku malu juga ketika membagikan hal kaya beberapa dokumentasi ku ataupun karya ku.
Bisa dibilang bahkan selama 5 tahun dari periode 2018 – 2023, gambar foto profil WhatsApp ku itu alam di Bali yang mana aku waktu itu di 2018 sedang berkunjung kesana dan tidak pernah diganti.
Baru dimulai tahun 2024 ya mulai diganti.
Tapi, aku sepakat dengan buku ataupun video yang mana aku nonton, tapi lupa judulnya.
Bahwa orang-orang yang berasal dari kita sebut ” Generasi Perintis “ ya harus menjemput bola.
Alias harus koar-koar, dalam hal ini yang positif misalkan karya, dagangan ataupun apa gitu.
Biar apa ? Biar dunia aware dengan keunikan kita. Kl
Kalo engga gitu ya akan sulit untuk dunia menotif keunikan kita.
Ya mungkin niat kita emang baik, tapi ga semua niat bisa dipahami oleh orang lain.
Tapi yauda deh, kalo bukan dari keluarga yang kita sebuah pewaris, ga usah banyak malu.
Maju terus saja !
Toh juga kalo elo susah kan belum tentu dibantu orang lain kan.
Iya, jadi ga usah malu.
Kalo punya dagangan ya hayuk jual.
Ga usah banyak malu – malu.
Karena saat ini posisi kita menjemput pintu rejeki.
Lagi pula nih ya, kita ga usah perlu pikir banyak hal yang di luar kendali kita, pikir apa yang ada di dalam kendali aja.
Jadi, ya begitu.
Itu yang saat ini aku yakini.
Ya mungkin kedepan bisa berubah karena hidup akan dinamis.
Jadi, kalo ada orang yang bilang
” Kalo memang dia kaya ya ga usah koar-koar ” .
Iya bener, ya mungkin dia enak dari orang kaya alias bapaknya kaya.
Tapi kalo dari keturunan generasi pewaris ,
” Ya mesti koar-koar dong “.
Maksudnya saat di telah mencapai posisi yang disebut puncak, pasti proses nya juga jualan, ataupun yang disebut koar-koar.
Kalo udah di level yang bener – bener kaya banget ya mungkin udah ga perlu koar-koar.
Tapi, kalo menurut ku nih ya, koar-koar selama itu positif dan ga merugikan orang lain ya maju aja.
Ini bahkan nih ya, presentase entrepreneur Indonesia itu rendah banget, presentase nya lupa tapi kecil lah buat standar minimal berapa banyak entrepreneur yang minimal ada dalam suatu bangsa.
Kenapa ?
Ya karena budaya entrepreneur Indonesia yang kurang.
Mungkin alasan nya salah satu nya ya kurang koar-koar dalam berjualan.
Nah itu dulu kali ya.
Nulis kaya gini aja sampe di posting di website ini aja udah butuh waktu 30 menit hehe.
Ku liat layar handphone ku dan jam masih menunjukkan jam setengah dua pagi.
Kemudian, aku buka WhatsApp ku dan ada beberapa chat grup yang masuk.
Aku buka beberapa yang memang ada kepentingan dengan ku.
Maklum, di handphone ku itu ada ratusan grup yang bahkan sudah ku arsipkan lebih dari seratus grup.
Biasanya, ketika ada yang mencari ku, bisa dengan melalui tag di WhatsApp ataupun dengan personal message ke aku.
Tapi, ku lihat engga ada kalo sekarang.
Sepertinya pesan yang ku balas tadi malam itu di sekitar jam delapan malam kemarin.
Ya, aku buka beberapa grup.
Ada yang masih kerja, ada yang masih larian, ada yang masih rapat organisasi.
Umumnya, kesibukan dunia.
Setelah nya, aku mulai memejamkan mata untuk kembali tidur.
Di momen – momen ini biasanya banyak hal yang terlintas di pikiran.
Sebuah kejernihan muncul dari keheningan.
Seperti, hari ini mau ngapain ya ?
Kalo misalkan ada agenda yang ga begitu penting di pikiran ku, ya di cancel aja jadinya.
Ya begitulah lah.
Selain itu, juga banyak hal yang umumnya ku pikirkan di waktu pagi ini.
Biasanya badan ku mulai bangun itu di jam empat pagi, tapi pagi ini tumben di jam setengah dua pagi.
Hm, aku juga udah pasang speaker alarm di handphone ku dan jam welkerku.
Maklum, kalo alarm hp biasanya lewat alias kebablasan.
Sehingga, pada saat momen yang menurut ku penting, aku membawa jam welker agar aku on time bangun nya, bahkan jika aku sedang ke luar kota.
Tapi, mataku tak bisa tidur.
Akhirnya, aku kembali membuka handphone ku dan ku lihat sosial media ku.
Hingga ada postingan tentang temanku dimana tanpa sengaja aku melihat postingan nya di bulan Maret tahun ini tentang wisuda dia.
Ya, wisuda sebagai lulusan yang membacah tilawah dengan benar dari sebuah pesantren.
Dan, ternyata pesantren itu ialah tempat ku juga yang mana aku masih mengaji disitu.
Dalam tulisan nya, dia bercerita tentang mengaji nya dia selama enam tahun di tempat itu.
Tentu, aku mengenal nya dia sejak kuliah dan memang dia adalah sosok yang luar biasa.
Kembali ke mengaji
Itu membuat aku menjadi refleksi tentang kenapa aku mengaji.
Tapi sebelum itu, mungkin aku mulai dari awal.
Sejak kecil, aku juga sudah mengaji, mulai dari baca iqro.
Ya, bersama teman-teman di rumah.
Habis magrib, aku dan beberapa temanku pergi ke tempat guru kami mengaji.
Namun, aku pernah berpindah tempat mengaji.
Seingatku ada tiga tempat aku pindah mengaji.
Tapi itu juga durasinya bukanlah yang cepat, tapi sekitar enam tahun sepertinya.
Alasan pindah kenapa ya ? Lupa.
Ada yang ngaji pagi lah, ada yang sore lah.
Ya beda-beda sih.
Tapi kalo yang terakhir itu pas aku kelas lima sampe enam SD itu di habis magrib.
Ya, habis magrib aku dan teman-teman ku mengaji ke rumah guru yang mungkin jarak nya lima belas menit dari rumah dengan jalan kaki.
Cowok semua, ada yang sepantaran usiannya dengan ku, ada yang lebih tua, ada yang lebih muda.
Setelah sampai di lokasi mengaji, seingatku membaca iqro dan nanti nya maju secara bergantian dengan level nya masing-masing.
Setelah selesai, ya pulang bareng lagi sekitar jam setengah delapan hingga delapan malam.
Itu kalo engga nongkrong.
Kalo nongkrong ya macem-macem.
Bisa perang sarung dulu, bisa main bola atau apapun lah.
Hingga aku mencapai lulus iqro di kelas 6 SD dan masuk ke level bacaan Al Qur’an.
Saat itu, aku sebenarnya udah merasa bahwa di kelas 6 SD tapi baru masuk level membaca Alquran itu udah kaya ketuaan.
Padahal yang masih kelas 4 SD aja udah masuk level membaca Alquran.
Ya merasa aja, tapi selesai disitu.
Terkadang, hidup di lingkungan juga menyesuaikan kan.
Apalagi kerjaanku hanya bermain saja.
Ketika teman-teman ku pada mengaji, dan aku tidak, ya ditanya dong kenapa ga ikut.
Jadi, ikut saja.
Setelah itu, aku pun pindah rumah dan masuk ke SMP.
Periode SMP hingga SMA ya benar-benar ga mengaji.
Tapi di periode ini, aku mulai berubah.
Yang biasanya rangking lima terbawah kini jadi rangking peringkat awal awal di sekolah karena sudah suka baca buku.
Macam-macam lah baca buku nya.
Tapi tidak ada kaitan dengan Alquran.
Lagi pula, kalo sekadar membaca Alquran aku udah bisa, jadi ga merasa ada yang kurang ataupun tertinggal dari orang lain.
Setelah nya, aku masuk kuliah.
Di kuliah, aku daftar beasiswa berpretasi yang aku juga mesti asrama alias mondok.
Singkat cerita, aku diterima beasiswa tersebut.
Kegiatan asrama macam-macam.
Mulai dari tahajjud, shubuh berjamaah, baca zikir pagi lah dan macam – macam.
Saat disanalah aku sudah merasa ada yang kurang.
Beberapa teman ku ada yang sudah hafal Al Qur’an 30 juz, ada juga yang beberapa juz.
Berbeda dengan ku, jauh lah.
Kalo jadi imam juga terasa berbeda sekali, terutama saat tahajjud.
Mereka yang memiliki kemampuan Alquran lebih baik, membaca ayat Alquran yang panjang – panjang dan kadang aku juga engga tahu ayat atau surat apa yang dia ucapkan.
Sedangkan aku, ya surat-surat pendek saja.
Tapi, namanya kan juga mondok ya, di gembleng buat lebih baik kedepan nya.
Kemudian, terkadang dalam dua Minggu ada setoran hafalan Qur’an.
Saat agenda ini, kadang aku balik kerumah dan izin tidak menginap wkwk.
Biasanya ini tuh di Jumat habis shubuh.
Ya rasanya sulit sekali setoran hafalan.
Belakangan juga aku menyadari bahwa alasan sulit menyetor hafalan karena waktu kita bersama Al Qur’an saja yang masih sedikit.
Singkat cerita, aku lulus dari asrama berbarengan dengan lulus dari kampus.
Hingga aku kerja merantau.
Ya, merantau ke Papua.
Saat itu ada hasrat ingin kembali mengaji lagi.
Ngomong – ngomong tentang mengaji atau yang biasa kami sebut liqo ( Dalam bahasa artinya lingkaran dari bahasa arab ), itu macem – macem.
Ada yang liqo tentang pembinaan kepemimpinan, ada yang tentang ilmu Al-Qur’an, dan sebagainya.
Di cerita ini, aku menceritakan liqo khusus ilmu Al-Qur’an.
Kembali di Papua, aku cek beberapa tempat rekomendasi dari teman ku via internet, dan ku hubungin tempat nya, tapi tidak ada kelas online.
Saat itu, tahun 2020an awal masih belum ada kelas online untuk mengaji secara umum.
Hingga di 2020an akhir sudah mulai banyak kelas mengaji yang membuka secara online dikarenakan pandemi yang tak kunjung usai.
Tapi, waktu di Papua berbeda dua jam dengan di Jakarta.
Tentu, ini sangat berpengaruh dengan ku.
Jika mengaji di jam enam pagi waktu jakarta, di Papua sudah kerja karena sudah jam delapan pagi.
Kalo mulai di jam delapan malam waktu jakarta, di Papua sudah jam sepuluh malam.
Aku pernah mencoba di kelas lain yang bukan kelas Alquran, tapi ga kuat ey.
Akhirnya, ya ga ngaji lagi.
Kemudian, aku pindah kerja di jakarta.
Hasrat ngaji belum kepikiran kembali.
Mulai kembali itu di tahun 2024.
Dan ya, di tempat yang dulu aku mendaftar.
Alasan memilih tempat itu karena aku punya teman yang ngaji disitu, lokasi nya juga dekat, dan ku liat juga bagus secara kurikulum.
Aku mendaftar di kelas online di pagi hari.
Pas di kelas, aku yang paling muda saat itu.
Banyak yang usianya jauh lebih tua dari ku, ada yang usianya 60 tahunan dan umumnya itu usia 40 hingga 50 tahunan.
Profesi nya pun macam-macam ada yang jadi dosen, pensiunan, kerja, dan lainnya.
Mungkin karena masih muda, sehingga aku jadi ketua kelas nya.
Ini berlangsung sekitar 7 bulanan alias 2 kelas.
Umumnya satu kelas itu durasi nya 3,5 bulan.
Waktu kelas pun juga menyesuaikan dengan kuota pelajar.
Misal, aku yang dulu di kelas Selasa jam enam pagi, setelah nya pindah ke Sabtu pagi.
Alasannya ?
Karena di Sabtu pagi ada level ku yang belajar juga.
Kalo aku ikut di Selasa pagi, sudah beda level dan kalo mau ikut ya bisa saja, cuman kurang efektif saja menurut ku.
Karena kan dengan waktu yang sama tapi dibagi dengan level yang lain.
Ok, aku dari tahun 2024 sampe sekarang, sudah satu tahun lebih lah ya konsisten hehe.
Aku pun juga kadang ga naik level, karena ujian nya belum lancar ataupun karena jumlah absen yang kurang.
Ya, kalo mau selesai ya selesai aja kan, kan ga ada yang nyuruh ngaji wkwk.
Tapi seorang Warrior ga semudah itu dalam berjuang.
Kita datang untuk belajar kan, buat apa ? Buat bisa dong.
Jadi, sekarang ngaji nya udah offline setiap Sabtu pagi, biar apa ? Biar lebih fokus saja, terlebih saat ini kan aku juga masih di Jakarta.
Kemudian, juga kadang merasa malu.
Malu kenapa ?
Kita baca buku beraneka ragam, tapi yang menuntun kita hingga kematian dan akhirat ya Al-Qur’an.
Masa cuma mau level bisa sekadar doang sih.
Tentu, alasan utama aku ingin mendalami Alquran itu karena aku mendengar bahwa penghafal Al-Quran itu bisa mengajak kedua orang tua nya masuk surga secara langsung.
Dan sekeluarga ku juga ingin nya.
Intinya surga sih.
Lagi pula siapa sih yang ga mau masuk surga ?
Semua hal didunia ini kan hanya tools buat masuk surga.
Terlebih, banyak kata-kata dari guru ku yang nendang juga.
“Masa sih ente kaga malu ga bisa ngajarin anak Alquran nantinya? “ ” Pemimpin ga bisa ngaji, malu ente ! “
Ya macam – macam lah.
Maklum, aku dikader untuk menjadi seorang pemimpin.
Menjadi pemimpin artinya memiliki tugas dan kewajiban yang lebih berat dari orang secara umumnya.
Tapi itu alasan dari luar, kalo alasan dari dalam diri ya ingin surga.
Kembali ke postingan teman ku itu.
Aku pun saat ini masih ngaji, masih berusaha.
Aku ga mau jika sudah tua tapi bisa dibilang masih minim lah ilmu agama nya.
Kalo bisa dimaksimalkan, kenapa tidak ?
Ilmu agama kan ilmu sepanjang hayat.
Bisa dibilang, masih jauh lah perjalanan ku untuk menjadi hafidz Alquran, dalam hal ini 30 juz.
Tapi, ya gapapa.
Perbanyak waktu dengan Alquran saja saat ini.
Aku pikir, itu dulu kali ya.
Jam sudah menunjukkan jam setengah empat pagi, dimana aku mesti bersiap buat lari di Depok run 5 Km.
Ya, happy-happy aja sih hehe.
Semoga aku dan kalian semua konsisten tentang mengaji.
Jakarta, 22 Juni 2025 Pukul 03.30 WIB Salam Rio
Oh iya, selamat ulang tahun kota Jakarta :).
Btw, jam di website ini standar USA time, jadi beneran 22 Juni kok ditulis nya 🙂